
Aku harus membatalkan janji dengan Haris, demi menjaga hubunganku dengan Mas Andre. Bila ditanya masalah hubungan, seperti apa sebenarnya hubungan kami berdua?
Bukankah sebuah hubungan terjalin karena rasa kenyamanan dan saling mengerti? Hal yang sudah lama hilang bertahun-tahun lamanya. Kini yang tertinggal hanya perasaan takut selayaknya seorang pengecut. Lututku serasa goyah ditatap begitu rupa oleh suamiku, seolah-olah aku perempuan paling bersalah di dunia.
Aku menunggu waktu dan kesempatan yang tepat untuk mengirimkan pesan kepada Haris, bahwa sebaiknya memang kami sama-sama melupakan janji untuk bertemu. Kurasa aku harus mencari waktu yang tepat supaya Mas Andre tidak curiga karena akhir-akhir ini, aku sering melihat Mas Andre mengamatiku saat memegang ponsel berlama-lama.
Kesempatan itu datang saat Mas Andre masuk ke kamar mandi. Waktunya dia membasuh diri. Aku segera membuka ponsel dan bersiap mengetikkan pesan untuk Haris.
Bersamaan dengan itu, muncul pemberitahuan di layar ponsel. Ada sebuah email masuk. Dengan cepat aku membuka email itu.
Ternyata email masuk itu dari lembaga kursus tempat aku melamar kerja.
Tidak sabar aku membukanya dan ternyata di sana ada undangan kepada semua calon guru yang sudah terpilih, untuk mengikuti pelatihan offline selama dua hari di sebuah hotel di Bandung.
Aku mengerjapkan mata tidak percaya.
Ini beneran? Kenapa seolah-olah semesta mendukung aku bertemu dengan Haris?
Baru tadi aku berpikir tidak mungkin bisa keluar dari rumah tanpa seizin Mas Andre, tetapi undangan ini seakan-akan memberikan angin segar untuk kelanjutan pertemuan kami.
Mendadak moodku berubah, sepertinya aku tidak jadi mengirimkan pesan itu.
Mas Andre keluar dari kamar mandi dengan rambutnya yang basah. Ia memegang handuk sambil mengusap-usap kepalanya.
“Kenapa wajahmu serius begitu, Key?” tanyanya saat aku menatap lekat ke ponsel ini.
Aku bingung bagaimana mengatakannya. Setelah berpikir sejenak, akhirnya aku memberanikan diri untuk bicara jujur.
“Mas, ada undangan untuk mengikuti pelatihan sebelum kami mengajar. Maksudnya aku diterima jadi pengajar di lembaga yang kemarin aku sudah ceritakan. Nah, ini syaratnya harus mengikuti pelatihan offline selama dua hari. Nama hotelnya sudah tertera di undangan.”
__ADS_1
Seperti ragu-ragu, Mas Andre mendengar perkataanku. Pria itu tidak jelas berekspresi. Aku menunggu jawabannya dengan tegang.
Setelah memakai kaus dan melemparkan handuk di atas karpet, dia merebahkan diri di atas kasur.
Karena tidak kunjung mendapatkan jawaban, aku meneruskan pesan itu ke email Mas Andre.
“Mas, aku sudah mem-forward undangannya ke alamat email Mas Andre. Barangkali mau dilihat,” ucapku pelan.
Aku sengaja mengirimkan undangan itu karena melihat wajah Mas Andre seperti tidak percaya. Aku tidak mau dicurigai. Sebelum dia meminta ponselku aku terlebih dahulu mengirimkan undangan itu.
Dengan agak malas, Mas Andre mengamati ponselnya, membaca email undangan yang aku kirimkan.
“Boleh 'kan, Mas aku pergi? Ini memang syarat untuk registrasi sekaligus pengenalan dan pemberian materi sebelum guru terpilih mulai mengajar.”
Laki-laki itu terdiam mendengar perkataanku. Mungkin dia tidak mengira kalau selama ini yang aku sampaikan ternyata benar adanya. Aku benar-benar telah melamar pekerjaan dan diterima di lembaga kursus itu. Dia pasti tidak menduga ini.
“Mas, aku sedang bertanya. Boleh 'kan, aku berangkat? Bukankah Mas Andre sendiri yang meminta aku untuk bekerja? Ini pekerjaan impianku sejak dulu. Mas Andre juga tahu itu.” Aku berkata lirih, khawatir menyulut kemarahannya.
“Halo. Iya, selamat sore. Saya Andre suami Keisha salah satu guru yang terpilih di lembaga pendidikan ini. Saya hanya ingin mengkonfirmasi, apakah betul undangan yang dikirimkan via email itu valid?”
Ya Tuhan, rupanya Mas Andre masih tidak percaya dan sekarang ia menghubungi lembaga itu. Aku hanya bisa mengelus dada mendengar pembicaraannya di telepon.
