
(POV Keysha)
Kucuran air dingin membasahi pucuk kepalaku, menghadirkan sensasi
menyegarkan. Setelah menempuh perjalanan sekitar tiga jam, aku didera
kelelahan. Guyuran air membuat perasaanku lebih nyaman.
Aku melihat wajah Mas Andre berbeda saat menyambutku di depan pintu. Dia
menatapku seperti orang asing. Biasanya Mas Andre memberondongku dengan banyak
pertanyaan saat aku pulang, entah dari berbelanja atau memeriksakan kandungan.
Tetapi kali ini, dia tidak melakukannya. Mas Andre hanya memandangku dengan
tatapan aneh, lalu menyuruhku untuk mandi. Hal yang tidak biasa ia lakukan.
Tetapi karena memang sangat lelah, aku hanya menuruti perkataannya, sekaligus
ingin menikmati kesendirian ini lebih lama.
Kata-kata Diana tadi membuatku resah. Aku tidak menyangka, ternyata
dia menyusul Haris ke hotel. Untunglah kami sedang berada di area terbuka. Aku
tidak bisa membayangkan jika dia datang dan menemukan kami di kamar hotel.
Meskipun kami tidak melakukan perbuatan terlarang, tetapi tetap saja ini salah.
Aku berkali-kali menjambak rambutku, menyesali kebodohan yang terlanjur
aku lakukan. Harusnya aku tidak terbuai perasaan, harusnya aku tidak menuruti
sisi liar di dalam diriku, harusnya aku tidak tertuntun pada muara
rasa indah yang ditawarkan Haris. Apakah aku selemah itu?
Aku menggelengkan kepala kuat-kuat saat mengingat ekspresi Diana yang
seolah-olah jijik menatapku. Aku kepergok, ketahuan makan bareng suaminya. Oh,
ini memalukan! Aku masih bisa berpikir waras, jika melihat Mas Andre sedang
bersama wanita lain, mungkin aku juga akan bersikap yang sama seperti Diana.
Di sepanjang perjalanan pulang, Haris menenangkan aku. Dia mengirimkan
pesan banyak sekali, tetapi aku tidak membalasnya. Aku sedang malas dan ingin
sendirian menyesali kebodohan ini diam-diam.
Aku tahu, Haris pasti khawatir. Tetapi mungkin, inilah yang terbaik,
sementara waktu kami tidak bertemu dan berkomunikasi dulu hingga semuanya
mereda.
Haris pasti harus mempertanggungjawabkan kebersamaan kami ini. Dia butuh
menjelaskan panjang lebar kepada Diana. Apalagi, aku sempat mendengar tadi
Diana mengungkit-ungkit kebaikannya. Saat aku check out dari hotel dan
melintasi lobi, masih terdengar suara Diana memaki-maki Haris, dan pria itu
hanya diam tidak menjawab apa-apa. Pemandangan yang membuatku kian menyadari
bahwa semua ini salah, dan tidak seharusnya terjadi. Aku memang bodoh!
"Keysha, apa yang kamu lakukan? Kamu sudah bertindak terlalu
jauh," batinku memberontak, tetapi hati nuraniku membenarkan bahwa aku
berhak mengecap kebahagiaan bersama pria lain.
Sekarang aku bisa melihat betapa kotornya diri ini. Aku memasang setelan
shower lebih kencang. Pada putaran tertinggi, kucuran air mengalir deras.
Kuharap ini bisa membasuh sisa-sisa dosa yang aku lakukan bersama Haris.
Aku memegang bibir ini, bibir yang sudah dinikmati dan juga menikmati
hangatnya bibir Haris. Lalu, seketika tubuhku terasa melayang lagi,
__ADS_1
membayangkan betapa panasnya ciuman kami tadi malam.
Untung saja saat itu aku masih punya kewarasan. Dan, yang menyelamatkan
aku dari kehinaan adalah panggilan masuk dari suamiku. Jika Mas Andre tidak
menelepon, aku tidak tahu apa yang akan terjadi selanjutnya karena semua ini
begitu indah, semua ini begitu memabukkan. Aku tak punya alasan untuk kembali.
Berkali-kali aku menggigit bibir ini, menikmati sensasi panas yang
ditinggalkan Haris. Untuk pertama kalinya, aku menikmati sentuhan demi sentuhan
seorang pria. Haris melakukannya dengan sangat lembut, berbeda dengan Mas
Andre.
Brak! Pintu kamar mandi didobrak dengan paksa, padahal aku sudah menguncinya.
"Mas Andre, kenapa ke sini?" Refleks, aku menutup dada dengan
kedua tangan.
"Kenapa ditutup?" tanya Mas Andre dingin.
"Mas, aku sebentar lagi selesai. Mas Andre tunggu dulu, ya? Aku
sudah mau bilasan terakhir."
"Tetaplah di tempatmu!"
Ucapan Mas Andre membuatku membeku. Jika mendengar perintah ini, aku
sudah tahu apa yang terjadi selanjutnya.
Baru saja aku membayangkan kenikmatan itu bersama pria yang
memperlakukanku dengan hormat, sekarang inilah kenyataan yang sebenarnya, dan
tidak boleh aku hindari, bahwa aku harus melayani pria yang dijuluki suami,
tetapi tak tahu cara memperlakukan istri.
