
"Kenapa berenti?" tanya Nesa heran saat Geo malah berhenti didekat pedagang kaki lima.
"Gue laper, mau makan," sahut cowok itu setelah melepaskan helm nya. Cowok itu sedikit menyugar rambutnya kebelakang karena berantakan.
"Anter gue dulu kenapa sih?" ujar Nesa sewot, bercampur malas. Jelas malas jika ia akan menunggu cowok itu selesai makan dulu.
"Udah, lo turun. Lo gak laper apa?"
"Gak."
Namun bunyi perut Nesa lebih jujur dari ucapannya. Bunyi yang berasal dari perut cewek itu membuat nya sedikit malu, dan Geo hanya terkekeh.
"Lo laper, perut lo gabisa boong."
"Lo bisa kan anter gue dulu? Biar gue gak lama disini dan bisa makan dirumah!"
"Kenapa gak makan disini aja? Makan bareng gue," kata Geo.
Nesa pikir itu bukan hal buruk, jadi ia pun turun dari motor Geo dan masuk ke tenda pedagang meninggalkan Geo di motor. Cowok itu sendiri bingung dengan cewek itu, padahal biasanya cewek itu manis dan lembut perlakuan, tapi sekarang kenapa berbeda?
Tak ingin ambil pusing, Geo pun segera turun dan menyusul masuk. Hingga berada tepat di sebelah Nesa, Geo memesan pada bapak penjual nya.
"Pak, nasi goreng nya dua ya, porsi normal aja," kata Geo memesan.
"Siap Den!"
Nesa dan Geo pun duduk kursi plastik yang tersedia disana. Tanpa meja, karena memang disana tidak disediakan meja, jadi jika makan piring nya akan di taruh di kursi lainnya.
Saat pesanan mereka sudah jadi, Nesa tersenyum lebar. Perut nya sudah demo minta diisi. Cewek itu lantas menyuapkan nasi yang sebenarnya sangat panas. Namun dimulutnya, seperti biasa saja. Nesa memakan nasi itu dengan sangat lahap.
"Pelan-pelan, gak ada yang mau ambil."
"Bwiarwin, gwue lwapwer," kata Nesa kurang jelas karena mulut nya yang masih mengunyah makanan.
"Telen duluuu, gue takut lo keselek."
Uhuk, uhuk.
Nesa terbatuk-batuk sebab tersedak nasi. Buru-buru Geo memberi cewek itu minuman. Dan nesa meminum air itu hingga tandas tak tersisa.
"Gue bilangin juga apa, pelan-pelan Nes."
"Gara-gara lo!"
"Lah? Gue?" Geo menunjuk dirinya sendiri.
"Iya lo! Bilang aja tadi lo nyumpahin gue kan?!" tuduh Nesa.
Geo geleng-geleng kepala mendengar tutur Nesa, bisa-bisa cewek itu menuduh nya. "Kenapa nuduh gue?"
"Gue gak nuduh, fakta," kata Nesa lalu melanjutkan makannya.
Geo diam memperhatikan Nesa yang lahap memakan makanannya, ia menyukai pemandangan ini. Ia makan dalam diam dengan terus memperhatikan Nesa tanpa sepengetahuan cewek itu.
Hingga selesai, kedua nya kembali melanjutkan perjalanan menuju rumah cewek itu. Sudah pukul setengah sembilan malam, ia tidak ingin ambil resiko jika membawa pulang Nesa terlalu malam.
Di perjalanan, perut Nesa tiba-tiba keram. Ini pasti efek datang bulan nya, cewek itu hanya mampu menahan sakit di perut nya hingga nanti sampai. Namun sepertinya ia tidak tahan hingga ia meremas sweater Geo dengan kuat mencoba menahan rasa sakit nya.
Geo dapat merasakan sweater nya yang dicekeram oleh Nesa, ia lantas menegok spion dan melihat wajah Nesa yang tengah menahan sakit.
"Nes, lo gapapa?"
