REGAF ARGANTARA

REGAF ARGANTARA
REGAF ~ 43


__ADS_3

Pagi pagi sekali Vanca sudah bangun. Ia terbangun karena sedikit pusing. Entah apa penyebabnya. Ia pun bersiap lebih awal.


Saat jam menunjukkan pukul 06.24 Vanca membangunkan Regaf yang masih pulas tertidur. Ia pun menghampiri Regaf untuk membangunkan sang suami.


Ia duduk di pinggiran ranjang, tangan nya terangkat untuk mengelus rambut tebal Regaf. Regaf mengeluh sebab tidur nya terusik. Namun mata nya tak kunjung terbuka.


Vanca tersenyum melihat Regaf yang pulas tertidur, dengan iseng Vanca menyentuh hidung Regaf lalu menghimpit nya sehingga Regaf susah bernafas. Regaf pun membuka mata nya lantaran susah bernafas.


Vanca terkekeh melihat muka bantal Regaf dan sedikit kesal. "Vanca.." Rengek Regaf kerena tidur nya terganggu.


"Bangun.. udah siang nanti telat sekolah nya," tutur Vanca dengan lembut. Vanca melanjutkan mengelus rambut tebal Regaf, menurut nya itu menyenangkan.


"Lima menit lagi Ca.." Vanca tersenyum geli mendengar tutur Regaf yang memanggil nama Ujung nya 'Ca'. Hanya Regaf yang memanggil nya seperti itu dan ini baru pertama kali.


"Udah siang, mandi gih aku siapin baju kamu," Vanca hendak berdiri namun tangan nya ditahan Regaf hingga ia terduduk kembali.


Vanca menatap Regaf bingung, Regaf yang paham arti pandangan Vanca pun malah tersenyum. Ia mengambil sebelah tangan Vanca lalu mencium nya. Setelah nya ia genggam tangan itu penuh kelembutan.


Vanca tersentak saat Regaf mengecup punggung tangan nya, "Elusin lagi," kata Regaf dengan manja nya. Vanca pun melakukan nya tanpa protes. Ia mengelus rambut tebal Regaf dengan pelan.


"Kapan mau bangun? Ini udah setengah tujuh," tutur Vanca. Regaf pun sontak bangun, menatap wajah cantik istri nya yang natural tanpa polesan apa pun.


Tanpa aba aba Regaf langsung mencium pipi kanan Vanca yang mampu membuat sang empu terkejut tentu nya. Regaf lalu mencibir ke kamar mandi menghindari amukan Vanca.


"Ih Regaf!" Teriak Vanca lalu detik berikutnya ia tertawa. Mengusap bekas kecupan Regaf tadi dan tersenyum. Entah rasa nya ada yang aneh di diri Regaf.


Vanca menggeleng, lalu beranjak akan menyiapkan baju milik Regaf.


***


"Pagi semua," sapa Vanca pada keluarga nya.


"Pagi sayang," sahut Wenda pada Vanca yang masih sibuk mengoles selai pada roti.


"Eh Ara! Kapan pulang?" Tanya Vanca saat melihat Ara di meja makan.


"Hai kak! Tadi pagi jam enam hhe," Ara menyahut dengan riang lalu melanjutkan makan nya.


Vanca menggangguk paham, lalu ia duduk di salah satu kursi sebelah Gisel. "Pagi Van!" Sapa Gisel dengan senyum manis nya.


"Pagi!" Sahut Vanca. Vanca pun memulai mengambil roti dan mengoles selai pada Roti nya. Sebenernya itu untuk Regaf.


"Vanca, Regaf mana?" Tanya Alex pada sang menantu. "Regaf masih mandi pah,"


Wenda menggelang pelan, "Anak itu, memang susah bangun, kamu yang sabar aja ya nak kalau ngebangunin nya," kata Wenda.


"Gapapa kok mi," Vanca tersenyum pada Wenda. Lalu atensi semua nya beralih pada Regaf yang baru saja turun lengkap dengan seragam nya.


"Pagi," sapa Regaf lalu duduk di samping Vanca.


"Nih," Vanca memberi roti tadi yang sudah ia oleskan selai pada Regaf. "Makasi sayang," bisik Regaf tepat di telinga Vanca.


Vanca tiba tiba kaku mendengar nya, pipi nya panas seketika. Ia mencoba biasa saja namun Regaf bisa menebak dari gerak gerik Vanca.


Ia pun terkekeh lalu memulai makan Roti nya, mata nya tertuju pada Ara adik nya. "Ra, kapan pulang?" Tanya Regaf sambil mengunyah roti nya.


"Tadi pagi kak, td mlm ketiduran jadi ya pulang pagi deh," jawab Ara dengan menatap sang kakak. Regaf hanya mengangguk pertanda paham.


"Kak Gisel makin cantik aja deh, udah lama ga ketemu kakak," kata Ara dengan tersenyum menatap kakak sepupu nya.


