
Saat Gisel memasuki toko kue, objek mata nya langsung tertuju pada brownies coklat yang ada di dalam lemari kaca itu.
Gisel merasa tertarik jadi ia menghampiri bagian brownies di lemari itu. Gisel melihat lihat jenis kue brownies disana, cukup menggiurkan.
"Beli ah, sekalian buat Tante, Regaf juga Vanca" Gisel tersenyum lalu ia memanggil salah satu staf di sana.
"Mba!" panggil Gisel pada salah satu karyawan yang tengah mengamati pelanggan.
Staf itu menghampiri Gisel dengan senyum yang sopan "Iya mba? Ada yang bisa dibantu?" Tanya nya sopan.
"Ah iya, saya mau brownies yang ini" Tunjuk Gisel pada salah satu brownies yang berhasil mencuri pandangan nya. "Tolong bungkus, saya mau 3 kotak" pinta Gisel pada staf tersebut.
"Baik mba, bisa ditunggu?"
"Saya tunggu disana" Gisel berjalan menuju kursi dan meja tunggu. Sambil menunggu ia memainkan ponsel nya agar tidak bosan.
...---...
Regaf masih setia menunggu di mobil, sebenarnya ia malas sekali, apa lagi menunggu namun tak ada pilihan lain dari pada ia dengan Vanca saat ini.Ia tidak bisa membayangkan bagaimana awkward suasa.
Berselang detik, notifikasi ponsel Regaf berbunyi. Regaf merogoh kantong nya mengambil benda pipih itu. Saat sudah mendapat kan nya ia melihat pesan masuk dari sang mami tercinta.
...Mami...
|| Gaf, mama lagi di rumah temen mama, karena cuaca ga bagus jadi mama pulang besok.
|| Kaya nya mau hujan.
^^^|| Mau Regaf jmpt?^^^
|| Ga perlu, mama bawa mobil.
|| Jgn lupa kasih tau Vanca jg, mama telponin hp nya ga aktif.
^^^|| Iya^^^
^^^send^^^
Setelah pesan itu terkirim, Regaf memasukan kembali ponsel nya. Sesuai kata Wenda, cuaca memang sudah menggelap, seperti akan turun hujan, namun Gisel belum menampakan batang hidung nya.
Hal itu mampu membuat jiwa kesal Regaf keluar, ia paling malas menunggu.
...---...
Setelah berjuang menunggu, Gisel akhirnya mendapatkan pesanan nya. Sesudah membayar dengan segera ia keluar dari toko kue itu. Kembali pada mobil Regaf yang terparkir di basement.
__ADS_1
"Lama ya?" tanya Gisel saat sudah memasuki mobil.
"Pikir aja sendiri" sahut Regaf ketus.
"Yeuu sorry, tadi juga masih ngantri ma yg lain" Regaf tak mengindahi ucapan Gisel, ia fokus menjalan kan mobil nya.
Mobil Regaf melaju maximal di bawah rata rata kecepatan. Walau cuaca mendung tak membuat nya harus melaju dengan cepat.
Prinsip Regaf ialah, keselamatan nomor satu.
Tak ada pembicaraan diantara kedua nya, Regaf yang sibuk dengan stir juga jalanan, sementara Gisel yang sibuk dengan ponsel nya, seperti tengah mengetik.
Selang beberapa waktu perjalanan, Mobil Regaf sampai di halaman rumah milik nya. Sedari mereka di jalan hujan sudah mengguyur jalanan hingga membuat Regaf sedikit lebih pelan dalam menjalankan mobil.
Jadi nya mereka pulang agak telat. Pukul menunjukkan jam 18.54, cukup lama dikarenakan hujan yang terbilang cukup deras.
...---...
Regaf juga Gisel memasuki pintu utama, sangat sepi. Seperti tak berpenghuni. Jelas Gisel bertanya tanya.
"Orang nya pada kemana nih" tanya Gisel. Namun hanya dianggap angin lalu oleh Regaf.
"Lah malah cabut orang nya" Gisel menatap punggung itu dongkol, kesal atas sifat cuek yang dimiliki Regaf.
"Bodo ah, gue mo istirahat aja cape" Sebelum Gisel menuju kamar nya, ia ke dapur terlebih dahulu, menyimpan Brownies tadi ke dalam kulkas.
...---...
Sementara Regaf, ia memasuki kamar sama hal nya dengan Gisel. Namun kini Regaf tak masuk ke kamar nya, melainkan kamar tamu.
Ia menutup pintu tak terlalu rapat saat ia sudah berad di dalam. Regaf membanting kasar dirinya di kasur empuk di kamar itu. Ia masih kalut dengan pikiran nya sendiri.
