
"Regaf, bangun Gaf! Udah siang loh ini! Kamu gak ikut sarapan?"
Sudah terhitung lebih dari 10 kali Vanca membangun Regaf, namun tak kunjung bangun. Vanca hampir nyerah rasanya.
Terakhir, Vanca menggoyangkan tubuh Regaf, jika tidak bangun ia akan pergi sarapan sendiri. "REGAF BANGUN!"
Regaf yang terasa terusik perlahan membuka matanya. Tangan nya bergerak meregangkan otot tubuh nya. Dengan tidak berdosa nya, Regaf tersenyum ke arah Vanca yang seperti sudah ingin memakannya hidup-hidup.
"Pagi sayang," ucap Regaf dengan suara khas orang bangun tidur. Vanca merotasikan bola matanya malas. Kenapa Regaf sangat menjengkelkan dimata nya?
"Bangun Gaf, udah mau siang. Yang lain udah pada sarapan, kamu aja yang belum."
Regaf bangun dari tidur nya. "Kenapa kamu baru bangunin aku?" tanya Regaf dengan polos nya membuat Vanca ingin mencakar wajah itu rasa nya.
"Kamu dibangunin aja susah banget!" sembur Vanca pada Regaf.
"Masa sih?" gumam Regaf lalu menguap. Vanca menarik tangan Regaf menyuruh nya untuk bangun, dan sarapan. "Bangun Gaf ayo! Kita belum sarapan!"
"Kamu belum sarapan?"
"Belum lah! Aku nunggu kamu bangun dulu," kata Vanca.
"Yaudah ayo," Regaf merangkul Vanca turun menuju dapur. Sesampainya di dapur, Regaf langsung duduk disalah satu kursi disana. Dan vanca menyiapkan sarapan untuk suaminya.
"Orang-orang kemana? Kok sepi banget?" tanya Regaf melihat rumah besarnya yang sangat sepi.
Vanca menjawab disela ia tengah menyiapkan sarapan. "Papi ke kantor, Mami belanja sama kak Gisel, terus Ara dikamar nya." Vanca menaruh piring tepat dihadapan Regaf.
"Nih, makan." Lalu Vanca ikut duduk di samping Regaf. Cowok itu memperlihatkan Vanca dari samping, rambut dicepol tinggi, kaos oversize dan celana panjang rumahan yang sangat pas ditubuh Vanca. Walau sederhana, Dimata Regaf Vanca tetap lah gadis yang cantik dan manis.
Vanca yang merasa diperhatikan lantas menoleh pada Regaf. "Makan Gaf, jangan bengong," ucap Vanca, lalu ia mengambil selembar roti dan mengolesnya dengan selai coklat, Vanca melipat roti itu dan menyodorkannya pada Regaf.
Vanca memperhatikan Regaf yang hanya diam, membuat Vanca gemas dan mencubit pinggang Regaf, membuat cowok itu memekik tertahan.
"Kok dicubit?" ucap Regaf tak terima.
"Lagian kamu, siapa suruh bengong," Vanca tak mengindahkan Regaf lagi, ia malah memakan roti miliknya dengan tenang.
"Ya jangan cubit juga sayang, sakit."
Vanca menahan senyumnya mati-matian agar tidak terlihat tengah salah tingkah. "Salah kamu." Vanca tidak perduli lagi dan melanjutkan makan serapan nya.
Regaf dibuat geleng-geleng karena sifat Vanca, tapi bohong jika ia berkata ia tidak menyukai itu.
Ditengah mereka tengah sarapan, Ara turun dari atas tangga dengan tangan yang menggenggam ponsel. Ara sempat melirik keduanya disana, namun ia melewati nya dan masuk ke dapur untuk mengambil minuman kaleng.
Setelah dapat, Ara duduk di kursi meja makan tepat didepan Regaf dan Vanca. Ara memperhatikan Regaf dengan lamat. Vanca melirik Ara. "Kenapa Ra?" tanya Vanca.
"Bang?" panggil Ara pada Regaf. Cowok yang memakai kaos putih polos itu menolehkan kepalanya menatap adik perempuan nya itu. "Apa?"
"Lo beneran udah pulih?" tanya Ara yang ternyata masih tak percaya. "Menurut lo?" Regaf malah balik tanya.
