REGAF ARGANTARA

REGAF ARGANTARA
REGAF ~ 70


__ADS_3

"Hai Ken!" sapa Gisel saat ia mendudukkan diri nya pada kursi. Mereka bertemu di cafetaria.


"Eh, Sel. Lo mau pesen apa? Biar gue pesenin," kata Kenzie. Gisel tersenyum, lalu ia berfikir sejenak. "Cappucino late aja," kata Gisel. Kenzie mengangguk lalu pergi untuk membeli pesanan Gisel.


Tak lama Kenzie kembali dengan segelas minuman ditangan nya. "Nih," Kenzie memberikan minuman itu pada Gisel.


"Thanks."


Cukup lama mereka berdiam. Hingga suara hujan turun dengan derasnya. Gisel memandang kaca cafe untuk melihat jalanan yang basah akibat hujan.


"Seminggu lagi, gue balik ke London," Gisel menjeda ucapannya. Kenzie sontak menatap Gisel.


"Gue bakal lanjut pendidikan gue disana yang sempat ketunda, dan.."


Kenzie menunggu Gisel melanjutkan perkataannya.


"Gue mau bilang ini ke lo, agak aneh emang tapi gue serius," Gisel turut memandang Kenzie yang sayang nya sangat tampan dimatanya.


"Apa?"


"Gue suka sama lo Ken."


Kenzie memalingkan wajahnya, tidak tau akan jawab akan menjawab apa.


"Sel lo tau kan kalau gue—"


"Iya Ken, gue tau lo suka sama cewe lain. Tapi gue bilang gini karna gue udah cape pendem sendiri Ken. Gue gak minta lebih, yang penting gue udah bilang ini ke lo, gue udah lega," Gisel tersenyum kearah Kenzie, meminum minuman nya.


Kenzie memandang Gisel dengan lamat. "Gue udah mulai move on dari cewe yang sekarang gue sukai," kata Kenzie memandang hujan yang turun membasahi bumi.


"Kenapa?" tanya Gisel penasaran.


"Dia nya udah punya pacar," Kenzie terkekeh miris. Gisel menganggukkan kepalanya.


"Lo masih bisa suka sama cewe lain, gue mungkin?" Gisel tertawa setelah nya. Kenzie ikut tertawa, ia mengangguk memandang Gisel yang cantik di mata nya.


"Bantu gue ya?" Gisel memandang Kenzie terkejut. Ia diam membeku. "Maksud lo?"


"Bantu gue biar gue bisa suka sama lo. Gue gak bermaksud buat jadiin lo pelampiasan, tapi gue serius, bantu gue supaya gue suka sama lo," Kenzie tersenyum setelah itu.


Gisel menganggukkan dan tersenyum. Mereka menikmati suasana di cafe dengan hujan yang turun membasahi bumi dengan perasaan yang sulit dijabarkan.


***


Regaf duduk di tepian ranjang nya, menatap hujan yang turun sangat deras. Pikiran nya sedang tidak baik-baik saja, sedari tadi pikiran nya berkecamuk tentang Vanca. Itu hampir membuat nya gila hanya memikirkan nya.


Regaf memegang ponsel nya menimang-nimang, ia harus menghubungi gadis itu atau tidak?


Saking pusingnya ia memikirkan hal ini, ia tidak sadar bahwa ia tertidur.


***


Setelah makan siang tadi, Vanca memutuskan untuk kembali ke kamar lama nya yang ada di rumah ini. Sudah lama Vanca tidak mengunjungi kamar ia lagi.


Rindu rasa nya. Vanca duduk di meja belajarnya, memandang derasnya guyuran hujan. Ia merasa tenang melihat hujan.


Tiba-tiba pikiran nya melayang pada pembicaraan nya tadi saat tengah bersama Geo dan Andra. Pikirannya menerawang jauh, apa itu keputusan yang baik?


Lalu tiba-tiba mama nya datang membawa segelas susu untuk Vanca. Mama Ratna tersenyum manis kearah putrinya itu.


"Makasih Mah," Vanca langsung meneguk susu itu hingga tandas. Mama Ratna mengusap surai hitam putrinya. "Ada yang kamu pikirin?" Ratna mengerti dari raut wajah putrinya, sangat kentara sekali. Ratna ibunya, sangat dapat merasakan.