"Ara juga cantik kok, apa lagi kakak ipar kamu, cantik nya kelewatan," kata Gisel seraya melirik Vanca. Kedua nya pun tertawa.


"Yang nama nya cewe ya cantik, kalo cowo ya ganteng," sahut Regaf enteng, ya benar juga. "Ikut campur aja lo!" Kata Gisel sewot. Regaf tak mengindahkan ia hanya acuh.


"Sudah jangan ribut, selesai kan sarapan kalian!" Kata mami Wenda pada anak anak nya. Hingga hening terjadi lalu Wenda kembali membuka suara.


"Nak Vanca, Regaf kalian jadi akan pindah?" tanya Wenda pada kedua anak nya itu. Ara yang tak tau apa pun lantas menyela, "Pindah? Siapa mau pindah?" Tanya Ara tak paham.


"Vanca sama Regaf Ra," kata Gisel menjawab. Ara masih tak paham itu pun kembali bertanya "Kenapa pindah kak?"


"Ehmm.. Ara, kakak pindah bukan berarti kita ga ketemu lagi kan, nanti kakak mampir kok," Vanca menjelaskan.


"Jadi kak Vanca sama kak Regaf pindah?"

__ADS_1


Vanca mengangguk.


"Yaudah deh nanti Ara mampir sama kak Gisel, Mami dan Papi," kata Ara antusias. Vanca lantas tersenyum melihat nya. Ara dapat membawa aura positif untuk lainnya.


"Jadi nanti pakaian kalian akan mami yang urus, mami akan bantu bereskan, jadi kalian tinggal pindah aja nanti," tutur Wenda.


"Bener gapapa mi? Ga ngerepotin?" tanya Vanca tak enak. "Ya gapapa dong sayang, mami ga keberatan sama sekali," kata Wenda dengan senyum hangat.


"Iya Van! Lo tenang aja, ntar biar gue yang bantuin juga!" Gisel menyeletuk.


"Makasi ya Sel, mi,"


"Yasudah, kalian berangkat?"


"Iya Mi, pamit berangkat dulu ya Mi," Vanca menyalami satu persatu punggung tangan mertua nya. Sama hal nya dengan Regaf juga Ara.


"Kalian hati hati!" Pesan Alex pada anak juga menantu nya.


***


"Ara beneran ga mau bareng kakak?" tawar Vanca pada Ara saat mereka sudah berada di halaman rumah menunggu Regaf yang sedang mengambil motor.


"Engga deh kak, aku udah janji bareng temen nanti dia kesini kok," jelas Ara. Vanca mengangguk paham lalu Regaf datang dengan motor besar nya.


"Yaudah kakak duluan ya," pamit Vanca pada Ara.


"Hati hati kak!" Pesan Ara pada kedua nya, bertepatan saat Regaf keluar dari rumah datang seorang cowok dengan mobil putih nya.


"Hai kak!" Sapa Ara antusias saat yang ditunggu telah sampai. Dengan gemas cowok itu mengacak pucuk kepala Ara.


"Ih kak berantakan lagi nih rambut Ara!" Protes Ara dengan wajah lucu nya. Cowok itu terkekeh sebab menurut nya Ara gemas.


"Yaudah berangkat sekarang?" tawar cowok itu.


"Ayoo!!" Cowok itu kembali tertawa renyah karena Ara memang sangat lucu.


***


Dan kini Vanca dan Regaf telah sampai di halaman sekolah tepat nya di basement. Vanca turun lebih dulu lalu disusul Regaf.


Tangan Regaf terangkat untuk membenahi rambur Vanca yang menutupi wajah nya. "Udah cantik kok," celetuk Regaf.


"Pagi pagi udah gombal,"


"Serius,"


"VANCAAAA!!!" suara cempreng itu tak lain tak bukan ialah Sheryl. Regaf sempat kaget mendengar nya, namun ia merubah mimik wajah nya menjadi datar.


"Ih She, gausah teriak teriak juga, kuping gue masih berfungsi kok,"


"Hehe.. sorry Van," Sheryl bersama Risa dan Nisa berada di basement niat nya untuk menjemput Vanca tapi mereka tah tahu akan ada Regaf juga.


"Hai Gaf, gue pinjem Vanca nya dulu ya," Lalu tangan Vanca ditarik paksa oleh Sheryl meninggalkan Regaf disusul Risa dan Nisa.


"Woy Gaf!" atensi Regaf tertoleh pada Andra dan Geo. Kedua cowok itu baru sampai karena masih membawa tas di punggung nya.


"Kantin yuk," ajak Geo pada Regaf. Memang niat nya akan kekantin karena ia tak sempat sarapan di rumah.


Regaf hanya berdehem sebagai jawaban, itu sudah cukup untuk Geo dan Andra mengerti. Mereka pun berjalan beriringan menuju kantin sekolah.


