REGAF ARGANTARA

REGAF ARGANTARA
REGAF ~ 34


__ADS_3

"eughh" lengkuhan Vanca kala merasa tidur nya terusik. Dengan sangat pelan Regaf memindahkan Vanca dengan menggendong nya.


Merasa ada benda yang dingin menempel pada tubuh nya Vanca membuka mata perlahan. Dan objek awal yang ia lihat ialah Regaf, tatapan mereka bertemu dengan jarak yang cukup dekat.


"Regaf" panggil Vanca dengan suara khas bangun tidur nya. Regaf tak mengubris ia langsung mencelos pergi dari hadapan Vanca.


"Regaf tunggu!" panggil Vanca lagi.


Regaf berhenti namun tak menoleh. Ia hanya menunggu Vanca bicara. "Regaf aku mau jelasin yang tadi siang" Vanca merangkak turun dari ranjang menuju Regaf.


"Regaf kamu--"


"Stop!" kilah Regaf. "Ga usah jelasin, gue ga mau denger apa pun" ucap Regaf dengan penekanan.


"Tapi--" ucapan Vanca terhenti kala ada seseorang yang mengetuk pintu kamar mereka.


"Gaff" panggil dadi luar sana.


Regaf menengok lalu membuka pintu kamar, Vanca melihat ada nya perempuan tadi di depan kamar nya.


"Kenapa?" tanya Regaf pada Gisel.


"Gue bisa minta tolong lo ga? anter in gue ke toko kue" Pinta Gisel menatap Regaf, sesekali melirik ke arah Vanca.


"Bisa" jawab Regaf spontan, membuat Vanca menoleh ke arah nya. Ia tak tahu ada apa Regaf dengan nya.


"Oke gue tunggu ke bawah" Ucap Gisel, ia pun pergi dari hadapan Regaf. Saat Gisel sudah pergi Regaf menoleh ke belakang masih ada Vanca di belakang nya.


"Minggir" tanpa banyak omong Vanca minggir dari menghalang jalan Regaf. Ia tak ingin suudzon, namun feeling nya berfikir begitu.


Saat Regaf kembali sudah rapi dengan jeans, juga kaos dibaluti kemeja santai dengan kancing yang sengaja dilepas.


"Mau kemana?" tanya Vanca pelan.


"Lo ga denger apa tadi?" sahut Regaf tanpa melihat Vanca sedikit pun.


"Gue rasa pendengaran lo masih berfungsi" lanjut nya menohok. Hati Vanca terasa berdesir. Baru saja kemarin Regaf bersikap manis pada nya, sekarang malah seperti Regaf awal mereka bertemu.


"Aku boleh ikut?" tanya Vanca pelan. Regaf tak menjawab melainkan langsung pergi meninggalkan Vanca di kamar itu tanpa pamit.


"Ya ampun.. Kenapa jadi gini sih.." keluh Vanca dengan dada sesak. Ia kalut dengan pikiran sendiri. Bagaimana menyelesaikan semua ini agar Regaf tak salah paham pada nya.


...---...

__ADS_1


"Gaf"


"Ih Regaff!" Seru Gisel kesal karena panggilan nya tak di ubris oleh Regaf. Ia malah fokus menyetir. Ya kini mereka tengah di perjalanan menuju tempat yang Gisel bilang. Toko Kue.


"Gaf! Lo dengerin gue ga sih!" Seru Gisel kembali. Merasa terganggu akhirnya Regaf pun menyahut tanpa menoleh.


"Apa?" ucapan nya yang begitu dingin.


"Gitu kek dari tadi jawab, malah diem." papar Gisel masih merasa dongkol. "Ngomong kalo nggak gue ga jawab" Regaf menoleh sekilas lalu kembali pada jalanan.


"Sensian lo Gaf" cacar Gisel memanasi. Gisel ini suka sekali membuat Regaf kesal entah apa alasan nya.


"Ehm.. jadi gue mau nanya sama lo" lanjut Gisel mulai serius. "Maaf nih ya bukan gue mau ikut campur rumah tangga lo, engga, cuma gue heran aja" Gisel berucap.


"Heran? kenapa?" Regaf tak mengerti.


"Gue tadi liat lo sama bini lo itu, kaya nya lo berantem ya?" tanya Gisel keppoan.


Regaf tak meng ubris banyak hanya sebuah deheman singkat.


"Gaf? Gue tau pernikahan lo atas dasar perjodohan tapi lo ga boleh semena mena juga sama dia" papar Gisel.


"Kalo boleh tau lo berantem kenapa sama bini lo?" lanjut Gisel bertanya. Regaf sempat melirik nya sebentar lalu berucap "Urusan gue" jawab Regaf singkat.


