Rahim Impian

Rahim Impian
Andre sadar?


__ADS_3

POV Andre


Dalam keheningan amarahku memuncak sejak Diana memasuki kamar mandi, aku mengepalkan tangan dan menghembuskan napas kasar. Apa semua wanita sudah gila? Aku tentunya tidak tuli saat Diana memanggil nama Haris, padahal ia sedang bersamaku, memacu kenikmatan dunia yang akhirnya terasa hambar. Semua karena pria itu, keparat yang telah merampas Keysha dariku. Aku memakai kembali pakaian yang teronggok di lantai. Melihat sekilas ke belakang lalu melangkah pergi dari sana. Aku tidak ingin bertemu Diana untuk saat ini, mungkin saja aku akan mencekiknya jika mengingat kejadian barusan.


Di sepanjang jalan aku merenung, kenapa hidupku menjadi seperti ini? Sebelumnya aku tidak berpikir apa-apa. Hanya menjalani hidup seperti biasa, berangkat kerja dan pulang ke rumah. Dilayani oleh Keysha yang selalu menunggu dan memasak untukku. Sosoknya yang masih segar diingatan adalah ketika dia berdiri di dapur, memasak masakan kesukaanku dengan daster membalut tubuhnya. Jika diingat-ingat, Keysha tidak pernah meminta dibelikan apapun, kapan ya terakhir aku membelikannya baju?


Aku memasuki rumah dan mengecek isi lemari pakaian, hanya tersisa baju-baju rumahan Keysha. Seingatku dia membawa koper kecil ketika pergi, pasti isinya tidak seberapa. Bertahun-tahun menikah, ternyata tidak banyak yang aku lakukan untuknya dan itu menyentil sanubariku. Nyeri yang mengganggu, sebelumnya aku tidak pernah merasakan hal seperti ini.


Aku terduduk di lantai, sesak dirongga dada. Semua semakin nyata ketika bayangan Keysha yang menangis dan meluapkan amarahnya kembali terlintas. Keysha selama ini menahan sakit, dan kesedihan yang baru aku sadari saat dia telah pergi. Penyesalan ini apa pantas? Aku sendiri sudah menodai mahligai pernikahan kami dengan meniduri Diana.


Ponselku berdering, dering sebuah notifikasi pesan, Diana memintaku untuk melupakan semua yang telah terjadi di antara kami. Aku tertawa geli, dia sama sekali berbeda dengan Keysha, pantas saja Haris pergi meninggalkan dirinya. Wanita itu dengan mudah menerima dan mencampakkan, bahkan lebih cepat dari bayanganku. Bukannya merasa bersalah, semua seolah biasa saja. Oh, aku seperti bercermin.

__ADS_1


“Sungguh gila, kini aku mengalami sendiri.”


***


Aku menyusuri jalan menuju rumah Ayu, aku ingin segera bertemu dengan Keysha. Walaupun aku tidak tahu akan berbicara apa dan melakukan apa jika berhadapan langsung dengannya.


Tidak memakan waktu lama, sampailah aku di depan rumah Ayu. Dari kejauhan rumah itu terlihat lengang. Ada perasaan gugup saat menginjakkan kaki di teras rumahnya. Hal pertama yang harus aku lakukan adalah meminta maaf, Ya! Aku harus meminta maaf!


Dengan berat aku mengetuk pintu meski tanganku mati rasa karena dingin. Sambil menunggu, aku mematik sebatang rokok, menghisapnya dalam sebelum menghembuskan asap melalui hidungku, berharap bisa menghilangkan kegugupan yang menyeruak.


“Cari si-” Ayu membelalakkan matanya ketika melihatku berbalik badan menghadapnya.

__ADS_1


“Ayu.” aku tersenyum kaku berharap Ayu tidak berteriak. Namun, sepertinya tidak mudah. Dia tampak ketakutan.


“Ma-mau apa kamu?!” setaknya gemetar. Aku langsung mengangkat tangan layaknya orang yang sedang menyerah di tengah perang.


“Tenang Ayu, tolong izinkan aku bertemu dengan Keysha,” ucapku pelan.


“Sudah kubilang Keysha tidak ada di sini! Cepat pergi atau aku akan menjerit!”


Aku kehabisan akal, aku tidak mungkin kembali  dengan tangan kosong. Untuk pertama kalinya aku melakukan hal yang tidak pernah aku bayangkan. Aku bersimpuh di hadapan Ayu sambil memohon.


“Tolong, Yu! Tolong biarkan aku bertemu dengan Keysha.”

__ADS_1


__ADS_2