
Pov Haris.
Kabar baik itu datang juga. Aku tidak sabar menunggu waktu untuk bisa bertemu lagi dengan Keisya. Sejak ajakan untuk kembali bertemu di sebuah tempat aku kirimkan, Keisya sempat membalas dengan ragu-ragu. Pertemuan kami rasanya tidak mungkin dilakukan lagi karena dia tidak tahu bagaimana cara keluar dari rumahnya, tanpa seizin suaminya.
Aku sudah membayangkan, Keisya pasti akan sangat ketakutan berhadapan dengan suaminya yang arogan. Apalagi sampai meminta izin untuk keluar rumah dengan alasan yang belum jelas. Tentu ini akan sangat berbahaya untuk rumah tangganya, tetapi mau bagaimana lagi? Aku juga merindukannya. Rasanya sudah terlalu lama sejak pertemuan terakhir kami.
Tadi malam hampir jam 01.00 dini hari, tanpa aku duga Keisya mengirimiku pesan yang membuat aku tidak bisa tidur setelah membacanya.
Keisya mengabarkan akan ada acara dua hari di Bandung. Akhirnya penantiannya berbuah manis. Tentu saja aku tidak akan melewatkan kesempatan itu. Aku akan menjadi orang pertama yang memberikan dukungan untuknya, mengapresiasi pencapaiannya, karena aku tahu Keisya sangat menginginkan menjadi guru lagi setelah sekian lama ia menganggur dan memilih menjadi ibu rumah tangga saja. Pasti itu aktifitas yang membosankan.
Pagi hari saat sarapan, aku bilang ke Diana kalau akan melakukan perjalanan dinas Sabtu-Minggu.
“Kenapa mendadak sekali, Haris? Enggak biasanya kamu melakukan perjalanan dinas mendadak begini. Sabtu-Minggu lagi. Kamu tahu, kan, Sabtu dan Minggu itu jadwal kita sesuai saran dokter kandungan?” protes Diana.
Begitu rapinya jadwal yang ia susun untuk berhubungan badan setelah mengikuti program kehamilan. Terutama saat di berada dalam masa subur. Tugasku mengikuti jadwal itu tanpa banyak bertanya. Semua sudah diatur Diana.
“Ya, habis mau gimana lagi? Namanya tugas dari atasan. Sebetulnya yang harus berangkat teman, tapi dia sedang sakit. Istrinya tadi mengabarkan ke kantor. Ya, mau enggak mau aku harus gantiin karena bos yang nunjuk.”
“Kenapa harus kamu, sih? Kan, masih ada karyawan lain. Aku udah nunggu lama, masa subur itu enggak lama. Kita udah sepakat Sabtu Minggu, enggak bisa diganggu gugat.”
“Ya udah kalau kamu enggak boleh, tinggal terima saja. Tahun ini mungkin aku enggak dapat promosi jabatan,” jawabku berkilah.
“Loh, kok, gitu? Haris, promosi jabatan itu sangat penting buat kamu. Masak dari dulu sampai sekarang kamu tetap jadi Konsultan biasa? Jangan, dong. Ambil kalau memang ada promosi.”
“Ya, gimana lagi? Bos, kan, lebih suka memilih anak buah yang helpfull. Kapan pun diminta selalu siap. Kalau aku menolak ini, pasti akan memengaruhi penilaian kinerja karyawan. Enggak apa-apa,, aku enggak usah berangkat. Yang penting kamu senang,” ucapku sengaja memancing reaksi Diana.
Diana tipe perempuan ambisius yang selalu suka tantangan, termasuk ketika dia harus memperebutkan sebuah posisi atau jabatan dalam organisasi yang ia ikuti. Dia pasti akan mengejarnya. Dengan cara ini, Diana pasti akan berpikir dua kali untuk menolak permintaanku.
“Sebenarnya aku keberatan, Haris. Tapi aku enggak punya pilihan,” jawabnya pelan.
__ADS_1
“Masih ada Sabtu Minggu berikutnya, enggak usah resah, Di. Kalau enggak penting aku juga enggak mau berangkat,” jawabku.
“Haris, aku boleh ikut enggak?”
Tanpa kuduga, dia justru melontarkan pertanyaan berbahaya.