"Kak? Ini serius?" Ara malah bertanya pada Vanca.
Vanca tersenyum. "Serius Ra, gak percaya ya? Sama kok, kakak juga sempet gak percaya," ucap nya membuat Regaf melirik nya sambil tersenyum kecil.
Ara kembali memandang Regaf lalu kembali pada Vanca. "Kak, bang Regaf kalau sama kak Vanca gimana?"
"Kenapa nanya gitu?" kata Vanca sambil melirik Regaf yang masih sibuk dengan sarapan nya.
"Kepo aja sih, soal nya bang Regaf tuh orang nya kaku trus cuek banget," ucap Ara lagi lalu meneguk minuman nya. Regaf melirik adiknya itu dengan sinis, namun Ara tidak perduli.
"Ya... Gitulah, gak gimana-gimana," jawab Vanca seadanya, bingung akan menjawab apa.
"Kenapa kak Vanca mau sama bang Regaf?" tanya Ara lagi tapi kini membuat Regaf berdecak kesal.
"Kenapa Lo banyak tanya banget sih dek?" ucap Regaf menatap adik nya itu.
"Kenapa Lo yang sewot, sih, bang? Kan gue nanya ke kak Vanca."
"Pergi Lo!" usir Regaf pada adiknya itu.
"Dih ngusir-ngusir Lo, gue mau disini," kata Ara yang sama sekali tidak mengindahkan perkataan Regaf. Namun dering ponsel Ara tiba-tiba berbunyi membuat atensi semuanya beralih pada ponsel itu.
Dengan cepat Ara mengambil ponselnya yang ia letakkan diatas meja. Sebelum Ara mengambil ponsel itu, Regaf sempat melirik nama penelpon sekilas.
"Siapa Fariz?" tanya Regaf pada Ara yang hendak berdiri. "Temen," kata Ara.
"Temen apa temen?" ucap Regaf sempat sempatnya menggoda adiknya.
"Temen bang!" ucap Ara mulai kesal lalu ia pergi menuju kamar nya.
"Awas kalau ketahuan pacaran Lo ya dek, jangan pacaran Lo, masih kecil!" teriak Regaf yang menggema seluruh rumah saat Ara sudah menaiki tangga.
"BACOT!" teriak Ara tak kalah keras saat sudah berada diatas. Regaf terkekeh geli melihat tingkah adiknya itu. Cowok jangkung itu meneguk air setelah selesai memakan sarapannya.
"Gausah suka usil sama Ara Gaf," ucap Vanca, lalu ia bergerak untuk membereskan kembali meja makan.
"Oh iya Gaf, malam ini acara perayaan kelulusan kamu kan ya?"
"Iya, kenapa?"
Vanca menggeleng. "Gak papa, cuma ingetin takutnya kamu lupa."
"Ntar malam kamu ikut aku."
"Kemana?" tanya Vanca yang masih tak mengerti.
"Temenin aku ke promnight nanti malam."
"Emang nya boleh ya? Itukan acara khusus kelas 12?" ucap Vanca memandang Regaf.
"Siapa yang bilang gak boleh?"
"Gak usah deh Gaf, gak enak aku disana. Itu, kan acara kamu, lagian aku mau ngapain disana?"
"Kamu bisa nonton disana, ada band juga. Kalau kamu gak ada temen, kamu bisa ajak temen kamu ikut kesana," kata Regaf yang langsung membuat senyum Vanca mengembang.
"Boleh?" tanya Vanca sangat antusias. Regaf sebagai jawaban.
Lagi-lagi Vanca tersenyum. "Kalau gitu, aku ajak Nesa ya?"
"Terserah kamu, ntar biar aku suruh Geo buat jemput."
Vanca senang, hingga ia tak sadar bahwa sekarang ia tengah memeluk Regaf. "Makasiiii." Regaf diam belum bereaksi apapun. Namun detik berikutnya terbit senyum dibibirnya, lalu cowok itu membalas pelukan Vanca.
***
Siang hari di kediaman besar Alexander, Ratna dan Caren datang berkunjung. Kini mereka tengah berkumpul di ruang tamu.
Wenda sudah pulang berbelanja bersama Gisel tadi, jadi kini mereka berada di sini. Vanca duduk disebelah Abangnya, dan Gisel dan Ara duduk tepat disebelah Wenda.
