Rahim Impian

Rahim Impian
Memulai hari baru


__ADS_3

Ayu menyiapkan aku kamar di kamar belakang yang semula merupakan gudang. Ia menyulapnya menjadi tempat yang layak untuk aku tiduri. Sebelumnya, ia juga meminta izin terlebih dahulu pada suaminya jika aku akan tinggal sementara waktu bersama mereka. Kebetulan suami Ayu yang bernama Fandi merupakan temanku juga. Kami pernah satu sekolah saat di SMA, hanya berbeda kelas saja.


Kami bertiga awalnya tidak begitu dekat, tapi entah mengapa setelah lulus kami malah


memiliki kedekatan yang erat dibandingkan sebelumnya. Aku jadi ingat dengan sebuah pepatah yang bilang ‘jangan terlalu dekat pada seseorang, karena suatu saat kita akan jauh dengannya. Begitu juga sebaliknya.’


Dan aku diposisi sebaliknya, bisa sedekat ini dengan Ayu dan Fandi. Padahal sebelumnya saat di sekolah kami tidak pernah saling tegur sapa


karena memang kami tidak dalam circle pertemanan yang sama.


“Terima kasih karena telah mengizinkan aku tinggal di sini untuk sementara waktu,” ucapku pada Fandi setelah kami makan malam bersama.


“Iya, tidak apa-apa Key. Ayu ‘kan jadi ada temannya di rumah,” sahut Fandi.


Suami Ayu itu bekerja di sebuah perusahaan pelayaran yang mengharuskannya pergi berlayar dalam kurun waktu yang lumayan lama. Fandi akan pulang setelah 3 bulan berlayar, ia hanya memiliki waktu 2 minggu berada di rumah, kemudian pergi lagi. Jadi, memang Ayu sering ditinggal Fandi bekerja. Dan, menurut Fandi kehadiranku bisa membuat Ayu tidak kesepian.


“Iya, Key … kamu jadi bisa temenin aku dan Rara di sini,” timpal Ayu.

__ADS_1


Aku mengangguk. “Aku akan memberikan les privat gratis untuk anakmu sebagai bayarannya,” selorohku membuat Ayu berbinar.


“Wah, kalau begitu aku tidak akan menolak.”


“Jadi, Key … kapan kamu mulai kerja?” tanya Fandi.


Aku mendesah mengingat hal itu. Pasalnya, aku sudah absen dua hari setelah pemberitahuan penempatanku bekerja. Semua karena Mas Andre


mengurungku kemarin. “Aku akan mulai masuk lusa. Aku sudah menghubungi admin lembaga


dan meminta maaf untuk keterlambatanku.”


“Tidak, untungnya mereka memberikan kelonggaran,” jelasku.


“Syukurlah.” Ayu menampakkan kelegaan, sontak membuatku tersenyum tipis karena aku masih saja berprasangka tidak mengenakkan. Tidak ada


salahnya mendapatkan simpati. Namun, entah kenapa hal itu membuatku rendah diri. Ayolah Keysha … berpikir positif!

__ADS_1


Mungkin semua karena hal yang sering aku alami, perundungan dan segala ujaran kebencian dari Mas Andre menjadikanku sesosok pengecut. Pembentukan karakter yang sengaja dibuat agar aku selalu menurut dan merasa tergantung padanya. Sejak tidak ada Mas Andre di sekitarku, aku baru bisa berpikir ke arah sana. Seolah kabut tebal yang selama ini menghalangi pandangan mulai memudar.


Ayu menggenggam tanganku dengan berapi-api. “Yang semangat, Key! Aku akan mengantarmu di hari pertama bekerja!”


Sulutan semangat Ayu berhasil menyalurkan energi positif. “Makasih, Ayu.”


Aku bertekad tidak akan menyia-nyiakan kesempatan yang ada.


Hari yang dinantikan pun tiba, aku datang ke tempat bekerja dengan persiapan yang matang serta energi penuh. Aku akan memberikan kesan


terbaik untuk murid-muridku nanti. Ditambah, Ayu memberikan aku amunisi berupa bekal yang menggugah selera. Semangatku pun semakin berkobar, sepanjang jalan rasanya tidak sabar untuk memulai hari menyenangkan, hari di mana aku bisa melakukan sesuatu yang paling aku inginkan selama ini. Tanpa takut akan penolakan dari siapa pun.


“Aku akan menjemputmu saat pulang kerja,” ucap Ayu sebelum aku turun dari mobilnya.


“Tidak usah repot-repot.”


“Tidak kok, aku malah senang karena ada kegiatan lain selain nonton sinetron di rumah,” kelakarnya membuatku tertawa geli. “Habis ini kita shopping!” tambahnya.

__ADS_1


“Ok!” aku mengangguk, mengiyakan keinginan Ayu agar dia senang.


__ADS_2