"Gapapa Ge, lo cepetan aja bawa motor nya."
Seolah mengerti, Geo menuruti kemauan Nesa dengan menambah laju motor nya namun tetap hati-hati. Ia tidak ingin membuat Nesa menahan sakit lebih lama, ia tau cewek ini tengah menahan sakit walau Nesa tidak bicara.
Geo terus memperhatikan spion untuk melihat wajah Nesa, cowok itu memegang tangan Nesa yang berada di sweeter nya, masih pada posisi yang sama.
Namun cowok itu memindahkan tangan Nesa agar menjadi memeluk pinggang nya, dirasanya tangan gadis itu sangat dingin, digenggam nya tangan Nesa agar sedikit hangat. Nesa sendiri tidak menolak karna ia sedang tidak ingin berdebat.
Hingga akhirnya Geo sampai tepat di depan gerbang hitam rumah Nesa. Cewek itu segera turun dari motor besar Geo, tak lupa berterima kasih telah mau mengantarkan dirinya pulang.
"Sorry ya Ge, tadi gue marah gitu kesan nya ke lo."
"Lo lagi dapet?"
Nesa mengangguk.
Pantesan galak. Batin Geo.
"Gak papa, sana lo masuk biar gak dingin lama-lama dirluar."
"Makasih ya Ge sekali lagi, lo hati-hati," ucap Nesa lalu membuka pagar untuk masuk, setelah itu ia pun masuk kedalam rumah nya.
Geo terus memperhatikan Nesa sampai gadis itu masuk, entah perasaan apa yang ia rasakan selama dekat dengan cewek itu.
***
Pagi ini, didepan gedung SMA Merpati Vanca berdiri memperhatikan gedung besar itu. Sekolah elit ternama di Jakarta dan terkenal dengan pelajar nya yang cerdas dan berprestasi.
Sudah tidak ada lagi hari santai untuk rebahan lagi bagi Vanca, ia kembali lagi ke sekolah nya dengan suasana yang berbeda, juga kelas yang berbeda.
Naik ke kelas 12 ini Vanca akan lebih giat dalam belajar lagi, tidak ingin menunda tugas seperti yang ia lakukan dikelas yang dulu.
Cewek itu melangkahkan kaki nya masuk kedalam kawasan sekolah. Ia melihat banyak siswa dan siswi baru, yang seperti nya sedang MPLS. Atau dikenal seperti perkenalan siswa baru.
Vanca memasuki kelas baru nya, XII IPS 2.
Saat masuk, objek awal nya adalah Sheryl yang dengan asik nya tidur di bangku nya, dan Nesa yang tengah mengecat kuku nya, lalu Risa? Cewek tomboy itu tengah memainkan ponsel dengan kaki yang diangkat ke kursi.
Masuk kedalam kelas bernuansa berbeda dari tahun lalu, sangat nampak sekali perbedaan nya. Saat ia berada tepat disamping Risa, cewek itu langsung menurunkan kaki nya.
"Chat siapa sih, lo? Sibuk bangett," goda Vanca pada Risa yang sedari tadi sibuk dengan ponsel.
Lantas Risa menaruh ponselnya diatas meja. Cewek itu berdehem pelan. "Gak ada, tadi nyokap chat gue," kata Risa.
Vanca hanya mengangguk paham. Lalu ia beralih pada Nesa yang masih asik dengan kukunya. Padahal ini disekolah, kenapa cewek ini berani sekali memakainya disekolah?
"Lo gila ya? Ngapain lo cat kuku disekolah Nes?"
"Kemarin gue gak sempet cat kuku karna pulang udah malem banget," kata Nesa.
"Lo gak takut di razia apa? Iya kalo cuma dicatet dibuku bk, kalo kuku lo dipotong gimana?"
Nesa memandang Vanca dengan tatapan dalam. "Oh iya?"
Vanca menatap datar kearah Nesa. Cewek manis itu seperti nya baru sadar akan hal itu.
