
Aku sedang menikmati semburat senja bersama Keysha di rumah makan dekat hotel. Kami mengobrol ringan sambil memandang matahari yang mulai turun ke peraduan. Aku sedikit curhat padanya tentang gundah hati ini karena sudah lama tak menengok Emak di kampung.
Tanpa sengaja saat melihat ke jalanan di depan rumah makan ada mobil Diana yang sedang parkir di sana.
“Diana,” desisku.
“Hah? Diana? Maksudnya istrimu? Dia ada di sini?” Keysha menekuk wajahnya.
Aku tidak yakin tapi mobil itu persis milik Diana. Aku segera melangkah ke area parkiran setelah berkata pada Keisya
“Kamu tunggu di sini dulu, jangan keluar aku mau memastikan itu mobil Diana atau bukan.”
Keysha menganggukkan kepalanya. Terlihat rona kecemasan di wajahnya. Saat keluar memasuki areal parkir, aku bisa bernafas lega karena mobil itu ternyata bukan milik Diana, memang sama persis hanya beda plat nomor saja.
Aku kembali menghampiri Keysha yang sedang menunggu dengan wajah cemasnya.
“Bukan Diana ternyata,” ucapku lega.
“Kamu sangat merindukan dia, ya? Sampai terbayang-bayang begitu?” goda Keysha
“Kamu juga barusan sebut-sebut nama Andre. Ada yang kangen, nih, kayaknya.”
Derai tawa kami menyatu. Bersama Keysha memang selalu terasa indah. Aku tak ingin jauh-jauh darinya, untuk sekadar bisa menikmati senyuman manis itu. Namun jauh di lubuk hatiku juga meragu. Perbuatan kami ini sama-sama tak bisa dimaafkan. Bisa memeluk Keysha seperti tadi saja sudah membuat kebahagiaanku membuncah. Aku seperti hidup kembali.
Keysha yang lembut, pandangannya teduh, wajah manisnya tidak bosan aku pandangi.
“Ternyata kita memang tidak boleh menyebut nama pasangan masing-masing, karena itu bisa merusak suasana,” tutur Keysha.
“Aku setuju. Kita nikmati saja kebersamaan ini, karena tidak akan lama. Dua hari itu pun aku hanya bisa bersamamu beberapa jam saja.”
“Ya mau gimana lagi,” jawab Keysha mengedikkan bahu dengan suara lembutnya.
Kami memutuskan untuk kembali ke hotel, karena hari sudah beranjak malam.
“Oke makasih sudah diajak menikmati senja. Aku suka, makasih juga untuk makan malamnya. Sampai ketemu besok,” pamit Keysha.
Aku tidak bisa membiarkannya sendirian. Dengan cepat aku mendorong tubuhnya untuk memasuki kamar.
“Haris jangan!" Keisya mencoba menahan tanganku, tapi aku tidak bisa berhenti di sini. Aku memang ingin bermanja-manja dalam pelukannya.
“Key, kamu tidak usah khawatir aku cuma ingin bersamamu saja.”
“Tapi Haris ....”
“Sudahlah Key, kita sama-sama tahu batasannya,” bisikku lembut.
Tak punya pilihan, akhirnya Keisya membiarkanku masuk ke dalam kamarnya. Bila sudah berdua seperti ini siapa yang peduli dengan batasan? Aku sangat merindui dan menginginkan Keysha. Berada dalam pelukannya membuatku serasa menjadi laki-laki seutuhnya.
__ADS_1
Sudah bisa aku rasakan kelelakianku bangkit, saat memeluknya erat. Tidak seperti ketika aku memeluk Diana, yang tak menimbulkan reaksi apa pun. Sensasi itu kembali. Sensasi penanda aku masih bisa menjadi laki-laki sejati.
“Kamu bisa merasakannya?” tanyaku lembut sambil menyibak anak rambut Keisya yang menutupi dahinya.
“Merasakan apa?” Keysha menatapku malu-malu.
“Merasakan degub jantung ini, yang sedari tadi sangat meresahkan. Aku sampai tidak bisa mengatur napas, sesak rasanya dada ini.” Aku membawa tangannya ke dadaku yang degubnya sungguh tak beraturan.
Keysha hanya tersenyum. Sepertinya dia sangat malu berdekatan denganku nyaris tak berjarak seperti ini, tapi hasrat kami tak terbendung lagi saat aku memandangi bibir tipisnya.
“Aku menginginkanmu, Keysha." Dengan lembut aku menyapu bibirnya dengan bibirku. Siapa yang bisa menolak keindahan ini? Saat dua hati mulai bertaut dan saling mendamba, siapa yang bisa menafikannya? Tanpa kami sadari bibir kami telah menyatu menyecap keindahan paripurna, saling memberi dan menerima.
Aku melakukannya dengan hati-hati agar Keysha merasa nyaman. Aku rasa Keysha juga sangat menikmati ini. Cukup lama kami berpacu dalam gelora yang membuncah, sampai akhirnya aku tidak tahan lagi untuk merambah lehernya yang jenjang lalu mendaratkan kecupan kecupan manis di sana. Aku ingin memberikan jejak-jejak cinta yang tidak akan dilupakan Keysha.
