
Sepulang dari kampus, Regaf, Geo dan Andra mampir ke SMA Merpati. Mantan SMA mereka dulunya. Mereka dapat pulang awal dari kampus karena memang jadwal mereka hanya hingga siang. Tujuan mereka adalah hanya ingin menyapa para guru, dan melihat kondisi sekolah saat ini.
"Gila gila! Ini sekolah gue liatin banyak perubahan aja." Geo berdecak kagum memandang sekolah ini dari luar.
"Kita keluar dari sini, ni sekolah makin glow up." Ujar Regaf yang disetujui oleh Geo dan Andra. Keduanya tanpa pikir panjang langsung memilih masuk kedalam.
Karena saat ini tengah kondisi jam pelajaran, jadi lah keadaan koridor sangat kosong. Dengan leluasa mereka berjalan di setiap koridor. Tiba-tiba dari arah yang berlawanan, mereka melihat guru yang selalu menghukum mereka ketika bolos atau berulah.
"Halo bu!" Sapa Geo ramah, diikuti Regaf dan Andra. Bu Rika atau guru Bk disekolah ini menatap heran ketiga mahasiswa dihadapan nya.
"Kalian..."
"Masa ibu lupa? Kami yang suka ibu hukum waktu masi disekolah ini bu," ujar Geo menatap bu Rika yang sudah berkepala tiga.
"Kamu Geo?"
"Nah itu ibu inget, terus ini Regaf sebelahnya Andra. Ingat kan bu?"
"Oh iya, saya ingat. Kalian ternyata, sekarang udah beda ya dari pada kemarin? Sudah rapi tidak berantakan lagi," Bu Rika menatap kagum mantan muridnya itu.
"Iya kita juga udah buang jauh-jauh sifaf semasa SMA bu, sekarang kondisinya udah beda dari yang dulu."
"Ibu gak nyangka bakal ketemu kalian lagi."
"Hehe, omong-omong ibu masih jadi guru Bk disini ya bu?"
"Masih Geo, tapi angkatan kali ini lebih mending dari pada angkatan kalian dulu. Gak senakal kalian pokok nya," ucap Bu Rika seraya tertawa pelan.
"Jelas dong Bu! Kita mah gak ada duanya!"
"Ibu apa gak mau pensiun aja bu? Gak cape apa ngurusin murid nakal mulu?" perkataan itu keluar dari mulut Regaf.
"Ya cape lah Regaf, cuma ini kan sudah pekerjaan ibu, jadi mau gak mau ibu harus jalani."
"Omong-omong kembali, kalian ada apa kemari?" lanjut Bu Rika bertanya.
"Kita mau mampir aja bu, sekalian lihat-lihat keadaan sekolah yang sekarang," sahut Regaf. Bu Rika mengangguk paham. "Begitu, yasudah lanjutkan tapi jangan membuat keributan ya, ibu tinggal dulu ada yang harus ibu urus."
"Iya bu," ucap mereka kompak saat bu Rika sudah berlalu dari mereka.
"Kantin?"
***
Tiba di kantin, ketiga nya memilih untuk duduk di salah satu meja panjang paling pojok belakang. Sudah kebiasaan mereka, memilih tempat yang jauh dari kebisingan walau tengah sepi.
"Eleh eleh, ini teh Den Regaf teu?" kata salah satu penjual di kantin tersebut, sebut saja Kang Dadang. Beliau cukup kenal ketiganya, tentu karena mereka most wanted di SMA Merpati.
"Iya Kang, mampir aja kesini dari kampus tadi," sahut Geo. Kang Dadang membawa nampan berisikan pesanan ketiga anak remaja ini.
"Makasih ya Kang," kata Regaf saat Kang Dadang kembali pada stan jualan nya.
Ketiga remaja disana kemudian fokus terhadap makanan mereka. Sampai terdengar bunyi bell istirahat terakhir di telinga mereka. Lima detik bell berakhir, kantin langsung diserbu oleh siswa-siswi disana. Tak menunggu waktu lama, kursi disana pun ludes tak tersisa.