***


"Pagi Van!" suara itu. Kenzie.


Kenzie baru saja datang, ia langsung menyapa Vanca.


"Pagi Ken," Balas Vanca dengan senyum ramah nya. Bukan caper, memang kebiasaan Vanca membalas seseorang dengan senyuman.


"Lo udah sarapan belum?" tanya Kenzie tanpa menghiraukan teman teman Vanca yang menatap nya. Vanca sedikit kikuk dan bingung menjawab nya. Ia menoleh pada teman teman nya yang turut menatap nya.


"Udah kok, kenapa Ken?" jawab Vanca berusaha biasa saja.


"Gue kira lo belum sarapan, kalo belum gue mau ajakin lo sarapan di kantin,"

__ADS_1


"Gue udah sarapan,"


"Yaudah deh, gue ke kantin dulu bye Van," Vanca dan teman teman nya menatap Kenzie yang baru saja keluar dari kelas.


"Van!" panggil Nisa sedikit berbisik.


"Iya?"


"Lo mikir ga si? Gelagat nya Kenzie itu aneh banget sama lo," kata Nisa dengan mata memicing.


"Aneh.. gimana?" tanya Vanca bingung.


"Bener kata Nisa, gue juga mikir nya gitu, Kenzie kaya mau pdkt - an sama lo," timpal Sheryl. Risa masih menyimak dengan pikiran sendiri.


"Menurut lo gimana Ris?" tanya Nisa pada Risa, atensi semua pun beralih pada nya. Risa masih berfikir lalu ia berkata, "ya, Kenzie lagi coba pdkt sama lo,"


"Lo harus jaga jarak sama Kenzie," lanjut Risa.


"Heem, bener kata Risa, kalau kata gue juga lo jangan terlalu baik sama Kenzie," Sheryl berkata.


"Kalian kenapa si? Kenzie itu kan anak baru.. jadi mungkin cuma mau temanan aja," Vanca beropini.


"Van, opini lo ga masuk akan loh. Pikir aja deh, anak di kelas ini banyak kenapa harus lo?" kata Nisa. Benar juga. Sheryl mengangguk pertanda setuju.


"Udah ah, ngapain mikirin itu, bentar lagi bel juga," kata Vanca mengalihkan pembicaraan. Ketiga temannya pun hanya menghela nafas pelan. Detik itu juga bel berbunyi.


***


"Gaf lo kelas ga?" tanya Geo saat mereka sedang di lorong. Regaf diam.


"Gaf!" panggil Geo sedikit kencang mampu membuat Regaf tersentak. Regaf memasang wajah kesal nya.


"Hehe.. sorry. Habis nya Lo gue tanya in malah diem,"


"Lo duluan aja, gue mau ke toilet," kata Regaf acuh.


"Masih pagi bro, emang Vanca ga kasih lo?" kata Geo ambigu. Andra menatap horror ke arah Geo.


"Otak lo!" Andra menendang betis Geo hingga sang empu meringis sakit.


"ANJ-- sakit bangsat!"


"Maka nya punya otak itu jangan yang kotor aja yang dipikiran lo," Regaf tak lagi menghiraukan ucapan Geo, ia langsung berjalan ke arah toilet berada.


Di tengah jalan menuju toilet, Regaf tak sengaja bertabrakan dengan siswa lain.


Dukk.


"Woy kalo jalan pake mata dong!" protes siswa itu yang bername tag 'Kenzie Pratama' .


"Jalan pake kaki bukan mata," desis Regaf dengan nada rendah. "Songong banget lo!" Kenzie murka.


"Lo anak baru, jadi jangan sok di sini," Kata Regaf masih dengan intonasi rendah. Kenzie tak terima dikatai begitu. Ia pun berancang akan memukul Regaf.


Belum saja ia memukul ada suara yang menghentikan nya. "Kalian ngapain disini? Apa kalian tidak dengar bel sekolah sudah berbunyi?" kata salah satu guru yang sudah berumur. Memakai kacamata, kepala licin dan penggaris di tangan nya.


"Saya baru mau ke kelas pak," Regaf pun beranjak ingin ke kelas. Tidak jadi ke toilet. Sampai kapan pun Regaf akan mengingat wajah itu.


***


Baca sampai habis ada sedikit informasi !!


Jadi gimana part ini?


Maaf yha.. kalau jarang update karena memang author sibuk nulis scenario nya.


Supaya alur nya nyambung dan mudah di pahami.


Oh iya Author mau info in kalau Author mau rilis cerita baru, jangan lupa mampir yaa!!


Untuk sekarang belum di rilis, karena masih author ketik, nanti kalau udah author up bakal di kabarin.


Thank you readers.. bantu dukung dengan like dan vote jangan lupa komentarnya.. biar author tau

__ADS_1


Dan.. mau scene Vanca hamil apa engga nih?? Jawab yhaa...


Oke segitu aja babay semua !!


__ADS_2