
Setelah kepergian Haris dari rumah kontrakan, perasaanku menjadi gundah gulana. Antara senang juga deg-degan. Haris berjanji untuk meyakinkan ibunya. Perasaan tak nyaman ini semakin malam semakin membuatku tak bisa tidur. Antara senang dan takut. Semakin aku memikirkan kemungkinan apa yang akan terjadi semakin berdebar dada ini.
Keesokan harinya Haris tak membuang waktu lagi. Pagi-pagi sekali dia sudah berdiri di depan pintu kontrakan dengan wajahnya yang cerah. Senyumnya yang lebar menjadi pemandangan yang mempesona saat aku membuka pintu.
Hari ini aku akan bertemu kembali dengan Ibu Yeti, ibunya Haris. Sosok wanita sederhana, tapi bisa kurasakan hangat kasihnya. Sosok yang aku dambakan bisa mengusap pundak di kala aku gundah.
Selama ini aku tinggal sebatang kara bersama Mas Andre. Bu Yeti yang sejak pertama kali melihatnya, aku merasa dia wanita istimewa. Akhirnya kami akan bertemu lagi. Entah apa yang nanti akan ada di dalam pikirannya. Aku sudah membayangkan suasana canggung seperti saat Santi dulu memperkenalkanku kepada beliau.
"Keysha, kamu sudah siap 'kan?" Haris menyapa dengan hangat.
Aku menganggukkan kepala mencoba menenangkan debaran jantung yang tak menentu. Tatapan Haris tak pernah gagal membuatku salah tingkah.
Wajah cerah, senyum merekah, deretan giginya yang rapi benar-benar membuatku harus selalu menarik napas karena dada terasa sesak dipandang begitu rupa. Tentu wajah semringah ini seolah-olah mewakili perasaannya, karena dia berhasil meyakinkanku untuk kembali menyambung tali kasih kami.
Berbeda denganku yang sejak tadi merasa gelisah dan hanya bisa memutar serta *******-***** jemari tangan.
"Sayang jangan gugup, dong. Kamu udah pernah ketemu ibu "kan?"
"I-Iya."
Aku hanya menjawab perlahan sambil menundukkan wajah. Haris meraih daguku , mengangkatnya perlahan, lalu menatap kedua bola mataku. Lagi dan lagi, pesonanya begitu kuat membuatku nyaris sekarat. Tatapan mata teduh ini akhirnya melindungiku dari prasangka buruk terhadap ibunya.
"Tenang saja, kali ini Ibu pasti bersikap berbeda sama kamu, Keisya. Ibu tahu aku sangat mencintai kamu dan ibu juga tidak ingin anaknya menikah dengan wanita yang tidak ia cintai untuk kedua kalinya."
Haris mengelus punggung yang mau tidak mau membuatku menganggukkan kepala perlahan. Belaian ini sungguh sangat menenangkan.
Hanya dengan usapan dan kata-katanya yang lembut penuh keyakinan, terbukti bisa menenangkan gejolak keraguan yang sekarang mungkin sudah menyebar di seluruh pembuluh darah ini. Aku tidak tahu, tapi ini bahkan ini lebih gugup daripada saat aku bertemu dengan kedua orang tua Mas Andre dulu.
__ADS_1
"Keysha, ayo, dong, senyum. Rileks dikit, Sayang, tangan kamu dingin sekali."
Haris meraih tanganku saat aku duduk di mobil, di sebelah pria itu. Benar saja memang aku merasa gugup, hingga keluar keringat dingin, tangan dan jemariku basah semua.
"Ih, kamu jangan godain aku gitu Haris, beneran aku nervous banget ketemu ibu. Ini memang bukan yang pertama kali, tapi masih kebayang saja kalau ibu menolak aku."
Aku menjawab lirih sekenanya, mencoba mencari keyakinan yang akan bertaut dengan ketenangan yang dibawa Haris dalam hubungan kami. Semoga saja semua itu benar. Aku sempat merasa mulas saking paniknya.
Tidak menunggu lama, kami sudah sampai di depan gang rumahnya. Aku memandang ragu saat ingin memasuki rumah itu. Namun, Haris menggenggam tanganku erat, menyalurkan keberanian agar aku berani melangkah. Pria ini, memang selalu bisa membuatku yakin akan masa depan kami. Tidak pernah keluar dari mulutnya kata 'tidak bisa'. Itulah yang membuatku termotivasi. Jika pemimpin yakin, pengikut pasti tenang. Ketika sang pilot seberani itu menembus badai, tugas penumpang hanyalah berdoa, begitulah aku menganalogikannya.
Haris membuka pintu lalu berteriak kecil.
