Rahim Impian

Rahim Impian
Kabar Keysha


__ADS_3

Putaran takdir, siapa yang bisa menduganya? Dulu aku tinggal dengan suamiku yang dingin di sebuah rumah yang lumayan besar juga dengan segala kelengkapannya, tapi kami tidak pernah merasakan kebahagiaan di dalamnya.


Sekarang putaran roda nasib itu membawaku berada di bawah. Kini aku tinggal di sebuah rumah kontrakan kecil di daerah Bandung yang sejuk, tapi menenangkan. Jika bisa dibandingkan, manakah yang lebih baik?


Aku mendapatkan rekomendasi dari lembaga tempat aku bekerja supaya bisa mengajar di cabang Bandung ini.


"Aku bisa merekomendasikan kamu kalau memang masih mau kerja di lembaga ini, Keysha."


Bu Ratna teman seperjuangan dulu memberi bantuan dengan meyakinkan Bu Rosi. Tentu saja aku tidak menolaknya. Dunia mengajar adalah dunia di mana aku bisa menjadi diriku sendiri sepenuhnya.


Aku merasakan kebahagiaan saat bisa mentransfer ilmu yang aku punya kepada anak-anak didik yang masih belia.


Sampai detik ini aku tidak henti bersyukur karena dipertemukan dengan orang-orang baik.


Angin bertiup kencang saat senja mulai menuruni bukit. Tempat tinggalku berada di areal perkebunan. Dengan udaranya yang sangat sejuk, membuat aku sekarang bisa bernapas lega. Tempat ini benar-benar cocok untuk rileks bagi jiwa yang penat sepertiku, juga untuk melarikan diri sesaat dari hiruk pikuk perkotaan.


Lingkungan yang nyaman, tempat kerja yang aku impikan, membuat semangatku semakin hari semakin menggunung.


Mengajar adalah energi, udara segar adalah nutrisi, dan dipertemukan dengan orang baik itu rezeki. Jadi, apalagi alasan aku untuk tidak mensyukuri semua ini?


Terkadang saat kabut mulai turun di lereng perkebunan, tiba-tiba hatiku kembali disesaki rasa nyeri, rasa rindu yang menghimpit dada. Sesak itu sesekali hinggap di dalam sini saat kembali aku ingat rekaman jejak-jejak perjalanan cinta yang telah aku tinggalkan.

__ADS_1


Luka yang ditinggalkan Mas Andre tidak akan pernah sembuh, sementara api cinta yang pernah di percikkan Haris, entahlah, mungkin api itu sudah padam seiring dengan kembalinya Haris kepada Diana. Itu yang terbaik untuk mereka dan aku harus bisa menerima kenyataan ini.


Aku memang manusia lemah yang sedang belajar untuk menjadi perempuan kuat. Sendirian, jauh dari siapapun, menekan kerinduan pada tanah kelahiran, tapi aku tak bisa meredam rasa rindu kepada Ayu sahabatku. Apa kabar dia sekarang?


Dilema adalah ketika aku ingin sekali menghubungi sahabatku itu, tapi seolah-olah ada yang menghalangi. Kalau aku menelepon Ayu, bisa saja aku terhubung kembali dengan masa lalu, masa lalu yang sudah coba aku tinggalkan dan tanggalkan.


"Ini, Neng, dimakan dulu ketan bakarnya."


Ibu Juju menawariku ketan bakar yang masih hangat ditambah dengan wedang jahe.


Ibu Juju adalah tetangga kontrakan. Dia punya warung kecil-kecilan di depan rumahnya. Untuk urusan makanan, aku tidak perlu khawatir. Semua penghuni kontrakan ini mendapatkan makanan enak dari Bu Juju yang masakannya memang terkenal lezat.


"Nuhun, Bu Juju. Terima kasih, harusnya tidak perlu diantarkan. Nanti saya yang akan datang ke warung Ibu."


"Iya, Bu. Kebetulan saya ada pekerjaan mengajar di sini, dan saya belum punya anak jadi ya beginilah, tinggal sendirian," jawabku dengan senyum tipis.


"Aduh, Neng Keysha ini geulis pisan, kalau ibu punya saudara masih bujang mah, bakal Ibu jodohin ama Neng," seloroh Bu Juju.


"Ibu ada-ada aja. Sekarang saya belum kepikiran untuk punya pasangan lagi. Pokoknya, hidup saya sekarang untuk mengabdi, mengajar anak-anak kecil, itu juga sudah membuat saya bahagia."


Iya, aku tidak berbohong ketika berbicara tentang kebahagiaan versiku sekarang. Akan tetapi, jauh di sini, di sudut hatiku, tidak bisa memungkiri, terkadang ada denyut nyeri saat aku mengingat kembali masa lalu bersama Haris.

__ADS_1


Malam semakin merangkak naik. Aku tak bisa menahan diri untuk tidak menghubungi Ayu. Akhirnya, dengan nomor baru, aku mencoba menghubunginya.


"Keysha ini beneran kamu? Ya ampun, aku benar-benar kangen sama kamu, Key! Kamu di mana sekarang? Kenapa kamu tidak pernah kasih kabar? Aku cemas memikirkan kamu."


Ternyata mendapat sambutan antusias begini saja sudah menghangatkan hati.


"Aku sekarang di Bandung, masih mengajar di lembaga yang sama, tetapi di kantor cabang. Kamu gimana sekarang, Yu? Rara sehat?"


"Iya, Key. Rara sehat. Aku harap kamu juga sehat, ya. Senang masih mendengar kabarmu, dan kamu sekarang juga masih bisa mengajar. Aku sempat kebingungan mencarimu kemana-mana, Key."


"Makasih karena kamu masih perhatian gitu sama aku, Ayu. Aku memang beberapa hari ini kepikiran terus sama kamu, makanya aku ngabari sekarang. Doain, ya, aku baik-baik saja."


"Tentu, Keysha Sayang. Oh ya, beberapa waktu lalu Haris datang ke sini nanyain kamu." Ayu sedikit menurunkan nada bicaranya.


Haris datang ke rumah Ayu? Apa aku tidak salah dengar? Rasanya aku tak percaya mendengar penjelasan Ayu. Untuk apa lagi Haris mencariku? Sekarang laki-laki itu pasti sudah bahagia dengan Diana.


"Ayu, kalau ada Haris kembali datang menemuimu dan menanyakan kabarku, tolong kamu jawab nggak tahu, ya. Di depan Haris, kamu harus berpura-pura kalau aku belum pernah menghubungi kamu. Tolong rahasiakan tentang berbicaraan kita kali ini ya, Yu."


"Apa pun yang kamu minta, asal membuatmu nyaman, pasti aku lakukan, Key. Kalau memang kamu nggak mau Haris mengetahui kabarmu, pasti aku akan merahasiakannya. Jangan khawatir ya."


Rasanya aku ingin memeluk Ayu, hati ini terasa tenang mendapat dukungan sahabat terbaikku.

__ADS_1


Tbc.


Wah, pada diem adja neh? Pada ngambek ya?? Maafkan aku ya reader tersayang. mungkin krn aku merangkap novel lain jadi kerepotan. Supaya gak ngaret lagi ya, senyum dulu. Donk. Enjoy!


__ADS_2