Vanca menggeleng, lalu tersenyum. "Gak ada kok mah."


"Jangan bohong sayang, mama tau ada yang kamu tutupi dari mama," ucap Ratna memandang anak nya itu.


"Cerita sama mama," Ratna mengusap lengan putrinya.


Vanca sempat menatap langit-langit kamar nya. Lalu Vanca kembali menatap mama nya. Vanca menarik nafasnya, lalu membuang nya perlahan.


"Mah, kalau seandainya Vanca gugat cerai Regaf gimana?"


Ratna terkejut bukan main, ia memandang Vanca dengan tatapan kaget. "Apa maksud kamu nak? Kenapa ngomong nya gitu?"


"Vanca cape aja mah, Regaf udah bener bener lupa sama Vanca," ucap Vanca dengan tatapan yang ia tundukkan. Bayangkan Regaf tiba tiba saja memasuki pikirannya.


"Nak, mama mengerti gimana perasaan kamu, tapi untuk gugat cerai itu bukan jalan yang terbaik."


"Dengerin mama nak," Ratna mengangkat wajah Vanca agar mau menatap nya.


"Regaf itu lagi sakit, wajar jika dia bersikap seperti itu. Dan dia bukan cuma lupa sama kamu, tapi semua orang," Ratna mencoba memberi pengertian pada Vanca.


Air mata Vanca luruh begitu saja mendengar ucapan mama nya. Vanca egois, hanya memikirkan perasaannya sendiri.


"Coba sekarang kamu pikirkan, apa yang terjadi sama Regaf nanti nya jika dia sudah ingat dan nggak ada kamu di samping nya? Mungkin sekarang ia gak perduli, tapi kalau dia ingat semua nya, apa kamu bisa bayangin gimana keadaan Regaf?" ucap Ratna.


"Pikirkan perasaan Regaf, jangan hanya memikirkan perasaan kamu sayang," lanjut nya.


"Maafin Vanca mah, Vanca terlalu egois," Vanca menangis di hadapan mama nya.


Ratna mengangguk, dihapusnya air mata yang membasahi pipi anak nya itu. "Jangan melakukan sesuatu yang akan kamu sesali kedepannya."


"Mama ngomong begini, karna gak mau anak mama salah memilih jalan," Ratna memeluk Vanca seraya mengusap bahu anak nya yang bergetar hebat.


"Kamu tidur, tenangkan pikiran kamu nak," Ratna mengurai pelukan mereka. Sekali lagi, ia mengusap pipi Vanca yang basah.


"Mama keluar dulu," lalu Ratna menghilang setelah keluar dari balik pintu. Vanca sekarang semakin memikirkan apa yang akan ia lakukan. Vanca lelah, ia hanya ingin istirahat untuk saat ini.


***


Andra menepikan motornya saat merasa sudah tidak diikuti. Andra heran kenapa juga ia menolong gadis ini? Andra kini beralih memandang gadis yang masih duduk di jok belakang nya dari kaca spion.


"Sampe kapan lo mau disana?" ucap Andra datar membuat gadis itu tersadar dan langsung turun dari motor cowok itu.


"Ma-makasih.."


"Ya," singkat padat dan jelas. Itu lah Andra.


"Maaf ngerepotin lo ya," ucap gadis itu lagi dengan berani menatap Andra.


"Lo emang ngerepotin!" kata Andra dengan kasar. Ia sudah membuang waktu nya begitu saja, padahal tadi nya ia ingin pulang cepat agar bisa beristirahat lebih lama.

__ADS_1


"Sorry.." gadis itu kembali menunduk merasa tidak enak hati. Andra membuang muka, jujur ia merasa kasian dan ada rasa ingin menolong dari hati nya.


"Siapa?" tanya Andra yang membuat bingung gadis itu.


"Maksudnya?"


Andra berdecak kesal, kenapa cewek ini lemot sekali? "Yang ngejar lo tadi?" ucap Andra mulai jengah, enggan menatap gadis di samping nya ini.


"Oh itu, bawahan bokap, mereka kejar gue karna gue kabur dari rumah," kata gadis itu. Lantas Andra menoleh memandang gadis itu.


"Kenapa lo kabur dari rumah?" Andra tidak tau kenapa ia bertanya lebih, mulut nya terasa ingin mengorek informasi.


