Rahim Impian

Rahim Impian
Berhak Bahagia


__ADS_3

POV Ayu


Aku menatap ngeri pada Andre yang bersimpuh di hadapanku. ‘Sedang apa dia? Sepertinya memang dia benar-benar sudah gila.’


“Aku sudah bilang Keysha tidak ada di sini!” tegasku dengan nyalang. Aku sama sekali tidak sudi Keysha bertemu dengan pria laknat ini.


“Ayu, aku sadar jika aku telah melakukan kesalahan, biarkan aku memperbaikinya. Keysha pasti mau mendengarkanku. Semua karena salah paham!”


‘Salah paham gundulmu! Kenapa harus memakan waktu bertahun-tahun baru menyadarinya? Otaknya lebih bebal daripada batu!’ rutukku dalam hati.


“Apa kau tuli? Keysha benar-benar sudah tidak ada di sini. Aku sengaja memintanya untuk tidak kembali ke rumahku mengingat apa yang sudah kamu lakukan padaku,” sarkasku agar dia sadar apa yang telah ia perbuat.


Andre terdiam, cukup lama sampai ia kembali berkata. “Aku akan menunggu di sini sampai kamu mengizinkanku bertemu dengannya. Sebelum itu aku … aku minta maaf karena telah menamparmu.”


Aku menghembuskan napas kasar, ternyata Andre sosok yang tidak pernah mendengarkan orang lain berbicara. Semua yang aku katakan barusan, mental semua seperti pantulan sepak bola pada tembok. Ya, seperti berbicara pada tembok dan itu sangat melelahkan. Aku malas berdebat. Aku memperingatkannya sebelum kembali masuk ke rumah.


“Dengarkan aku baik-baik, Andre. Keysha sudah tidak ada di sini. Aku bersungguh-sungguh dan jika kamu mau menunggunya di depan rumahku, sebaiknya jangan. Karena aku tidak akan segan menyirammu dengan air panas, mengerti?!” aku mengacungkan jari telunjuk lalu membanting pintu dengan keras.


***


Suara gemuruh langit menggelegar disertai kilatan petir. Aku berjalan menuju taman belakang tempatku menjemur pakaian. Sebentar lagi sepertinya akan hujan, aku mengangkat jemuran dibantu oleh Rara yang baru saja bangun tidur siang.


“Ma, 0m-om yang ada di depan rumah kok tidak di suruh masuk? Mau hujan, lho,” ucap Rara mengagetkanku. Aku gegas mengecek keberadaan Andre yang sejak tadi sudah aku usir. Ternyata pria itu tidak kunjung pergi. Apa dia memang mengharapkan siraman air panas?


Aku menggiring Rara ke sudut ruangan dan mengajaknya untuk berbicara serius seraya memegang kedua bahunya.


“Rara, dengar Mama. Jangan pernah sekalipun kamu membuka pintu jika ada orang itu di luar! Bahkan, meski dia memintanya, paham?”


Rara mengangguk. “Paham, Ma.”


“Bagus, sekarang kamu masuk kamar ya, main di sana!” perintahku.


Rara menurut lalu memasuki kamar. Aku harus menyelesaikan ini sesegera mungkin. Kehadiran Andre membuatku tidak tenang, apalagi sekarang dia semakin aneh dan pemaksa. Aku meraih ponsel dan menelpon nomor RT daerah rumahku, aku mendapatkannya setelah insiden Andre menamparku tempo lalu.


[Halo, selamat siang dengan Bu Ayu?]

__ADS_1


“Iya Pak RT, ini saya Ayu yang kemarin mendapatkan penyerangan. Maaf Pak saya mau laporan. Orang yang menyerang saya kemarin itu sekarang ada di depan rumah, saya takut dan merasa terancam, Pak!”


[Apa? Jadi orang itu ada di sana? Baik-baik Bu, saya akan ke sana bersama petugas keamanan. Usahakan Ibu berada tempat aman selama kami ke sana. Tetap tenang ya, Bu!]