"Gimana kabar kamu nak?" tanya Ratna pada anak bungsunya itu. Vanca tersenyum, "baik mah."
"Bagus kalau begitu. Gimana keadaan Regaf mbak?" tanya Ratna kini kepada Wenda.
Wenda tersenyum lalu berkata. "Baik, malah lebih baik dari sebelumnya. Regaf sudah ingat kembali sama ingatan," jelas Wenda.
"Wah, bagus kalau begitu. Turut senang, sekarang dimana Regaf?" tanya Ratna.
"Vanca, panggilkan Regaf ya nak," ucap Wenda pada Vanca. Gadis itu mengangguk, dan baru saja ia ingin menaiki tangga, Regaf sudah terlihat turun dari atas sana sambil meneriaki nya.
"Sayang! Baju aku yang aku taruh di lemari mana?!" Regaf masih belum sadar dengan keadaan sekelilingnya. Ia menatap Vanca namun Vanca malah tersenyum kaku.
Regaf bingung, sementara yang tengah duduk di ruang tamu hanya tersenyum melihatnya. Dan Caren, cowok itu sudah tersenyum geli sambil menutup wajahnya.
"Ayo! Biar aku cariin ya," ucap Vanca cepat karna tidak ingin menjadi tontonan. Regaf semakin bingung dibuatnya, lalu saat ia ingin menaiki tangga lagi, mata nya menangkap orang orang yang tengah memandang nya dari ruang tamu.
"Regaf, gimana kabar kamu?" tanya Ratna seolah tak terjadi apapun. Lantas Regaf kembali menatap Vanca, gadis itu sudah menundukkan wajahnya.
Buru-buru ia kembali menuju kamar nya, karena saat ini ia tidak memakai atasan apapun, bahasa lainnya telanjang dada.
__ADS_1
Vanca ikut menyusul kekamar untuk mencari baju yang dikatakan Regaf tadi. Sementara Wenda dan Ratna sudah tertawa olehnya.
"Ada-ada aja ya mereka," kata Ratna sambil tertawa. Wenda geleng-geleng melihat tingkah laku keduanya.
"Adek gue udah gede sekarang," kata Caren masih dengan senyum gelinya.
"Kak Caren tau? Kak Regaf itu tuh orang nya cuekkan plus kaku gitu, tapi kalau sama kak Vanca entah kenapa sifat nya berubah," kata Ara kepada Caren.
"Udah bucin dia itu," ucap Gisel menimpali lalu terkekeh. Ara mengangguk setuju.
"Cuma aja.. kemarin Vanca sempet kerumah dan dia ngomong mau udahan sama Regaf," ucap Ratna membuat semuanya berhenti tertawa.
"Mereka ada masalah?" tanya Wenda. Ratna menggeleng tak tau. "Gak tau mbak, aku rasa Vanca ngomong kayak gitu karena pikiran nya aja yang belum stabil."
"Maaf kan Regaf ya Rat, mungkin kita salah ya, menjodohkan mereka. Mereka terlalu remaja untuk masuk kedalam hubungan serius."
Ratna menggeleng. "Gak mbak. Aku rasa ini gak masalah, memang mereka terlalu remaja apalagi Vanca dan Regaf pasti punya mimpi masing-masing. Tapi semua ini juga udah janji kan mbak."
Wenda mengangguk. "Masalah kemarin, cukup menguji mereka. Tapi aku bersyukur Rat, karena ada nya Vanca perlahan sifat buruk Regaf bisa terbuang. Dan sikap dia juga mulai menghangat."
***
"Regafff..."
Oh ayo lah, Regaf lelah mendengar suara rengekan istri nya sedari tadi. Malam ini pukul 7 malam, Regaf dan Vanca sedang bersiap akan pergi ke sekolah untuk promnight. Acara akan baru dimulai pukul 8 malam nanti.
Namun Vanca menyusahkan Regaf. Lebih tepatnya Vanca yang tidak mau menurut. Vanca terus terusan merengek akan menggunakan pakaian yang terbuka bagian atas dada dan paha. Tidak, Regaf tidak akan mengizinkan. Ia tidak mau berbagi.
"Pakai yang lebih tertutup sayang."