"Ibu, aku bawa Keysha datang untuk menemui ibu. Ayo Key, masuk, nggak apa-apa jangan takut." Haris menarik tanganku.
"Kak Keysha!"
Santi yang lebih dulu menyambutku dengan pelukan hangatnya. Aku pun memeluk gadis yang kini wajahnya semakin terlihat cantik dan berseri. Mungkin karena aku lama tidak bertemu dengannya atau karena memang Santi sedang mekar-mekarnya.
"Ibu apa kabar?"
Aku mencoba mencairkan suasana. Terakhir saat mengantar ke rumah sakit, kami tidak sempat bertemu.
"Kabar Ibu baik. Terima kasih, ya, Nak Keisya atas bantuan kamu. Ibu bisa segera ditangani saat harus dirawat di rumah sakit dulu," tutur ibu dengan nada rendah sembari mempersilakan aku duduk.
"Iya, Bu, sama-sama. Semoga keadaan ibu sekarang sudah jauh lebih baik."
Aku memberanikan diri untuk berbicara lebih panjang, tapi sepertinya memang Ibu Yeti tidak terlalu suka mengobrol. Beliau tipe orang yang tidak suka mengumbar senyuman. Wajahnya menatapku lurus lalu memberi perintah kepada Santi.
__ADS_1
"San, bikin minum donk buat tamu, sama keluarkan kudapan yang di meja makan."
Ucapan ibu yang datar membuatku menilai, beliau masih kurang menyukai aku. Tidak ada senyuman lebar, ramah dan hangat. Mungkin aku saja yang terlalu tinggi berekspektasi atau aku yang memang belum mengenal sifat Ibu Yeti sepenuhnya.
"Ini, Kak, silakan diminum. Tadi pagi waktu tahu Kakak mau datang, Ibu udah sibuk bikin kue-kue ini, semua jajanan ini ibu sendiri yang bikin," celetuk Santi sembari meletakkan tiga cangkir teh panas di meja, lalu ia kembali mengambil beberapa piring kue basah.
"Ini beneran ibu yang bikin sendiri?" tanyaku pada Santi yang langsung menganggukkan kepala, sementara wajah Bu Yeti yang datar tanpa menoleh, membuat aku semakin merasa canggung.
"Iya ... Ibu itu pintar bikin kue, bahkan dulu Ibu selalu membuat kue yang diambil oleh para pedagang keliling, tapi karena sekarang tenaga Ibu sudah tidak kuat, Kak Haris melarang Ibu bikin kue lagi. Gimana, Kak, rasanya masih tetap nikmat, kan?"
Aku mengambil sepotong kue talam berwarna hijau kombinasi putih. Perlu kesabaran untuk membuat kue ini. Sekali gigit aku bisa merasakan cita rasa kue terbaik. Bahan-bahannya, takarannya, serta rasanya tidak main-main. Tanpa sadar mataku melebar.
"Hmmm ... enak sekali ini seperti yang dijual di toko-toko yang mahal itu, loh, San!" teriakku antusias.
"Nah, bener 'kan, Kak? Tuh Bu dengerin kata Kak Keisya! Ibu itu kemampuannya tidak pernah menurun, Ibu juga masih ingat semua resep kue dan rasanya juga tidak berubah. Nanti kalau Santi udah nggak sibuk kuliah, juga mau diajarin bikin kue sama ibu."
Santi memandangku sambil tersenyum manis. Gadis ini juga pintar menaikkan mood-ku saat mengetahui ibunya tidak banyak bicara.
"Gitu ya, jadi cuman Kak Keisya aja yang ditawarin? Kakak enggak?" tanya Haris dengan wajah cemberut.
"Kak Haris 'kan bisa ambil sendiri, memangnya tamu?" jawab Santu tak mau kalah.
"Bener-bener pilih kasih. Kak Keysha aja diambilin, tapi Kakak suruh ngambil sendiri."
Santi langsung menjulurkan lidahnya mengejek kakaknya. Melihat kelakuan kedua anaknya, mau tidak mau Bu Yeti sedikit tersenyum. Aku terhibur dengan situasi spontanitas seperti ini. Kehangatan sebuah keluarga yang sudah lama tidak aku rasakan.
Ketika aku mengamati wajah mereka satu persatu, Santi yang ceria, Haris yang tenang dan Ibu Yeti yang pendiam. Aku sedikit menyisipkan harapan di dalam hati yang rasanya ingin meledak. Mungkinkah aku bisa menjadi bagian dari keluarga mereka?
__ADS_1
Tbc.
Mungkin gak ya? Jawabannya di bab selanjutnya. Hahaha... Hey reader... Aku ada kabar neh. Tapi nanti deh di next bab. Enjoy!