REGAF ARGANTARA

REGAF ARGANTARA
REGAF ~ 53


__ADS_3

"Vanca Regaf, kalian ga mau nginap aja? Udah malem juga," kata Mama Ratna pada kedua anak nya, setelah makan malam mereka kembali berkumpul di ruang tamu. Dan berbincang bincang ringan. Tanpa sadar pun pukul sudah malam, dan mengharuskan mereka kembali pulang.


"Kaya nya engga deh Ma, lain kali aja deh, besok juga sekolah," jawab Vanca.


"Yasudah gapapa, tapi lain kali kalian harus kesini dan nginap ya,"


"Iya ma pasti kok,"


"Cepet cepet amat, mau ngapain sih," ucap Caren jenaka menatap sang adik perempuan nya. Vanca yang ditanya seperti itu pun mendelik aneh, "lo pikir apaan?! ngeres mulu otak lo!" Jawab Vanca ngegas.


"Lah? Gue salah apa? Kan gue tanya mau ngapain, itu doang," jleb, Vanca salah mengira.


"Lo tuh yang pikiran nya kemana mana dek," lanjut Caren dengan tawa mengesalkan bagi Vanca.


"Sudah sudah, ribut terus kalian," lerai mama Ratna yang sudah geleng geleng melihat tingkah laku anak nya.


"Hati hati lo balik Gaf, adek gue tuh," timpal Caren pada Regaf.


"Aman bang!" Kata nya seraya mengacungkan jempol nya.


"Yaudah ma pa, Vanca sama Regaf pulang dulu ya," pamit Vanca pada kedua orang tua nya. "Kalian hati hati ya," peringat Papa Rhyon.


"Pasti pa,"


***


"Regaf," panggil Vanca saat mereka telah sampai di rumah mereka tepat pukul 21.46


"Apa sayang," sahut nya seraya membuka kaus kaki nya. Vanca mendekati Regaf yang tengah duduk di sofa kamar, Regaf melihat ke arah Vanca yang nampak bingung.


"Kamu kenapa?" Tanya Regaf lagi saat ia sudah selesai membuka kaus kaki nya.


"Tadi.."


Regaf masih menunggu Vanca berbicara. Namun Vanca tak kunjung mengungkapkan nya yang membuat Regaf gemas sendiri ," kenapa hm?" Kata nya lagi.


"Eh, ga jadi deh," kata Vanca sambil menyengir. Regaf menghela nafas nya pelan, "yaudah kamu tidur udah malam,"


"Belum ngantuk," jawab Vanca dengan mimik polos nya.


"Kalo ga mau tidur kamu mau ngapain?"


"Temenin aku sampe tidur,"


"Yaudah, baringan dulu aku mau ke kamar mandi,"


"Ikut," kata Vanca yang sontak membuat mimik Regaf drastis, Vanca yang tau Regaf sedang kesal pun kembali tersenyum dan berkata "Bercanda " diakhiri kekehan kecil.


Saat Regaf keluar dari kamar mandi, Regaf sudah berganti baju dan mencuci wajah nya, ia pun duduk di samping Vanca di ranjang.


"Tidur,"


"Kan belum ngantuk gimana sih," dumel Vanca.


"Tadi waktu kamu kerja kelompok gimana?"

__ADS_1


"Oh seru dong, rame juga, masa tuh ya Fanda itu suka di jailin sama Ken-" Vanca sadar dan berhenti melanjutkan ucapan nya.


Regaf menaikkan sebelah alisnya, "Ken?"


"Eh ga, ga jadi hhe,"


"Kebiasaan," kata Regaf dengan mencubit pelan hidung Vanca, "Ih Regaf sakit!"


"Masa gitu doang sakit,"


"Tau ah, mau tidur aja!" Vanca bergerak untuk mencari posisi yang nyaman dengan memunggumi Regaf, lalu menutupi kepala nya dengan selimut.


"Ngambek," gumam Regaf yang hanya didengar oleh diri nya sendiri. Regaf pun mengikuti Vanca untuk tidur, sebelum itu ia membuka selimut Vanca yang sampai di kepala nya untuk memastikan bahwa Vanca sudah tidur apa belum.


"Udah tidur ternyata, good night cantik," lalu Regaf mematikan lampu kamar dan hanya tersisa lampu malam yang tersedia di kanan dan kiri ranjang mereka.


***


Pukul 00.22 Vanca terbangun dari tidur nya, ia melihat ke arah samping dimana Regaf tidur, ia lihat Regaf pulas sekali tidur nya.


Ia terbangun sebab perut nya yang tiba tiba terasa sakit, pasti akibat efek dari datang bulan nya. Vanca ingin membangun kan Regaf untuk meminta nya mengambilkan air hangat, tapi ia tak tega melihat Regaf yang sangat pulas dalam tidur nya.


Vanca pun mencoba untuk bangun dan ke dapur untuk mengambil kompressan air hangat dengan tangan memegang perut nya.


"Ashh.. ya ampun sakit banget rasa nya.." rintihan demi rintihan keluar dari mulut Vanca, saat sampai di depan pintu ia pun segera keluar dari pintu tak lupa untuk menutup nya kembali.


Vanca mencoba untuk menuruni tangga, dari anak tangga ke anak tangga lainnya, yang pasti nya dengan tangan memegang pinggiran tangga, dan satu lagi memegang perut nya.


"Air hangat mana lagi.." Vanca mencoba mencari air hangat itu di dalam termos tapi ia tak menemukan air hangat yang ternyata habis.


