Rahim Impian

Rahim Impian
Luapan Amarah


__ADS_3

(POV Keysha)


Kucuran air dingin membasahi pucuk kepalaku, menghadirkan sensasi


menyegarkan. Setelah menempuh perjalanan sekitar tiga jam, aku didera


kelelahan. Guyuran air membuat perasaanku lebih nyaman.


Aku melihat wajah Mas Andre berbeda saat menyambutku di depan pintu. Dia


menatapku seperti orang asing. Biasanya Mas Andre memberondongku dengan banyak


pertanyaan saat aku pulang, entah dari berbelanja atau memeriksakan kandungan.


Tetapi kali ini, dia tidak melakukannya. Mas Andre hanya memandangku dengan


tatapan aneh, lalu menyuruhku untuk mandi. Hal yang tidak biasa ia lakukan.


Tetapi karena memang sangat lelah, aku hanya menuruti perkataannya, sekaligus


ingin menikmati kesendirian ini lebih lama.


Kata-kata Diana tadi membuatku resah.  Aku tidak menyangka, ternyata


dia menyusul Haris ke hotel. Untunglah kami sedang berada di area terbuka. Aku


tidak bisa membayangkan jika dia datang dan menemukan kami di kamar hotel.


Meskipun kami tidak melakukan perbuatan terlarang, tetapi tetap saja ini salah.


Aku berkali-kali menjambak rambutku, menyesali kebodohan yang terlanjur


aku lakukan. Harusnya aku tidak terbuai perasaan, harusnya aku tidak menuruti


sisi liar di dalam diriku,   harusnya aku tidak tertuntun pada muara


rasa indah yang ditawarkan Haris. Apakah aku selemah itu?


Aku menggelengkan kepala kuat-kuat saat mengingat ekspresi Diana yang


seolah-olah jijik menatapku. Aku kepergok, ketahuan makan bareng suaminya. Oh,


ini memalukan! Aku masih bisa berpikir waras, jika melihat Mas Andre sedang


bersama wanita lain, mungkin aku juga akan bersikap yang sama seperti Diana.


Di sepanjang perjalanan pulang, Haris menenangkan aku. Dia mengirimkan


pesan banyak sekali, tetapi aku tidak membalasnya. Aku sedang malas dan ingin


sendirian menyesali kebodohan ini diam-diam.


Aku tahu, Haris pasti khawatir. Tetapi mungkin, inilah yang terbaik,


sementara waktu kami tidak bertemu dan berkomunikasi dulu hingga semuanya


mereda.


Haris pasti harus mempertanggungjawabkan kebersamaan kami ini. Dia butuh


menjelaskan panjang lebar kepada Diana. Apalagi, aku sempat mendengar tadi


Diana mengungkit-ungkit kebaikannya. Saat aku check out dari hotel dan


melintasi lobi, masih terdengar suara Diana memaki-maki Haris, dan pria itu


hanya diam tidak  menjawab apa-apa. Pemandangan yang membuatku kian menyadari


bahwa semua ini salah, dan tidak seharusnya terjadi. Aku memang bodoh!


"Keysha, apa yang kamu lakukan? Kamu sudah bertindak terlalu


jauh," batinku memberontak, tetapi hati nuraniku membenarkan bahwa aku


berhak mengecap kebahagiaan bersama pria lain.


Sekarang aku bisa melihat betapa kotornya diri ini. Aku memasang setelan


shower lebih kencang. Pada putaran tertinggi, kucuran air mengalir deras.


Kuharap ini bisa membasuh sisa-sisa dosa yang aku lakukan bersama Haris.


Aku memegang bibir ini, bibir yang sudah dinikmati dan juga menikmati


hangatnya bibir Haris. Lalu, seketika tubuhku terasa melayang lagi,

__ADS_1


membayangkan betapa panasnya ciuman kami tadi malam.


Untung saja saat itu aku masih punya kewarasan. Dan, yang menyelamatkan


aku dari kehinaan adalah panggilan masuk dari suamiku. Jika Mas Andre tidak


menelepon, aku tidak tahu apa yang akan terjadi selanjutnya karena semua ini


begitu indah, semua ini begitu memabukkan. Aku tak punya alasan untuk kembali.


Berkali-kali aku menggigit bibir ini, menikmati sensasi panas yang


ditinggalkan Haris. Untuk pertama kalinya, aku menikmati sentuhan demi sentuhan


seorang pria. Haris melakukannya dengan sangat lembut, berbeda dengan Mas


Andre.


Brak! Pintu kamar mandi didobrak dengan paksa, padahal aku sudah menguncinya.


"Mas Andre, kenapa ke sini?" Refleks, aku menutup dada dengan


kedua tangan.


"Kenapa ditutup?" tanya Mas Andre dingin.


"Mas, aku sebentar lagi selesai. Mas Andre tunggu dulu, ya? Aku


sudah mau bilasan terakhir."


"Tetaplah di tempatmu!"


Ucapan Mas Andre membuatku membeku. Jika mendengar perintah ini, aku


sudah tahu apa yang terjadi selanjutnya.


Baru saja aku membayangkan kenikmatan itu bersama pria yang


memperlakukanku dengan hormat, sekarang inilah kenyataan yang sebenarnya, dan


tidak boleh aku hindari, bahwa aku harus melayani pria yang dijuluki suami,


tetapi tak tahu cara memperlakukan istri.