__ADS_1
"Apasih berisik banget?" sahut Sheryl yang baru bangun tidur. Di sisi pipi kiri nya terdapat bekas liapatan tangan nya.
"Tidur mulu lo She," cibir Risa memandang cewek itu yang tengah mengucek matanya.
"Ngantuk banget gue gila. Semalem gabisa tidur mikirin hari ini sekolah."
"Ngapain lo pikirin dih?"
"Ya mana tau pikiran gue," cetus Sheryl. Seperti nya nyawa cewek itu tengah diambang sadar dan tidak.
"Kantin aja mau gak? Daftar ulang juga masi satu jam lagi kan?" ajak Vanca pada teman-teman nya.
"Ayo!" sahut mereka serempak.
***
Regaf sendiri berada di UGM, atau Universitas Gajah Mada. Salah satu kampus elit di kota Jakarta ini, dan masuk pada jajaran kampus bintang lima.
"Soal lo yang bakal ke London itu gimana Gaf?" tanya Andra. Saat ini mereka tengah berada di kantin kampus.
"Gue gak jadi kesana, mungkin setelah gue lulu s1? Gue ga bisa ninggalin Vanca disini," ujarnya.
"Dasar bucin," cibir Geo.
"Lo ngomongin diri sendiri?" kata Andra yang terlihat tenang.
"Gue gak bucin!" Kilah Geo.
"Gue denger Nesa punya gebetan," kata Regaf yang seraya meminum juice nya.
"Dapet info dari mana lo?" ujar Geo ngegas.
"Santai kali Ge, tuh kan, gini nih bibit-bibit bucin," semprot Regaf. "Ngatain gue aja lo!"
"Gue niat nya mau jemput dia pulang sekolah nanti," kata Geo. Andra memandang Geo malas, "bilang aja mau tebar pesona sama cewek-cewek."
"Salah satu nya sih," jawab Geo sembari tersenyum jenaka membuat Andra ingin menampolnya.
Regaf membuka ponsel berniat akan men-chat Vanca.
^^^plg jam brp? ^^^
Beberapa detik setelahnya vanca menjawab
jam 11.
Setelah mendapat jawaban dari Vanca, Regaf kembali menutup ponselnya. Mata nya tertuju pada seorang gadis yang berjalan ke arah meja mereka.
"Halo! Kalian maba ya? Kenalin gue senior kalian disini, untuk Ospek bentar lagi bakal mulai, jangan ketinggalan kumpul di lapangan," ujar salah satu senior kampus disana, memang berniat memberi tahu saja. Dari mana ia tau? Karena jelas dari pakaian dan aksesoris yang dipakai Maba sangat kontras.
"Hm," sahut Regaf dengan ogah-ogahan. Setelah itu pun senior itu memilih pergi dari sana.
"Kok gue males ya?" monolog Geo memandang kedua temannya.
"Baru juga Opsek udah males lo! Gimana ntar kalo udah masuk normal?" cibir Andra memandang Geo dengan tatapan malas.
Cowok itu menyengir kuda, seakan tak memiliki beban hidup.
"Udah lah ayo! Ntar kena semprot tu senior males banget gue!"
***
"Hai, Ara kok bisa disini?" pasal nya sekarang sedang jam nya daftar ulang. Vanca saja keluar karena ingin membalas pesan Regaf.
Ara tersenyum singkat. "Ara dari toilet, Ara betmen dari kemarin."
"Betmen?" beo Vanca tak paham.
"Berak mencret kak!" kata Ara kesal sebab Vanca sama sekali tidak paham.
"Siapa suruh makan pedes, gak pedes gak makan," omel Vanca pada iparnya itu.
Lagi-lagi Ara tersenyum. Namun senyum kali ini senyum terpaksa. "Sepi tau kak gak ada kakak di rumah. Ara tuh kadang bingung ngapain dirumah gak ada kakak!" kata Ara mengeluarkan isi hati nya.
