REGAF ARGANTARA

REGAF ARGANTARA
REGAF ~ 41


__ADS_3

...Happy Reading...


Kini kembali pada mereka. Keluarga besar Alexander. Mereka kini melaksanakan makan malam bersama, ada Papi, Mami, Vanca, Regaf, dan Gisel.


Tak ada perbincangan diantara mereka, hanya detingan sendok dan garpu yang beradu dengan piring diantara keheningan mereka. Hingga akhirnya Papi mengeluarkan suara nya.


"Gisel tadi pergi kemana?"


"Eum.. main sama temen Om"


"Ga percaya gue kalo temen" celetuk Regaf yang masih asyik makan. "Paansi lo! Orang temen gue kok" kata Gisel sewot.


"Jangan sewot gitu juga kali. Baper amat lo!" Gisel tak mengindahkan perkataan Regaf. Bodo amat pikir nya. "Oh ya!" kata Mami tiba tiba.


"Kenapa Mi?" tanya Regaf menatap wajah sang ibu. "Tadi mami mampir ke apotek, terus mama beli ini" Wenda menunjukan sebuah Testpack ditangan nya.


"Uhuk uhuk!" Gisel tiba tiba tersedak nasi, dengan cepat ia meminum air putih hingga tandas. Ia menatap Vanca lekat seolah berkata 'kode keras nih'


"Eumm..." Vanca menaruh alat makan nya lalu menatap satu persatu wajah mereka bergantian. "Mami.. buat apa beli itu?" tanya nya dengan polos.


"Vanca.. Mami beli ini buat kamu, siapa tau aja udah jadi, bisa dicoba kan?"


"Uhuk uhuk!" Giliran Regaf yang terbatuk. "Mami apaansi. Mi.. Regaf sama Vanca aja belum ke tahap itu.. Jadi ga ada guna nya coba test" kata Regaf mengimbuhkan.


"Siapa bilang suruh coba sekarang? Maksud mami itu kalau kalian sudah melakukan" alibi Mami.


"Yaudah mi.. sini testpack nya biar Vanca simpan aja" Dengan senang hati mami memberi kan nya, dan Vanca mengambil nya. Regaf menatap Vanca heran, untuk apa ia menyimpan benda itu?


"Untuk apa kamu simpan?" tanya Regaf pada Vanca.


"Buat jaga jaga"


"Jaga jaga gimana?"


"Ya buat percobaan nanti" jawaban yang diberikan Vanca membuat Regaf berfikir keras, namun ia menepis pikiran nya.


"Vanca aja ga keberatan kok" kata Mami.


"Sudah, selesaikan makan dulu baru ngobrol!" potong Papi.


***


"Mi Pi, Vanca mau ngomong!" ucap Vanca ketika sudah selesai makan. Diliriknya Regaf lalu kembali pada Mami dan Papi.


"Vanca mau pindah kerumah yang waktu itu Papi beliin"

__ADS_1


"Oh ya!"


"Iya Pi, Vanca pengen mandiri aja"


"Papi seterah kalian aja baik nya gimana"


"Kalau Mami?"


"Mami sama kaya Papi, memang nya kapan kalian akan pindah?"


"Secepatnya nya Mi"


"Yasudah pikirkan saja, mana baik untuk kalian" dukung Mami Wenda.


"Ga ada temen dong gue kalo lo pindah Van!" renggut Gisel. Vanca terkekeh pelan "Masih belum Sel.. Lagian kalo udah pindah nanti lo bisa kok main ke rumah gue" kata Vanca.


"Lo gimana sih Van! Gue kan ga mau jadi obat nyamuk diantara kalian nanti!"


"Yakali Sel.. engga lah.. biar gue ada temen nya juga kan" kata Vanca.


"Yaudah deh"


"Yasudah kalau begitu Mami dan Papi keatas duluan ya" ucap Mami. "Iya mi." sahut Vanca.


"Eh Van!" panggil Gisel. Kata nya "Ntar di sana lo coba sekali dulu sama Regaf, lo ga kasian ama Regaf?"


Saat tiba di sana Vanca langsung menatap Gisel dengan wajah bingung. "Van!"


"Sel gue..," Vanca bingung bagaimana mengungkapkan. "Gue...," Gisel masih setia mendengarkan tanpa memotong.


