
"Kenapa nangis?" lentunan halus itu keluar dari mulut Regaf, namun mata nya masih tertutup. Vanca merasa aneh, ia melepas cekalan tangan nya dari Regaf.
Regaf ngigau? Batin Vanca berucap.
Lagi lagi isak Vanca keluar, tanpa sadar itu keluar dengan sendiri nya. Masih setia menatap Regaf itu.
Kembali pada niat awal nya, ia pun memutuskan akan keluar dari kamar itu, namun lagi lagi tangan nya ditarik, kali ini tarikan itu lebih kuat membuat ia terhuyung dan berakhir jatuh di atas dada Regaf.
Lelaki itu masih dengan mata tertutup, Vanca berusaha untuk bangun namun gerakan nya membuat mata Regaf terbuka.
Vanca sempat kaget, namun berusaha biasa saja. "Lepas" pinta Vanca karena tangan kekar itu berada di atas tubuh nya. "Jangan banyak gerak nanti yang di bawah bangun" Regaf berucap dengan suara serak nan berat nya.
Membuat bulu kuduk Vanca seketika meremang. "Kenapa nangis hm?" lagi lagi Regaf bertanya. Regaf melonggarkan tangan nya dari tubuh Vanca agar gadis itu bisa bergerak.
Vanca pun bergerak duduk. Regaf masih setia berbaring menatap nya dari bawah. "Kenapa?"
"Engga.. tadi kelilipan, maaf ganggu tidur kamu" Vanca kembali akan pergi namun sorakan dari Regaf mengurungkan niat nya lagi.
"Tunggu!" Vanca pun berhenti dengan tak menoleh. "Hadep sini" Regaf bangun dari tidur nya lalu duduk di tepi kasur.
Vanca pun menoleh ke arah Regaf, "Sini" pinta Regaf, menepuk space di samping nya untuk Vanca duduk.
Dengan perlahan Vanca mendekat dan duduk di samping Vanca, ia hanya menunduk tak berani menatap mata itu.
"Apa lantai lebih ganteng dari aku?" ucap Regaf tiba tiba. Vanca kaget mendengar gaya bicara Regaf yang berubah.
Ia pun menatap Regaf di samping nya dengan takut. "Jelasin" satu kata keluar dari mulut Regaf, tampang nya sangat serius.
"Maaf.."
"Aku--" Rasa nya nafas Vanca tercekat sehingga ia susah untuk berbicara. Regaf masih setia menunggu ucapan Vanca.
"Aku minta maaf soal di sekolah.." lagi lagi tangis Vanca pecah dengan sendiri nya, tangan Regaf pun terulur untuk menepuk bahu Vanca.
"Kamu--"
"Sstt" potong Regaf, dengan menempelkan satu jari nya di bibir Vanca menyuruh nya diam. Regaf menatap Vanca yang sudah di banjiri air mata.
Dengan kasar Vanca mengusap pipi nya, menahan isak agar tidak keluar.
Ibu jari Regaf tak tinggal diam, ia mengusap lembut pipi Vanca yang terdapat air mata itu. Perlakuan Regaf tadi membuat Vanca menatap Regaf sepenuhnya.
"Gausah di jelasin" ucap Regaf lembut.
"Aku udah denger semua nya tadi" lanjut nya dengan kekehan ringan dari mulut nya. Vanca pun membulat kan mata nya spontan.
__ADS_1
"Jadi kamu udah denger?" Tanya Vanca.
Regaf mengangguk.
"ihh" Merasa kesal Vanca memukul dada Regaf pelan.
"Hhe" Regaf tertawa kecil, tawa yang selalu membuat Vanca tenang. Ia pun menatap Regaf "Maaf in Vanca, kamu marah?" tanya nya pada Regaf.
"Engga, aku ga bisa marah lama lama sama kamu" ucap nya halus.
"walau emang awal nya aku kesel" lanjut nya dengan nada tak bersahabat.
"Minta maaf.." ucap Vanca dengan menunduk.
"Gapapa,.. aku juga minta maaf udah nuduh kamu dan bentak kamu" Ucap Regaf penuh rasa bersalah.
Vanca mengganguk samar.
"Cewe itu siapa?" tanya Vanca pelan. Ia masih ingin tahu. Regaf mengerut kan kening nya bingung. "Cewe yang mana?" Regaf masih tak paham.
"Yang sama kamu tadi" lanjut Vanca pelan. Berfikir sejenak, dan tiba tiba senyum tipis terukir di bibir nya. Ia tahu maksud Vanca sekarang.
