
Flashback sebelum pertikaian antara Haris dan Diana
POV Diana
Aku membuka ponsel Haris mengunakan sidik jari pria itu, sambil memasang charger karena dayanya yang sudah habis. Pria itu tidak sadarkan diri setelah aku memberikan obat tidur di dalam minumannya. Saat kami berbincang mengenai penceraian yang sama sekali tidak aku inginkan. Aku berdecih mendapati pesan Haris dengan selingkuhannya. Ternyata mereka hidup bahagia selama ini. Kurang ajar!
Aku diliputi amarah serta cemburu, sungguh tidak rela jika Haris harus berakhir bersamanya. Dia suamiku, sampai kapanpun tidak akan pernah berubah!
Sejenak terlintas sebuah ide untuk membalas wanita sialan itu. Aku membuka pakaianku serta Haris, sambil melakukan sentuhan yang membuatku rindu padanya kemudian aku mengabadikannya melalui foto dan video panas. Aku tersenyum melihat hasil yang sempurna, dengan penuh percaya diri mengirim pesan video dan foto-foto itu pada si sundal. Aku pun menyertai pesan agar dia menghilang dan tidak menganggu kami.
“Pegilah yang jauh, sejauh mungkin hingga Haris tidak bisa menemukanmu, karena kami sudah sepakat untuk rujuk.”
Aku kembali mematikan ponsel Haris setelah menghapus semua pesan dan foto-foto untuk menghapus jejak. Setelah ini aku yakin semuanya akan kembali seperti semula.
__ADS_1
***
Ternyata semua bayanganku berakhir dengan tidak sempurna. Haris menolakku mentah-mentah, bahkan menyebutku picik. Apa dia tidak tahu aku melakukan semua demi keutuhan rumah tangga kami?
Aku melempar guci ke arah pintu saat Haris pergi, melampiaskan kekecewaanku yang sangat menyesakkan. Pria itu masih bersikukuh tentang perceraian bahkan menjanjikan dalam waktu dekat aku mendapatkan surat gugatan. Apakah usahaku akan sia-sia? Aku bergelut dengan kegelisahan, aku tidak ingin berakhir seperti ini!
“AAAARRGGG!”
Aku membanting semua barang yang ada di sekitar, masih belum puas rasanya, karena sakit di hatiku tidak kunjung mereda. Aku berjalan dengan langkah gontai, meraih pajangan kristal untuk aku pecahkan. Namun, di waktu yang sama aku merasakan sesuatu yang bergejolak. Perutku terasa mual tidak terkira. Secepat mungkin aku berlari menuju kamar mandi, mengeluarkan isi perutku di wastafel.
Aku terus memuntahkan isi perutku hingga terkuras habis, yang tertinggal hanya pahit yang melekat di lidah. Tubuhku pun menjadi lemas tidak bertenaga. Aku menyeka bibirku dengan air mengalir lalu menatap diri ke dalam cermin, tercenung sambil berpikir. Aku kemudian meraih tasku dan mengambil sesuatu dari sana. Sebuah alat tes kehamilan. Jantungku bergemuruh dengan tangan gemetaran menggenggam benda pipih tersebut. Ada secercah harapan yang tersisa. Semoga hasilnya memuaskan, karena jika sesuai dengan tebakanku, maka tidak ada alasan untuk Haris meninggalkan aku.
***
__ADS_1
“Cari apa Nona?”
“Tolong berikan aku satu set pakaian bayi dengan warna biru dan merah muda. Serta berbagai perlengkapan lainnya. Pokoknya semua yang ada di toko ini!”
“Se-semuanya?”
“Iya, tolong yang paling bagus!”
“Baik!” seru pegawai outlet yang sedang berjaga.
Aku menatap takjub pada barang-barang mungil yang sangat menggemaskan. Setelah melakukan tes yang menampilkan dua garis biru. Aku tidak henti menyunggingkan senyum. Akhirnya setelah 4 tahun penantian, Tuhan mengabulkan usahaku. Aku akan segera menjadi Ibu dan Haris menjadi seorang ayah. Aku tidak sabar untuk mengabarinya, tapi aku urungkan. Aku akan menunggu setidaknya setelah 2 minggu. Kemudian aku pun berpikir untuk mendatangi suatu tempat, guna mendapatkan dukungan serta mengamalkan baktiku sebagai seorang istri, aku akan mengunjungi mertuaku di kampung.
“Terima kasih, Nak. Kamu menjadi berkah di tengah keputusasaan Ibu,” monologku sambil mengusap perut.
__ADS_1
Tbc.
*Hai reader, maaf ya telat lagi. Biasa, lagi banyak kegiatan. Mohon bersabar dan tetap setia di sini ya. jangan lupa sertakan komen, like, vote dan ratingnya agar aku lebih semangat lagi, Enjoy! *