
PoV Andre
Rumah ini sepi tanpa kehadiran Keysha. Sedari pagi aku sudah menghibur diri dengan keluar rumah untuk mencari makanan, berputar-putar di sekitar komplek sekadar mengurangi kebosanan. Ini hari libur, tetapi Keysha tidak ada di rumah sehingga membuatku mati gaya, tidak tahu harus berbuat apa. Seharusnya aku senang karena punya lebih banyak waktu untuk "me time." Aku bisa datang ke gym, berolahraga, berenang, atau bahkan memancing bersama teman-teman yang punya hobi sama. Akan tetapi tanpa Keysha, aku justru tidak semangat melakukan semuanya.
Aku sendiri heran, Keysha yang selama ini kuanggap sebagai patung pajangan di rumah dan selalu menyebalkan karena sangat monoton hidupnya, telah membuatku gelisah saat dia tak ada seperti sekarang ini. Sebetulnya, apa yang terjadi?
Kalau mau makan, aku tinggal pesan, meskipun Keysha menyediakan banyak makanan di kulkas sebelum ia berangkat. Ia hanya pergi dua hari, tetapi makanan yang ia buat bisa untuk bekal satu minggu.
Rumah sudah dibersihkan sangat rapi sehingga tak perlu aku membersihkan lagi. Saat dia pulang, pasti akan senang karena aku tak membuat kerusuhan apa pun. Tidak ada sampah kulit kacang berserakan, atau juga jejak-jejak kotoran sisa makanan yang lain. Tanpa dia di rumah, aku justru sangat berhati-hati menjaga kebersihan.
Tidur sendirian. Mungkin ini hal baru, tetapi bukankah selama ini, saat ada dia pun semua tetap sama? Hanya satu malam dia pergi, tetapi rasanya aku benar-benar seperti ayam kehilangan induk. Ada yang hilang, perasaan nyaman dan aman.
Agak ragu aku berpikir tentang rasa aman ini karena bisa saja Keysha macam-macam di belakangku. Tetapi segera aku tepis pikiran itu. Satu-satunya kecurigaanku tentang Haris memang beralasan, tetapi ini hanya satu malam, lebih tepatnya, dua hari, satu malam yang bagiku terasa panjang dan menyebalkan.
Aku melirik arloji, sudah pukul 01.00 siang. Keysha bilang, acaranya selesai sekitar pukul 03.00. Itu berarti dua jam lagi dia akan check out dari hotel. Kalau tidak ada halangan, mungkin jam lima dia sudah sampai di rumah, tinggal sebentar lagi. Tetapi, dada ini dipenuhi keresahan yang tidak aku mengerti.
Tring!
Satu pesan masuk ke WhatsApp dari nomor tidak dikenal. Aku lihat picture profilnya seorang wanita yang sepertinya tidak asing. Aku perhatikan dia lagi. Pandanganku tertumbuk pada pria di sebelahnya. Itu Diana dan Haris. Segera aku buka pesan yang ia kirimkan. Ternyata ia mengirimkan beberapa gambar yang membuat lututku lemah, dadaku sesak diamuk amarah.
Diana mengirimkan beberapa foto dari angle yang berbeda, tetapi objeknya sama, Keisha sedang makan satu meja dengan Haris. Aku mendekatkan pandangan pada layar ponsel dan aku tidak salah lihat, itu benar Keysha dan Haris yang sedang makan di satu meja.
Kecurigaanku sekarang semakin beralasan. Selama ini Keysha sudah bermain gila di belakangku, dan kemarin dia menggunakan kesempatan pelatihan untuk bertemu dengan Haris. ******!
__ADS_1
Bugh! Aku memukul meja makan. Untung, meja itu terbuat dari kayu, jika terbuat dari kaca, mungkin kacanya sudah pecah berhamburan, tetapi aku tak peduli. Keysha ternyata menyelingkuhi aku. Dadaku bergemuruh, gigiku bergemeretak. Berkali-kali aku menahan geram dengan mengepalkan tangan kuat-kuat. Ini bukti bahwa benar Keysha berani main gila di belakang.
[Mas Andre, mohon izin untuk share foto-foto ini. Saya harap, Anda bisa mendidik istri agar tidak mengganggu suami saya. Sekarang mereka sedang makan, tapi siapa yang tahu kejadian tadi malam? Mereka mungkin saja tidur dalam satu kamar, bukan?]
Pesan dari Diana semakin memicu amarah di dadaku. Napasku tak beraturan seiring degub jantung yang kian berpacu dengan emosi jiwa ini.