Mas Andre menarik tanganku dengan kasar sehingga dadaku bertemu dadanya.
nyaris tanpa jarak lagi sekarang. Spontan, aku memejamkan mata ketakutan.
Takut, itulah ekspresi yang aku perlihatkan. Wajahnya begitu garang,
tidak seperti biasanya. Dengan rakus, Mas Andre ******* bibirku, lalu dia
bergumam, "Aku tidak rela bibir ini dinikmati siapa pun."
Aku tersentak kaget mendengar kata-katanya. Apakah Mas Andre tahu apa
yang sudah aku lakukan di hotel kemarin dengan Haris?
"Kamu dengar aku, Key?" tanyanya saat aku berusaha melepaskan
diri.
"Kenapa Mas bersikap kasar begini?" tanyaku ketakutan.
"Kamu dengar aku barusan? Aku tidak akan membiarkan kamu dengan
laki-laki lain, termasuk dengan Haris!"
Deg! Jantungku bagai dipukul palu godam, lututku gemetar seketika. Jadi,
Mas Andre tahu? Apakah Diana sudah memberitahunya? Dari mana perempuan itu bisa
menghubungi suamiku?
Sejujurnya, inilah yang aku takutkan sejak perjalanan di bus tadi.
Bagaimana kalau Diana menceritakan apa yang ia lihat kepada suamiku? Dan,
ternyata benar!
"Kenapa wajahmu pucat begitu? Kamu selingkuh dengan Haris?"
tanya Mas Andre membuatku gugup.
Aku menggelengkan kepala kuat-kuat. "Enggak, Mas, mana aku berani?
__ADS_1
Enggak."
Sekali lagi aku menggeleng, tetapi Mas Andre hanya menatapku sinis.
"Kalau begitu, sekarang layani aku dan jangan menolak lagi!"
serunya.
Bagaimana bisa aku melayaninya jika perasaanku tidak tenang begini?
Tetapi, aku hanya menurut saja saat kecupan demi kecupan ia daratan di seluruh
tubuhku yang menegang menahan takut.
"Kamu ini kenapa, Key?" tanya Mas Andre saat aku tidak memberi
reaksi seperti yang dia inginkan.
Entahlah! Aku sangat takut sekarang, berdekatan dengannya
membuatku was-was. Takut, cemas, tegang, was-was, semuanya bercampur jadi
satu dan membuatku tidak bisa menikmati setiap sentuhannya. Jangankan membalas,
merasakan kenikmatan saja, sekarang aku tidak bisa. Batinku dipenuhi berbagai
macam perasaan, tetapi takut dan bersalah itu yang paling mendominasi.
"Aku bilang, layani aku! Kamu cuma milikku!" Mas Andre menghentakkan
tubuhku kuat-kuat, lalu seperti biasa dia berusaha mereguk kenikmatannya
sendiri, tanpa memedulikan teriakanku.
"Sakit, Mas," ucapku tertahan.
"Lebih sakit aku saat membayangkan kamu bercumbu dengan laki-laki
lain."
Ucapan Mas Andre lagi-lagi menohok relung jantungku. Apa ini benar? Aku
tidak salah dengar? Suamiku tahu aku punya hubungan dengan Haris?
Pedih rasanya membayangkan apa yang akan ia lakukan selanjutnya, tetapi
aku tak punya daya kekuatan apa pun untuk melawannya. Lihatlah yang dia lakukan
sekarang. Dari belakang dia menggauliku semaunya, dan aku tidak bisa menolak.
Aku hanya menjerit tertahan, menahan perih di bawah sana.
"Brengsek!" ucapnya sembari mendorongku sehingga tubuhku
mengenai pinggir dinding kamar mandi. "******, kamu Keysha! Lihat,
sekarang kamu bahkan tidak bisa melayani suamimu dengan benar! Aku bahkan tidak
bernafsu lagi untuk menggaulimu sekarang!" ucapnya dengan marah, lalu
meninggalkan aku di kamar mandi sendirian.
Aku jatuh terduduk meratapi kebodohan ini. Tentu saja, bagaimana bisa
aku menikmati kekasarannya? Aku bahkan tidak terangsang sedikit pun, yang ada
hanya rasa perih. Bukan hanya aku yang merasakan, tetapi dia juga pasti
merasakan perih itu saat memasukkan senjatanya, yang ada pasti lecet jika dilanjutkan.
Bahkan organ intimku saja berani menolak dan tidak mau menerima paksaan.
Tetapi kenapa aku selalu bersikap sok kuat menerima semua hinaan perkataan
kasar yang keluar dari mulut suamiku?
Aku jatuh terduduk di bawah kucuran derasnya air shower. Rasanya, aku
tidak bisa bertahan lebih lama dengan kegilaan ini. Aku tahu, Mas Andre
sekarang sudah tidak menganggapku sama seperti dulu, mungkin dia sudah
menganggap aku pelacur. Ucapan ****** yang keluar dari mulutnya barusan adalah
buktinya. Dia tidak pernah mengatakan itu sebelumnya. Sekarang aku pasrah,
__ADS_1
tetapi aku tidak ingin menyerah.