
***
"Hai Mi, Pi, kak!" sapa Ara saat sudah berada di meja makan. Gisel tersenyum ke arah Ara lalu berkata "Ara.. kaya nya lagi seneng banget, ada apa nih?" tanya Gisel dengan menaikkan sebelah alisnya.
Ara tersenyum kembali, "engga kok kak.. biasa aja,"
Gisel mengangguk saja mengiyakan. Wenda ambil bicara "Ara.. kapan kapan kalo pulang telat kamu kabarin mami ya nak," nasehat mami Wenda.
"Ara pulang telat?" Papi alex bertanya, ia tidak tau karena ia baru saja pulang berkerja. Wenda memberi piring yang berisi nasi untuk sang suami. Ia memberi lauk pauk juga, disela perkerjaan nya ia menjawab "Ara pulang telat karena hujan pi,"
"Maaf ya Mi, hp Ara tadi lowbet, jadi ga bisa kabarin deh," kata Ara memberi tahu. Wenda mengiyakan, lalu di mulai makan malam di keluarga itu. Tanpa Regaf dan Vanca.
***
Regaf duduk di sofa kamar sambil memainkan ponsel nya, melihat lihat beranda WhatsApp milik nya. Ada notifikasi pesan dari teman teman nya.
...R.G.A...
Geo
woi! Gaf Dra!
Andra
?
Geo
Jalan gak? Bosen nih gue di kamar mulu
Andra
@Regaf
Geo
@Regaf
^^^Anda^^^
^^^Kmn?^^^
Andra
@Geo
Geo
Dra, keyboard lo rusak pa gmn?
Andra
ga
Geo
@Regaf mang jajang aja lah
^^^^^^Anda^^^^^^
^^^@Andra gmn?^^^
Andra
Blh
Geo
otw
Andra
y.
^^^Anda^^^
^^^gue nyusl^^^
Andra
__ADS_1
emg ny Lo mau kmn? @Regaf
Geo
@Andra pas sama Regaf aja pnjg ktikan lo
Andra
@Geo bcd.
^^^Anda^^^
^^^gue ad urusn bntr^^^
Geo
mau bucin dlu dia mah ke Vanca tau gue @Regaf
Andra
Regaf udh sah jdi oke oke aja, iri lo? @Geo
Geo
tmbn chat lo pnjg Dra? kesambet lo? @Andra
Andra
@Geo g.
Geo
sorry gue ga iri, kalo mau jg bisa gue @Andra
Andra
y.
Regaf menutup ponsel nya setelah pesan terakhir itu. Decitan suara pintu mengalihkan atensi nya, Vanca keluar dengan baju kebesaran milik Regaf. Vanca memakai celana hotpants dan baju lengan pendek warna putih polos milik Regaf.
Celana Vanca tertutup oleh baju itu, jadi lah Vanca hanya terlihat menggunakan baju. Paha polos nya terekspos jelas di depan Regaf. Sungguh menguji iman.
Vanca menatap Regaf yang turut menatap nya. "Baju nya salah ya?" tanya Vanca hati hati. Regaf menggeleng, lalu ia menyuruh Vanca duduk di sebelah nya. Tanpa banyak bicara Vanca menurut untuk duduk di sebelah nya.
"Harum banget," Regaf mengendus leher jenjang Vanca, aroma nya sangat membuat Regaf terbuai sejenak. Setelah sadar Regaf menjauhkan wajahnya dari leher Vanca.
"Kan habis mandi,"
"Aku mau keluar, kamu di rumah sendiri gapapa?" tanya Regaf menatap Vanca. Tangan nya memainkan helaian rambut milik Vanca menunggu jawaban dari sang istri.
Vanca seperti meminang nimang perkataan Regaf barusan. Ia berfikir sebelum menjawab pertanyaan Regaf tadi. "Gimana?" Tanya Regaf kembali.
"Sekarang ya?"
Regaf mengangguk.
"Mau kemana?"
"Main, bareng Geo sama Andra kok," Vanca tak ingin Regaf pergi, bukan Vanca egois atau apapun, ia hanya tidak ingin ditinggal sendiri. Kalau saja ia masih tinggal bersama Mami dan Papi mungkin Vanca mengizinkan.
"Kalau aku bilang jangan pergi?"
Regaf tersenyum, ia berhenti memainkan rambut Vanca, lalu menatap mata Vanca. "Ya gapapa, aku ga masalah,"
"Lagian, kalau pun kamu ga izinin aku, itu juga hak kamu sebagai istri aku." lanjut Regaf. Vanca tersipu akan ucapan Regaf, pipi nya memerah secara tiba tiba. Entah lah setiap ucapan Regaf mampu membuat nya tak berkutik.
"Kamu ga mau aku tinggal ya?" kata Regaf dengan nada menyebalkan di telinga Vanca. Pipi Vanca semakin memerah jadi nya, ia salah tingkah sendiri.
Tangan Vanca terangkat memukul dada suami nya, "Apaansi! Enggak tuh!" elak Vanca. Regaf mengaduh kesakitan, "Sakit Ca..," ringis Regaf.
"Sakit banget ya?" kata Vanca khawatir. Regaf menahan tawa jadi nya, lalu ia menggeleng. "Enggak kok, bercanda,"
"Ga lucu!"