"Nanti kalo ada waktu kakak main dehh," jawab Vanca seraya terkekeh pelan. Namun tiba-tiba Vanca merasa perut nya mulas, padahal ia tidak makan yang bebau pedas. Dan rasa nya Vanca ingin muntah.
Vanca menutup mulutnya dengan tangan kanan, sedangkan satu tangan nya memegang pinggul nya. Ara yang tadi nya bingung dengan Vanca seketika panik saat Vanca seakan ingin muntah.
"Kak! Kakak gak papa?!" kata Ara saking paniknya.
Vanca menggeleng. "Mungkin efek habis mens Ra," ujar Vanca seraya tersenyum, bahwa ia tidak apa-apa.
"Yakin? Mau Ara panggil kak Regaf?"
"Gak usah, Regaf kan lagi di kampus, lagian aku gak papa kok," kata Vanca.
"Yaudah deh kalo gitu kak, aku duluan ke kelas ya, daa!"
Vanca memperhatikan kepergian Ara, lalu ia teringat satu hal. "Gue lagi masa subur kan ya?" gumam Vanca seraya tersenyum penuh arti.
***
Pukul 11 siang di SMA Merpati.
"Van, lo balik sama siapa?"
"Gatau deh She, kayak nya pake taxi deh. Regaf juga gatau pulang jam berapa," sahut Vanca seraya mengemasi barang-barang nya.
"Bareng aja mau?" tawar Nesa.
"Gak usah Nes, gue pake taxi aja gak papa. Gue juga masih harus piket dulu," tolak Vanca secara halus. Ia hanya tak ingin merepotkan orang lain.
"Muka lo kok keliatan pucet gitu sih Van, lo sakit?" tanya Risa khawatir. Terlihat jelas wajah pucat milik Vanca.
"Masa sih? Ah perasaan lo aja kali. Gue kan gak make up dari rumah, gue gak papa kalii," kata Vanca seraya tersenyum, yang berarti diri nya tidak apa-apa.
"Beneran?" tanya Sheryl dengan tatapan selidik.
"Iyaaa, paling masuk angin aja," kata Vanca lagi.
"Yaudah deh, kita duluan ya Van. Lo hati-hati ntar balik nyaa, kalau butuh apa-apa kabarin kita aja oke!"
"Iya Nesaaaa," kata Vanca yang jengah dengan tingkah teman yang super protektif terhadap dirinya. Lalu lepas itu ketiga teman nya pamit dari kelas, dan sisa lah dirinya.
Ia melirik jam dinding menunjukkan pukul sebelas lewat dua lima. Gadis itu bergerak mengambil penyapu yang berada di pojok belakang kelas. Ia ingin cepat menyelesaikan tugas ini karena ia merasa pusing.
Hingga piket nya selesai, Vanca kembali menaruh penyapu dipojokan kelas.
__ADS_1
"Van! Duluan ya!" ujar salah satu teman piket Vanca. Cewek itu membalas hanya dengan anggukan dan acungan jempol.
Vanca mengambil tasnya berniat akan pulang, namun nyeri di perut nya terasa amat sakit. "Duh, padahal gue udah kelar mens, tapi kok nyeri banget ya?" monolog Vanca.
Vanca pun memilih duduk di salah satu kursi. Ia melipat satu tangan nya lalu menimpa kepala diatas lipatan tangan. Sementara satu tangan lagi ia gunakan untuk memegangi perutnya yang terasa nyeri.
Hingga tanpa sadar Vanca tertidur pulas dengan posisi yang sama.
***
Regaf sudah sampai di sekolah Vanca, atau juga mantan sekolah nya. Ia sampai pada jam 11.20 namun tak ada tanda-tanda Vanca menunggu nya. Bahkan ia sudah menunggu hingga sekarang pukul 11.45 Vanca pun tidak kunjung keluar. Ia sudah beberapa kali mengirim chat namun hanya centang satu.
Hingga akhirnya Regaf menghampiri satpam yang menjaga gerbang sekolah berniat akan bertanya. "Permisi pak," kata Regaf dengan sopan.