“Iya, terima kasih, Pak. Saya tunggu!” aku pun merasa lega, beruntung memiliki nomor darurat yang bisa segera dihubungi. Aku menunggu sambil mengintip dari balik celah kaca jendela sampai rombongan Pak RT datang. Tidak butuh waktu lama, Andre pun segera diciduk. Aku menyeringai melihat dirinya diseret paksa dari sana.


“Tolong lepaskan, saya hanya ingin menemui istri saya!” Andre berontak.


“Siapa Istri Anda?” tanya salah satu petugas keamanan.


“Keysha Geraldine!”


“Di sini tidak ada warga yang bernama demikian, tolong kerjasamanya. Pemilik rumah merasa terancam dengan keberadaan Anda!” sahut Pak RT.


“Saya memang salah karena sempat berlaku kasar, tapi saya benar-benar hanya ingin menemui istri saya!”


“Pengakuan Anda jelas membenarkan tindakan kriminal Anda. Saya peringatkan, jika Anda masih terlihat di daerah sini, kami tidak segan-segan melaporkan Anda ke pihak berwajib!”


Andre tampak tidak tenang, ia berulang kali melihat ke arah rumahku dan berteriak.


Pak RT memberikan aba-aba pada petugas keamanan, kali ini mereka benar-benar membawa Andre pergi dari rumahku.


“Benar-benar keras kepala, Keysha … bagaimana bisa kamu menikahi orang seperti itu?” gumamku mengurut dada. Aku menempelkan ponsel ke telinga melakukan panggilan pada Keysha.


[Halo, Ayu?]


“Key, bagaimana kabarmu? Kamu di mana sekarang?”


[Kabarku baik, Yu … aku sekarang tinggal bersama Haris.]


Aku berlonjak mengangkat punggungku yang barusan menempel pada sofa. “Kamu dengan Haris? Kok bisa?”


[Panjang ceritanya Yu, tapi aku berniat mencari kontrakan hari ini setelah kemarin menginap di hotel bersama Haris.]


“Apa?! Di hotel? Wah, kamu ini bener-bener bikin aku speacless, gerak cepat, ya!”

__ADS_1


[Nggak begitu, Ayu. Kami tidak melakukan apa pun, demi tuhan!]


“Kalaupun iya, aku sih tidak masalah, cuma … akan lebih baik jika kamu menyelesaikan masalahmu dengan Andre terlebih dahulu.”


[Aku terbentur dana, Yu.]


“Bagaimana jika aku meminjamkannya? Sebenarnya Andre barusan datang lagi ke rumahku.”


[Apa?! dia ke rumah kamu lagi? Kamu baik-baik saja, Yu? Dia apain kamu?] Keysha bertanya dengan panik.


“Dia tidak sempat apa-apain aku kok, aku langsung menghubungi Pak RT dan dia sudah di bawa pergi.”


[Syukurlah, Ayu … aku takut kamu kenapa-napa.]


“Tidak, dia masih mencarimu. Kali ini memang sedikit berbeda, tapi ….” aku menggantungkan kata, haruskah aku bilang akan ungkapan penyesalan Andre pada Keysha?


[Tapi apa Yu?]


“Tidak apa-apa, dia hanya tetap ingin menemuimu.” aku mengurungkannya. Semua masih belum jelas, bisa saja itu semua hanya manipulasi Andre.


[.…]


“Key?”


[Aku tidak tahu, apa aku siap untuk bertemu dengannya? Aku takut.]


Aku membatin, begitu besar trauma yang kamu torehkan, Andre. Jadi, jangan salahkan aku jika mungkin aku bertindak tidak adil padamu. Semua karena kamu telah menyakiti sahabatku.


“Jangan takut, kamu harus berani Key! Kirimkan aku nomor rekeningmu. Kamu bisa menggantinya kapan saja.”


[Ayu, aku tidak mau merepotkanmu lagi. Aku akan mengajukan pinjaman di tempat aku kerja saja.]


“Kamu bekerja belum satu bulan, Key! Lagi pula uang itu untuk keperluanmu sehari-hari.”


[Ayu … terima kasih banyak, aku tidak tahu apa yang harus aku lakukan jika tidak ada kamu?]

__ADS_1


“Aku hanya ingin yang terbaik untukmu, kamu berhak bahagia.”


__ADS_2