"Gue.. gue mau lakuin itu sama Regaf tapi.. entah lah gue ga yakin," kata Vanca dengan menggigit bibir bawah nya.


"Kenapa lo bisa ga yakin?" tanya Gisel pada Vanca. "Van.. lo pasti tau apa yang paling di ingin kan oleh seorang suami," Gisel menjeda ucapan nya.


"Anak Van. Gue yakin Regaf mau itu, dan kalau lo ga yakin, apa lo pernah tanya ini ke Regaf? Dia yakin atau enggak?" Vanca bungkam.


"Gue ngerti perasaan lo, kita sama sama perempuan, lo jalanin aja dulu Van.. hasil belakangan yang penting lo udah jalanin kewajiban lo," Vanca masih setia mendengarkan tanpa menyela apa pun.


"Pesan gue sih ya.. lo jangan stuck ke pikiran lo tentang yakin enggak nya. Yakin ga yakin lakuin aja, gue ga maksa lo.. cuma kasih tau lo aja," Gisel memandang Vanca dengan tatapan teduh.


"Sekarang kita masuk!" ajak Gisel. Mereka pun memasuki rumah kembali. Vanca memasuki rumah dengan pikiran yang melayang. Ucapan Gisel terngiang ngiang dia kepala nya.


'lo pasti tau apa yang paling diinginkan oleh seorang suami'


'anak Van'

__ADS_1


'lo jalanin aja dulu Van'


kata kata itu terus berputar di kepala Vanca. Hingga kepala nya sakit seperti ingin pecah saja.


"Gaf!" seru Gisel saat mereka sudah berada di meja makan. "Lo bawa Vanca ke kamar,"


"Vanca kenapa?" Regaf bertanya.


"Kepala nya sakit kata nya!" Celetuk Gisel asal. Padahal nyata nya tidak. Namun mungkin Vanca menyetujui itu.


"Gaf.. temenin ke kamar bisa?" kata Vanca seperti ragu di ucapan nya. "Ayo!" Regaf berdiri langsung berjalan menuju kamar bersama Vanca.


Gisel menatap mereka dengan gelengan kepala. "Gue kapan ya punya suami?" Gisel bergumam.


"Ah! Paansi lo Sel!" Gisel bermonolog sendiri dan berakhir marah pada diri sendiri.


***


"Van.. Gisel tadi ngomong apa?" Regaf ingin tahu. Karena ia dapat melihat raut wajah Vanca yang berubah ketika sehabis berbicara dengan Gisel.


"Gaf.. aku mau besok kita pindah!" kata Vanca tanpa mengalihkan pandangannya menghadap balkon.


"Secepat itu?" Heran Regaf. "Gisel ngomong apa tadi?" Seketika raut wajah Regaf berubah dingin.


"Vanca bilang!" Desak Regaf.


"Pasti Gisel ngomong aneh aneh kan, gausah dengerin apa kata dia!"


"Gaf dengerin aku.. aku ngerasa belum menjadi menantu dan istri yang baik buat Mami Papi dan kamu." Kata Vanca dengan kepala tertunduk dan tangan saling bertautan.


"Aku mau jalanin kewajiban aku sebagai istri kamu.. dan aku mau bikin Mami seneng," lanjut nya.


"Mami kaya nya pengen banget punya cucu..," Regaf mulai tahu arah pembicaraan Vanca pun berkata "Kamu mau bikin keturunan?" sela Regaf tepat sasaran. Vanca mendongak menatap Regaf yang duduk di samping nya.


"Kamu mau bikin keturunan kan? Sedangkan kamu aja belum siap aku tau itu," lanjut Regaf menatap Vanca.


"Gaf aku--"


"Aku gapapa Van! Aku tetep nunggu kamu sampai kapan pun itu," Vanca kembali menunduk, bahu nya lemas. Ia merasa tak berguna.


"Pokok nya aku mau pindah besok!"


"Yaudah itu terserah kamu, pulang sekolah besok kita pindah!" lalu Regaf beranjak dari duduk nya dan keluar kamar meninggalkan Vanca yang termenung menatap arah pintu.


"Ya tuhan.. tolong aku" Batin Vanca.

__ADS_1


***


__ADS_2