Perempuan manis itu melenguh di depanku. Sepertinya dia juga menahan hasrat. Sambil memejamkan mata, ciuman yang tadinya lembut berubah menjadi sensasi panas yang membakar kami berdua, hingga kami sama-sama kehabisan napas.
Tanganku hendak membuka gaun Keysha saat ponselnya berdering nyaring.
.
Keisya panik lalu melepaskan diri dari pelukanku. “ Tunggu dulu Haris.”
Keysha segera mengambil ponselnya di dalam tas, dia mengatur napas sejenak sebelum menerima panggilan itu.
“Iya Mas, aku sudah ada di kamar sekarang ucapnya.”
Keysha sepertinya sedang menjawab pertanyaan Andre yang menanyakan kegiatannya di sini.
“Mas Andre sudah makan?” tanyanya lembut.
Hatiku memanas mendengar Keysha memperhatikan Andre begitu rupa, padahal tidak seharusnya seperti ini, karena Andre suaminya dan perhatian seperti ini wajar.
Yang tidak wajar kenapa hatiku harus terbakar.
“Iya Mas Andre, tidak berat kok kegiatannya. Aku bisa mengikuti semuanya, dan berjalan lancar. Besok sore pulangnya mungkin jam tiga sore dari sini. Kalau di dalam agenda acaranya jam dua sudah selesai. Tidak usah dijemput Mas, aku bisa pulang sendiri. Baik, Mas Andre. Terima kasih.”
Keysha segera menutup teleponnya. Raut mukanya kini sungguh berbeda, nampak ketakutan di wajahnya. Padahal tadi kami sedang panas-panasnya, tapi aku sudah tidak melihat kabut gairah itu lagi. Hasrat yang tadi meletup-letup sirna sudah.
“Haris bisa tinggalkan aku? Ini sudah malam aku mau istirahat,” ucap Keysha yang kini tampak canggung.
Aku meraih bahunya. “Haris tolong.”
Keisya menepis tanganku.
“Jangan khawatir aku cuma ingin memelukmu,” ujarku berusaha menenangkannya.
Sepertinya sebegitu besar pengaruh Andre dalam hidupnya hingga mendengar suaranya saja, Keisya sangat panik dan ketakutan.
__ADS_1
Kenyataan ini sungguh memukul kesadaranku. Mungkin selama ini Keysha sangat tertekan di rumahnya sendiri.
"Sudah, ya, Haris. Kamu segera kembali ke kamarmu. Aku mau istirahat, please.”
Kali ini aku tak bisa menolak karena Keysha memohon dan memintanya.
Aku kembali ke kamarku dengan gairah yang telah meredup. Langkah ini gontai bukan karena Keysha menolakku, tapi karena aku merasa tak bisa berbuat sesuatu untuk menolongnya. Keysha tersiksa dengan pernikahannya.
Aku baru sampai di kamar saat ada panggilan video dari Diana. Ah, untunglah. Dengan malas aku menerima panggilannya.
“Haris aku menginap di rumah Papa. Kamu besok pulang jam berapa, Sayang?”
“Mungkin malam sampai rumah,” jawabku pendek.
“Pasti kamu capek, ya? Kamu nggak kangen aku?” Aku tersenyum tanpa menjawabnya. Aku muak berbasa-basi saat hatiku sedang tak karuan seperti sekarang.
“Haris … kenapa wajahnya cemberut begitu?”
“Iya aku kangen kamu.”
Aku harus menjawab sesuai keinginan Diana, supaya dia segera mengakhiri obrolan ini. Tentu saja Diana bisa membaca kalau ucapan kangen ini hanya sebuah formalitas belaka, tapi aku tak peduli.
“Diana, Sudah ya, aku mau tidur dulu capek sekali badanku.”
“Jadi apa saja kegiatanmu hari ini?” tanyanya lagi, padahal aku sudah memberi kode untuk segera mengakhiri panggilan.
“Semua berjalan lancar baru aja kelar acaranya. Kalau kamu telepon lima menit yang lalu mungkin kamu bisa melihat aku masih ada di aula, dan aku tidak akan mengangkat teleponmu.”
“Wow suamiku ternyata super sibuk.”
Entah sebuah ejekan atau ledekan tapi di telingaku ini bukan pujian apalagi dukungan seorang istri pada suaminya.
“Aku capek mau istirahat, udah dulu, ya.”
“Oh ya kamu menginap di hotel mana? Coba aku lihat di google bagus enggak?” Aku memutar mata, malas.
“Bagus, nyaman. Cek aja The Sultan Hotel,” jawabku mengakhiri pembicaraan.
“Oke suamiku, kamu istirahat dulu, bye.”
Akhirnya aku bisa terlepas darinya. Lega rasanya. Aku menghempaskan tubuh di atas kasur, membayangkan kelembutan bibir Keysha yang masih menempel di bibirku.
Aku bisa gila jika terus-terusan seperti ini. Satu hal yang baru kusadari, adalah ternyata aku masih pria normal yang masih bisa merasakan kejantananku bereaksi saat memeluknya.
Kenapa harus dengan Keysha? Hanya dengannya aku bisa merasakan sensasi ini.
Keysha, apakah dia juga sedang memikirkan aku sekarang?
__ADS_1