Andra mendekus malas. Dari dulu, saat ia sekolah disini ia selalu kesal jika di satu ruangan dengan banyak orang. Maka nya, mereka selalu jarang di kantin.
"Buset! Rame nya ngalahin pasar malam!" decak Geo takjub.
Banyak suara bising dari kanan dan kiri mereka, terlebih suara yang meminta pesanan makanan. Itu sangat bising.
Mata Regaf berseliweran mencari seseorang. Sampai saat ini ia tidak melihat wanita-nya memasuki kantin. Namun tiba-tiba ada seorang gadis yang mendatangi meja mereka. "Hai, kak Regaf kan ya?" ucap siswi itu.
"Kenapa neng? Minta foto?" kata Geo memandang siswi itu dengan tatapan tengil. Regaf menatap malas siswi itu, dan Andra memilih mengabaikan.
Pasal nya siswi itu mengenakan pakaian yang ketat, dan rok yang pres dengan postur badannya. Otomatis, bentuk tubuh gadis itu terlihat jelas.
"Lo disini mau sekolah, apa mau jual diri?" ucap Regaf dingin dan menusuk. Siswi itu pun langsung kesal, namun tetap menjaga image nya.
"Kok lo ngomong gitu sih. Gue kesini baik-baik loh."
"To the point aja, lo kesini ngapain?"
"Gue mau foto sama lo bertiga."
"Foto aja noh sama tiang!" sahut Geo ngegas.
Regaf memandang siswi satu ini dengan tatapan remeh. "Sorry, lo bukan Vanca." Lalu Regaf mengalihkan pandangannya ke arah lain. Pertanda Regaf sudah tak ingin bicara lagi.
"Vanca siapa?" Kerut Siswi itu bingung.
"Pacar nya." Tukas Andra.
Dengan penuh kekesalan, gadis itu pergi begitu saja. Bukannya mendapat fotbar, tapi malah hinaan yang ia dapat.
Dan setelah itu, mata Regaf menangkap Vanca yang berada di pintu masuk kantin. Yang bersama teman-teman nya, seperti nya tidak mendapatkan kursi yang kosong.
Cowok itu pun mengeluarkan ponsel dari saku celananya, dan mengetikkan sesuatu disana.
...Vanca...
^^^Arah jam 12.^^^
Dari arah sana, terlihat Vanca yang menggenggam ponsel langsung membuka ponsel nya. Netra cewek itu langsung tertuju pada meja Regaf. Saat mata mereka bertemu, Regaf langsung mengkode melalui matanya menyuruh perempuan itu menghampiri nya.
Vanca pun sekalian mengajak para temannya disana. Nesa yang melihat Geo disana pun membulatkan matanya kaget. Duh, ada Geo lagi. Batin nya merana.
"Haii." Sapa Vanca ramah.
"Hai cewek-cewek geulis." Goda Geo yang mendapat lirikan tajam dari Nesa.
"Santai aja kali tu mata Nes," sahut Sheryl yang memperhatikan. Ia sangat gencar untuk menggoda temen nya yang satu ini.
"Duduk." Regaf menyuruh Vanca untuk duduk di sebelahnya.
"Vanca doang? Kita nggak?" Sheryl menunjuk Risa dan Nesa sekaligus, dengan tatapan melas.
"Duduk, tinggal duduk doang ribet banget."
Kini mereka duduk di meja panjang yang sama dan berhadapan.
__ADS_1
"Kok kalian bisa disini sih?" tanya Risa ketika selesai memesan. Sheryl mengangguk. "Iya, kalian habis ngapain?"
"Gak boleh?" celetuk Andra membuat Risa gelagapan. Bukan seperti itu maksud dirinya. "Ya boleh, cuma heran aja."
"Regaf kebelet kangen sama Vanca kata nya," cetus Geo yang langsung mendapatkan tatapan maut dari Regaf. Sementara cowok itu cengengesan ditempat.
