REGAF ARGANTARA

REGAF ARGANTARA
REGAF ~ 66


__ADS_3

Setelah hari dimana Regaf siuman, Regaf sudah bisa kembali setelah dinyatakan kondisi nya yang sudah membaik. Malam nya keluarga Regaf menjemput diri nya di rumah sakit. Luka sayat pada bagian perut nya pun sudah mengering. Hanya saja memerlukan waktu yang cukup guna memulihkan keadaan.


Sekarang, disini lah Regaf berada. Di kediaman besar Alexander. Setelah Vanca pikiran kembali, Vanca memilih untuk membawa Regaf tinggal kembali di rumah orang tua nya. Dengan dia yang turut serta. Bukan apa, hanya saja Vanca berfikir rumah ini banyak sekali kenangan bagi Regaf. Dan siapa tau sedikit demi sedikit Regaf dapat mengingat memorinya.


"Ini rumah mami dan papi, rumah kamu juga Nak." Celetuk Wenda pada putra sulung nya yang kini hanya duduk di sofa dengan pikiran yang bercabang entah kemana.


Saat masuk hingga ia berada di ruang tengah rumah itu, Regaf terus memperhatikan sekelilingnya. Ia merasa asing disini, tidak tau apapun, dan tak mengenali satu orang pun. Tapi entah kenapa ia merasa tenang disini. Ia merasakan kehangatan di rumah ini meski tak kenal siapapun.


Vanca terus memperhatikan Regaf yang masih diam menatap sekelilingnya dengan kaku. Dia Regaf yang Vanca kenal tapi sosok nya yang sudah tak Vanca kenali.


"Nak, Vanca, kamu dan Regaf ke kamar aja. Kamu sama Regaf bisa istirahat. Kamu juga dari pagi di rumah sakit terus kan nak." kata Alex—sang ayah—mengerti bagaimana kondisi canggung yang melanda. Dan ia juga ingin memberi waktu berdua bagi Regaf dan Vanca. Sungguh mertua idaman.


Lantas Vanca tersenyum dan mengangguk. "Nak, kamu ikut Vanca ya?" kata mami Wenda pada anak sulung nya. Regaf menunjuk diri nya sendiri seakan tak mengerti. "Saya?"


Memang semenjak Regaf siuman, Regaf merubah gaya bicara nya pada mami Wenda dan papi Alex. Ia merasa asing pada semua orang di sekitarnya. Termasuk kedua orangtuanya.


"Iya elo. Siapa lagi?" sahut Gisel menyeletuk.


Gisel ikut pulang bersama Wenda dan Alex, dan Ara kata nya dia ada janji dengan seseorang. Jadi nya Ara pulang menyusul.


"Iya, kamu Regaf. Ikut istri mu." Suruh Wenda.


"Istri?" Beo Regaf tak mengerti. Apa maksud nya? Istri? Kapan diri nya menikah?


Wenda menghela nafas pelan. Setelah hari dimana Regaf siuman, tak ada yang menjelaskan siapa Vanca bagi Regaf. Jelas hal itu masih menjadi pertanyaan bagi Regaf.


"Regaf, Mami akan menjelaskan semuanya. Kamu dengarkan baik baik." Wenda mengambil nafas sebelum menjelaskan semua nya kepada Regaf. "Kamu anak kami, yang Mami jodohkan. Dan dia," Wenda menunjuk Vanca dengan ekor mata nya. "Dia istrimu." sambung Wenda.


Sontak Regaf menegakkan badan nya. Semua hal yang dikatakan Wenda barusan membuat sekelibat bayangkan muncul di pikiran nya. Hanya sekilas.


"Saya tidak mengerti, saya bahkan tidak mengenal siapa kalian." ungkap Regaf yang menohok. Perkataan Regaf tentu membuat lainnya yang mendengar merasa tertegun. Itu jelas. Apa sesulit itu membuat ingatan Regaf kembali?


"Ada satu kejadian." Vanca berkata menggantung kalimat nya. Yang membuat atensi seluruhnya nya beralih padanya. Vanca menatap Regaf lamat, begitu pula Regaf. Seakan ada magnet diantara nya.


"Kejadian yang.. bikin kamu kaya gini. Kejadian yang gak sama sekali aku duga sebelumnya. Dan itu, bikin kamu berubah kaya sekarang. Asing." Jelas Vanca yang diakhiri senyum kecut nya.