Gadis itu menggeleng. "Gak papa, cuma bosen dirumah," jawab cewek itu yang kentara sekali sedang berbohong dimata Andra.


Tapi mata Andra tertoleh melihat kaki gadis itu yang memerah seperti terkena cambuk. Tapi apa mungkin? Wajar Andra dapat melihat karna gadis itu menggunakan rok dibawah lutut. Tapi Andra cukup sadar diri dan tidak bertanya lebih.


"Nama lo siapa?"


"Elysia Danela, biasa dipanggil Elys."


"Habis ini lo mau kemana?"


"Cari penginapan mungkin?" ucap Elys meski ragu berbicara demikian.


Andra mengangguk. "Mau gue anter?" kata Andra yang membuat Elys cukup terkejut.


"Gak usah makasih, gue gak mau ngerepotin lo."


"Gue yang nawarin, kalau lo gak mau, terserah." ucap Andra cuek, lalu kembali memasang gigi motor nya bersiap untuk pergi.


"Eh tunggu!" Elys menghadang motor Andra dengan tubuh nya.


"Lo mau gue tabrak?"


"Bukan gitu, tawaran lo masih berlaku gak?"


"Masih."


"Yaudah kalau gitu, tolong bawa gue cari penginapan deket sini bisa?"


Bukan nya menyuruh naik keatas motor, Andra malah menyodorkan ponsel miliknya. Kening Elys berkerut bingung. Andra yang peka terhadap raut Elys berkata. "Nomor lo!"


"Bilang dong, gak punya mulut buat minta?" Elys mengambil ponsel Andra lalu mengetikan nomor nya lalu mengembalikan ponsel kepada pemiliknya.


"Buat apa lo minta nomor gue?"


"Guna nya buat apa?" bukan nya menjawab, Andra malah bertanya balik. "Buat telfon?"


"Itu lo pinter, buruan naik!"


Andra menunjuk jok belakang nya menggunakan dagu nya pertanda menyuruh gadis itu naik keatas motor nya. Sontak hal itu membuat Elys tersenyum senang. Yang juga membuat Andra sedikit menarik seulas senyum tanpa sepengetahuan Elys.


***


"Duduk dengan tenang semua!" ucap wali kelas Regaf yang baru saja masuk dengan membawa rapor di tangan nya. Hari ini tepat pembagian raport semester akhir, yang sangat menjadi penantian besar.


"Duduk diam atau raport kalian tidak ibu bagikan?"


Lantas semua nya langsung duduk di tempat masing-masing takut kena omeli. "Begitu dong, adem ayem. Ini kelas ribut nya melebihi pasar rakyat!"


"Kalian itu sudah akan lulus, kurangi sifat buruk kalian jika bisa tinggalkan. Bagaimana kalian mau masuk kampus impian kalian?" guru berkacamata itu menatap satu persatu muridnya.


Hendro mengangkat tangan nya. "Masuk kampus itu bukan impian saya bu, tapi impian saya itu bisa memiliki dia seutuhnya," ucap Hendro yang langsung mendapat sorakan dari teman teman lainnya.


"Kamu lagi Hedro!"


"Hendro bu, bukan Hedro," ucap Hendro meralat ucapan guru tercintanya.


"Iya Hendro, kamu jangan banyak main! Kamu tidak liat absen kamu kebanyakan merah? Mau jadi apa kamu kedepan nya?"


Lantas Jansen menyahut. "Mau jadi pawang buaya dia bu!" ucap Jansen yang disambut dengan gelak tawa lainnya.


"Hendro, kan, emang buaya!" sahut Geo yang membuat tawa mereka semakin meledak. Andra terkekeh mendengar celotehan mereka semua.


"Terusin aja lo semua! Gue gini gini setia!"


"Ngaku nya si setia, buat janji sama cewe A jalan sama cewe B," Jansen kembali membuat sekelas tertawa oleh nya.


"Cukup! Diam semua!" teriak wali kelas Regaf dengan tatapan tajam nya yang mampu membuat sekelas menciut melihatnya.


"Kalian ini! Ibu mau bagiin raport, kalian malah bercanda!"


"Hidup harus dibawa bercanda bu, gak usah serius banget," sahut Geo.


"Menjawab saja kamu!" salah lagi.