"Jangan marah dong.."
Vanca menggeleng.
"Jadi kamu ga izinin aku main nih?" tanya Regaf mengulangi.
__ADS_1
Vanca menggeleng lagi.
"Yaudah, aku kabarin temen temen aku dulu ya," Regaf mengambil ponsel nya yang tadi ia taruh di meja. Ia mengchat Andra kalau ia tidak bisa datang.
"Udah." Kata Regaf menyimpan ponsel nya kembali.
"Oh iya! Kamu belum jelasin kenapa kamu ngebut ngebut dijalan tadi," kata Vanca heboh sendiri. Ia baru menyadari hal itu.
Regaf pun lupa, ia meringis pelan menggaruk tengkuknya yang tak gatal. "Gapapa.. aku cuma iseng,"
"Iseng? Kamu bilang iseng? Gajelas banget tau ga!"
"Maaf.. aku cuma kesel sama kamu, ngapain juga ngomong sama si brengsek itu," kata Regaf dengan nada yang berbeda.
"Brengsek?" beo Vanca. "Siapa yang kamu maksud?"
"Siapa lagi? Ya orang yang sama kamu di lorong tadi. Kalau aja ga ada aku kamu pasti keasikan ngobrol sama dia,"
"Astaga.. Kenzie? Kenapa bilang dia brengsek? dia orang nya baik tau Gaf.."
"Baik dari mana nya Vanca.. pokok nya aku gamau kamu deket sama dia lagi, dia itu songong banget orang nya," kata Regaf mengingat kejadian pagi tadi di toilet.
"Kamu aja yang ga kenal sama dia,"
"Kok jadi ngebelain dia?"
"Aku ga bela siapa pun,"
"Pokok nya aku ga mau kamu deket sama dia titik." final Regaf tak terbantahkan. Vanca hanya mengiyakan saja dari pada panjang jadi nya.
"Kamu belum makan kan?" tanya Vanca mengalihkan topik pembicaraan. Regaf menggeleng "Mau pesen makan?" tanya Regaf balik.
"Gimana kalau aku yang masakin kamu? Disini ada bahan makanan kan?"
"Ada kok, emang kamu bisa masak ?"
"Bisa dong, kamu gatau ya? Yaudah kamu mau makan apa?"
"Apa aja," Vanca tampak berfikir, lalu ia teringat makanan favorit nya. Ayam Mentega. Dan itu sangat simpel membuat nya.
"Aku mau masak ayam mentega, kamu mau ga?"
"Boleh," Regaf senang saat Vanca seperti ini. Ia berharap bisa selalu seperti ini bersama Vanca.
"Yaudah aku masak ke dapur dulu, kamu mau makan di sini atau di meja makan?"
"Nanti aku susul," kata Regaf.
"Yaudah deh, aku ke dapur dulu," Vanca pun berdiri lalu keluar dari kamar pergi ke dapur untuk memasak makan malam bersama suami nya.
***
"Bahan masakan nya ada di mana ya?" monolog Vanca saat berada di dapur. Pertama ia mengambil Appron untuk ia pakai.
Ia membuka kulkas dua pintu itu, disana tersedia banyak bahan masakan. Ada yang sudah jadi dan ada yang belum. Dan di pintu sebelah ada beberapa buah, makanan instan juga minuman.
Vanca mengambil sebelah potong ayam untuk ia cuci dan ia potong. Vanca melakukan semua nya dengan teliti. Tak ada satu pun yang Vanca lupakan.
Sementara Vanca memasak, Regaf masih berada di kamar. Ia menerawang kejadian beberapa tahun lalu. Flashback ketika ia menemukan anak perempuan yang di sandra di salah satu rumah tak dipakai.
Regaf selalu memikirkan nya, ia merasa dekat dengan anak itu, tapi siapa?
Regaf membuyar kan lamunan nya, ia turun ke bawah untuk melihat Vanca di dapur.
Saat melewati tangga, ia dapat melihat Vanca di dapur dari sini, Vanca seperti sangat sibuk dengan pekerjaan nya. Regaf tersenyum kecil melihat itu. Ia melanjutkan langkah nya menuju dapur.
Vanca sendiri sangat sibuk hingga tak menyadari ada Regaf di belakang nya saat ini. Regaf melihat gerak gerik Vanca dari belakang seraya menyadarkan tubuh nya di dinding. Regaf kembali mendekat, ia melingkarkan tangan besarnya di pinggang ramping itu. Dan meletakkan dagu nya di bahu Vanca.
"Eh," kaget Vanca, sebab tiba tiba saja ada tangan yang melingkar di pinggang nya. Vanca menoleh tepat di depan kepala Regaf.
"Regaf.." lirih Vanca.
"Hm,"
"Kok disini?" tanya Vanca kaku. Ia jadi susah bekerja jika Regaf seperti ini. "Gaboleh?" Regaf mencondongkan kepala nya menatap wajah Vanca lebih dekat.
"Bukan ga boleh.. aku jadi susah masak nya,"
"Masak aja, aku ga ganggu,"
__ADS_1
"Iya tapi dengan kamu meluk aku gini jadi susah gerak,"
"Yaudah," dengan berat hati Regaf melepas pelukan nya itu. Ia pun mengamati Vanca dari meja makan saja.