Rahim Impian

Rahim Impian
Jalan Baru


__ADS_3

POV Haris


Aku menatap balutan perban yang membungkus tangan Diana, dan sebuah plester yang menempel di dahinya. Wanita itu diam tanpa kata hingga sang suster pergi meninggalkan kami berdua di ruangan rawat inap.


Baru saja Diana mengalami kecelakaan, ia tertabrak mobil saat berusaha mengejarku. Aku sangat ketakutan kala darah segar mengucur dari dahi membasahi hampir setengah wajahnya. Meski aku membenci sifat buruknya yang arogant dan selalu merendahkan, aku tidak cukup gila mengharapkan kemalangan menimpanya.


Beruntung, Tuhan masih menyayanginya. Walau dengan benturan yang cukup keras, ia hanya mendapatkan luka yang tergolong ringan.


Sebenarnya, ini bukan tindakan nekatnya yang pertama kali. Beberapa tahun yang lalu saat aku meminta untuk berpisah, Diana merendamkan dirinya ke dalam air dingin hingga ia hampir terkena hipotermia. Dia selalu menggunakan tekanan di luar akal sehat, agar aku tidak bisa berkutik. Aku lelah.


"Sudah puas?" Diana membuka suara. Aku yang tadinya menunduk langsung beralih padanya. Keningku pun berkerut memaknai ucapannya.


"Puas?"


"Ya, kamu puas 'kan melihat aku kesakitan?"


"Sakit yang kamu buat sendiri, Diana. Sadarlah jika hubungan kita sudah tidak sehat."


Diana menatapku tajam. "Semua baik-baik saja jika kamu tidak bermain gila! Jangan pernah bermimpi bisa mencampakkan aku!"


"Aku tidak akan seperti ini seandainya kamu juga mau mengerti dan menghargaiku!"


"Berapa yang harus aku bayar?"

__ADS_1


Aku berdecih, tertawa miris. "Heh, apakah di matamu semua bisa dibeli dengan uang?"


"Tentu saja, jika kamu meninggalkan aku, kamu hanya akan sengsara. Ibu dan adikmu di kampung mungkin akan merasakan dampaknya dengan tindakanmu ini."


"Diana, kamu mengancamku?"


"Aku hanya sedang membuatmu sadar, kurang apa aku ini sebagai istri? Kenapa kamu tidak merasa beruntung?"


Aku menggelengkan kepala pelan, sampai saat ini pun Diana merasa dirinya tidak bersalah. Hanya aku, manusia yang tidak tahu terima kasih di matanya.


"Sebaiknya aku pergi dahulu. Kamu istirahatlah."


"Haris, mau ke mana? Kita belum selesai bicara!" ucapnya sengit.


Aku mengabaikan teriakan Diana, kami benar-benar butuh waktu. Khususnya Diana agar bisa berpikir kembali, apa yang sudah kami bahas jauh sebelum aku bertemu dengan Keysha.


Baru saja aku membuka pintu, langkahku langsung terhenti oleh keberadaan seseorang yang berdiri di hadapanku.


"Mau ke mana kamu, Haris?"


"Papa?" jawab sedikit bingung. Aku memalingkan muka melihat Diana yang ternyata sengaja memanggil orangtuanya.


***

__ADS_1


"Setelah apa yang sudah saya dan Diana berikan, kamu mau pergi begitu saja? Di mana tanggung jawabmu, Haris?"


Aku terkejut, jadi masalah kami sudah sampai ke telinga mertuaku. Selama ini Diana selalu menutupinya, setidaknya aku tidak perlu menjelaskan lagi. Aku melirik Diana yang membeku, apa pikiranku salah?


"Kenapa tidak menjawab? Kamu pikir, saya tidak tahu jika kamu sudah mengkhianati Diana? Dasar manusia tidak tahu diri, sudah diajak hidup enak malah bertingkah, menyesal saya menyerahkan Diana padamu!" Papa Diana berteriak di depan wajahku meluapkan amarahnya. Aku hanya diam, karena sifatnya sama dengan Diana. Sama-sama tidak suka dibantah.


"Setiap bulan aku membiayai hidup Ibumu di kampung, tapi mana pembalasanmu? Hanya seonggok duri, cuih!"


Aku tersentak, apa maksudnya dengan Papa Diana yang mentransfer uang untuk Ibuku? Bukankah selama ini Diana mentransfernya dengan uang gajiku. Aku menatap Diana penuh tanya. Kali ini wanita itu menunduk menghindari kontak mata dengaku.


"Sedang apa kamu? Meminta penjelasan dari Diana? Tidak perlu. Saya yang menyarankan hal itu. Saya yang menjamin Diana dengan semua pengeluarannya yang tidak bisa ditutupi setengah dari gajimu. Bukankah saya cukup bermurah hati? Tapi, kamu malah keenakan. Memang, orang kampung tidak cocok dengan pemikiran orang kota. Andai bukan karena Diana, kamu pun tidak akan bisa bekerja di kantor sekarang ini."


Aku menelan semuanya bulat-bulat, semua kenyataan dan isi hati sesungguhnya ia luapkan. Betapa aku tidak memiliki harga diri lagi. Betapa aku hidup hanya sebagai benalu yang menyusahkan. Bahkan istriku sendirilah yang membuatmu serendah sampah.


"Lalu apa yang Papa inginkan?" tantangku cepat.


"Ceraikan Diana, dan pergi tanpa membawa apapun dari rumah!"


"PAPA!" Diana histeris sementara aku menghela napas lega. Di luar dugaan, ternyata Papa Diana membuka jalan untukku lepas dari belenggu yang selama ini mencekikku.


"Baik, saya akan segera mengurusnya!"


"Tidak! Aku tidak mau!!!"

__ADS_1


__ADS_2