Rahim Impian

Rahim Impian
Pembalasan Setimpal


__ADS_3

POV Diana


Sebuah cahaya menyilaukan menerpa wajahku hingga membuatku terjaga, aku mengerjap sambil mengusap mata karena rasa kantuk yang masih mendera. Diwaktu bersamaan kepalaku juga terasa sangat sakit hingga membuatku meringis.


“Ugh! Kepalaku sakit sekali,” keluhku menahan nyeri. Tidak hanya kepala, ternyata bagian tubuhku yang lain juga seperti habis di pukuli, ngilu!


Aku mencoba menetralkannya dengan merenggangkan tubuh serta mengurut tengkukku, tapi tidak begitu membantu. Justru kali ini semua rasa nyeri itu menguap oleh keterkejutanku yang lain. Ketika aku mendapati orang lain berada di dalam satu selimut bersamaku. Sosok pria bertelanjang dada tampak terlelap. Aku segera mengecek diri yang ternyata hanya mengenakan sehelai selimut tersebut. Aku gemetaran, ini gila!


“Tidak, ini pasti suatu kecelakaan!” aku mengedarkan pandangan mencari pakaianku yang  berceceran di lantai. Aku memungutinya dengan tergesa-gesa.


“Diana?”


Aku terdiam sesaat dan kembali mengenakan pakaianku.


“Tidak ada yang terjadi semalam, aku ada urusan jadi … aku harus segera pergi!” aku pamit tanpa melihat sosok itu.


“Kamu yang memaksaku semalam, bukan aku!”

__ADS_1


Andre mencekal tanganku yang pasti terasa dingin. Aku kini berani mengangkat wajah untuk membalas tatapannya.


“Ya, mungkin semua karena pengaruh alkohol. Kau tahu ‘kan, aku prustasi karena Haris meninggalkan rumah.”


“Dia pergi?”


“Iya, sejak kemarin, aku sudah tidak tahu harus bagaimana? Padahal selama ini aku sudah berusaha menjadi istri yang baik. Entah apa kurangnya aku?” aku terisak meluapkan kekecewaanku.


“Pria itu, sungguh orang yang tidak tahu diuntung. Wanita sesempurna dirimu saja tidak ia syukuri, sudahlah, jangan tangisi dia lagi.” Andre menyeka air mataku yang membahasi pipi. Aku memang sedang butuh orang yang mau mendengarkan keluhanku, kupikir dia tidak begitu buruk. Meski dari segi penampilan dia tidak sekeren Haris.


“Tapi aku sangat mencintainya, aku harap kamu mengerti. Dan, aku minta untuk menyimpan rahasia ini hanya di antara kita.” aku menggeleng menolak sarannya.


Aku tertegun mendengar ucapan Andre. Benar juga, pengkhianat harus dibayar dengan pengkhianatan. Aku tidak akan melepaskan Haris, tapi aku juga tidak ingin menderita sendiri. Dia pasti sedang bersenang-senang dengan wanita sundal itu. Jika mereka bisa, kenapa aku tidak? Siapa yang mengira, aku akan bermain dengan suami wanita selingkuhannya.


“Kamu ingin membuat kesepakatan?”


“Maksudnya?”

__ADS_1


“Sambil kita membujuk pasangan masing-masing, kita juga saling melepaskan kerinduan tertahan yang tidak tersalurkan. Sebenarnya semalam tidak begitu buruk, jadi … kau mau melanjutkannya?”


“Kamu serius?”


“Setelah dipikir-pikir, itu menjadi hal yang menarik.”


Aku merangkul leher Andre yang masih dalam keadaan tanpa busana, dia hanya memakai selimut menutupi organ intimnya.


Kami pun akhirnya melakukan hal sama seperti kemarin malam, bahkan lebih panas karena aku dalam keadaan sadar. Aku tersenyum ketika pelepasan membayangkan wajah pelacur itu menujukkan kekecewaan karena suaminya bermain dibelakangnya.


***


“Terima kasih karena sudah mengantarku,” ucapku saat keluar dari mobil Andre. Pria berkacamata itu tersenyum.


“Sama-sama, lalu apa yang akan kamu lakukan selanjutnya?”


“Aku memikirkan langkah yang tidak bisa dia abaikan selain kembali padaku.”

__ADS_1


“Apa itu?”


“Rahasia,” aku mengerlingkan mata lalu meninggalkannya.


__ADS_2