
Siang ini menjadi momen makan siang terlezat yang pernah aku rasakan, mungkin karena di depanku sekarang duduk seorang lelaki tampan yang akhir-akhir ini mengalihkan duniaku. Haris tersenyum sembari menatapku lekat-lekat sehingga membuatku salah tingkah.
"Haris, tolong jangan menatapku seperti itu."
"Kenapa, Key? Aku merindukanmu," jawab Haris. Perlahan jemarinya merengkuh jemariku di atas meja makan.
Kami makan dengan jemari yang saling bertaut, membuat debaran di dalam dada semakin bergemuruh.
"Setelah ini aku masih ada sesi lagi sampai pukul 05.00 sore. Apa kamu tidak bosan menungguku?" tanyaku.
Haris menggelengkan kepalanya. "Aku tahu bertemu di sela-sela acaramu itu harus menyesuaikan waktunya, tapi jangan khawatir, aku pasti akan menunggu."
Aku tersenyum mendengar perkataan Haris. Entah kenapa rasanya sekarang seperti ada sesuatu yang kuharapkan darinya. Ditunggu seperti ini menciptakan rasa gugup tersendiri, gugup yang indah, mungkin juga harapan untuk kebersamaan yang tidak akan pernah ada akhirnya.
Seusai makan siang, kami berpisah. Haris kembali ke kamarnya, sedangkan aku memasuki ruang pelatihan. Sepanjang kegiatan aku tidak bisa berkonsentrasi, membayangkan Haris yang sedang menungguku di kamarnya. Entah apa yang akan terjadi nanti, aku pasrah. Aku berusaha menepis rasa ini kuat-kuat, rasa bersalah dan rasa menginginkannya yang muncul bersamaan.
Memandang wajah Haris selalu memberi ketenangan, berbanding terbalik dengan Mas Andre yang penuh kemarahan. Tetapi, apakah Mas Andre layak mendapatkan pengkhianatanku? Kini dilema itu memenuhi rongga hati hingga tanpa terasa hari beranjak sore dan kegiatan pun berhenti.
Aku berjalan keluar dari ruangan. Di lobi, Haris sudah menyambutku dengan senyum hangatnya. Dia sudah rapi, berganti t-shirt dan celana selutut yang semakin menampakkan aura kegantengannya. Sepertinya dia habis mandi, rambutnya masih basah.
"Kenapa menunggu di sini? Kamu bisa menunggu di kamarmu, kan?" ucapku sembari duduk di sampingnya.
"Lebih baik di sini. Jadi saat kamu keluar, aku jadi orang pertama yang kamu lihat, begitupun aku juga tak akan melewatkan saat bidadari ini keluar dari dalam sana," ucapnya.
"Apa, sih, kamu? Gombal! Aku mandi dulu, ya?" Menyadari wajah Haris yang segar, aku jadi tidak percaya diri.
"Oke! Aku boleh ikut? Maksudku, aku janji tidak akan mengganggu kamu mandi, aku hanya akan menunggumu di dalam kamar, lalu kita pergi jalan-jalan ke bawah sebentar menikmati senja. Sepertinya menyenangkan karena kita berada di ketinggian. View hotel ini juga bagus."
"Baiklah!" Aku mengiyakan perkataan Haris karena tidak enak juga kalau dia harus menunggu di lobi.
Kami berjalan beriringan menuju kamarku. Haris menutup pintu, lalu secepat itu dia meraih tubuhku ke dalam pelukannya.
__ADS_1
"Keysha, maafkan aku. Tapi, aku sangat merindukanmu," ucapnya sembari memelukku erat.
Aku tidak bisa berkata apa-apa, selain menikmati kehangatan pelukan pria yang selama ini menemani mendukung dan memberi solusi untuk semua persoalan yang aku hadapi.
Cukup lama kami berpelukan, nyaris tak mau melepaskan. Aku menikmati kehangatan pelukan ini. Tuhan, ini terasa sangat nyaman dan menenangkan. Sebenarnya aku ingin mengurai pelukan karena sudah terlalu lama, tetapi Haris memberi kode supaya pelukan ini jangan terlepas.
"Haris, sudah dong! Aku mau mandi, Nanti keburu sore," ucapku.
"Hei, aku ingin memelukmu seperti ini dan tidak ingin melepasnya selamanya, Sayang."
Itu panggilan sayang pertama yang memporak-porandakan hatiku. Aku tidak tahu kalau ternyata, mendapatkan panggilan sayang dengan tulus rasanya sangat menghangatkan hati.
Mas Andre sudah tidak pernah menghujaniku dengan kata-kata sayang, ia menggantinya dengan hardikan dan bentakan kasar. Ucapan sayang dari Haris barusan seperti tetesan air yang memercik mengenai hatiku yang gersang.