Regaf tak mengerti. Sama sekali tidak mengerti. Apa maksud dari gadis itu? Kemana arah bicaranya? Regaf hanya diam, tak tau harus bereaksi bagaimana.


Wenda juga Alex yang mengerti situasi mereka, memilih pergi. Dan disusul Gisel, tapi sebelum Gisel benar benar pergi, ia sempat berkata pada Vanca. "Semangat! Gue bakal terus dukung lo, semoga Regaf cepet pulih deh." Vanca hanya tersenyum samar menanggapi nya.


Dan kini hanya menyisakan keduanya. Tersisa mereka di ruangan bernuansa putih ini. Selama beberapa saat, kedua nya diam. Tak ada yang membuka suara.


"Liat di jari manis kamu." ujar Vanca membuka suara setelah lama nya diam. Sontak Regaf memperhatikan jari manis di tangan kanan nya. Ada cincin disana. Cincin pernikahan mereka.


Regaf mengalihkan pandangannya seolah bertanya apa maksud nya. "Kamu liat kan? Ada cincin disana. Kamu tau itu cincin apa?" Bodoh jika Vanca bertanya demikian karna jelas jawabannya tidak.


Vanca tersenyum sebentar lalu kembali berkata, "Cincin pernikahan kita Gaf." Lanjut nya.


"Liat." Vanca memperhatikan jarinya yang disana ada cincin yang sama seperti yang ada di jari manis Regaf. "Aku juga punya. Aku gak bohong. Kita udah nikah, aku istri kamu, dan kamu suami aku Gaf."


"Mungkin ini kedengarannya aneh ya? Tapi itu fakta nya." Kata Vanca lagi.


Sah!


Gausah tebar pesona bisa gak Gaf?


Butuh tumpangan?


Lap-in keringat gue


Lo punya tangan kan? lap sendiri.


Regaf kamu mau kita mati?!


Regaf! Berhenti atau aku loncat?!


"Agrhh!!" Regaf memegangi kepalanya yang berdenyut. Semua bayangan itu tiba-tiba datang dan masuk ke otak nya. Namun tak dapat Regaf lihat dengan jelas. Itu membuat kepala Regaf terasa sakit.


Vanca yang melihat itu langsung panik dan khawatir. Ia takut sesuatu yang buruk terjadi. Dan ia ingat kata dokter yang merawat Regaf waktu di rumah sakit. Regaf tidak boleh terlalu dipaksakan mengingat memorinya. Karena itu mungkin akan fatal nantinya.


"Regaf!" Vanca memegangi bahu Regaf.


"Ayo ke kamar aja, biar kamu bisa langsung istirahat. Badan kamu harus dibawa istirahat." Ajak Vanca yang sama sekali tak di ubris oleh Regaf. "Regaf! Ayo!" Vanca akhirnya menarik paksa Regaf. Karna paksaan itu pun Regaf badu menurut dengan posisi yang masih memegangi kepalanya.


Vanca menuntun Regaf menuju kamar Regaf. Saat disana Regaf langsung berbaring di kasur. Itupun suruhan Vanca. Saat Regaf berbaring, Vanca melipir menuju dapur. Regaf yang masih di kamar berusaha untuk bangkit dari tidur nya dan duduk dengan bersandar di kepala kasur.


Regaf meringis pelan merasakan denyutan di kepala nya mulai berkurang. Ia melihat sekeliling kamar ini, ada rasa yang mengganjal di hatinya saat ia berada di kamar ini. Tapi ia tidak tau apa yang tengah mengganjal di hati nya. Ada rasa tak asing melihat seisi kamar ini. Tapi Regaf tak dapat mengingatnya.


Lalu beberapa saat Vanca kembali dengan nampan di tangan nya. Vanca menaruh nampan itu di nakas samping kasur. Regaf dapat melihat isi nampan itu, ada makanan juga obat obatan yang Regaf tidak tau itu untuk siapa.

__ADS_1


"Kamu makan dulu, dari rumah sakit tadi kamu belum makan kan?" Vanca menyodorkan piring berisi makanan untuk Regaf.


"Gue gak laper." Regaf menolak secara terang-terangan. Vanca tertegun untuk kesekian kalinya. Merasakan dada nya yang sesak. Regaf yang mengubah gaya bicara nya itu pada nya, membuat ada rasa tak terima di hati nya.