"Mauu iniii aaaa," ujar Vanca dengan menjulurkan setelan dress ditangan nya.
"Vanca."
"Regaf! Ih!" Vanca kesal akhirnya ia membuang baju nya dan duduk di ranjang membelakangi Regaf. Cowok dengan setelah jas hitam, baju kaos oversize dan kemeja diluar nya itu sangat pas ditubuh nya membuat nya terlihat berkali lipat lebih tampan. Cowok itu mendekati Vanca, ia mengusap pucuk kepala istri nya.
"Gausah ngambek, aku gamau kamu pake baju yang terlalu terbuka Vanca. Kamu itu punya aku, dan aku gamau berbagi."
Regaf mendekatkan mulutnya pada telinga Vanca. "Semua yang ada di kamu, itu milik aku. Ngerti sayang?" bisik Regaf dengan nada lemah lalu setelah nya ia kembali menjauhkan kepalanya, dan Vanca manjadi merinding mendengar ucapan Regaf.
Lantas, Vanca bangun lalu mengambil kembali dress yang ia lempar tadi dan menyimpan nya kembali di lemari. Itu adalah dress yang diberikan Gisel kepada Vanca. Gadis itu sempat cerita ke Gisel soal ia akan pergi bersama Regaf ke acara promnight cowok itu, dan meminta Gisel untuk memilihkan dress untuk nya. Gagal sudah rencana Vanca yang ingin menggunakan dress itu, padahal dress itu sangat indah.
Bahu yang terbuka, ikatan di pinggang dan bawahan yang sedikit lebar diatas lutut. Vanca ingin sekali memakainya, sayang nya Regaf tidak mengizinkan. Alhasil ia menggunakan celana high waist yang sangat simple namun cocok di tubuhnya. Dan kemeja sebagai atasannya.
Regaf tersenyum simpul saat Vanca tidak menentang lagi dan memakai pakaian yang lebih tertutup. Lebih baik pikir Regaf.
"Gausah dandan, mau diliat siapa?" tegur Regaf saat Vanca memulai aktivitas make up nya. Vanca melirik Regaf sebentar, "Gaf! Muka aku pucet banget lah kalau ga pake make up."
"Jangan tebel-tebel. Gausah cantik-cantik, kamu udah cantik."
"Gombal banget," cibir Vanca disela ia memakai foundation nya. Regaf tersenyum kecil, ia berjalan menuju meja rias Vanca. Cowok itu berdiri tepat dibelakang Vanca dengan tangan yang menyangga di meja.
Cowok itu mendekat ke samping kepala Vanca, lalu tanpa aba-aba ia mencuri satu kecupan di pipi Vanca. "Regaf! Ntar luntur ih!" decak Vanca kesal, namun tak urung ia salah tingkah dengan kelakuan Regaf, hanya ia sedang menutupi nya.
Regaf terkekeh, lalu ia membuka ponsel nya untuk menelfon Geo. Saat tersambung, suara Geo menggema di ponsel nya.
"APAAN LO?! GANGGU ORANG LAGI MABAR AJA LO SETAN!"
Sontak Regaf menjauhkan ponsel nya dari telinga nya. Seketika telinga nya panas, lalu ia kembali mendekatkan ponsel nya pada telinga nya.
"Gue Regaf."
"HAH?!" Geo yang berada di sana sontak melihat nama yang tertera di ponsel nya. Geo terkejut bukan main, pasal nya semenjak Regaf amnesia cowok itu sudah tidak contact dengan nya.
"Eh lo Gaf, sorry. Tumben lo telefon, ada apa?" kata Geo dengan canggung nya dibalik ponsel. Regaf yang mendengar suara nya saja mengerti.
"Bisa minta tolong?"
"Kalau gue bisa, gue bentu Gaf. Lo minta tolong buat jedotin kepala lo ke dinding juga gue bisa Gaf," ucap Geo bercanda.
Regaf mendatarkan wajahnya. Ia memang belum memberi tau ia sudah pulih, tapi biar nanti saja.
"HAH?! MAKSUD LO APAAN MONYET! NGAPAIN GUE JEMPUT ANAK GADIS ORANG MALEM MALEM GINI, KURANG KERJAAN!"
"Bawa dia ke sekolah, promnight nanti. Lo pergi kan? Sekalian bawa, Vanca yang minta."