Gisel bungkam. Memang sepupu nya satu ini susah sekali diajak kompromi. Padahal jika Regaf mau cerita ia bisa membantu mungkin.


"Oh ya gue hampir lupa, nama bini lo siapa? Gue ga sempet kenalan sama dia" tanya Gisel. Gisel semakin lama semakin cerewet. Padahal masih di jalan, apa tidak bisa bertanya saat sudah sampai saja?


"Vanca" sahut Regaf. Gisel mangut mangut pertanda mengerti. "Itu tuh toko nya" Tunjuk Gisel pada toko yang sudah didepan mereka.


Regaf memberhentikan mobil nya di basement depan toko tersebut. "Ikut masuk ga?" tawad Gisel.


Regaf menggeleng.


"Oke. Lo tunggu disini awas kalo lo balik ga bilang!" peringat Gisel lalu ia keluar dari mobil memasuki toko kue tersebut.


Selepas Gisel masuk ke dalam toko kue tersebut Regaf langsung kepikiran Vanca dan timbul ucapan Gisel barusan di benak nya.


"tapi kalo boleh saran, kalo lo punya masalah sama bini lo, masalah apa pun harus diselesai in dengan kepala dingin, karena kalo lo lagi emosi lo ga akan bisa berfikir jernih."


Regaf tampak berfikir, memikirkan sikap nya pada Vanca. "Apa gue terlalu emosi?" gumam nya sendiri seraya berfikir.


"Hufftt" Helaan nafas panjang keluar dari mulut Regaf, ia memijat pelipis nya dengan bersandar di kepala kursi pengemudi.

__ADS_1


"Bener juga apa kata Gisel, kaya nya gue emang terlalu emosi tadi" Monolog nya sendiri memandangi arah jendela.


...---...


Vanca sejak tadi tak keluar kamar, semenjak Regaf pergi. Ia bertanya tanya siapa gadis itu? Sungguh itu membuat nya merasa pusing.


"Apa gue tanya mami aja ya" gumam nya berfikir.


"Ah iya!" Vanca menjentikan jari nya "Gue tanya mami aja deh" Vanca pu beranjak dari duduk nya keluar kamar ingin menemui mama mertua.


"Mii" Seru Vanca mencari keberadaan mama mertua nya, namun ia tak menemukan mama nya.


Dan saat ia ingin kedapur mencari ia berpapasan dengan Art di rumah ini. Ia pun bertanya pada sang Art "Ehm bi.. liat mami ga?" tanya Vanca sopan.


"Nyonya lagi keluar non" jawab Art itu tak kala sopan nya. "Oh gitu.." Vanca mengangguk paham.


"Yaudah makasi ya bi" Vanca pun pergi meninggalkan Art itu. Kini tujuan Vanca ialah taman belakang.


Tak tahu mengapa, Vanca ingin saja kesana. Saat sudah sampai Vanca memilih duduk du kursi panjang yang berada di sana. Langit senja yang indah membuat nya betah di sana.


"... cantik banget" puji Vanca pada langit yang indah kala sore itu. Senyum hangat nan manis nya merekah melihat pemandangan sore yang memanjakan mata nya.


Namun senyum itu seketika sirna saat pikiran tentang Regaf kembali muncul di benak nya. "Apa gue harus tanya ke cewe itu ?" monolog Vanca dengan mata yang masih tertuju pada langit senja.


"Gue juga ga bisa kaya gini terus.." lanjut nya.


"Gue ga mau terlarut dalam masalah, apa lagi cuma karena salah paham" Vanca berfikir lagi untuk mengajak Regaf mengobrol dengan nya.


Melirik arloji di tangan nya sudah menunjukan pukul 17.34, sudah hampir gelap namun tak ada tanda Regaf pulang.


Vanca pun beranjak pergi karena langit mulai gelap, seperti nya akan turun hujan.


Tujuan Vanca kini ialah kamar nya juga Regaf, ia tak tahu mau kemana lagi karena di rumah ini hanya ada diri nya.


Mama pergi, Papa kerja, Regaf? Jangan tanya lagi, dia sedang keluar bersama Gisel.


Gadis itu membanting diri nya di atas ranjang, merebahkan diri nya yang cukup merasa lelah dengan hari ini.


Tanpa di sadari pun Vanca terlelap begitu saja. Dengan posisi kaki terjuntai ke lantai, tangan di atas perut.


...---...


kalo sempat aku lnjut besok up. Masih setengah aku tulis. oke papayy, jgn lupa like + vote.

__ADS_1


tinggalkan jejak kalian..


^^^tbc.^^^


__ADS_2