"Ibu, gimana sih? Dijawab salah, gak dijawab makin salah. Emang kami selalu salah ya bu, dimata ibu?" kata Jansen mengeluarkan isi hati nya.


"Iya, apalagi jika ibu melihat wajah kamu!" lagi lagi sekelas tertawa oleh hal itu. Hanya Regaf yang tidak tertawa, bahkan tidak minat mendengar obrolan ini.


"Sudah, sekarang bercanda nya simpan dulu. Ibu mau mulai bagikan raport kalian."


***


"Vanca Karissa Rhyonhald," ucap wali kelas Vanca menyebutkan nama nya di deretan tiga besar untuk mengambil raport. Vanca bersyukur karna ia mendapat ranking pertama.


"Makasih pak," ucap Vanca dengan tersenyum.


"Congrast Van! Lo juara satu sekarang," kata Sheryl memberi selamat pada Vanca. Bahkan Nesa yang biasa nya mendapatkan juara satu tersingkir oleh Vanca.


"Makasih She," ucap Vanca dengan senyum tulus nya.


"Hebat lo Van! Keren!" puji Nesa pada Vanca. Nesa tak keberatan posisi nya diambil, itu tanda nya ia harus lebih semangat belajar.


"Lo juga keren Nes! Lo gak dapet juara satu, tapi lo juara dua," puji Sheryl pada Nesa.


"Baik, sekarang jam bapak kosongkan. Karena bapak ada rapat di kantor guru. Kalian pulang setelah pengumuman disampaikan."


Guru berbadan pendek dan sedikit botak itu pergi keluar meninggalkan kelas. Seketika kelas menjadi ricuh karena mereka bisa bebas. Ada yang bermain ponsel, kartu, bahkan ada yang nobar drama. Banyak hal yang mereka lakukan, seperti teman Vanca yang berada di depan kelas ini. Seperti nya akan bernyanyi, ada yang memegang sapu sebagai gitar, dan ada yang memegang botol sebagai mic.


Kelas Vanca sudah tidak terbentuk. Vanca sendiri pusing melihat nya. "Van, keluar aja yuk! Dari pada disini," seperti nya Sheryl juga cape dengan keadaan kelas nya sendiri.

__ADS_1


Vanca mengangguk, lalu Vanca berama ketiga sahabatnya itu keluar dari kelas. Toh, jam mereka kosong, dan lagi pula guru tengah rapat. Tidak masalah karena pasti tidak akan ada guru yang memergoki mereka.


"Naik kelas dua belas, terus lulus! Kalian, nanti mau kuliah dimana?" tanya Nesa pada sahabatnya itu. Sambil berjalan di koridor, mereka berbincang agar tidak sepi.


"Gue kayaknya..." Sheryl menggantung ucapannya.


"Disini," lalu Sheryl terkekeh setelah nya.


"Lo ngomong udah kayak bakal pergi jauh aja," cibir Risa.


"Lo, Nes? Kemana?" tanya balik Sheryl.


"Gue ikut bokap. Amerika."


"Yah, pisah dong kita," Sheryl mengubah mimik wajah nya menjadi sedih. Nesa tertawa melihat nya. "Masih ada waktu buat kita bareng bareng, jadi jalanin dulu."


"Lo Ris?" kini Sheryl bertanya pada Risa yang sedari tadi diam saja.


"Kemana aja," jawab Risa yang membuat Sheryl tak puas mendengar nya. Sheryl berdecak, lalu memandang Vanca. "Kalo lo Van? Lo bakal lanjut kuliah dimana?"


"Gue.., gatau deh lanjut kuliah apa nggak. Situasi nya udah beda, tapi kalau bisa gue pengen kuliah di Surabaya. Gue pengen kesana," ucap Vanca diiringi senyum manis nya.


"Lo udah punya tanggung jawab sekarang, wajar sih, lo pasti bakal susah bagi waktu. Apa lagi kalau ada..." Sheryl kembali menggantung kalimat nya membuat lainnya penasaran.


"Ada apa She?" tanya Nesa kepalang penasaran.


"Ada baby?" setelah nya Sheryl tertawa. Risa ikut tersenyum, dan Nesa terkekeh geli mendengar nya. "Iya sih.. bener juga," Nesa gencar menggoda Vanca.


