
Aku mencerna perkataan Mas Andre tentang Diana yang mengalami kecelakaan, benarkah semua karena diriku? Jika benar, aku sama sekali
tidak menghendaki hal tersebut terjadi. Aku akui aku salah karena telah memiliki perasaan terhadap Haris, suaminya. Namun, hatiku pun tidak bisa membohongi perasaan yang sudah terlanjur mencinta. Ya Tuhan, aku memang wanita berdosa.
Apa yang harus aku lakukan sekarang? Mas Andre juga sudah mengetahui semuanya. Tidak ada yang perlu aku tutupi lagi, tidak ada juga
pembelaan diri. Aku pasrah dan aku bersedia untuk mengakhiri semua. Aku sudah tidak sanggup lagi menjalani mahligai rumah tangga yang terasa hampa ini, tapi ternyata Mas Andre sama sekali tidak ingin menceraikan aku.
Ia malah menekanku akan kesalahan yang terjadi, memaksa untuk membayar semuanya dengan mengabdi di rumah, di dapur ini, menjadi pajangan seperti sebelum-sebelumnya.
Aku tidak bisa, aku sudah diambang batas kemampuanku. Semenjak bertemu dengan Haris aku menemukan jati diriku yang selama ini terkubur. Aku memiliki mimpi yang bisa aku gapai. Aku pun bukan wanita yang tidak berguna
seperti yang Mas Andre katakan. Karena aku mendapatkan email dari Lembaga tempat kumelamar kerja untuk segera mengajar di cabang di dekat daerah rumahku. Ralat, ini bukan rumahku, melainkan rumah Mas Andre.
Aku mengemasi pakaianku ke dalam koper pagi itu, menyiapkan sarapan seperti biasa dan hendak pergi dari sana. Baru saja aku memakai sepatu, Mas Andre keluar dari kamar.
“Mau ke mana kamu?” hardiknya dengan mata melotot. Tatapannya liar memindaiku dari ujung kaki hingga ujung rambut dan terhenti pada koper
yang ada di sampingku.
“Aku pikir kita butuh waktu. Aku tidak bisa meneruskannya lagi, Mas. Seperti yang kamu bilang, aku wanita hina. Jadi biarkan aku pergi,
aku akan mengganti semua uang yang sudah Mas keluarkan untukku. Aku akan mengirimkannya setiap bulan saat aku sudah menerima gaji.”
Mas Andre tidak menjawab, tapi aku bisa melihat harangnya mengetat. Tanpa aba-aba dia mendekatiku dengan cepat lalu merampas koperku dan melemparnya ke sembarangan arah. Dia mencengkeram pipiku hingga aku merasakan
nyeri.
“Mas!”
“Kamu tidak akan ke mana-mana!”
“Untuk apa aku di sini lagi? Bukankah semuanya sudah jelas, rumah tangga kita tidak bisa dipertahankan lagi, aku juga sudah mendapatkan
pekerjaan, jadi Mas tidak perlu takut merugi.”
__ADS_1
“Persetan dengan pekerjaan dan gajimu, aku tidak butuh!” Mas Andre menarik tanganku dan menyeretku masuk ke dalam kamar.
“Akh!” aku terhempas dan lututku terantuk lantai cukup keras. Aku berpaling pada Mas Andre yang menatap penuh amarah.
“Kenapa? Sakit? Sakitmu tidak sebanding dengan sakitku, Keysha!” desisnya.
Aku mendongak, ketika dia membahas masalah sakit. Mas Andre yang sama sekali tidak pantas mengatakan hal itu. Siapa yang tersakiti? Jangan
bercanda! Aku berdiri menahan denyutan perih dilututku sambil mengepalkan tangan.
“Tidak, Mas tidak sesakit itu. Bila Mas mau berpikir, akulah yang paling sakit di sini. Sejak dulu, aku bertahan ketika kamu mencaci makiku.
Mengataiku tidak berguna bahkan wanita bebal. Tidak bisa memberikan anak dan sebagainya. Apa kamu pantas membahas masalah sakit hati? Di sini, di sini sudah tidak berbentuk, Mas!” tunjukku pada dadaku sendiri. Aku menekannya dalam agar dia melihat seprustasi apa aku selama ini menahannya.
