Rahim Impian

Rahim Impian
Berita Buruk atau Baik?


__ADS_3

Pov Haris.


"Hah? Diana datang ke kampung? Mau apa dia datang ke rumah?"


Aku benar-benar terkejut mendengar berita dari Santi. Berani-beraninya Diana mendatangi rumahku.


Bertahun-tahun perempuan itu tidak pernah mau ikut jika aku pulang kampung. Diana terlalu suci menginjak rumah kumuh kami. Ada angin apa yang membuat dia sudi datang ke gubuk ibuku? Pikiranku berkecamuk.


"Sebentar Kak ini... ini... ada-" Belum selesai Santi menjawab, tiba-tiba terdengar suara yang sudah tidak asing lagi di telingaku.


"Haris, ibu tidak pernah mengajari kamu menyakiti perempuan! Kenapa bisa kamu bertindak sejauh ini?" Suara ibu terisak.


Sial, pasti ibu sudah terkena hasutan Diana. Rupanya perempuan itu tidak melepaskan aku dengan mudah. Pasti Diana sudah bicara yang tidak-tidak tentang aku. Sebetulnya, bukan yang tidak-tidak, tapi bicara kenyataan dari sisi dia.


"Ibu, tenang dulu, ya. Nanti Haris jelaskan semuanya."


"Pulang kamu sekarang, Nak. Ibu tidak pernah mendidik kamu dengan cara-cara yang tidak baik, apalagi menyakiti hati perempuan. Tidak, Haris, ini seperti bukan anak yang Ibu kenal." Tangisan ibu pecah.


Tentu saja, ibu kecewa kalau mendengar cerita tentang rumah tangga kami hanya dari satu pihak saja. Diana paling jago untuk memenangkan hati, apalagi hati lugu ibuku.


"Iya, Bu. Besok, Haris pasti pulang."


Aku tidak punya pilihan lagi selain menyusul Diana untuk pulang ke kampung. Ada-ada saja! Perempuan itu, aku yakin kedatangannya ke rumah hanya ingin meminta aku kembali. Pasti itu yang dia inginkan.


Terkadang aku bingung dengan sikap Diana. Seandainya dia mau melepaskan aku, dia pasti bisa bertemu dengan laki-laki yang mencintai dia. Mencintai seperti yang dia mau. Kenapa sangat sulit baginya untuk melepaskan seorang pria yang sudah tidak punya rasa lagi?

__ADS_1


Keesokan harinya, aku segera pulang ke kampung. Tak aku sangka, Diana menyambutku dengan senyumnya di depan rumah. Perempuan itu bahkan mengambil tas bawaanku yang berisi pakaian ganti. Ada apa dengan Diana? Kenapa dia sekarang tiba-tiba bersikap seolah-olah menjadi istri yang berbakti pada suaminya?


Aku mengernyitkan kening, memikirkan kira-kira apa rencana Diana kali ini.


Sesampainya di dalam rumah, aku memeluk Ibu penuh kerinduan, sedangkan Ibu menyambutku dengan tangisannya. Santi datang dan menyapaku hangat.


"Kakak sehat?" tanya Santi. Gadis ini semakin mekar, wajahnya berbinar cantik. Santi adalah versi perempuan diriku.


"Ini, sayang, diminum dulu tehnya."


Kejutan apa lagi yang sudah disiapkan oleh Diana? Tumben-tumbenan dia menyediakan secangkir teh panas untukku. Selama ini tidak pernah terhidang teh panas atau kopi. Aku harus membuatnya sendiri, atau terpaksa minum versi dingin dari minuman teh atau kopi di rumah kami.


"Kalau capek, tiduran aja, biar aku pijit."


Lagi-lagi suara Diana seperti menggedor gendang telingaku.


"Kalian makan saja dulu, Ibu sudah masak makanan kesukaan kamu, Haris. Ada urapan rumput laut juga ikan kembung goreng kering."


Mataku berbinar mendengar Ibu menyebut makanan kesukaanku. Yang aku sukai dari rumah ini adalah kenangan kami sewaktu kami kecil, termasuk aneka menu sederhana yang selalu dihidangkan ibu untuk anak-anaknya.


Aku melirik Diana. Dia pasti jijik dengan menu yang disebutkan ibu. Aku samabsekali tidak peduli!


"Iya, Bu. Aku sudah lama merindukan masakan ibu," ucapku dengan sengaja memancing reaksi Diana.


"Mas Haris, ini kalau nggak aku masakin, juga nggak mau makan, Bu," kata Diana, membuat perutku mual seketika.

__ADS_1


'Masak? Pesan makanan online adalah satu-satunya keahlian Diana.'


Kami makan malam dengan menu istimewa buatan ibu, dan seperti yang aku pikirkan, Diana terlihat jijik dengan menu yang dihidangkan ibu.


Usai makan, Diana langsung mengambil piring kotor yang ada di hadapanku. Ia menaruhnya di bak cucian piring. Dia tidak akan mencucinya. Aku sangat yakin, dia tidak akan mau merusak dan mengotori nail artnya yang sempurna.


"Sudah, Diana. Biarkan di situ, besok pagi biar Santi yang mencucinya," ujar ibu.


"Iya, Bu," sahut Diana cepat. Benar 'kan tebakanku, Diana hanya berpura-pura.


"Sayang, aku ada kabar gembira untuk kamu. Lihat ini," kata Diana, memperlihatkan sebuah benda pipih, sebuah tespek dengan dua garis merah samar.


"Apa maksud kamu?" tanyaku dengan jantung berdegup kencang.


"Aku hamil, Mas. Kita akan punya anak," seru Diana dengan wajahnya yang berseri-seri.


"Bagaimana mungkin?" Aku berusaha meyakinkan diriku sendiri.


"Tentu saja mungkin, karena kamu suamiku!" Diana langsung memelukku erat.


Tak aku sangka, ternyata ibu mendengar perkataan Diana. Ibu segera mendekat ke arah kami.


"Jadi, ibu mau akan segera punya cucu?" tanya ibu tampak antusias


"Iya, Bu. Aku sedang hamil, karena itu aku sengaja datang ke sini untuk memberitahu ibu dan Mas Haris secara langsung," tutur Diana dengan sikap lembut yang dibuat-buat.

__ADS_1


"Haris, ibu tidak mau dengar alasan lagi. Kamu harus segera mencabut gugatan cerai kamu pada Diana!"


Tbc.


__ADS_2