"Cuma mampir." Jawab Regaf singkat.
Nesa sedari tadi melirik ke arah Geo terus menerus. Jujur saat ini ia tengah cemas. Tak biasanya ia seperti ini, sekarang seakan tak ada satu katapun yang bisa ia ucapkan.
Geo yang merasa diperhatikan lantas melirik ke arah Nesa, dan tatapan mereka pun bertemu. Hingga tak lama Nesa memutuskan pandangan itu.
"Ekhem!" Sheryl berdehem dengen keras, hingga meja sebelah pun turut melihat nya.
"Duh, Nes kok tenggorokan gue gatel ya? Gue minta tolong dong ambilin air gue di kelas."
"Loh, bukan nya lo pesen minum ya tadi?"
Sheryl langsung memberikan minuman nya pada Risa. "Siapa bilang? Itu punya Risa. Iya kan Ris?" Sheryl memberi tatapan memohon pada Risa. Dan diangguki oleh Risa.
"Yaudah bentar ya." Nesa pun beranjak dari duduk nya, ia berjalan keluar kantin.
Andra menyenggol lengan Geo, memberi tatapan mata menyuruh cowok itu untuk menyusul Nesa. Geo sempat bingung, namun melihat tatapan Regaf ia pun berakhir menurutinya.
Saat keduanya keluar, disinilah gibah dimulai.
"Eh, itu serius temen lo nembak temen gue?!" tanya Sheryl heboh sendiri. Risa pun mengangguk setuju.
"Beneran Mas?" Tanya Vanca yang turut kepo.
"Iya."
Satu kata yang membuat ketiga cewek disana menutup mulut dengan satu tangan. "Wow," ucap Sheryl speechless.
"Gila-gila!" Risa pun tak bisa berkata-kata.
"Itu dia. Gue udah ngomongin ini sama Andra dan Geo. Lo pada harus bantuin kita supaya temen lo nerima Geo." Tukas Regaf. Vanca lantas heran, tak terkecuali kedua temannya.
"Rencana?"
***
Setelah berdiskusi cukup lama, Risa dan Sheryl pun menyetujui untuk ikut kedalam rencana Regaf.
"Oh ya, kalau bisa lo bawa pacar lo Dra," kata Regaf membuat Andra menoleh cepat. "Pacar?"
"Cewek yang waktu itu."
Lantas Andra pun mengangguk. "Calon," koreksi Andra.
Lepas itu Geo dan Nesa sampai berdua ke kantin. Kondisi kantin sudah mulai sepi, dijam kedua ini waktu istirahat satu jam. Jadi mereka masih bisa berlama-lama.
"Tu muka kenapa si Nes. Masam banget." Celetuk Risa pada Nesa, saat gadis itu meletakkan botol minum Sheryl.
"Gue balik kelas duluan ya, gatau nih badan gue gak enak banget."
Mereka hanya menatap punggung Nesa yang perlahan menghilang dibalik dinding.
Lantas semua mata tertuju pada Geo. "Lo udah ngomong sama Nesa?"
Geo mengangguk.
"Lo gak apa-apain temen gue kan Ge?!" tanya Sheryl dengan tatapan selidik.
"Lepas gue ngomong kedia soal gue pindah ke Eropa, dia jadi gitu. Gue juga gak tega liatnya." Geo menghela napas panjang.
"Lo kasih pengertian aja, ini juga buat kebaikan kalian berdua," sahut Risa yang paham dengan kondisi saat ini.
Lalu terdengar bell masuk ditelinga mereka. Semua yang berada di kantin pun berbondong-bondong untuk kembali ke kelas mereka.
"Kita duluan ya. Pasti bisa, lo tenang aja. Percaya sama gue!" ucap Sheryl semangat.
"Percaya sama lo mah musyrik!" cetus Geo.
"Gak gitu juga maksud gue odeng!"
"Udah, ini balik kelas gak?" lerai Vanca pada keduanya. Sheryl pun berjalan keluar dari kantin bersama Risa. Dan Vanca, ia memandang Regaf sebentar. "Aku balik kelas dulu ya."