Mengapa Vanca tak terima? Bukankah begitu saat awal mereka bertemu? Kenapa ada rasa yang membuat Vanca tak ingin mendengarkan nya lagi?


Vanca tetap berusaha tersenyum dihadapan Regaf. "Kamu harus makan, kalau gak makan gimana minum obat nya?" obat yang dimaksud Vanca adalah obat resep dokter guna meredakan rasa nyeri atau denyut di kepala Regaf jika kambuh.


"Obat? Gue gak sakit." Hal itu lantas mengundang senyum tipis dari Vanca. "Iya kamu emang gak sakit fisik, tapi raga kamu lagi gak baik baik aja Gaf."


...***...


Geo dan Andra kini tengah berada di sebuah cafe yang sangat ramai akan pemuda pemudi. Tapi walau mereka berada di tempat ramai rasa nya sepi karna ada yang kurang rasa nya. Mereka hanya berdiam disana, menenangkan fikiran.


Hembusan nafas terdengar untuk kesekian kalinya. Entah kenapa rasa nya ada yang hilang dari mereka, walau itu benar. Lamunan mereka buyar karena pertikaian antara staf cafe dengan pengunjung. Tapi mereka memilih acuh.


"Rasa nya baru kemarin, gue ketawa bareng Regaf. Sekarang, udah kayak gak pernah kenal." Kata Geo seraya tertawa miris. Andra menerawang jauh apa yang akan terjadi kedepannya.


"Gue juga gak nyangka Ge. Secepat itu Regaf lupain kita?" Kata Andra dengan mata yang memanas. Geo dapat melihat mata lelaki itu memerah, tapi tak mengeluarkan air mata.


Andra sedang menahan tangis nya.


Geo tertawa sejenak. Tawa yang terdengar hambar. "Apa lagi gue. Waktu dia gak kenal siapapun di rumah sakit waktu itu, gue udah pengen tonjok muka nya karna gue pikir itu bercanda.."


"... ternyata itu fakta." Geo menundukkan kepalanya. Bahu lelaki itu bergetar. Geo menangis.


Sudah cukup Geo menahan nya. Saat ini tidak. Ia tidak perduli dengan posisi nya sekarang. Juga tidak perduli dengan tatapan aneh dari pengunjung lainnya.


"Gue yakin, yakin banget. Vanca lebih sakit dari kita." Geo kembali mengangkat wajah nya. Menyeka bagian ujung mata nya yang kembali mengeluarkan air.


"Jadi gimana?"


Andra menaikkan alis nya pertanda tak paham.


"Soal rekaman itu.., Vanca belum tau kan." lanjut Geo yang membuat Andra teringat seketika. Ya. Mereka belum sempat menunjukkan hal penting itu. Tapi, apakah sekarang masih penting?


"Telfon Vanca, suruh kesini kalau lagi ga sibuk."


Geo mengangguk, lalu mengambil ponsel nya dan mengetik nama Vanca. Dan langsung ia telfon tanpa basa basi.


...***...


Setelah mematikan sambungan telepon itu, Vanca kembali pada Regaf yang masih pada posisi duduk di ranjang. Regaf sehabis makan juga minum obat, tentu nya dari paksaan Vanca.


"Regaf, habis ini kamu istirahat ya. Aku izin keluar boleh kan? Mau ketemu Geo sama Andra, temen kamu." Ujar Vanca meminta izin.


"Hm." Tanpa melihat kearah Vanca, Regaf hanya menjawab dengan deheman. Justru hal itu membuat Vanca terpukul, bukan Regaf yang biasa nya selalu cerewet.


"Yaudah aku pergi, kamu istirahat." Ujar Vanca lagi walau ia tahu tak akan ada jawaban dari lawan bicara nya. Vanca keluar dari kamar nya setelah mengambil tas miliknya.


Setelah Vanca keluar, Regaf menolehkan kepala nya menatap kosong ke arah pintu coklat itu. Ada rasa tak ingin Vanca pergi tapi Regaf juga merasa itu tidak penting.


...***...


"Vanca!"


"Iya?"


"Lo mau kemana malem-malem gini?"


"Gue mau keluar bentar, gak lama kok."