"HAH? GIMANA MAKSUD LO—"
Tut. Regaf mematikan sambungan itu sepihak. Regaf yakin bahwa sekarang cowok itu tengah mengumpati dirinya. Masa bodoh dengan itu, Regaf kembali melihat Vanca yang ternyata sudah selesai dengan make up nya.
Regaf memandang Vanca yang juga turut memandang dirinya. Regaf tak berkata apapun, ia diam tak berkutik. Hanya satu kalimat yang tercetak di kepala nya. Vanca sangat cantik.
"Regaf?" panggil Vanca menatap kesal kearah Regaf yang hanya diam saja. Tidak adakah niat untuk memuji dirinya?
"Regaf kamu budek ya?!"
"Hah? Apa?" jawab Regaf gelagapan.
Vanca berdecak kesal. "Tadi aku nanya, apa kata Geo? Dia mau gak? Kamu gak denger sih?!"
Regaf tersenyum simpul lalu mengangguk. "Mau dia." jawab Regaf yang sebenarnya tidak yakin dengan ini. Entah Geo benar benar menuruti diri nya apa tidak.
"Yaudah aku mau telfon Nesa dulu." Vanca mengambil ponselnya lalu menelfon nomor Nesa. Saat tersambung suara halus itu menyapa indra pendengaran nya.
"Halo Van?"
"Halo Nes, gue ganggu gak?"
"Nggak nih, ada apa?"
"Kebetulan lo gak sibuk, lo mau gak temenin gue ke acara promnight malam ini?"
"Ngapain Van? Bukannya itu acara kelas 12 ya?"
"Iya tauu.., gue pergi bareng Regaf, diajak Regaf gue," ucap Vanca pelan takut terdengar oleh orangnya.
"Hah? Gimana-gimana? Regaf ajakin lo? Regaf udah..?"
"Udah, lo siap-siap aja ntar Geo jemput lo. Tau Geo kan lo?"
"Kenapa dia? Tapi emang gapapa kita ikutan kesana?"
"Gapapa kali Nes, kita ikut nonton aja. Ya pliss temenin gue, ya?"
"Yaudah deh iya, gue siap siap dulu kalau gitu."
"Yeay! Oke makasih Nesaa. Gue tunggu lo ya." Setelah itu Vanca langsung mematikan sambungan telepon. Vanca tersenyum senang karena Nesa tidak menolak. Ya setidaknya ada teman nya disana jadi ia tidak terlalu bosan.
"Gimana?" tanya Regaf.
Vanca mengangguk. "Nesa mau kok."
"Yaudah, kita berangkat?"
"Ayo!"
****
Nesa, cewek itu sempat menerka nerka yang sudah terjadi sama Regaf. Namun ada hal yang membuat cewek manis itu berfikir. Geo yang menjemput nya? Buru-buru Nesa melihat dari jendela kamarnya saat ia mendengar suara motor.
Mata Nesa membola saat melihat Geo yang dengan manis nya duduk di atas motor nya diluar pagar rumahnya. Dengan cepat Nesa mandi dan siap-siap, ia tidak enak membiarkan Geo menunggu terlalu lama.
Setelah siap, dengan perasaan dan mental yang kuat, Nesa melangkah keluar dari kamarnya menuju pintu utama. Dirumah Nesa sepi karena jam segini orang tua nya belum pulang berkerja.
Nesa mengunci pintu nya dan melangkah ke pagar rumah. Geo sontak menoleh mendengar suara langkah kaki. Nesa membuka pagar lalu menutup dan mengunci nya kembali saat ia berada di luar tepat di samping Geo.
Geo menatap lamat Nesa, sedangkan cewek itu mengalihkan pandangannya tidak ingin menatap Geo.
Cantik.
"Ayo naik, ntar telat." Geo tidak ingin berlama-lama disini, munafik jika ia mengatakan Nesa biasa saja. Karena fakta nya Nesa terlihat sangat cantik dengan setelah simple namun anggun dimata nya.
__ADS_1
Nesa mengangguk, lalu ia menaiki mobil besar Geo dengan memegang pundak Geo sebagai tumpuan tangannya. Nesa menggunakan celana high waist berbahan levis dan atasannya sweater premium oversize. Sengaja Nesa menggunakan celana karena Geo yang menjemput nya menggunakan motor, jadi ia tidak susah menaiki nya.