Mas Andre menarik tanganku dengan kasar sehingga dadaku bertemu dadanya.


nyaris tanpa jarak lagi sekarang. Spontan, aku memejamkan mata ketakutan.


Takut, itulah ekspresi yang aku perlihatkan. Wajahnya begitu garang,


tidak seperti biasanya. Dengan rakus, Mas Andre ******* bibirku, lalu dia


bergumam, "Aku tidak rela bibir ini dinikmati siapa pun."


Aku tersentak kaget mendengar kata-katanya. Apakah Mas Andre tahu apa


yang sudah aku lakukan di hotel kemarin dengan Haris?


"Kamu dengar aku, Key?" tanyanya saat aku berusaha melepaskan


diri.


"Kenapa Mas bersikap kasar begini?" tanyaku ketakutan.


"Kamu dengar aku barusan? Aku tidak akan membiarkan kamu dengan


laki-laki lain, termasuk dengan Haris!"


Deg! Jantungku bagai dipukul palu godam, lututku gemetar seketika. Jadi,


Mas Andre tahu? Apakah Diana sudah memberitahunya? Dari mana perempuan itu bisa


menghubungi suamiku?


Sejujurnya, inilah yang aku takutkan sejak perjalanan di bus tadi.


Bagaimana kalau Diana menceritakan apa yang ia lihat kepada suamiku? Dan,


ternyata benar!


"Kenapa wajahmu pucat begitu? Kamu selingkuh dengan Haris?"


tanya Mas Andre membuatku gugup.


Aku menggelengkan kepala kuat-kuat. "Enggak, Mas, mana aku berani?

__ADS_1


Enggak."


Sekali lagi aku menggeleng, tetapi Mas Andre hanya menatapku sinis.


"Kalau begitu, sekarang layani aku dan jangan menolak lagi!"


serunya.


Bagaimana bisa aku melayaninya jika perasaanku tidak tenang begini?


Tetapi, aku hanya menurut saja saat kecupan demi kecupan ia daratan di seluruh


tubuhku yang menegang menahan takut.


"Kamu ini kenapa, Key?" tanya Mas Andre saat aku tidak memberi


reaksi seperti yang dia inginkan.


Entahlah! Aku sangat takut sekarang,  berdekatan dengannya


membuatku  was-was. Takut, cemas, tegang, was-was, semuanya bercampur jadi


satu dan membuatku tidak bisa menikmati setiap sentuhannya. Jangankan membalas,


merasakan kenikmatan saja, sekarang aku tidak bisa. Batinku dipenuhi berbagai


macam perasaan, tetapi takut dan bersalah itu yang paling mendominasi.


"Aku bilang, layani aku! Kamu cuma milikku!" Mas Andre menghentakkan


tubuhku kuat-kuat, lalu seperti biasa dia berusaha mereguk kenikmatannya


sendiri, tanpa memedulikan teriakanku.


"Sakit, Mas," ucapku tertahan.


"Lebih sakit aku saat membayangkan kamu bercumbu dengan laki-laki


lain."


Ucapan Mas Andre lagi-lagi menohok relung jantungku. Apa ini benar? Aku


tidak salah dengar? Suamiku tahu aku punya hubungan dengan Haris?


Pedih rasanya membayangkan apa yang akan ia lakukan selanjutnya, tetapi


aku tak punya daya kekuatan apa pun untuk melawannya. Lihatlah yang dia lakukan


sekarang. Dari belakang dia menggauliku semaunya, dan aku tidak bisa menolak.


Aku hanya menjerit tertahan, menahan perih di bawah sana.


"Brengsek!" ucapnya sembari mendorongku sehingga tubuhku


mengenai pinggir dinding kamar mandi. "******, kamu Keysha! Lihat,


sekarang kamu bahkan tidak bisa melayani suamimu dengan benar! Aku bahkan tidak


bernafsu lagi untuk menggaulimu sekarang!" ucapnya dengan marah, lalu


meninggalkan aku di kamar mandi sendirian.


Aku jatuh terduduk meratapi kebodohan ini. Tentu saja, bagaimana bisa


aku menikmati kekasarannya? Aku bahkan tidak terangsang sedikit pun, yang ada


hanya rasa perih. Bukan hanya aku yang merasakan, tetapi dia juga pasti


merasakan perih itu saat memasukkan senjatanya, yang ada pasti lecet jika dilanjutkan.


Bahkan organ intimku saja berani menolak dan tidak mau menerima paksaan.


Tetapi kenapa aku selalu bersikap sok kuat menerima semua hinaan perkataan


kasar yang keluar dari mulut suamiku?


Aku jatuh terduduk di bawah kucuran derasnya air shower. Rasanya, aku


tidak bisa bertahan lebih lama dengan kegilaan ini. Aku tahu, Mas Andre


sekarang sudah tidak menganggapku sama seperti dulu, mungkin dia sudah


menganggap aku pelacur. Ucapan ****** yang keluar dari mulutnya barusan adalah


buktinya. Dia tidak pernah mengatakan itu sebelumnya. Sekarang aku pasrah,

__ADS_1


tetapi aku tidak ingin menyerah.


__ADS_2