Gisel menganggukkan kepala nya. "Regaf di dalem?"


Vanca mengangguk. "Iya. Lo mau masuk? Masuk aja."


Gisel tersenyum manis ke arah Vanca. Lalu setelah nya gelengan kepala menjawab perkataan Vanca barusan. "Nggak deh Van. Makasi, gue gak mau masuk, yang ada gue mati kutu."


Vanca tersenyum kecil, "yaudah gue duluan ya, udah ditungguin juga."


"Oh ya! Kalo mami papi cari gue, bilang aja gue lagi keluar cari angin."


"Lo pergi sama siapa btw?"


"Taksi!" Jawab Vanca yang sudah menjauh dari Gisel. Gisel yang melihat itu hanya menggelengkan kepalanya saja.


Gisel pun memilih duduk di sofa ruang tengah. Memang tadi ia dari dapur, dan saat di ruang tamu utama dia berpapasan dengan Vanca.


Gisel memilih memainkan ponsel nya. Melihat lihat beranda Twitter nya. Karna tidak ada yang menarik ia beralih pada laman Instagram nya, melihat lihat beranda nya.

__ADS_1


Namun fokus nya teralih saat notif muncul pada status bar ponsel nya. Notifikasi yang muncul dari aplikasi yang sama.


'kenzxyz memulai siaran langsung'


Begitu lah isi notifikasi itu. Dengan segera Gisel membuka siaran langsung dari Kenzie. Ya, Kenzie lah yang tengah siaran langsung saat ini.


Dapat Gisel lihat, banyak yang menonton acara live lelaki ini. Walau Kenzie nyata nya hanya berdiam diri memandangi ponsel nya tanpa minat menjawab pertanyaan yang diajukan oleh beberapa following nya.


Namun mata Gisel terfokuskan pada satu pertanyaan yang seketika membuat ia ikut penasaran.


'Kenzie lo skrg lagi suka sm siapa?'


Pertanyaan itu banyak disauti satu sama lain. Mereka sangat kepo dalam hal ini. Pertanyaan itu membuat Kenzie yang tadi nya hanya bungkam menjadi bicara.


'Kalo nanya gue lagi suka sama siapa, jawaban gue, gue lagi suka sama seseorang. Tapi gue gak bisa kasi tau siapa dia. Sorry.'


Begitu kata Kenzie didalam nya. Satu hal yang membuat Gisel kepalang penasaran. Siapa orang nya?


Lamunan Gisel seketika buyar saat mendengar bunyi klakson mobil. Seperti nya dari depan. Bergegas Gisel mematikan ponsel nya dan melihat siapa yang berada di depan.


Saat ia membuka pintu, ia melihat Ara yang baru saja pulang. Dan ia sempat melihat mobil Jeep yang baru pergi. Ara membalikkan badan nya, dan betapa terkejutnya ada Gisel di ambang pintu.


"Kak Gisel..?" Ucap Ara dengan canggung.


"Cowo yang kamu ceritain ke kakak?"


Ara mengangguk.


"Kenalin dong ke kakak Ra, pengen liat gimana sih orang nya." Ucap Gisel lalu mencolek hidung adik sepupu nya itu.


"Kapan-kapan deh kak hehe.."


"Yaudah gapapa, ayo masuk. Disini dingin." Kedua nya pun memasuki rumah. Saat berada di ruang tamu Ara langsung teringat akan kakak nya.


"Kak!"


"Iya?"


"Gimana keadaan kak Regaf?"


"Kakak juga gatau Ra. Tapi udah lebih baik harus nya, kamu doain aja semoga kakak kamu bisa cepet pulih!" Kata Gisel dengan senyum hangatnya.


Ara mengangguk. "Ara juga sedih liat kak Regaf dengan keadaan kayak sekarang."


"Gak cuman kamu Ra. Semua orang terdekat juga sedih, terutama Vanca." Ucap Gisel dengan memelankan suara nya di akhir kalimat.


...***...


2040 work.


hai geng, gmn kabar nya??


spam komen ayyoo!!! 😠


likeeee! aku maksa.


.


.


.


...[ Ciara / Ara ]...



...[ Gisel ]...



...[ Meisya ]...



...[ Caren ]...



Segitu dulu geng!! Babayyyy 👋🏻👋🏻👋🏻

__ADS_1


__ADS_2