Rahim Impian

Rahim Impian
Kemenangan Diana


__ADS_3

POV Diana


Jangan sebut namaku Diana, kalau aku tidak bisa mendapatkan apa yang aku mau. Sejak kecil, Papa dan Mama selalu memberikan apa yang aku inginkan, bukan sekedar yang aku butuhkan.


Mungkin saat aku terlahir ke dunia, menghirup udara segar, saat itu pula Papa dan Mama sudah sepakat untuk melimpahiku tidak hanya dengan kasih sayang, tapi juga dengan harta dan kemewahan.


Aku sangat mensyukuri hal itu, hingga saat aku tumbuh dewasa seperti ini, didikan Papa sangat kental membentuk karakterku. Karakter wanita kuat yang tidak mudah menyerah. Meskipun berkali-kali harus mencoba mengalahkanku, akhirnya aku bisa sampai ke titik ini.


Suamiku akhirnya menarik gugatan cerainya di pengadilan agama. Ini adalah kabar terbaik seumur hidupku, setelah kabar baik dulu Haris melamarku untuk menjadi istrinya.


Kehamilan ini benar-benar menjadi sebuah rezeki yang tidak terduga, berkat dari Tuhan yang harus aku jaga. Karena berita kehamilan ini, rasa iba Haris akhirnya kembali lagi.


Seharusnya Haris bisa bersikap lebih baik padaku seperti para suami pada umumnya, yang istrinya hamil, apalagi kami sudah mengusahakan kehamilan ini bertahun-tahun lamanya.


Yang terlihat, Haris tidak begitu senang mendengar berita kehamilanku, dan aku sangat tahu apa penyebabnya. Apalagi kalau bukan karena Keysha, selingkuhannya itu? Mereka pikir mereka sepintar itu mau membodohi aku?


Keputusanku untuk mendatangi ibu mertuaku, meskipun di rumah yang sangat kumuh dengan aroma pengap ini, ternyata adalah keputusan yang paling tepat, setelah keputusan untuk hamil dengan Andre.


Bagaimana tidak? Ibu mertuaku sangat senang dengan berita kehamilan ini. Haris yang memang sangat patuh pada ibunya tidak akan bisa membantah sepatah kata pun.


"Nak Diana, Ibu sudah merebus telur ayam kampung untuk sarapan. Ini ada juga susu kedelai, diminum dulu ya, biar janin yang ada di perut sehat," ujar Ibu Haris.


Sebetulnya, aku bosan makan telur lagi, susu kedelai lagi. Tapi demi memuluskan jalanku untuk tetap bersama Haris, mau tidak mau aku harus memasang wajah sangat bahagia.

__ADS_1


"Terima kasih, ya, Bu. Ibu sudah sangat perhatian sama Diana dan calon cucu ibu."


"Tentu saja Ibu pasti akan memperhatikan kalian. Cucu ini sudah lama Ibu harapkan kehadirannya. Sebentar lagi Ibu pasti akan dipanggil Nenek. Kamu hati-hati ya, Nak, jaga baik-baik bayi di dalam kandunganmu itu."


Nggak usah diajari juga, aku pasti akan menjaganya. Anak ini anak mahal, anak impian, anak yang bisa merekatkan kembali hubunganku dengan Haris.


"Selama di sini, kamu tidak usah memegang pekerjaan apa pun, istirahat saja, konsentrasi dengan janin yang ada di kandunganmu," pesan ibunya Haris.


Tentu saja, dengan senang hati aku akan menurutinya.


"Sebentar ya, Bu, saya harus mengabari Papa karena Papa belum tahu tentang kehamilan ini."


"Oh ya? Jadi papa dan mamamu belum tahu?"


"Nak Diana, terima kasih sekali atas perhatian kamu. Ibu sangat senang mendengar kabar kehamilanmu ini. Ibu doakan semoga kehamilanmu lancar sampai persalinan nanti."


Aku menganggukkan kepala lalu segera aku pergi dari ruang tamu menuju ke kamar, mengambil ponsel lalu menghubungi nomor telepon papa.


"Halo, Pa, Papa sehat?"


"Diana, kamu ke mana saja? Beberapa hari ini tidak datang ke rumah."


"Aku sekarang sedang ada di kampungnya Haris, Pa. Aku akan memberitahu kabar bahagia. Sebentar lagi Papa akan dipanggil Opa!"

__ADS_1


"Kamu ... Kamu hamil, Diana?" tanya papa tidak percaya.


"Iya, Pa, akhirnya program kehamilanku sama Haris berhasil."


"Diana, Papa sangat senang mendengar kabar kehamilan kamu. Nanti Papa juga akan kasih tahu Mama kalau kamu sedang hamil. Sebaiknya kamu segera pulang kembali ke apartement kamu. Lingkungan di sekitar apartemenmu itu lebih menunjang di bandingkan di kampungnya Haris. Kamu pasti lebih paham hal itu 'kan, Sayang?"


"Iya, Pa. Papa jangan khawatir. Nanti kalau sudah waktunya, pasti Diana pulang 'kok ke rumah. Yang jelas sekarang Haris sudah mencabut gugatan cerainya di pengadilan agama," jelasku.


"Anak gemblung itu akhirnya sadar diri juga," jawab papa ketus.


Aku hanya tersenyum. Sungguh, kebahagiaanku sekarang sudah semakin lengkap.


"Diana, kalau kamu sudah sampai di rumah, kabari Papa ya. Papa mau bikin pesta untuk merayakan calon cucu Papa."


"Tentu, Pa. Jangan khawatir, nanti pasti Diana kasih tahu."


Adakah yang lebih indah dari ini? Ada janin yang sedang tumbuh di rahimku, suami yang kini kembali kepadaku, dan kami akan menjalani hidup selanjutnya.


"Papa, terima kasih atas segala yang Papa lakukan kepadaku selama ini, hingga menjadikan aku sebagai wanita tangguh tak terkalahkan." Senyumku mengembang sempurna.


Tbc.


Sebagai ganti kemarin absen... Ayo mana semangatnya? 🤣🤣🤣

__ADS_1


__ADS_2