
Aku baru saja dikejutkan dengan kabar bahwa Andre, kembali menemui Ayu. Sebelumnya, pria itu pernah datang ke rumah Ayu dalam keadaan marah-marah untuk mencariku. Perdebatan pun tidak terelakkan hingga berakhir dengan Andre menampar Ayu, memicu sebuah kebencian yang sulit dilupakan. Aku sendiri tidak pernah berharap untuk bertemu tatap dengan Andre lagi, tapi keberadaannya di sana mengusik kedamaian hidup Ayu dan berhasil membuatku tidak tenang.
"Keysha, apa yang terjadi?" tanya Haris dengan nada khawatir. Aku menoleh padanya yang ternyata sedang duduk di sampingku. Aku sampai tidak menyadari keberadaannya.
Aku menatap Haris dengan mata sendu. "Andre... Dia kembali mencariku. Aku tidak tahu apa yang dia pikirkan sampai berbuat nekad dan menganggu Ayu. Rasanya seperti mimpi buruk yang tak kunjung usai," ucapku dengan suara bergetar.
Saat itu juga aku merasakan balutan hangat pada tubuh, ternyata Haris yang memelukku. "Keysha, aku tidak ingin melihatmu menderita lagi. Ayo kita segera urus perceraian masing-masing," kata Haris dengan lembut.
Aku mengerjap membalas pandangan Haris yang begitu serius. “Tidak ada waktu lagi, kamu harus gerak cepat!”
__ADS_1
“Aku memang berniat untuk bercerai, tapi kamu?”
“Apa semua perkataanku selama ini hanya bercandaan bagimu, Key?”
Aku masih saja ragu, karena ini keputusan besar untuk kami berdua. Hubunganku dengan Mas Andre jelas sudah tidak sehat, tidak ada harapan untuk meneruskannya. Tidak ada pula alasanku untuk bertahan. Namun, Haris?
Semalam kami berbincang, ia mengabarkan jika sudah berhenti bekerja. Ia juga bercerita jika pekerjaannya didapat karena jasa mertuanya, keluhannya sebagai suami yang tidak dihargai menambah alasan untuk berpisah dengan Diana. Setengah percaya, pria sebaik Haris diperlakukan seperti itu. Apa Diana tidak pernah sadar, jika banyak wanita yang iri padanya. Suaminya adalah pria idaman para wanita di luar sana, termasuk aku. Meski begitu, aku rela jika Haris bahagia dengan rumah tangganya, karena aku tahu dia bukan milikku sejak awal.
Aku tersentak karena melamun, memikirkan masa depan Haris jika bercerai dengan Diana, bukankah itu berarti aku telah membawa dampak buruk pada hidupnya.
__ADS_1
“Lagi-lagi kamu melamun, jangan bilang kamu masih memikirkan yang tidak-tidak, aku sudah mantap dengan keputusanku, Key. Ini semua bukan karenamu!”
“Bagaimana aku tidak berpikir macam-macam, kamu jadi pengangguran karena memilih aku yang saat ini juga belum jelas statusnya. Cukup aku yang hancur, Haris. Jangan kamu!”
“Aku tidak akan membiarkanmu hancur, kamu bilang ingin bahagia. Selama ini kamu sudah banyak menderita, ini saatnya kamu meraih kebahagiaan. Kamu tidak perlu khawatir, aku sudah melamar pekerjaan lain. Aku memiliki banyak koneksi, meski mungkin aku harus memulainya dari nol lagi, karena itu aku butuh kamu sebagai penguatku. Kamu mau ‘kan Key? Aku tentu tidak akan membiarkanmu hidup susah, aku akan gunakan segala upaya agar kamu bahagia, kita bersama.”
Ungkapan Haris yang begitu teguh tidak sanggup aku bantah, pria ini begitu berharga untuk disia-siakan, jika memang kami berjodoh aku akan mengabdi seumur hidup padanya, semoga semesta mendengar harapanku. Karena sekarang tujuanku adalah melihatnya bahagia, seperti dirinya yang ingin bahagia bersamaku.
“Aku mau … aku mau menemanimu dalam keadaan apa pun,” jawabku yang membuat Haris berbinar. Ia kembali memelukku lalu mengecup keningku.
__ADS_1
“Terima kasih, sayang!”
Aku memejamkan mata menikmati kehangatan kasih sayang Haris yang selama ini menjadi khayalanku. Mungkin dulu yang terbayang adalah Mas Andre, tapi semua telah tergantikan oleh Haris. Pada akhirnya dia yang memberikan kasih sayang yang tidak pernah aku dapatkan.