"Eh, den Regaf? Ngapain disini den? Bukannya udah lulus ya?" kata satpam itu yang sudah berumur.
"Ehm gini pak, saya nunggu pacar saya. Vanca, bapak tau?"
Satpam tersebut seperti berfikir. "Oh! Iya saya tau den, itu pacar nya den Regaf?"
"Iya pak. Jadi saya mau tanya, bapak liat pacar saya keluar?"
"Aduh, gak tuh den. Dari tadi saya tidak melihat non Vanca keluar gerbang," kata nya.
"Saya boleh masuk dulu pak? Takut masih didalem ada apa-apa," kata Regaf meminta izin, karena memang gerbang sudah akan ditutup.
"Oh iya silahkan, tapi jangan lama-lama ya den," kata satpam itu mempersilahkan. Langsung saja Regaf masuk dan menuju kelas Vanca. Ia tahu karna sebelumnya Vanca memberi tahu nya.
"Dua belas Ips dua," gumam Regaf seraya berjalan membaca satu persatu label kelas yang ia lewati. Ia masih mencari kelas Vanca karena kelas diacak dan tidak menggunakan kelas angkatan dirinya.
Saat Regaf menemukan kelas Vanca, buru-buru ia memasuki kelas tersebut. Dan benar saja ia menemukan Vanca yang tertidur di sana. Regaf memelankan langkahnya mendekati Vanca.
"Vanca.." panggil Regaf dengan lembut.
"Hei, sayang," bisik Regaf lagi.
Karena tak mendapat respon, dan Vanca tak kunjung bangun, ia pun langsung menggendong Vanca ala bridal style. Buru-buru ia keluar dari kelas Vanca, namun sebelumnya ia sudah memperbaiki posisi Vanca.
Saat berada di lorong kelas sepuluh, Vanca merasa terusik dan akhirnya terbangun. Ia merasa sedang terbang, saat ia membuka mata ia melihat atap sekolah yang berjalan. Saat ia membuka mata sempurna, baru lah ia menyadari Regaf tengah menggendong nya.
"Mas Regaf?" ucap Vanca sedikit kaget karna tiba-tiba ada Regaf dan menggendong nya.
"Kenapa? Tidur aja, kalo udah sampe rumah aku bangunin," ucap Regaf dengan suara berat nya. Vanca merasa tak enak karena Regaf pasti kesulitan menggendong nya. "Turunin aja Mas, aku bisa jalan sendiri kok."
"Tidur, gak usah banyak omong."
Dalam diam Vanca senang, karena Regaf sangat perhatian terhadap dirinya. Ia pun memeluk leher Regaf dan menenggelamkan wajahnya di dada Regaf.
Saat di gerbang, Regaf melihat satpam itu masih di gerbang. "Makasih ya pak!"
"Iya, itu non Vanca kenapa den?"
"Gak papa pak, lagi manja aja sama saya," kata Regaf dengan tidak tahu malunya. Vanca sendiri jadi salah tingkah, antara malu dan baper.
Satpam tersebut tertawa renyah. "Ada-ada saja anak muda jaman sekarang. Semoga langgeng ya den non!"
"Pasti pak!" sahut Regaf saat sudah menjauh dari gerbang. Regaf memarkir mobil di luar pekarangan sekolah, saat tiba dimobil Regaf langsung membuka pintu dengan ia masih menggendong Vanca. Saat pintunya terbuka, Regaf menaruh Vanca di kursi samping kemudi dengan perlahan dan hati-hati, bagaikan berlian yang dijaga agar tidak lecet.
"Makasih," ucap Vanca dengan senyum manis nya. Regaf memutari mobil lalu duduk di kursi kemudi. Regaf pun langsung menancap pedal gas dengan kecepatan max hingga sampai dirumah.
