Rahim Impian

Rahim Impian
Bantuan tidak terduga


__ADS_3

POV Diana


“Mau kemana, Neng?”


Aku melepaskan kacamata lalu mengeryit. Aku paling malas menimpali orang yang suka sok kenal, sok dekat. Aku menelisik pria setengah baya itu. Penampilannya sungguh jauh dari layak. Aku menghela napas lelah. Tentu saja, apa yang aku harapkan dari penduduk desa? Pastinya kampungan! Mereka jelas-jelas tidak memperhatikan kebersihan, kadangkala penampilannya pun asal. Kalau bukan karena Haris, aku tidak akan sudi menginjakkan kaki ke daerah seperti ini. Tanahnya besek jika hujan turun, terjal dan tidak beraturan. Tanpa ingin menjawab aku meninggalkan orang itu begitu saja lalu melangkah menuju sebuah rumah sederhana. Rumah mertuaku.


Di rumah kecil yang sudah berulang kali aku minta untuk direnovasi, setidaknya agar lebih layak. Melihat kusennya yang sudah mulai keropos membuatku risih. Banyak debu dengan kotoran rayap di mana-mana. Ibu mertua beralasan tidak mau merepotkan aku lha, lebih suka dengan desain lamanya lha, berbagai alasan ia berikan agar aku tidak merenovnya. Padahal aku ingin sekali meruntuhkan rumah ini. Mungkin jika sudah rubuh, Ibu Mertua baru menurut.


“Ya, semoga ada gempa hingga bisa menghancurkan rumah ini. Dikasih enak kok sok gak butuh, dasar orang kampung,” gerutuku sambil menendang dinding.


Bugh


“Akh! Sakit!” kakiku berdenyut nyeri. Aku melirik kesal dinding rumah itu. Penampilannya sudah rapuh, ternyata masih keras juga. Sialan!


“Kak Diana?”


Suara yang tidak asing terdengar memanggil. Aku segera bangkit meski jempolku masih terasa ngilu.


“A-ah, Santi. Hai, apa kabar?” sapaku basa-basi pada gadis yang baru menginjak kelas 2 SMA. Gadis itu adalah adik Haris.


“Ini beneran Kak Diana?”


Mungkin Santi keheranan dengan keberadaanku, karena selama ini aku memang jarang datang berkunjung. Hanya satu kali aku pernah ke sini, saat Haris hendak menikahiku. Dalam rangka mempertemukan aku dengan orang tuanya. Setelahnya … tidak pernah. Jika Haris rindu Ibunya, maka dia akan pergi sendirian tanpa diriku.

__ADS_1


Kebetulan orang tua Haris tinggal sebelah dan itu tidak begitu berpengaruh dengan hidupku. Aku lebih tidak peduli, yang penting aku sudah melaksanakan kewajiban dengan memberikan mereka biaya setiap bulan. Bukankah aku sudah cukup murah hati? Selain cantik dan kaya raya, aku tidak pernah menyusahkan mertua dengan keadaan ekonomi yang morat-marit. Dalam hidup ini, kita butuh uang, cinta bisa menyusul. Harusnya Haris lebih merasa bersyukur.


“Iya, ini beneran Kakak kok. Hm, Ibu ada?”


“Ada kok, mari masuk Kak!” Santi menuntunku untuk masuk ke rumah.


Baru saja sampai ruang tamu, bau lembab khas rumah lama menguar menusuk hidungku. Dengan sekuat tenaga aku menahan diri agar tidak bersin-bersin.


“Tunggu di sini ya Kak, aku panggil Ibu dulu. Ibu sedang menjemur ikan di halaman belakang.”


“Ok!” aku mengangguk sambil mengulas senyum palsu. Sepeninggal Santi, aku langsung merogoh parfum di dalam tasku, menyemprotkannya ke seluruh ruangan. “Ah gila! Bagaimana bisa mereka betah tingal di sini?!”


***


Aku terus mengeluh dalam hati, tapi tetap menampilkan senyum terbaikku untuk Ibunda Haris. “Ibu, apa kabar?”


“Ya Tuhan, Ibu seperti bermimpi kamu datang ke sini.” Ibu mertua hendak memelukku. Namun, aku memundurkan langkah untuk menghindar. Sebagai gantinya aku menggenggam tangan Ibu mertua agar ia tidak memelukku.


“Ada hal penting yang harus Diana sampaikan,” ucapku serius mengalihkan perhatian dari sikap menghindarku.


“Apa itu Diana?”


Aku berhasil. Ibu tampak tidak masalah dengan sikapku barusan. Bukan apa, aku tidak bisa menerima pelukan itu. Siapa yang tau Ibu mertua sudah mandi apa belum?

__ADS_1


“Ini masalah aku dan Haris. Dia mengajakku berpisah, semua karena orang ketiga,” jelasku dengan nada sendu.


Aku menampilkan raut sedih agar Ibu mertua iba. Ternyata respon Ibu mertua lebih dari ekspektasiku. Wanita paruh baya itu melotot dan menggeleng keras. Ia pasti tidak akan mengira jika puteranya akan melakukan hal memalukan.


‘Bagus, kecewalah dan merasa bersalahlah kepadaku. Buat anakmu sadar, jika dia telah melakukan kesalahan yang fatal.’


“Itu tidak mungkin, Diana,” ucap Ibu dengan suara bergetar.


“Ini buktinya, Bu.” Aku memberikan amplop coklat besar yang berisikan surat gugatan perceraian dan selembar foto ketika Haris sedang berduaan dengan selingkuhannya.


Aku tertawa dalam hati melihat raut muka Ibu mertuaku.


“Ya Tuhan, Haris!” Ibu mertua menutup mulutnya kemudian menghempas surat dan foto itu. “SANTI!” teriaknya.


Santi datang dengan tergopoh-gopoh. “Iya, Bu? Ada apa?”


“Telepon Kakakmu, Sekarang!”


Tbc.


Emang Diana itu bikin gregetan, pengen cubit ginjalnya ... gemeessss~


Jangan lupa, rate, vote, like dan komennya ya, sertakan komen kalian agar aku bisa lebih baik lagi, Enjoy!

__ADS_1


__ADS_2