“Oh, jadi begitu. Dua hari, ya? Semua wajib datang, kalau tidak datang dianggap gugur. Ada berapa orang pesertanya? Oh lima puluhan, banyak juga, ya. Tidak dikenakan biaya apa pun? Jadi semua free, ya? Baiklah, terima kasih atas informasinya. Nanti akan dikonfirmasi Keysha lagi. Iya, iya, tentu saja dia berangkat.”
Rasanya nyaris tidak percaya saat aku mendengar Mas Andre mengatakan dia mengizinkan Aku berangkat. Mas Andre menutup teleponnya. Aku menunggu jawabannya dengan berharap cemas.
“Kenapa melihatku seperti itu?” tanyanya tidak acuh. Begitulah Mas Andre, dia tahu aku sedang menunggu jawaban dari mulutnya, tetapi seolah-olah dia tidak memedulikan itu. Aku selalu kesal dengan sikapnya yang semena seperti sekarang.
Kalau aku tidak butuh izinnya, rasanya malas sekali meladeni ucapannya. Namun, bagaimanapun aku tidak boleh meninggalkan rumah tanpa seizinnya.
__ADS_1
“Jadi gimana, Mas? Aku boleh pergi, kan?”
“Kamu dengar sendiri 'kan, aku tadi baru saja menelepon lembaga yang mengundangmu itu dan ternyata acaranya di hotel, dua hari pula. Kenapa harus menginap? Bisa saja sehari selesai," gerutunya terus mengomel seolah tidak rela memberikan aku izin.
“Silakan kalau kamu mau berangkat. Dua hari lagi, membuang-buang waktu. Memangnya seberapa sih yang kamu dapat dari sekedar mengajar? Pasti tidak akan pernah bisa mengganti uang yang sudah aku keluarkan!”
Seperti biasa, tidak puas rasanya jika tidak mengatakan hal menusuk padaku. Aku berusaha sabar dan sadar jika Mas Andre memang tidak pernah berubah. Sikap manisnya kemarin hanya pencitraan semata. Hampir saja aku ingin memutuskan hubungan dengan Haris, jika begini apa lagi yang bisa aku harapkan dari Mas Andre?
Usahaku bertahun-tahun, berusaha untuk memiliki keturunan, sebenarnya aku sedang memperjuangkan apa?
Batinku berkecamuk dengan segala pemikiran membuat kepalaku mendadak nyeri. Yang jelas kali ini aku harus mewujudkan cita-citaku yang sempat terhenti begitu lama. Tidak peduli seperti apa Mas Andre memandangku? Aku harus berhenti bergantung padanya. Dengan begitu aku bisa membuktikan kepada Mas Andre, bawa Keysha yang selama ini dikurung di dalam rumah juga tetap bisa bekerja.
“Aku yakin, aku bisa mengganti semua uang yang sudah Mas keluarkan. Meski tidak dalam waktu singkat.” Aku berusaha meyakinkan suamiku dengan keberanian yang tersisa.
“Terserah kamu, aku hanya bicara hal yang realistis. Sudah enak kamu di rumah tinggal menerima dan aku yang banting tulang mencari uang. Masih juga tidak mengerti, berusaha melampaui yang tidak kamu bisa tangani. Lucu kamu, susah bicara dengan wanita bebal seperti kamu. Sekeras apa pun kamu berjuang, pada akhirnya akan sama saja. Dasar istri tidak tahu terima kasih!" Mas andre menunjuk kepalaku, menekannya hingga aku hampir terjengkang. Mas Andre memasuki kamar dengan membanting pintu.
Aku menghembuskan napas yang tertahan sejak tadi, menahan air mata yang nyaris keluar. Aku tidak tahu apa yang ada di benaknya. Mungkin sekarang dia sedang menyesali perkataannya yang pernah memaksaku untuk bekerja.
Malam itu aku nyaris tidak bisa tidur dengan nyenyak, selalu gelisah miring kiri kanan, tetapi mata ini susah terpejam. Memikirkan hari esok. Saat itu aku baru tersadar kalau belum mengabari Haris mengenai trainingku.
Tepat pukul 12 tengah malam, saat Mas Andre sudah tertidur pulas, aku mengirim pesan kepada Haris bahwa aku akan ke Bandung.
Tanpa aku duga ternyata Haris justru menelepon. Rupanya pria itu juga belum tidur.
Aku segera berjingkat keluar dari kamar, lalu menerima telepon dari Haris.
“Halo, Kei. Beneran kamu mau ke Bandung?”
“Iya, aku ada acara dua hari di sana,” jawabku.
__ADS_1
“Wah, aku senang mendengarnya! Aku sudah tidak sabar untuk bertemu denganmu, Kei. Sampai ketemu di sana, ya.”