
Haris masih memelukku erat, sedangkan aku liar memperhatikan sekitar takut-takut ada yang memergoki kami dan menuduh sedang melakukan hal tidak senonoh. Aku mendorong tubuh Haris secara perlahan meski sebenarnya aku juga merasa nyaman, aku hanya tidak mau dia mendapat masalah lagi dengan kedekatan kami di muka umum.
“Nanti ada yang lihat,” peringatku sambil menyelipkan rambut di sela telinga.
Haris mengusap wajahnya lalu memegang bahuku.
“Kita pindah tempat, gimana?”
“Kemana?”
“Ke hotel tempatku menginap.”
“Kamu menginap di hotel?”
“Iya, aku sudah keluar dari rumah, aku benar-benar akan berpisah dengan Diana. Kamu juga sudah tidak tinggal dengan Andre ‘kan?
Aku terperanjat, kupikir Haris tidak sungguh-sungguh dan baru di mulut saja, ternyata pria itu sudah mengambil langkah, langkah yang sama sepertiku, tapi bagaimana dia bisa tahu?
Haris menangkap pertanyaan yang belum terucap, mungkin ia membacanya dari mimik wajahku.
“Aku sempat datang ke rumahmu, mencarimu yang tiba-tiba tidak bisa dihubungi,” ungkapnya menjelaskan.
__ADS_1
“Lalu, apa kamu bertemu dengan Mas Andre?”
Haris merubah air mukanya saat aku bertanya perihal Mas Andre. Aku menggigit bibirku, harusnya aku tidak menanyakan hal itu.
“Aku tidak berniat menjawabnya, melainkan bertanya balik, apa kamu masih memikirkannya?” Haris menatapku tajam, aku pun menggeleng cepat.
“Bukan itu maksudku, aku hanya takut kalian berdua bertengkar,” ucapku putus asa. “Semua menjadi kacau karena ulahku,dan aku tidak mau kamu sampai terlibat jauh. Haris, pikirkan lagi!”
“Kau yakin ingin aku kembali pada Diana?”
Ditanya seperti itu, aku malah membeku. Haris memaksaku menatap manik hitamnya yang begitu teguh tanpa ragu memancarkan cinta yang selama ini aku dambakan dari Mas Andre.
Semua yang dikatakan Haris benar, aku memang bisa menjadi diri sendiri saat bersama dirinya. Haris yang begitu menyilaukan dengan segala kelebihan yang ia miliki, tapi apa aku pantas bersanding dengannya? “Aku ….”
Drtt .. Drrtt … Drtt!
Sebuah panggilan memotong ucapanku, aku langsung memeriksanya. Telepon dari Ayu, aku kemudian menjaga jarak dari Haris untuk menerima panggilan tersebut.
“Halo?”
[Keysha … ini aku,] ucap Ayu yang terdengar aneh, sangat lemah hingga nyaris tidak terdengar.
__ADS_1
“Ayu, ada apa? Kamu baik-baik saja? Kenapa suaramu seperti ini?” tanyaku khawatir.
[Jangan pulang ke rumahku, Andre barusan datang mencarimu.]
“Apa?!” pekikku tidak percaya. Aku sampai menutup mulut saking terkejutnya. “Mas Andre ke rumahmu?”
Dari jauh Haris seperti membaca gerak bibirku yang menyebut nama Mas Andre, pria itu pun mendekat hingga berdiri tepat di sampingku.
“La-lalu?” aku sedikit gugup karena Haris seperti dengan sengaja menguping pembicaraanku.
[Andre menamparku, beruntung aku segera ditolong warga sekitar, tapi dia berhasil kabur.]
Aku melotot, dan menoleh pada Haris. Haris mengerutkan kening melihat responku. Aku kemudian mengangkat tangan agar dia diam karena pria itu seperti ingin ikut bicara.
“Ya Tuhan! Dia berani menamparmu? Aku akan ke sana sekarang!”
[Jangan Key, aku mohon. Ini demi keselamatanmu! Saat ini di rumahku tidak ada sosok lelaki yang bisa menjaga kita para wanita, aku tidak mau kamu sampai dibawa lagi oleh orang gila itu,] tekan Ayu menahan niatku untuk mendatanginya. Namun, aku tidak tenang. Mas Andre sudah kelewatan. Dia boleh bersikap kasar padaku, tapi tidak pada temanku.
“Tapi aku tidak bisa diam saja mendengar kamu terluka. Semua karenaku, maafkan aku, Yu,” sesalku karena membuat Ayu menerima dampak.
[Tidak Key, aku juga ingin kamu selamat. Dengan begini aku tahu tabiat buruknya, dan ini bisa memberatkannya dalam ajuan ceraimu nanti. Keputusanmu untuk berpisah adalah benar!]
__ADS_1