"Itu sepupu aku. Kenapa? Cemburu?" dengan Pede Regaf berucap demikian. Vanca bernafas lega mendengar nya. Ia fikir itu.. Ah sudah lah.
"Idih pede banget kamu, ga cemburu ya!" elak Vanca kesal. Namun ia juga bersyukur, ia sudah berfikir yang tidak tidak.
Regaf pun menatap Vanca penuh, sama hal nya Vanca. Mereka saling pandang satu sama lain. Tatapan Regaf beralih pada bibir ranum milik Vanca.
Ia menyetuh bibir bawah Vanca dengan ibu jari nya. "Boleh?" ucap Regaf meminta persetujuan.
Rasa nya darah Vanca berdesir hebat, mendengar permintaan Regaf tadi. Vanca menyembunyikan rona di wajah nya dengan menunduk.
Regaf yang sadar dengan tingkah Vanca, ia mengangkat dagu Vanca untuk menatap nya. Vanca tak bisa lagi menyembunyikan rona di pipi nya. Malu sekali pikir Vanca.
"Kenapa gitu?" kekeh Regaf gemas.
Vanca menggeleng pelan, "Liat aku" kata Regaf.
Vanca melihat Regaf sesuai permintaan Regaf. Sama hal nya dengan Regaf.
Perlahan Regaf mendekatkan wajah nya. Vanca yang melihat Regaf pun perlahan menutup mata nya. Merasa hembusan nafas Regaf yang hangat. Membuat nya semakin mengerat kan mata nya untuk tertutup.
Cup!
Bibir milik Regaf mendarat tepat di bibir Vanca. Hanya kecupan dan setelah itu ia melepas tautan itu. Menatap teduh manik mata di depan nya.
__ADS_1
Perlahan Vanca kembali membuka mata nya. Regaf tersenyum tipis, jantung Vanca pun berdebar tak karuan, gejolak rasa yang amat besar di hati nya.
Regaf pun sama hal nya."Ini--" Regaf menyentuh bibir Vanca "punya aku" lanjut nya menatap lekat Vanca.
"Gak ada yang boleh sentuh milik aku" lanjut ucapan nya lagi. Vanca terbuai oleh ucapan manis Regaf, ingin rasa nya ia berteriak saat ini.
"Aku gak bakal lakuin hal lebih, aku ga mau terburu buru" ucap nya lembut. Seraya tangan kanan nya yang menyelipkan anak rambut Vanca yang terjuntai bebas.
Setelah nya ia mengusap lembut pipi mulus Vanca. Vanca menutup mata nya menikmati usapan lembut di pipi nya.
"Mau tidur?"
Vanca mengangguk.
"Sini." Regaf menepuk space kosong bagian ranjang itu. "Tidur disini." ajak nya.
"Kenapa ga di kamar kamu aja?" tanya Vanca.
"Tadi nya aku mau nenangin diri aku, aku ketiduran disini, aku sempet keganggu jadi aku bangun, aku liat kamu dan pura pura tidur buat denger semua omongan kamu" Regaf menjelaskan. Vanca mengerti sekarang, ia sungguh lega.
"Sini." Regaf merentangkan tangan nya. Vanca sempat di buat bingung oleh nya "Peluk aku, dingin" Vanca tersenyum simpul mendengar nya.
Vanca pun memeluk Regaf, sambil merebahkan diri nya. Vanca mencari tempat ternyaman untuk diri nya. Menenggelamkan kepala nya di ceruk leher Regaf. Dan Regaf mengeratkan pelukan itu seraya mengelus punggung gadis nya.
Kini yang kedua nya rasakan ialah kehangatan dan kenyamanan.
...---...
Ekhem..
Aduhh.. maaf ya lama up. Kira kira berapa lama ya? Author juga ga ngitung berapa lama.
Maaf bgt karena mungkin sebulan ini author ga update, karena pikiran author tentang cerita ini itu campur aduk. Takut nya pembaca ga suka.
Sempet mikir dua kali buat lanjut cerita.
Okeh gimana part ini? gak seru? oke gapapa.
Mungkin besok author sempet in lagi up, karena memang lagi bingung banget, dan sibuk rl terutama tugas yang numpuk bgt.
Udah deh segitu aja. Babay ketemu lagi besok.
Vote, like dan komen sangat sangat membantu author.
Staytune disini besok.
__ADS_1
^^^tbc.^^^