Rahim Impian

Rahim Impian
Masuk Rumah Sakit


__ADS_3

POV Diana.


"Papa harus percaya sama Diana! Rekaman yang dikasih sama Haris itu nggak bener, Pa! Dia memang selalu mencari cara supaya bisa bercerai dari aku. Papa udah tahu itu dari lama 'kan?" Aku masih berusaha meyakinkan papa supaya percaya aku bukan orang yang bersalah. Haris penyebab semua ini. Haris yang harus dapat hukuman, bukan aku.


Melihat keseriusan di wajahku Papa terdiam. Entahlah semakin ke sini aku semakin ragu bisa mengendalikan keadaan. Jika selama ini aku percaya Haris tidak bisa aku kalahkan sepertinya aku harus mulai berhati-hati dengan pria itu.


"Jelaskan sama papa siapa Andre?"


Papa melempar pandangan tepat menembus dua manik mataku dengan tajam. Aku tahu arti tatapan itu. Setiap aku melakukan kesalahan besar, Papa pasti menatapku seperti itu, seolah-olah ingin menghakimi. Tentu aku tidak suka dengan tatapan mata papa yang membuat aku semakin terpojok dan tidak berdaya.


"Diana jawab pertanyaan papa! Siapa laki-laki yang bernama Andre itu?"


Tegas to the point, langsung menuju sasaran inti pertanyaan. Sepertinya Papa tidak butuh basa-basi lagi. Sementara otakku masih berputar mencari jawaban yang aman untuk meyakinkan papa.


"Sudah papa tanya berkali-kali kamu masih tidak mau menjawab? Katakan Diana, siapa Andre?" Suara papa bergetar, ada luka di dalam suara itu. Luka yang bisa aku rasakan mirip dengan luka yang aku derita. Suara papa terdengar sangat keras hingga aku tidak bisa lagi mengelak lagi.


"Andre itu suaminya Keisya, selingkuhan Haris." Bibirku bergetar mengucapkan nama seorang wanita yang aku benci sampai mati.


Gara-gara wanita itu semua impianku hancur berantakan. Tanpa kusadari buliran bening ngalir membasahi pipi. Apa yang aku tangisi sekarang? Kehancuran ini? Kekalahan, rasa malu atau tumpukan rasa bersalah yang sekarang sudah mengendap di dada? Aku tidak akan melakukan semua ini kalau tidak ada Keisya. Dia satu-satunya orang yang harus disalahkan atau semua yang tragedi yang terjadi ini.


Plak!


Pipi kiriku terasa panas. Tentu saja Papa menamparku, papa pasti berpikir aku pantas menerima semua ini.


"Pa, sudahlah ... jangan kasar sama Diana! Ingat, dia sedang mengandung cucu kita."

__ADS_1


Suara Mama memohon agar Papa tidak lagi menampar aku, padahal aku sudah siap menerima tamparan berikutnya. Hanya papa yang boleh menampar aku, tidak boleh ada orang lain. Aku rela jika Papa menghajarku sekalipun.


Aku memang kecewa dengan diri sendiri, tapi aku lebih kecewa dengan Haris yang sampai sekarang selalu ingin melepaskan dirinya dari belenggu pernikahan kami. Belenggu? Yang benar saja! Haris benar-benar pria yang tidak tahu terima kasih.


"Pa ... Papa kenapa?" Suara panik Mama kembali terdengar. Kali ini Mama meraih bahu Papa. Tangan papa mendekap erat dadanya.


"Sudah, Pa, jangan marah-marah, tahan emosi papa nanti jantung papa kumat. Diana sudah dewasa dia bisa mengambil keputusan untuk hidupnya sendiri. Sebaiknya kita tenangkan diri dulu." Mana selalu seperti air yang mampu menyiram dan meredam amarah papa.


"Papa menyesal memanjakan kamu, Diana. Papa merasa berdosa menuruti semua keinginanmu sejak dulu. Ternyata semua itu jadi racun di dalam tubuh dan pikiranmu. Kamu tidak pernah puas, tindakamu benar-benar membuat Papa malu! Kamu seperti wanita murahan, Diana!"


