Rahim Impian

Rahim Impian
Mendapat jawaban


__ADS_3

POV Haris


Keysha tampak bimbang dengan permintaanku untuk kembali menyambung hubungan kami yang sempat terputus karena ulah Diana. Terlihat gelagat Keysha yang seperti tidak memberiku celah untuk mendekatinya lagi. Aku menghela napas panjang sebelum bertanya kepadanya.


"Apalagi yang sekarang jadi beban pikiranmu, Key? Aku sudah mengatakan hal sebenarnya. Kasih tahu aku, apa yang masih membuatmu ragu."


Dengan lembut aku berusaha membujuknya, mengeluarkannya dari seribu keraguan yang mungkin kini menyergapnya. Keysha memang wanita lembut yang selalu memikirkan langkahnya dengan hati-hati.


Aku menduga dia merasa tidak nyaman dengan sikap ibu. Santi sempat bercerita terakhir mereka bertemu, Keysha menganggap Ibu membencinya. Sungguh itu situasi yang tidak bisa aku kendalikan, tapi aku akan berusaha memperbaiki semuanya.


"Keysha ... aku hanya butuh jawaban iya darimu. Sisanya biar aku yang mengurus, kamu masih ingin kita bersama-sama bukan?"


Perempuan itu menundukkan kepala. Dia memang tidak langsung menjawab pertanyaanku, sepertinya ada banyak keraguan di dalam pikirannya.


"Jika ini tentang ibu, aku janji akan membereskannya. Ibu mungkin hanya salah paham saja. Kalau aku jelaskan semuanya, ibu pasti akan merestui kita."


Dengan berani aku mengatakan pada Keysha agar tidak perlu mengkhawatirkan sikap ibu. Meskipun aku belum pernah berbicara tentang hal ini, tapi aku yakin bisa meyakinkan Ibu bahwa wanita satu-satunya yang aku cintai hanya Keysha. Aku tak ingin menikah dengan perempuan lain. Jika tak bisa bersama perempuan yang aku cintai ini, lebih baik aku tidak menikah selamanya.


”Kamu belum menjawab pertanyaanku. Apakah kamu membenciku, Keysha?" desakku tak nyaman.

__ADS_1


Dia menggelengkan kepalanya dan itu cukup membuatku lega.


"Jadi kamu masih mencintai aku 'kan?"


Ya aku ingin dia menjawab 'iya'.


Semburat merah itu kembali terbit di pipi Keysha. Dia tersipu dan aku tahu saat menatap dua bola matanya. Rasa cinta itu masih ada di sana. Keysha tidak akan kemana-mana karena cinta kami sekuat itu. Rasa sayang ini begitu mengikat, dia tidak bisa semudah itu mengusir perasaan yang terlalu melekat sama sepertiku.


Kurang bagaimana aku mencoba melupakannya, tapi semakin ingin melupakan, gejolak itu semakin tak tertahankan. Aku harus mengakui dengan jujur, tak bisa semudah itu melupakannya. Kini aku yakin kami tidak akan terpisahkan lagi. Kali ini aku memberanikan diri berlutut di hadapannya.


"Keysha, sekarang saatnya kita mewujudkan apa yang selama ini menjadi impian kita. Aku mencintaimu dan tidak ingin menghabiskan sisa hidupku dengan orang lain. Maukah kamu menikah denganku?"


"Beri aku kesempatan untuk membahagiakan kamu, Key, karena aku yakin cuma kamu kebahagiaanku."


"Bangun Haris, kamu apa-apaan berlutut begitu, malu dilihat orang." Keysha menoleh ke sekitar, mencari-cari jika ada orang yang melihat kami.


Perempuan itu berusaha menarikku agar bangkit dan tidak berlutut lagi di hadapannya, tapi aku tidak mau kehilangan kesempatan ini.


"Beri jawaban yang pasti, Keysha, supaya aku tidak perlu menunggu lagi. Kamu mau 'kan, melanjutkan hubungan ini?" Aku bertanya sambil menatap dua bola indah matanya.

__ADS_1


Jantungku berdebar keras menunggu jawabannya. Seharusnya dia menjawab 'iya' karena sudah tidak ada penghalang lagi di antara kami, tapi kenapa sikapnya meragu begitu, membuat aku takut kehilangan Keysha untuk yang kedua kalinya.


"Aku mohon beri aku kesempatan kedua Keysha, please."


Mungkin aku terlihat seperti bocah sekarang yang memohon untuk tidak ditinggalkan. Tidak apa-apa, sementara aku masih berusaha meyakinkannya, karena aku tahu bahagia harus diperjuangkan.


"Kamu yakin kita bisa melewati ini?" tanyanya lirih.


"Tentu saja kita punya semuanya, Sayang. Kita punya cinta sejati, punya rasa percaya satu sama lain dan keinginan kuat untuk membahagiakan satu sama lain. Keysha, izinkan aku mendampingimu selamanya."


Keisya terdiam sebelum akhirnya ia menganggukkan kepalanya.


Oh Tuhan! Aku bahagia sekali. Rasanya aku ingin melompat dan memeluknya. Namun Keysha memberi peringatan sampai akhirnya aku hanya bisa mengecupi punggung tangannya.


"Jaga sikap, Haris. Di sini banyak orang," bisiknya dengan wajah merona.


Aku tahu Keysha wanita terhormat dan aku juga ingin memperlakukannya secara baik. Jawaban yang keluar dari mulutnya barusan tidak akan kusia-siakan


Keesokan harinya aku membawa Keysha pulang untuk bertemu ibu. Aku sudah bertekad ingin segera meminangnya, secepatnya. Aku belum tenang kalau belum menjadikannya nyonya Haris. Batinku sudah tidak sabar menunggu momen itu.

__ADS_1


__ADS_2