“Aku menyadari kekuranganku, aku sangat tahu itu! Aku berjuang seorang diri melakukan berbagai usaha agar aku bisa memberikan keturunan, hal yang aku harapkan sebagai kebanggaan yang tersisa dariku untukmu Mas, tapi apa? Kamu tidak pernah menghargainya, bahkan hanya wajah sebal dan kesal yang kamu perlihatkan. Menyesal karena uangmu habis olehku, padahal uang itu juga masuk ke dalam perutmu!” tekanku dengan suara bergetar. Aku menitikkan air mata karena sesak ini akhirnya terluapkan sudah.
Pria itu terperangah melihat aku untuk pertama kalinya berani meninggikan suara bahkan mengeluh padanya. Keluhan atas sikap dirinya
selama ini. Aku sudah muak!
“Dengan Haris aku mendapatkan apa yang tidak pernah kamu berikan padaku, Mas. Kelembutan dan sebuah penghargaan, memperlakukan aku
“BERHENTI MENYEBUT NAMANYA!” teriak Mas Andre.
Aku tersentak, teriakan itu berhasil membuatku mengatupkan bibirku rapat. Meski begitu, aku sudah mempersiapkan diri kalau-kalau Mas Andre
melakukan hal diluar dugaan seperti memukulku atau semacamnya.
Aku memejamkan mata saat Mas Andre mendekat. Apa yang akan dia lakukan kali ini? Aku menerka-nerka dalam hati.
“Berkeluh kesahlah sebanyak yang kamu mau, aku tidak akan pernah melepaskanmu. Bila mimpimu mempunyai anak. Maka aku akan mengabulkannya, secepatnya!” Mas Andre berbisik setelah itu ia berjalan menuju pintu dan
menutupnya. Aku membuka mata ketika mendengar suara kunci yang di putar. Aku membeliak dan segera berlari menuju pintu tersebut.
Cklek, cklek, cklek!
__ADS_1
Aku menarik tuas pintu yang bergeming.
Terkunci?
Brak, brak, brak!
“Mas! Buka pintunya! Mas!” Aku menggedor pintu berusaha untuk keluar. Namun, Mas Andre tidak kunjung membukanya.
Aku mencari ponselku, dan aku tersadar jika benda pipih itu ada di dalam tas yang Mas Andre hempaskan tadi. Aku luruh terduduk di depan
pintu, rasanya tubuhku seperti jelly. Mengapa jadi seperti ini?
Banyak hal yang aku pikirkan, seperti hari ini seharusnya aku sudah mulai mengajar. Aku menyugar rambut kasar, menarik napasku yang
tersendat.
***
Samar-samar aku mendengar langkah kaki yang mendekat, aku mengerjap berusaha membuka mata. Ternyata aku tertidur disebabkan saking lelahnya berteriak memohon untuk dibukakan pintu. Tidak lama pintunya pun terbuka. Aku segera bangkit, tapi Mas Andre segera menutupi pintu itu dengan tubuhnya hingga aku tidak bisa keluar.
“Mas, maksud mas apa sih?” pekikku berusaha menggapai pintu.
“Kenapa masih bertanya? Tentu saja aku sedang mengurungmu agar kamu tidak bisa ke mana-mana,” jawabnya tanpa rasa bersalah.
“Mas, jangan seperti anak kecil!”
“Kamu mau pergi ke Haris sialan itu ‘kan? Apa kamu tidak punya hati? Dia punya istri, Keysha! Sadar!” Mas Andre mengguncang tubuhku.
Aku menarik napas berat, sebuah kenyataan jika sudah kelewat batas. “Aku tau, mungkin aku akan menyerah pada Haris, tapi bukan berarti aku akan tetap di sini. Berpisah denganmu adalah pilihanku sendiri, Mas.”
Mas Andre merubah raut wajahnya semakin suram. “Kamu memang tidak bisa diajak bicara baik-baik.” Ia menggiringku menuju ranjang dengan mencekal tanganku. Dia membawa tali dan mengikatkannya padaku. Aku melebarkan
mata melihat apa yang dia perbuat. Aku berontak sebisaku. Namun, tentu saja tenaga wanita tidak bisa mengalahkan tenaga seorang pria.
“Mas! Lepas!”
__ADS_1
“Pikirkan lagi, pakai kepalamu untuk berpikir Keysha! Apa susahnya menuruti semua keinginanku? Semua demi kebaikan kita!”
Aku menggeleng dengan derai air mata, Mas Andre sudah gila!