"Apaan sih kalian? Udah ah gue mau ke toilet," Vanca hanya mencoba menghindari pembicaraan ini. Jika tidak mereka akan terus menggoda nya.


"Iya sana, kita tunggu di kantin ya Van!" Vanca mengacungkan jempol nya sebagai jawaban. Namun tiba tiba pikiran nya melayang pada surat yang ia tulis kemarin untuk Regaf. Vanca masih ragu melakukan ini, ia ingin memberi surat ini pada Regaf.


Vanca mengambil surat yang ia taruh di saku nya, ia memandang surat itu cukup lama. Ia terus berjalan tanpa memperdulikan arah kakinya.


"Aduh!" pekik Vanca karena kepala nya menabrak dada seseorang. Vanca jatuh terduduk, surat yang ia pegang otomatis terjatuh, ia meringis kesakitan. Gadis itu mendongak menatap siapa yang ia tabrak.


"Regaf," Vanca mencoba berdiri dengan segala kekuatannya.


"Kamu kok bisa disini?" tanya Vanca membuat Regaf menaikkan alis nya bingung.


"Ini toilet cowok."


"Hah?" Vanca seperti orang linglung saja, ia tak tau bahwa sekarang tengah berada di toilet pria. Ia meringis malu, kenapa ia bisa tak tau.


"Sorry, yaudah aku duluan," dengan langkah cepat Vanca pergi dari sana. Hingga ia melupakan sesuatu. Regaf hanya memandang punggung gadis itu dengan kening berkerut. Lalu pandangan nya tertuju pada sepatunya, ada kertas di lantai itu.


Hati Regaf menyuruh untuk mengambil nya, tapi otak nya berkata lain. Namun hati Regaf telah berkhianat, Regaf tetap mengambil kertas yang ada dilantai.


Regaf membolak-balik kertas itu, lalu tiba tiba nama nya dipanggil dari belakang.


"WOI GAF! NGAPAIN LO DISANA?" Regaf tak perduli, Regaf malah memasukan kertas itu pada saku nya lalu kembali menyusul teman nya.


Hati Regaf tergerak menyuruh cowok itu untuk membaca isi nya. Tapi ia memilih untuk menyimpan nya terlebih dahulu.


***


Pulang sekolah, Vanca tidak langsung pulang melainkan duduk di taman sekolah yang tampak sepi. Taman ini biasanya akan ramai di pagi hari.


Vanca duduk menatap pohon pohon yang menjulang tinggi. Ia sendiri, tanpa ada yang lainnya. Vanca merogoh saku nya untuk mengambil sesuatu disana, namun terkejut sekali saat ia tak menemukan benda itu.


Vanca mencari surat yang ia tulis semalam, namun nihil ia tak menemukan nya di saku maupun di dalam tas nya. "Ceroboh banget sih lo Van!" Vanca merutuki diri nya sendiri yang sangat teledor.


Namun getaran pada saku nya membuat aktivitas Vanca terhenti. Ia mengambil benda pipih itu dan menggeser tombol hijau di layar.


"Halo Mi?"


"Vanca, nanti kamu pulang kerumah ya nak."


"Iya Mi, maaf juga kemarin Vanca gak pamit dulu."


"Gapapa nak, mami khawatir aja takut nya kamu ada apa apa."


"Yaudah mi kalau gitu, Vanca baru pulang sekolah, Vanca tutup dulu ya Mi."


"Yasudah, hati hati dijalan ya nak."


Setelah sambungan terputus, Vanca kembali menyimpan ponsel nya. Vanca sudah tidak peduli pada surat itu, karna ia niat nya memang ingin membuang nya. Tapi ia berdoa agar tidak ada siapapun yang menemukan nya.


***


Hallo hallo semua 👋🏻👋🏻


Lagi mood nulis, jd aku up cepet deh.


Awas aja kalau gak like.


Komen disini supaya inget and biar gak sider yaa


Kalau like nya sesuai target yang aku mau aku lanjut up, next chapter adlh eps yang paling kalian tunggu tentu nyaaa


oke babay next chapter 👋🏻👋🏻👋🏻


.


.


.



...Vanca kalau lagi di sekolah 👆🏻...



...Vanca kalau lgi jalan sama temen 👆🏻...



...Vanca kalau lagi di rumah 👆🏻...


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2