***
Malamnya, sehabis makan malam Regaf dan Vanca memilih menonton tv, namun sekarang terbalik. Tv yang menonton mereka. Vanca tak henti-hentinya mengucap kata 'sakit' pada Regaf. Ia terus mengeluh, hingga posisi nya saat ini memeluk pinggang Regaf dan ia duduk di pangkuan Regaf. Menyandarkan kepalanya di dada bidang suaminya itu.
"Mas, sakit.." cicit Vanca. Lagi.
"Iya tau," jawab Regaf.
Vanca mendongak memandang wajah Regaf. "Tau apa?"
"Tau kalo perut nya sakit," jawab Regaf dengan tangan yang terus mengusap surai istrinya.
"Biasanya kalo habis mens gak gini," kata Vanca kembali memeluk pinggang Regaf dengan erat. Regaf tersenyum, ia sangat menyukai Vanca saat sedang manja padanya.
Lalu Vanca teringat satu pertanyaan dikepala nya. Namun bimbang antara tanya atau tidak. Ia malu ingin bertanya, namun jika tidak ia akan penasaran.
"Mas," panggil nya. Regaf menjawab hanya dengan deheman singkat dengan mata yang masih fokus pada tv.
"Mas mau.."
"Mau apa?" tanya Regaf saat Vanca tak kunjung melanjutkan ucapannya.
"Mau.. punya Regaf junior?" tanya Vanca dengan suara kecil, nyaris tak terdengar. Namun karena posisi mereka sangat dekat, Regaf dapat mendengar semua nya dengan jelas.
Regaf tersenyum simpul. "Siapa yang gak mau si?" jawab Regaf terkekeh kecil. Vanca mengangguk singkat, lalu kembali menyadarkan diri pada dada suaminya. Ia sedang dimasa subur, ia ingin melakukan nya sedang Regaf, namun ia sendiri bingung bagaimana.
"Bangun dulu, Mas mau ke dapur," kata Regaf lalu Vanca berpindah duduk di sofa. Vanca memperhatikan Regaf yang pergi ke dapur. "Gimana gue ngomong nya? Gue lagi masa subur, Regaf mau gak ya?" ucap Vanca pada dirinya memandang tv dihadapan nya.
Tanpa ia sadari Regaf berdiri di belakang nya dan mendengarkan semua ucapannya. Regaf menarik ujung bibirnya membentuk seulas senyum tipis. Ia pun menghampiri Vanca dan duduk disebelah istrinya.
"Ayo ke kamar!" ajak Regaf.
"Ngapain?"
"Olahraga," jawab Regaf membuat Vanca bertanya tanya.
"Tumben, biasanya juga kalo mau olahraga Mas di ruang gym, ini kok di kamar?" beo Vanca yang masi tak konek.
"Olahraga malam sayang," ucap Regaf penuh arti. Saat itu juga Vanca mengerti maksud Regaf.
"Mas—"
"Aku denger tadi kamu ngomong apa, ayo! Kita buat Regaf junior," tanpa persetujuan dari sang empu, Regaf mengendong Vanca begitu saja, membawa nya ke kamar. Dalam diam Vanca tersenyum dan mengangguk, Regaf melihat itu membuat nya semakin mempercepat langkah kakinya. Malam ini mereka melewati malam yang panas untuk kedua kalinya.
***
HALO HALOO! GIMANA KABARNYA!!
FAVORIT KAN 'REGAF ARGANTARA' SUPAYA KAMU GAK KETINGGALAN SETIAP UPDATE - AN DARI CERITA INI!!
JANGAN LUPA FOLLOW AUTHOR JUGA, KLIK ICON AKUN AUTHOR, LALU FOLLOW YA GENGG!!
BAKAL ADA REGAF JUNIOR GAK YA? HIHI
TUNGGUIN TERUS CERITA INI, AWAS AJA KALO GAK LIKE, PARAH SI BACA TAPI GAK LIKE.
2800 KATA LOH, YA KALI GAK LIKE. SEE U NEXT CHAPTER BABAYY 👋🏻👋🏻🙌🏻
__ADS_1