Tanpa sadar Regaf pun terlelap saking lelah nya, sampai sampai sepatu nya pun masih melekat di kaki nya. Kaki berselonjor dan tangan yang terlentang di sisi kasur.
Kini di kamar Vanca, ia terbangun karena merasa haus di tenggorokan nya. Ia pun berniat mengambil minum di dapur. Namun saat ia nyawa nya sudah full, ia tak melihat ada nya Regaf disini.
"Regaf belum pulang" gumam nya, melirik arah jam dinding pukul 20.49 "Regaf kemana ya" lanjut nya berfikir.
Karena ia masih dengan merasa haus, ia pun turun untuk mengambil minum untuk diri nya. Perlahan ia melewati lorong di rumah itu, namun saat ia tengah berjalan tiba tiba melihat pintu kamar tamu yang sedikit terbuka.
"Kok kebuka ya?" tanya nya pada diri sendiri. Karena ia ingin tahu jadi nya Vanca masuk ke dalam kamar tersebut. Dengan perlahan membuka pintu tanpa ada nya suara.
Saat sudah masuk, ia terperangah melihat Regaf tidur dengan keadaan masih dengan baju tadi. "Regaf tidur disini" gumam nya.
Perlahan tapi pasti, ia melangkah mendekat ke arah ranjang dimana Regaf tidur. Vanca berniat akan membangunkan Regaf namun ia tak tega melihat nya.
__ADS_1
Vanca melihat mata tertutup itu dengan damai. Jika sedang tidur seprti ini hawa nya sangat adem sekali. Vanca melihat rambut Regaf yang menutupi mata lelaki itu, tangan nya terulur untuk merapikan nya kembali agar tidak mengusik tidur lelaki itu.
Namun pikiran nya salah, malah usapan yang Vanca beri membuat tidur Regaf terusik. Regaf bergumam tidak jelas karena merasa terganggu.
Ia merasa ada benda berat di atas kepala nya, Regaf meraih tangan Vanca tanpa sadar lalu menyimpan nya di dada nya. Detak jantung yang berdetak sangat tenang itu dapat di rasa oleh Vanca.
Darah nya seketika berdesir hangat, Vanca pun duduk di tepi ranjang masih dengan tangan di genggam Regaf di dada miliknya.
Memandangi wajah tampan itu dan nyaris sempurna, tak bosa ia melihat nya. Vanca akui memang tampan, tak jarang gadis sekolah banyak yang menyukai Regaf.
"Andai kamu tau Gaf, aku sayang sama kamu, aku gatau kapan rasa itu datang" ucap isi hati Vanca.
"Aku selalu ngerasa nyaman di deket kamu Gaf, aku minta maaf" lanjut nya dengan lirih.
Vanca merasa sesak di dada nya, namun ia menahan kuat rasa itu. "Gaf, walau aku tau kamu ga akan denger aku sekarang. Tapi aku harap kamu tau, aku sayang sama kamu.." Vanca tak mampu melanjutkan kan kata kata nya merasa isak akan keluar.
Tanpa sadar pun air mata nya sudah tergenang di pelupuk mata nya. "Soal kejadian di sekolah, aku minta maaf sama kamu, kamu marah sama aku?" tanya nya pada Regaf yang masih menutup mata nya.
"Aku sama dia ga ada apa apa kok, dia cuma minta temenin di kantin karena dia anak baru gatau letak kantin"
"Awal nya aku juga mau nolak tapi gaenak, aku maklum karena dia anak baru di sekolah kita"
"Aku bener bener minta maaf, setidak nya aku udah ngomong ini kekamu, aku sedikit lega"
"Semoga kamu ga berfikir aneh ya tentang aku," Vanca sungguh sudah tak tahan, bulir mata nya pun luruh begitu saja tanpa izin dari sang pemilik.
Dengan cepat Vanca mengusap air mata itu dengan kasar, namun lagi lagi air mata itu keluar, tanpa henti. Satu isak pun lolos dari mulut gadis itu.
Semakin tak tahan, Vanca pun beranjak dari duduk nya ingin keluar dari ruangan itu. Namun tangan nya tertahan oleh tangan Regaf. Yang masih setia di genggam cowo itu.
"Kenapa nangis?"
...•••...
oke sesuai janji, aku up hari ini..
Gimana part ini, dapet ga feel nya, aku rasa engga.
Jangan lupa like + vote kalo suka sama cerita aku.
Baca doang Vote kagak.
jangan lupa tinggalkan jejak nya.
Kalo rame aku up lagi
__ADS_1
^^^tbc.^^^