Regaf mengangguk, cowok itu turut bangkit dari duduknya. Tangannya terngangkat mengelus rambut Vanca yang tergerai. "Belajar yang bener ya, jangan kecapean juga." Regaf mendekatkan mulutnya pada telinga Vanca. "Ada anak aku soalnya," bisik Regaf lalu kembali menjauhkan kepalanya.
Vanca tersenyum mendengar nya. Ia pun mengangguk sebagai jawaban.
***
Beberapa saat yang lalu.
"Nesa!" Panggil Geo di tengah koridor yang sepi.
Nesa diam mematung tanpa berniat menoleh. Ia sangat mengenal suara itu, suara yang membuat nya tidak bisa tidur nyenyak semalaman.
Langkah Geo membawa cowok itu mendekat pada Nesa, hingga berada tepat dibelakang punggung gadis itu. "Nes," panggil Geo sekali lagi.
"Apa Ge?" Jawab Nesa tanpa menoleh.
"Gue disini, lo ngomong sama siapa disana?"
Nesa menghela napas pelan. "Ngomong aja Ge. Gue mau ke kelas ambilin Sheryl minum."
"Hadep sini."
"Gak mau."
"Nes.."
Nesa pun membalikkan badannya menatap Geo yang lebih tinggi darinya. Nesa yang memiliki tinggi badan 158 membuat Geo menunduk untuk bisa memandang wajahnya.
"Kenapa? Kalau lo mau nanya jawaban gue—"
"Bukan," Geo meletakkan jarinya di bibir Nesa agar cewek itu mingkem.
__ADS_1
"Gue bakal pindah ke Eropa besok."
"Apa?" gumam Nesa tak percaya. Air muka nya seketika berubah. "Lo bercanda?"
Geo menggeleng pelan. "Gue serius."
Nesa melangkah mundur. "Terus kenapa lo nembak gue kemarin?" Nesa memandang lurus ke depan dengan tatapan kosong.
Geo diam tidak bisa menjawab.
Nesa tertawa pelan. "Ternyata bener, lo tetep lo. Gak akan berubah, selalu jadiin perasaan orang sebagai mainan lo."
"Nes.." Geo melangkah maju, namun langkah nya terhenti saat Nesa kembali memundurkan tubuhnya.
"Silahkan. Pergi. Harus nya lo gak repot buat nembak gue kemarin Ge, jahat tau gak?" Nesa kembali melangkah mundur selangkah.
"Nes Gak—" Nesa mengangkat tanganya menyuruh diam. "Jawaban gue buat kemarin, nggak." Nesa menahan napas nya sejenak saat mengucapkan hal itu.
Geo mengusap wajah nya gusar lalu menghela napas berat. "Lo nolak gue?" Tanya Geo dengan nada lemah.
Nesa mengangkat kepala nya angkuh. "Kurang jelas?"
"Gue. Gak. Mau. Sama. Lo!" Nesa menekankan setiap kata-kata nya. Dalam hatinya Nesa manahan mati-matian sesak di dadanya.
Kini Geo yang melangkah mundur. Cowok itu mengangguk pelan. "Iya.. Gue ngerti."
"Gue boleh minta satu hal sebelum gue pergi?" Geo menatap Nesa yang tak ingin memandang nya. Sementara cewek itu diam menunggu ucapan Geo.
"Besok, dateng ke taman yang kemarin. Setidaknya, untuk terakhir kali gue liat lo." Pinta Geo yang tanpa cowok itu sadari telah mengiris hati kecil Nesa.
Belum juga gue rasain milikin lo Ge, tapi sakit nya udah lebih dulu gue rasain. Batin Nesa berkata.
***
Selama dikelas, Nesa lebih banyak diam. Ia pun terlihat tidak fokus mendengar penjelasan dari guru yang tengah mengajar. Bahkan sudah dua kali ditegur karna melamun.