"Sial! Keysha benar-benar minta dihajar," ucapku geram.
Aku berjalan mondar-mandir bagai orang gila. Jika benar dia telah berani tidur dengan laki-laki itu, aku tidak akan memaafkannya. Keysha, kamu benar-benar sudah tak menganggap aku. Harga diriku robek dengan ulahnya ini. Keysha-ku yang lugu, jarang keluar rumah, dan seperti tidak mengenal dunia luar, sekarang berubah liar.
"Apa hukuman yang pantas untukmu Keysha?"
Aku memikirkan cara apa yang harus kupakai untuk menghukumnya. Kali ini aku benar-benar tidak bisa mengampuninya. Hal terburuk dari kejadian ini adalah kami bercerai. Iya, aku akan menceraikannya.
Oh, tidak! Itu terlalu mudah kalau aku menceraikannya. Bisa saja Haris menjadikannya istri, dan mereka hidup bahagia. Itu tidak boleh terjadi! Keysha hanya milikku seorang, tidak ada yang boleh memilikinya.
Sudut hatiku yang lain tercubit. Kalau dia serendah itu di mataku, kenapa aku harus merasa kehilangan dan sakit hati saat dia bersama laki-laki lain? Namun itu Keysha-ku, wanitaku! Mengganggu wanitaku sama saja menohok harga diriku, dan aku tidak akan membiarkan siapa pun melakukannya. Haris, kamu salah memilih seteru.
Selama ini aku berusaha untuk tetap setia dengannya, meskipun terasa memuakkan. Aku menelan semua kekecewaan karena dia tak kunjung bisa hamil. Aku tetap setia, tetapi ternyata Keysha tidak pantas mendapatkan kesetiaanku. Lebih dari itu, ternyata dia hanya wanita murahan, dan ini sangat memukul harga diriku sebagai laki-laki.
"Lihat saja, aku tidak akan membiarkan kamu hidup tenang, apalagi bersenang-senang dengan pria lain. Kamu cuma milikku, sampai mati pun aku tidak akan melepaskanmu."
Aku menelepon Diana, tetapi perempuan itu tidak mengangkatnya. Jika dia mendapatkan foto-foto ini, berarti Diana berada di lokasi tempat mereka menginap. Jadi sebetulnya, tidak ada yang perlu aku khawatirkan lagi.
__ADS_1
Akhirnya aku membalas pesan itu.
[Jadi Anda berada di lokasi hotel itu sekarang? Bagaimana reaksi mereka? Saya tidak sabar ingin bertemu Anda. Tolong, Anda yang atur waktunya.]
Bukan hanya aku yang harus bertindak, tetapi Diana juga harus memberikan hukuman untuk suaminya, maka aku membuat janji dengannya untuk mengatakan kecurigaanku selama ini. Benar, Diana harus tahu kalau Haris-lah yang mengganggu Keysha, sedangkan wanitaku itu terlalu bodoh untuk menolak.
Sial! Penantian tiga jam terasa seumur hidup. Aku sudah memutuskan untuk berpura-pura tidak tahu tentang foto-foto itu. Aku ingin melihat bagaimana Keysha berakting sebagai pelacur di depanku.
Jam lima lebih sedikit, Keysha pulang. Aku menyambutnya di depan pintu.
"Mas, aku pulang," ucapnya pelan.
Aku hanya diam sambil memandanginya. Jika melihatnya sekarang, rasanya aku ingin melayangkan tamparan keras pada pipinya yang mungkin saja sudah ternoda oleh ciuman Haris. Lalu bibir itu, apakah Haris juga sudah mencium bibirnya? Aku bisa gila hanya dengan membayangkannya saja.
"Mas, kenapa melihatku seperti itu?"
"Masuklah!" ucapku dingin.
Aku mati-matian berusaha meredam gejolak amarah di dada ini. Rasanya aku ingin memberinya pelajaran sekarang. Ya, sebaiknya aku memberikan hukuman!
Aku menarik tangannya dengan keras saat Keysha telah meletakkan kopernya di sudut kamar. " Apa kamu lelah?" tanyaku.
"Iya, Mas, aku sedikit capek," jawabnya sambil menundukkan kepala. ****** ini tak berani menatapku.
__ADS_1
"Mandi dulu sana!" Aku melepaskan tangannya.
Keysha menyelidik dengan pandangannya, aku hanya diam. Perlahan-lahan wanita itu menuju ke kamar mandi, dan inilah saat yang tepat untuk memberinya pelajaran.