
Aku terpaku melihat sosok yang berdiri di depan pintu, orang itu menyunggingkan senyum mempesona seperti biasanya. Namun, bukan itu yang sedang aku permasalahkan, tapi kenapa dia di sini? Di rumah tetanggaku? Aku terhenyak dan melongok ke dalam rumah melalui celah tubuhnya memastikan jika ada orang lain di sana. Nihil, tidak ada siapa-siapa.
“Cari siapa?”
“Kamu, kenapa di sini, Haris? Kamu kenal yang punya rumah ini?”
“Tentu saja kenal, karena penghuni rumah ini aku sendiri.”
“Hah?” aku melongo dengan wajah bingung. Haris terkekeh.
“Aku sengaja mengontrak di sini agar dekat denganmu.”
“Haris, kamu serius? Jangan bercanda?”
“Aku serius! Kamu boleh masuk dan memeriksa barang di dalam. Ada koperku di kamar.” Haris menggeser tubuhnya memberikan space agar aku bisa masuk ke dalam rumah.
Karena penasaran, aku pun mengeceknya. Benar saja, ada koper milik Haris dan beberapa barang miliknya seperti laptop dan beberapa berkas kerjanya. Sayangnya, di sana tidak ada perabotan seperti di dalam kontrakanku yang serba ada. Di rumah itu hanya ada sebuah ranjang single bed, dan lemari plastik kecil. Aku berkeliling sampai dapur memastikan ruangan yang ada.
“See, tidak ada siapa-siapa ‘kan?”
Aku menoleh pada Haris dengan raut prihatin. “Uangmu habis ya, sampai ikutan ngontrak di sini. Sudah tidak ada biaya untuk sewa hotel? Pasti karena biaya yang kamu keluarkan untukku.”
“Ha, ha, ha, ya ampun Key, nggak begitu kok. Aku hanya ingin dekat denganmu, bisa lihat kamu setiap hari.”
__ADS_1
“Beneran? Bukan karena uangmu yang tinggal sedikit?”selidikku memastikan.
“Uangku tidak begitu banyak juga, sih. Makanya aku mengontrak seperti saranmu. Lebih murah daripada menginap seminggu di hotel,” jawab Haris masuk akal.
Aku mengedarkan pandangan lagi, semuanya tampak berbanding terbalik dengan hunianku saat ini. “Haris, bagaimana jika kita bertukar kontrakan. Kamu tinggal di sebelah, dan aku di sini.”
Haris menaikkan sebelah alisnya heran. “Ha? Untuk apa?”
“Di sini, tidak ada apa-apa. Sedangkan di sebelah banyak perabotannya. Lebih nyaman dan-”
“Hei, aku memang hanya membutuhkan tempat untuk bermalam saja, kok. Tidak perlu dipikirkan,” sela Haris sambil mengibaskan tangannya menolak.
“Tapi-”
“Oh, ini kue aku beli sengaja untuk tetanggaku yang ternyata kamu,” selorohku membuat Haris kembali terkekeh.
“Kebetulan aku lapar. Sini, kita makan bareng!” ajaknya menepuk sisi ranjang. Saat ini hanya itu tempat yang layak untuk di duduki. Tidak ada kursi di sana.
Aku terkejut mengetahui jika Haris belum makan, padahal sudah selarut ini. “Kamu belum makan?” .
“Tadi aku ketiduran,” Haris mengusap tengkuknya malu.
Aku keluar kamar mengecek barang belanjaan tadi kemudian kembali menemui Haris yang tampak memperhatikan pergerakanku.
__ADS_1
“Haris, ikut aku!” aku menarik tangannya dan membawa keluar dari rumahnya menuju rumahku. Aku mendudukinya ke sofa.
“Tunggu di sini, aku akan memasakkanmu sesuatu.” Tidak lupa aku menyuguhkan kue barusan sebagai pengganjal perut.
Haris tersenyum lebar tanpa menolak. “Terima kasih, sayang!”
Panggilan itu berhasil membuat pipiku merona.
***
15 menit kemudian masakanku siap dihidangkan, aku memilih membuat nasi goreng sebagai makanan praktis juga mengenyangkan. Haris berbinar menatap nasi goreng buatanku.
“Terlihat enak! Kamu pandai memasak ya, Key!”
“Di coba dulu baru berkomentar,” ucapku seraya memberikannya sendok.
Haris mengangguk dan bersiap untuk menyantapnya. Aku duduk di sofa berseberangan dengannya sambil memperhatikan. Suapan pertama masuk ke dalam mulut Haris, selama ia mengunyah hatiku berdebar-bedar menantikan reaksi pria itu.
Aku memandangnya penuh tanya saat kunyahan itu tertelan.
“Ba-bagaimana?” tanyaku gugup.
Haris tidak menjawab melainkan kembali menyuap nasi itu dengan lahap, bahkan hingga tidak bersisa. Aku masih setia dengan pertanyaan di wajahku.
__ADS_1
“Kamu memang calon istri idaman, Key. Ini nasi goreng paling enak yang pernah aku makan. Aku tidak keberatan jika kamu membuatkannya setiap hari.”