Vanca yang memperhatikan Nesa, merasa prihatin. Ia kasian, tapi disisi lain ia senang melihat Nesa seperti itu. Tandanya, Nesa sudah memiliki rasa pada Geo, yang membuat gadis itu memikirkan nya.
Hingga jam terakhir selesai. Nesa masih bertahan tanpa bicara. Risa menghampiri Nesa yang masih duduk diam di kursinya. Suasana kelas sudah sepi tinggal mereka berempat dikelas.
"Nes, lo kepikiran sesuatu?" Risa memegang pundak Nesa membuat gadis itu menoleh kaget.
"Apa?" tanya Nesa yang tak mendengar perkataan Risa.
Risa beralih memandang kedua temannya bergantian. "Lo kenapa Nes?" tanya Vanca.
"Gak papa kok."
***
Sepulang sekolah, Nesa tak henti-hentinya memikirkan ucapan Geo saat di sekolah.
"Besok, dateng ke taman yang kemarin. Setidaknya, untuk terakhir kali gue liat lo."
Nesa menghela nafas untuk kesekian kalinya. Memejamkan mata berusaha mengusir pikiran tentang Geo. Sungguh, kepala nya pusing hanya karena nama itu.
Cewek itu memandang langit-langit kamar nya. Memikirkan kembali apa yang harus ia lakukan besok. Apakah ia harus datang atau justru tidak?
"Arghh!"
"Geo.., lo jahat banget sih. Udah buat gue kayak orang gila cuma karena mikirin lo!" kata Nesa mencak-mencak.
Ting!
Sebuah notifikasi ponsel membuat pandangan Nesa teralihkan. Tangan gadis itu dengan lentik membuka layat ponsel, yang tertera pesan dari grup pribadi mereka.
Vanca
Guys, lusa Geo bakal terbang ke Eropa, Regaf yang barusan bilang sama gue.
Kalau lo pada mau, bisa dateng ke sini buat ketemu Geo.
Vanca
📍Share in location.
Nesa lagi lagi menghela napas kasar membaca pesan itu. Lalu tak lama gadis itu berdecak pelan. "Gue harus apaaaa! Bundaaaa!!" teriak gadis itu kencang seraya mengacak-acak rambut nya.
"Nesa.. lo gak perlu baper oke! Lo harusnya gak suka sama orang kayak Geo! Iya, lo gak suka sama dia!" Nesa berucap untuk meyakinkan dirinya.
***
Begitu cepat rasanya waktu berjalan. Sekarang, Nesa berada dimana Geo menyuruh dirinya untuk datang. Yah, ditaman ketika Geo menyatakan perasaannya.
Namun ada yang aneh disini, ia tak melihat siapa pun. Sangat sepi, bahkan tak ada satu pengunjung pun. Padahal biasanya disaat weekend, taman ini akan begitu ramai. Namun saat ini kebalikan nya.
Nesa pun memilih untuk duduk di salah satu kursi. Harus nya teman-teman nya juga ada disini. Namun, kemana mereka?
Untuk menghilangkan rasa bosan nya, Nesa memainkan ponselnya. Membuka Instagram, dan melihat-lihat isi postingan orang-orang disana. Dan beberapa Story Instagram.
30 menit berjalan. Namun masih tak ada siapapun. Nesa yang kesal karena tak ada siapapun disini membanting ponselnya masuk ke dalam tas selempang nya.
"Ini kok gak ada siapa-siapa? Ini gue lagi dikibulin?" Nesa berdiri dari duduknya, dan berniat pulang. Namun dilangkah ke empat, ponselnya berdering menandakan panggilan masuk.
Dengan segera Nesa mengambil kembali ponselnya dan menarik ikon hijau disana.
"Halo?"
"NES! LO BURUAN KESINI! GEO KECELAKAAN!"
***
**Halo pada kangen gak sama cerita ini?
Like vote komen mu semangat ku**!
Ntr sore bkl u cep lagi, kalo gak ada kesibukan.
Spam komen for next!
__ADS_1