Nesa sedikit memberi jarak antara dia dan Geo. Berada di dekat cowok ini entah kenapa membuatnya merasa deg-degan. Entah apa alasan, Nesa pun tidak tau. Apalagi style Geo yang sangat jauh jika disekolah, kali ini lebih rapi dan tampan. Nesa mengakui itu.
"Pegangan."
Lamunan Nesa buyar karena suara berat Geo yang mengagetkan nya. Nesa bingung, namun ia memilih memegang ujung kemeja yang Geo kenakan saja.
Geo tersenyum simpul, namun setelah itu ia melajukan motornya dengan kecepatan sedang. Jika ia sedang sendiri mungkin ia sudah ngebut, namun karena sekarang ia membawa anak orang jadi ia memilih aman saja.
****
Regaf baru saja memarkirkan mobilnya di parkiran. Malam ini Regaf memilih menggunakan mobil daripada motornya. Banyak anak kelas 12 yang berkeliaran di parkiran karena baru datang dan ada juga yang sedang menunggu teman nya juga ada yang sedang lewat.
Regaf turun lebih dulu dari mobil nya. Banyak gadis-gadis yang memperhatikan Regaf yang terlihat sangat tampan, bahkan lebih tampan.
Selanjutnya Regaf membuka pintu mobil tepat dimana Vanca duduk. Vanca masih diam saat Regaf sudah membuka pintu mobil. Hal itu membuat Regaf bingung.
"Turun."
Vanca gelisah. Ia bingung antara turun atau tidak. Jika ia turun pasti ia akan menjadi pusat perhatian, lebih tepatnya karena ia datang bersama Regaf.
"Vanca?" panggil Regaf karena tidak mendapat sautan. Vanca merasakan dejavu, sama seperti saat ia baru menikah dengan Regaf dan datang ke sekolah dengan diantar Regaf, mau turun rasa nya tidak pd.
Namun dengan segenap hati, Vanca menggapai tangan Regaf dan turun dari mobil. Regaf tersenyum simpul saat Vanca menggenggam tangan nya. Gadis-gadis yang masih memperhatikan Regaf terkejut dan bersorak karena Vanca yang datang bersama Regaf.
Banyak yang penasaran ada apa antara keduanya sebenarnya. Namun tak sedikit cibiran dan ucapan pedas dari beberapa murid yang merasa Vanca tidak seharusnya bersama Regaf.
Siswa-siswi yang berada di lorong melongo tak percaya. Ada apa dengan Regaf? Kenapa ada Vanca disampingnya? Terlebih mereka bergandengan? Hal itu tak luput dari pandangan siswa-siswi SMA Merpati.
Baru saja kemarin sempat terjadi perdebatan antara keduanya, namun sekarang? Seperti tidak terjadi apapun.
Vanca dan Regaf berjalan ke lapangan tepat acara di laksanakan. Di sana sudah ada tenda dan stand kelas 12 IPA 3, Andra bersama teman-teman yang lain melotot tak percaya saat Regaf datang dengan membawa Vanca.
"Gaf? Lo—"
"REGAF UDAH KOMBEK GAISSS!!" ucapan Andra terpotong karena teriakkan melengking dari Hendro. Andra manjadi kesal karenanya.
Teriakkan Hendro barusan membuat seluruh antesi murid beralih pada tenda mereka. Andra langsung menjitak kepala Hendro.
"ANJ- SAKIT SIAL!" lagi lagi Hendro teriak membuat Vanca menutup telinga nya.
"Gausah teriak bisa gak lo," ucap Andra menatap tajam Regaf. Sedangkan Hendro hanya menyengir seolah tak bersalah.
"Gaf kok lo bisa—"
"Gue bukan Regaf yang kemarin." potong Regaf.
Jansen mengitari tubuh Regaf. "Ini beneran Regaf yang dulu? Regaf yang pelit ekspresi?"
Regaf mendatarkan wajahnya.
"Gaf ini beneran lo kan?" ucap Andra memastikan.
Regaf mengangguk. Lalu Andra beralih pada Vanca disebelah Regaf. "Bener Van?" dan Vanca mengangguk.