Terpaksa Vanca harus merebus air dulu, dengan usaha Vanca mencoba merebus air padahal perut nya terasa ditusuk tusuk.


Saking tak kuat menahan sakit, Vanca jongkok sambil memegangi perut nya yang terasa keram.


"Sshht.." rintih Vanca kesakitan.


Vanca kembali berdiri dengan usaha nya, dan mengusap mata nya yang tiba tiba keluar air mata. "Kenapa sih, setiap dateng selalu sakit gini!" maki Vanca kesal.


Sekarang antara sakit dan kesal, tapi juga rasa nya ingin menangis, Vanca benci saat seperti ini.


"Vanca!"


Vanca menoleh ke sumber suara, ternyata Regaf yang berada di belakang nya. "Regaf.." gumam Vanca.


"Kamu ngapain disini?" Regaf melihat adanya air di dalam panci dan Vanca yang memegangi perutnya.


"Kamu kenapa? Sakit?" Regaf mencoba bertanya tapi tak ada jawaban yang keluar dari bibir Vanca, Regaf pun menempel kan punggung tangan nya di dahi Vanca, tapi tidak panas.


"Ga panas.." gumam Regaf.


"Regaf.. perut aku..," ucap Vanca dengan lirih. Dengan sigap Regaf mengendong Vanca ala bridal style menuju kamar mereka.


"Regaf sakit..," rintih Vanca terus menerus, Regaf jadi tak tega saat melihat Vanca seperti ini.


Regaf meletakan Vanca di atas ranjang dengan perlahan, Vanca sendiri masih manahan rasa sakit nya.

__ADS_1


"Sakit banget hm?" Tanya khawatir Regaf. Vanca menggangguk pelan ,"mungkin ini efek datang bulan aku..," kata Vanca melirih.


"Kamu tadi mau ngapain di dapur sendiri?"


"Aku tadi mau bikin air hangat buat kompres, biasa nya kalo sakit gini aku kompres bisa mendingan," jawab Vanca parau, entah perasaannya atau apa tapi rasa nya Vanca ingin menangis saja.


"Tunggu disini, biar aku bikinin air hangat,"


"Air hangat nya taruh ke botol ya, biar gampang kompres nya," ucap Vanca. Regaf hanya mengangguk sebagai jawaban, dengan cepat Regaf keluar kamar untuk membuat kompres untuk sang istri.


Setelah tiga menit kemudian, Regaf kembali dengan tangan yang memegang botol berukuran sedang yang berisi air hangat untuk Vanca.


"Ini air nya," Regaf memberikan botol itu kepada Vanca, dengan senang hati Vanca menerima botol itu. Vanca sedikit menyandarkan tubuh nya ke dasbor ranjang, agar lebih mudah untuk mengkompreskan nya.


"Aku bantu, maaf" Regaf memegang botol itu, lalu tangan nya mengangkat ke atas baju yabg dikenakan Vanca.


Regaf langsung saja mengompresi perut Vanca dengan botol yang berisikan air hangat itu. Sesekali Vanca meringis yang membuat Regaf ikut meringis karenanya.


"Sakit?" tanya Regaf memastikan. "Sedikit.. udah mendingan," jawab Vanca.


"Kenapa kamu gak bangunin aku aja? Kenapa nekat banget ke dapur sendiri sedangkan perut kamu sakit gini?"


"Aku ga tega bangunin kamu, aku liat kamu pulas tidurnya, pasti kamu cape kan,"


"Vanca.. kalau ada apa apa sama kamu gimana? Lain kali kalau butuh sesuatu, bilang ke aku, jangan kaya gini aku khawatir," ucap Regaf dengan tatapan sendu, Vanca melihat tatapan Regaf yang seperti sangat khawatir terhadap diri nya.


"Maaf.." ucap Vanca menunduk. Regaf menghela nafas panjang, lalu kembali menutup baju Vanca yang tadi nya tersingkap.


"Yaudah kamu tidur lagi aja ya," kata Regaf sangat perhatian.


Vanca memerhatikan Regaf yang mulai dari menutup baju nya, sampai menaruh botol itu di nakas sebelah ranjang.


"Kamu kenapa bangun?"


"Aku tadi denger kamu keluar, jadi aku kebangun,"


Vanca menggangguk pelan, lalu kembali menatap Regaf dan berkata ,"maaf.." cicit nya.


"Gapapa, tapi jangan diulangi. Sekarang tidur," kata Regaf pada Vanca. Dengan samar Vanca mengangguk.


"Yaudah sekarang kamu tidur lagi aja," suruh Regaf.


"Biasa nya kalau aku lagi sakit gini mama peluk aku sampai aku tidur," cicit Vanca lagi. Regaf pun mengerti dengan apa yang dikatakan oleh Vanca.


Regaf langsung berbaring disamping Vanca dan mendekap sang istri, menaruh kepala Vanca di dada nya. Vanca merasa nyaman di posisi ini, ia dapat mencium jelas wangi maskulin dari Regaf.


Sangat menenangkan.


"Tidur ya..," Regaf mengusap punggung Vanca agar Vanca cepat tertidur, juga mengusap surai hitam nya dengan lembut.


Tak lama terdengar dengkuran halus yang terdengar, yang berarti Vanca telah tertidur. Regaf melihat wajah sang istri yang sangat terlelap.


Regaf tersenyum melihat nya, lalu mengecup pucuk kepala Vanca, "selamat tidur..," bisik nya tepat di samping telinga Vanca.


****

__ADS_1


OKE TBC.


LIKE : AUTHOR


__ADS_2