Mungkin sekarang aku mewujud jadi wanita paling lemah sedunia yang hanya dihujani perkataan sayang saja, sudah termehek-mehek. Tetapi yang aku rasakan tidak seperti itu. Ucapan sayang dari Haris ini penuh ketulusan, satu hal yang sudah hilang dari kehidupanku bersama Mas Andre. Entah karena dia sering menghujaniku dengan cacian, atau aku yang membentengi diri terlalu tinggi agar ucapan-ucapan negatifnya tidak menggerogoti mentalku. Tetapi, ketulusan itu memang sudah tidak ada lagi di antara kami berdua.
Mungkin Mas Andre hanya melakukan kewajibannya sebagai suami, dan aku pun sama, berusaha melakukan tugas sebagai istri. Hanya sebatas itu, tidak lebih, sehingga tercipta hubungan suami istri yang kaku dan saling menjaga diri untuk tidak terluka. Lebih tepatnya, aku yang terus menjaga diri dari amukan dan kata-kata kasarnya yang selalu menempatkan aku pada posisi rendah dan direndahkan.
Haris tersenyum. Kali ini ia mendaratkan satu kecupan di keningku.
Aku terdiam, lalu segera mengambil baju ganti di dalam koper. Tak mungkin aku berganti pakaian di dalam kamar saat Haris sedang menungguku di atas kasur.
Usai mandi dan berpakaian, aku hanya menyisir rambut seadanya, menyapukan make up tipis-tipis, lalu memakai lipstik nude untuk memberi kesan segar saja.
"Aku sudah siap. Ayo, kita berangkat sekarang!" seruku.
Haris bergeming. Ia justru menarik tubuhku sehingga terjatuh dalam pangkuannya.
"Haris? Ayo, kita berangkat sekarang!"
"Aku masih ingin bersamamu sedekat ini, Keysha. Tolong, biarkan aku menikmati rasa ini sebentar saja." Haris memohon. Dia kembali memelukku erat.
__ADS_1
Entahlah, mungkin dia tipe pria physical touch yang selalu ingin menunjukkan rasa sukanya dengan sentuhan.
"Iya, tapi kalau kita terus di sini, keburu gelap. Katanya ingin berburu pemandangan? Setidaknya sunset, meskipun tidak di pantai," ucapku.
Haris tersenyum, lalu berkata, "Baiklah, aku turuti semua keinginanmu, Sayang."
'Sayang' kedua yang melambungkan hatiku.
Aku tersenyum kecil saat menyadari harus mulai membiasakan diri dihamburi perkataan sayang darinya, sedangkan lidah ini masih terasa kelu untuk membalasnya. Belum, aku belum bisa seperti Haris yang terasa sudah sangat menyatu denganku. Aku masih mempunyai jeda dan jarak di hati.
Mungkin benar kata pepatah, "Kalau takut, jangan berani-berani. Kalau berani, jangan takut-takut." Aku berada di antaranya, berani dan ketakutan, dalam waktu bersamaan.
Kami keluar menikmati pemandangan di sekitar hotel. Memang benar kata Haris, hotel yang berada di ketinggian ini memiliki panorama yang sangat indah. Kami bahkan bisa menikmati matahari tenggelam dengan indah dari sebuah rumah makan yang menyajikan masakan Sunda, ada aneka macam menu bakaran.
"Indah sekali pemandangannya, ya, Kei? Sudah lama aku merindukan saat-saat di alam terbuka seperti ini. Terakhir kali, sepertinya lima tahun lalu, aku menikmati senja yang seindah ini di Bali. Tapi, tetap tidak bisa mengalahkan sore ini karena aku bersamamu."
"Haris, jangan terus menggombal! Kita tahu itu tidak benar."
"Kamu tidak percaya? Aku bukan sedang menggombal, Keysha, tapi aku merindukan suasana ini, mengingatkanku pada suasana kampung halaman. Sudah lama aku tidak pulang menemui ibu," ujarnya sendu.
"Kenapa? Apakah kamu sesibuk itu?" tanyaku.
Haris menggeleng dengan ragu. "Yang pertama, memang aku sangat sibuk. Yang kedua, aku tidak ingin pulang hanya dalam satu atau dua hari, aku ingin menghabiskan waktu yang lebih lama di kampung halaman. Tapi, Diana tidak pernah setuju untuk ikut, sedangkan pergi sendiri itu sama saja mencari masalah," ucap Haris sembari menundukkan wajahnya.
Aku melihat rona kerinduan di dua bola matanya, mungkin itu kerinduan untuk ibunya atau keluarganya. Haris tidak pernah membicarakan mereka.
"Pulanglah. Kamu bisa sempatkan, mumpung kamu masih punya orang tua. Kedua orang tuaku sudah tidak ada, hanya Mas Andre yang aku punya."
Menyebut nama suamiku sontak merubah suasana. Ah, bodohnya aku! Lihatlah, kami sama-sama merasa canggung sekarang.
"Diana," ucap Haris lirih saat melihat ke arah jalan raya di depan rumah makan.
__ADS_1