Lalu Andra memukul lengan Regaf dengan kuat membuat Regaf hampir mengumpat. "Akhirnya lo balik Gaf. Gue udah hampir mau nonjok lo kemarin."
Regaf terkekeh. Ia memperhatikan sekelilingnya yang nampak ramai. Lalu pandangannya jatuh pada Geo dan Nesa yang jalan beriringan menuju ke tenda mereka.
"NESA!" Vanca teriak seraya melambaikan tangannya.
"Vanca!" Nesa berlari kecil menghampiri Vanca.
"Kangen deh gue sama lo Van," ucap Nesa saat mereka sudah dekat.
"Kaya udah gak ketemu setahun aja lo," kedua nya tertawa seakan hal itu lucu. Nesa memperhatikan sekelilingnya, dominan lelaki.
"Van," panggil Nesa dengan berbisik. Vanca menatap Nesa seolah bertanya 'ada apa?'
"Gimana ceritanya Regaf ajak lo kesini? Bukannya dia.."
Vanca tersenyum simpul. Lalu ia melirik Regaf yang masih dengan temannya. "Regaf udah pulih," bisik Vanca membuat Nesa melotot.
"REALLY?!"
Cowok-cowok disana menoleh menatap heran pada dua gadis itu. Nesa menyengir tak enak. Lantas ia membawa Vanca lebih jauh dari kalangan lelaki.
"Lo serius?"
Vanca mengangguk.
"Gimana ceritanya?"
"Panjang deh ceritanya, yang penting sekarang dia udah balik. Gue senenggg banget," kata Vanca full senyum.
Nesa memukul lengan Vanca pelan. "Ah lo mah! Gue bilang juga apa, gamungkin Regaf amnesia selamanya, dia pasti bakal balik."
"Iya Nes iyaa. Gue gak minta yang lain, gue cuma mau Regaf bareng gue terus," ucap Vanca memandang Regaf dari jauh.
Nesa mesem-mesem sendiri membuat Vanca geli hati. "Kenapa sih?" tanya Vanca geli.
"Lo yaa.. makin lama gue liat lo makin lengket aja sama Regaf."
"Ya... gimana gak lengket? Gue aja serumah kan sama Regaf," ucap Vanca memelankan kata 'serumah' agar tidak ada yang dengar.
"Yaudah ayo kesana!" Vanca menarik lengan Nesa menuju tenda Regaf.
"Gaf, kenapa lo bawa Vanca?"
"Gak boleh?"
"Ya, boleh. Cuma, kan, gue bingung gitu. Kenapa—"
"Udah pulih dia," ucap Andra yang masih stay cool di tempat duduk nya. Geo membulatkan matanya, kaget. "LO SERIUS?!" ucap Geo heboh.
Andra menendang tengkuk lutut Geo kencang membuat cowok itu memekik sakit.
"SAKIT ANJ*NG!" Geo menatap Andra namun tatapan Andra lebih tajam dari Geo membuat Geo tak jadi marah.
"Gak paket teriak bisa gak lo?" ucap Andra tajam.
"Lama-lama gue putusin pita suara lo Ge!" kata Hendro menyahut.
"Gue kan kaget brader," kilah Geo.
"Tapi ini serius?" Geo menatap Regaf. "Lo udah balik inget Gaf?" lanjutnya.
"Serius ini?" kata nya lagi.
Jansen jengah mendengar nya. "Beneran Ge, elah lo gak percayaan amat!"
"Mastiin doang gue."
Vanca dan Nesa datang ke stand mereka membuat semua nya kembali diam. Regaf menarik Vanca agar duduk di sampingnya. Dan Nesa turut duduk di sebelah Vanca.
Mereka sama-sama terdiam dalam pikiran masing-masing. Regaf mengeluarkan sesuatu dari dalam kantong celananya yang diperhatikan oleh Vanca.
Saat Regaf mengeluarkan batang nikotin lalu mengapit nya di antara bibir dan menghidupkan pemantik, belum saja api itu mengenai ujung rokok, Vanca sudah merebut nya dari Regaf. Bahkan kotak nikotin nya.
"Kamu ngerokok?!"
***
Ntr aku lnjut lagi, di next chp, di sini udh pjg bgt.
3800 kata geng.
like yaaaa
sekian terima vote.
__ADS_1