Rahim Impian

Rahim Impian
Gelap Gulita


__ADS_3

POV Andre


Suara jam weker berdering dengan nyaring memecah keheningan, aku baru saja terlelap sontak terjaga oleh weker yang seolah menjerit. Meraihnya dengan malas dan segera memencet tombol off agar weker itu berhenti mengangguku. Aku masih mengantuk.


Saat ingin memejamkan mata, aku teralihkan oleh punggung polos Keysha. Wanita itu masih diam meski aku gauli semalaman. Aku tidak memberikannya jeda, berharap benihku segera terbuahi dan menjadi janin di dalam rahimnya. Ya, hanya itu yang bisa aku lakukan untuk mengikatnya. Kami harus segera memiliki anak.


Terlintas ketika dia merengek memintaku untuk berhenti, menangis dan menjerit kesakitan. Padahal aku berusaha melakukan penetrasi berulang-ulang agar ia merasakan nikmat. Namun, Keysha seperti tidak terpancing, ia tidak kunjung basah. Akhirnya, aku mengakali dengan mengoleskan sedikit cairan pelicin.


Apa dia begitu membencinya? Sampai-sampai tidak bergairah, hanya aku yang menikmati dan itu membuatku semakin geram.


Karena itu, aku meninggalkan banyak jejak kepemilikan di seluruh tubuhnya, agar dia sadar siapa pemiliknya. Siapa prianya?!


“Keysha …” panggilku lirih sambil merengkuhnya dari belakang, membaui harum tubuhnya yang hampir memudar karena jarangnya intraksi antara kami. Entah mengapa aku jadi merindukannya.


Tanpa diduga, Keysha menegang dan berontak melepaskan diri. Ia menarik selimut berusaha menutupi tubuhnya yang polos. Aku mendesah, untuk apa dia melakukan itu? Aku sudah terbiasa melihatnya tanpa busana.


“Keysha … menurutlah seperti biasanya. Aku akan memaafkan kesalahanmu kali ini. Aku tidak akan marah, jadi … tolong dengarkan aku!” ucapku serendah mungkin meski di dalam hati aku sangat gemas. Aku tidak suka dengan sikap Keysha yang membangkang seperti ini. Semua gara-gara pria kurang ajar itu. Aku tidak akan membiarkan mereka bertemu lagi.

__ADS_1


Lagi-lagi aku hanya melihat penolakan dengan gelengan kepalanya. Aku mengepalkan tangan, menarik napas panjang.


‘Tahan Andre, tahan!’ batinku bekecamuk.


Aku beranjak dari ranjang dalam keadaan telanjang, meninggalkan Keysha ke kamar mandi. Di sana aku mengguyur diriku dengan air dingin.


BUGH!


BUGH!


BUGH!


Baiklah, mungkin aku terlalu keras. Aku akan mencoba melunak, membuat dia percaya padaku terlebih dahulu sampai semua kembali seperti


semula dan aku bisa mengendalikannya.


Setelah menenangkan diri, aku mulai membersihkan tubuh. Beberapa menit sampai aku selesai dan keluar dari kamar mandi. Keysha masih dalam posisi sama, tentu saja karena ia terikat.

__ADS_1


‘Apa aku lepaskan saja? Yang penting kamar ini aku kunci rapat.’


Aku mendekati Keysha yang tampak waspada. Dia terkejut ketika aku melepaskan ikatan tangannya. Ia memandangku dengan tatapan aneh.


“Aku memberikan kesempatan padamu, kita mulai lagi dari awal, ya … Keysha?” bujukku seraya mengenggam tangannya.


“Setelah apa yang Mas lakukan padaku, Mas ingin aku memulai dari awal?” Keysha berkata dengan sengit.


“Aku lakukan itu sebagai pelajaran untukmu, kamu berkhianat! Sudah seharusnya aku menghukummu!” terangku, terpancing karena Keysha sama sekali tidak mau menurut.


“Mas sama sekali tidak berubah, bukan ini yang aku mau!” Keysha menarik tangannya dan menjaga jarak.


Kepalaku semakin sakit, aku paling tidak bisa merayu. Berikan aku tugas lain selain ini.


“Lalu sekarang apa mau mu?” tanyaku dingin.


Keysha diam sesaat lalu berkata. “Biarkan aku pergi. aku pikir kita butuh waktu untuk saling introspeksi diri.”

__ADS_1


Aku terkekeh, Keysha sungguh sangat lucu. “Kamu yang berbuat salah, mengapa aku yang harus merenung? Jangan bercanda! Aku sudah berusaha bersikap baik, tapi sepertinya kamu lebih memilih diperlakukan secara paksa. Lakukan yang kau mau, jika kamu bisa. Karena aku tidak akan memberikamu celah,” kecamku menutup pembicaraan ini. Aku akan mengurung Keysha sampai aku mati.


Aku berjalan menuju pintu kamar, hendak menguncinya. Namun, tiba-tiba kepalaku terasa sakit karena sesuatu yang membenturnya keras. Seketika pandanganku menjadi gelap gulita.


__ADS_2