“Hello, Nyonya? Ini acara kantor, bukan acara keluarga. Biasanya acaranya sangat padat dari pagi sampai malam, terkadang malah sampai pagi lagi. Kamu mau bosan di kamar nungguin aku? Mendingan di sini, kamu bisa shopping, nonton, atau pergi sesukamu dengan bebas.”
Meski ketar-ketir, aku tetap harus memberi jawaban yang masuk akal. Diana bukan tidak tahu kegiatanku saat ada acara di luar. Dia pernah ikut mendampingi saat aku ada workshop tiga hari di Surabaya. Saat itu dia mengeluh karena aku hampir tidak punya waktu untuk bersamanya. Seperti itulah gambaran yang aku berikan kepada Diana jika kali ini dia memaksa ikut.
“Iya juga, sih. Pasti bakal boring banget nungguin cuma di kamar doang. Ya udah, Haris. Kamu boleh berangkat. Jangan lupa telepon Kalau sudah sampai, ya.”
Yes! Aku bersorak dalam hati.
Akhirnya, saat yang aku tunggu-tunggu pun tiba. Tidak sabar aku bertemu dengan Keisya setelah terakhir pertemuan kami terasa sama-sama tidak menyenangkan. Dia dengan suaminya yang arogan dan aku dengan Diana.
Hari Sabtu yang aku tunggu pun tiba. Aku bergegas menuju ke hotel tempat Keisya berada.
Tadi pagi Keisya sempat mengirimkan foto dirinya di depan kamar hotel. Jelas terlihat Keisya berada di kamar 202, maka aku memutuskan untuk memesan kamar 203 yang kebetulan masih kosong.
Aku tiba di hotel jam 12.00 siang, bertepatan dengan acara Keisya selesai untuk istirahat. Banyak peserta training yang keluar dari aula menuju ke kamar masing-masing. Kebanyakan mereka dari luar kota, terlihat dari banyaknya koper yang diseret menuju kamar masing-masing.
Aku mendekati Keisya yang sedang berjalan melintasi lobi. Perlahan-lahan aku mengikuti dia dari belakang. Saat Keisya hampir masuk ke dalam kamar, aku menutup matanya dari belakang.
Awalnya Keisya diam dan tidak mengenali, kemudian tidak menunggu lama dia memekik perlahan.
“Haris! Pasti kamu Haris, kan? Lepasin, ah.”
Keisya meraba tanganku, aku mengendurkannya. Wanita cantik itu membalikkan tubuhnya dan kini kami berhadapan.
__ADS_1
“Haris kapan datang?” tanyanya dengan senyum merekah. Senyum itu yang sejak malam dia mengabarkan akan kesini, aku rindui setengah mati.
“Baru saja, sengaja aku datang jam istirahat supaya tidak lama menunggu kamu.”
“Oh, jadi kalau nunggu enggak mau, ya?” goda Keisya.
Demi apa pun, aku bersumpah siang ini Keisya sangat cantik. Meskipun terlihat sedikit lelah, tetapi senyumnya yang terus mengembang itu membuat Keisya tidak bosan di pandang.
“Aku lapar, gimana kalau kita makan siang bareng?”
Keisya menganggukkan kepalanya.
“Oke, aku siap lima menit lagi, aku taruh berkas-berkas ini dulu, baru kita turun. Area resto ada di lantai dua.”
“Yakin mau makan di sini? Bagaimana kalau cari makanan di luar?” tanyaku.
“Haris, aku cuma punya waktu satu jam untuk istirahat, setelah itu harus masuk lagi. Jadi kita makan di sini saja, ya?” jawabnya.
“Oke, siapa takut?” ucapku.
Senyum Keisya kembali merekah.
“Aku pernah bilang, kalau ingin mengajakmu ke sebuah tempat, di mana tidak ada orang yang mengenal kita? Dan sekarang di sini tempatnya. Enggak akan ada yang mengenal kita, jadi kita bebas melakukan apa saja.”
Aku mencoba mengingatkannya.
“Apa saja?” ulangnya.
Saat mengatakan itu, kecantikan Keisya terlihat meningkat sepuluh kali lipat. Entahlah, sekarang rasanya aku ingin menghajar bibirnya yang menggoda itu.
__ADS_1
“Iya, apa saja,” tandasku sambil mendekatinya. Mungkin wajahku kini berubah mesum di pandangan Keisya, hingga dia tergelak sambil menutup pintu kamarnya.
“Keisya, kamu membangunkan macan lapar!”