Gigi papa bergemeletuk menahan amarahnya. Papa menudingku tepat di depan muka. Serendah itu aku di hadapan papa. Aku hanya memperjuangkan rumah tangga ini. Aku hanya berusaha agar pria yang aku cintai tidak pergi. Aku berusaha dengan segala cara seperti yang Papa ajarkan, tapi sekarang papa justru kecewa. Bibirku tersenyum, "sungguh ironis sekali hidupmu Diana," batinku mengejek diri sendiri.


"Papa sabar ya, sudah biarkan Diana juga tenang dulu." Mama masih berusaha meredakan emosi papa.


"Kamu nggak lihat anak gadismu bersikap memalukan seperti itu? Dari dulu aku berpikir Haris yang salah dan tidak tahu diri, ternyata anak perempuan kita lebih tidak tahu diri. Dia berselingkuh sampai hamil, apa-apaan ini? Papa nggak pernah mengajarimu menjadi liar seperti ini, Diana!" gertak Papa lagi. Teriakan papa membuat nyaliku menciut seketika.


"Kamu jangan terus-terusan membelanya! Dia sudah mencoreng nama baik kita, Ma! Harusnya kita memang bersikap tegas sejak dulu, tidak memberikan apa yang selalu dia inginkan." Suara papa bergetar, kemarahan bercampur dengan penyesalan.


Aku menundukkan wajah. Papa sudah menarik kesimpulan yang sangat menyakitkan. Baiklah ini terakhir kali, aku akan berusaha melunakkan hati papa.


"Pa, maafin Diana. Diana bisa jelaskan semuanya."


"Di mana Andre?" Tanpa memedulikan jawabanku, Papa justru menanyakan keberadaan pria yang harusnya aku kubur hidup-hidup.


"Andre? Kenapa papa jadi nanyain Andre?" Aku berucap lirih.

__ADS_1


"Mulai hari ini kamu harus mengikuti semua prosedur perceraian dengan Haris! Tidak boleh lagi ada yang dipersulit, lalu setelah itu Papa akan bertemu dengan Andre. Dia harus menikahi kamu!"


Oh tidak! Ini neraka selanjutnya!


"Ampun Pa, Papa tidak boleh melakukan ini, Diana nggak cinta sama Andre. Diana cintanya sama Haris." Aku harus melawan papa.


"Diana, kamu bisa rasakan sendiri kamu tidak cinta sama Haris, kamu terobsesi sama dia. Sekarang kamu lihat sendiri, ini akibatnya. Haris tidak baik untuk kamu, jadi lepaskan dia. Papa nggak mau tahu lagi, jangan bikin ulah setelah ini kamu harus menikah dengan Andre."


"Papa nggak bisa lakukan ini sama Diana! Ini hidupku Pa! Diana berhak menentukan semuanya sendiri!" teriakku tak kalah sengit membalas ultimatum papa.


"Diana, sudah-sudah jangan bicara lagi. Lebih baik kamu istirahat dan pikirkan apa yang tadi diperintahkan oleh Papa. Semua ini untuk kebaikan kamu, Nak."


Aku mengalihkan pandangan pada mama yang masih berusaha memegangi Papa.


"Mama juga tidak mau kamu hidup menderita, sekarang kami pulang dulu, Papa butuh istirahat." Mama menganggukkan kepalanya memberi perintah yang tak bisa aku bantah. Wanita yang masih terlihat cantik di usia lima puluh tahun itu mengantar Papa masuk ke dalam kamar.


Dengan kesal aku meninggalkan mereka yang segera pergi dari apartemen ini. Setelah kepergian mama dan papa pikiranku tidak tenang.


"Tidak mungkin aku menikah dengan Andre, pria yang sama sekali tidak aku cintai," batinku bergejolak.


Apakah ini kekalahan berikutnya? ****! Aku memukul dinding kamar. Kepalaku berdenyut nyeri, aku merasa pusing. Baru saja aku menutup pintu, ada telepon dari mama.


"Diana kamu jangan panik, Mama cuma mau kasih kabar, Papa terkena serangan jantung barusan di perjalanan dan sekarang kami sedang menuju rumah sakit Internasional."


Suara Mama tergugu memberitahu kondisi papa. Tidak, tidak, ini tidak mungkin! Papa tadi baik-baik saja. Papa pria kuat, tidak mungkin tumbang karena masalahku ini.

__ADS_1


Tbc.


__ADS_2