
"Dengerin ini." Geo menyodorkan ponsel dengan rekaman suara yang menyala. Telinga Vanca lantas mendengar semua percakapan yang ada di dalam sana.
Andra dan Geo hanya memperhatikan Vanca yang masih mendengar rekaman itu. Saat selesai, Vanca sama sekali tidak memberi reaksi. Dia hanya terdiam tanpa sepatah kata yang keluar dari bibir nya.
"Van. Lo oke kan? Lo-"
"Kalian dapet mana semua ini?" Vanca memotong ucapan Geo.
"Emmie."
"Emmie?" Beo Vanca yang masih tak mengerti. Andra mengangguk lalu menjelaskan semua nya pada Vanca tanpa dilebihkan dan dikurangi.
"Jadi.."
"Iya Van. Jelas, Regaf itu dijebak malam itu. Dan Joelly, dia udah pindah sekolah kabar nya." Lanjut Geo menyambung.
"Kalian kenal sama suara cewek yang ngobrol bareng Joelly itu nggak?" Tanya Vanca penasaran dengan suara itu. Geo dan Andra saling pandang satu sama lain. Lalu mereka serempak mengangguk.
"Siapa?"
"Kita gak tau pasti itu bener apa nggak, ini cuma perkiraan kita aja. Kami mikir nya itu suara Meisya. Cewek yang selama ini suka sama Regaf."
Vanca mengangguk samar. Ia tak tau siapa Meisya. Ia tak kenal. Tapi, ia hanya takut. Takut akan hal yang membuat Regaf berpaling dari nya, mengingat kondisi nya yang seperti sekarang.
"Yaudah kalau gitu. Thanks buat infonya. Gue jadi ngerti sekarang, emang gue yang salah paham. Andai semua nya bisa diulang, gue gak akan percaya gitu aja." Kata Vanca dengan suara parau nya. Vanca seperti sedang menahan isak tangis nya.
"Van, so okay. Gapapa gue paham, waktu itu juga kalian sama sama salah paham. Ga ada yang salah disini." Ucap Geo mencoba menenangkan diri Vanca.
"Semua udah takdir Van." Kata itu keluar dari bibir Andra yang sedari tadi memperhatikan Vanca.
Vanca mencoba menenangkan diri nya. Menghapus jejak air mata di sudut kanan mata nya. Mengatur nafas agar kembali normal. "Yaudah kalau gitu, gue pamit duluan ya."
"Sama siapa? Biar gue anterin aja." Tawar Geo pada Vanca, khawatir akan terjadi hal yang tidak-tidak nanti nya. Apa lagi ini sudah malam.
Vanca menggeleng, menolak. "Gapapa Ge, makasih. Gue bisa pesen taksi kok. Gue pamit." Setelah nya Vanca pergi dari mereka. Keluar dari Cafe itu, lalu menghilang dari pandangan mereka.
Geo juga Andra tau apa yang kini dirasakan oleh gadis itu. Mereka sangat mengerti, tapi mereka pun tak bisa berbuat lebih.
***
Jam menunjukkan pukul sepuluh malam. Tepat saat itu Vanca sampai di rumah. Saat ia masuk kedalam kamar nya, dilihat nya Regaf sudah terlelap. Vanca tersenyum kecil, mungkin ini adalah hal yang akan ia sukai dari Regaf. Melihat lelaki itu tengah tertidur. Sedang tidur pun paras tampan nya tidak berkurang sedikitpun.
Vanca melangkah mendekati ranjang. Ia masih melihat sisa piring dan obat-obatan di nakas. Ia pun membersihkan itu sebentar lalu setelah nya ia membersihkan diri.
Hingga kini pukul setengah sebelas malam. Vanca yang sudah mandi mendekat kembali ke ranjang mereka. Regaf masih pada posisi awal Vanca melihat nya. Vanca naik keatas ranjang, melihat Regaf seperti ini membuat mata nya seketika memanas.
"Apa yang harus aku lakuin supaya kamu inget sama aku Gaf?" Ucap Vnaca dengan lirih dan pelan.
"Maaf." Cicit Vanca pelan.
"Maaf udah bikin kamu salah paham. Tapi yang kamu liat di kelas aku itu ga sama dengan apa yang kamu pikirin Gaf."
"Andai waktu itu aku ga sama Kenzie di kelas. Pasti gabakal kayak gini kejadian nya, dan berujung kaya sekarang." Ucap Vanca semakin parau. Ia tak tahan lagi, air mata nya luluh begitu saja tanpa ia minta.
Vanca menghapus dengan kasar air mata yang membasahi pipinya. "Kenapa lo cengeng banget sih Van!" Kata nya pada diri sendiri. Masih terdengar sayup-sayup isak dari bibir mungil itu. Yang sulit Vanca redakan. Entah kenapa rasa nya sakit.
"Kamu harus sembuh Gaf. Aku nungguin kamu disini.." Setelah itu, Vanca menyusul Regat ke alam mimpi. Mungkin Vanca berfikir bahwa Regaf sudah tertidur. Nyatanya, Regaf belum tertidur, ia hanya menutup mata nya saja. Dan Regaf mendengar semua ucapan Vanca tadi, yang tanpa Regaf sadari, sudut mata nya berair.
***
Pukul tujuh lewat sepuluh Regaf sudah terbangun dari tidurnya. Cahaya matahari yang masuk menembus gorden jendela membuat netra nya terbuka.
Ia melihat ke arah samping. Gadis yang kemarin sempat menangis sebelum tidur. Ia memperhatikan wajah itu dengan seksama. Bekas air mata di pipi gadis itu masih membekas. Hal itu membuat tangan Regaf dengan spontan untuk mengusap pipi mulus gadis yang tengah terlelap dalam tidurnya.
"Gue gatau lo siapa." Ucap Regaf memandangi Vanca.
"Bahkan gue ngerasa gak pernah kenal sama lo."
"Tapi kenapa, bayang bayang lo, suara lo selalu masuk dalam pikiran gue."
"Gue ngerasa gak asing sama lo, tapi gue ga inget lo siapa."
"Gue gabisa inget apapun. Tapi aneh nya hati gue gak nolak waktu lo bilang kalau lo itu istri gue."
"Gue gasuka denger lo nangis kemarin. Sebenernya gue kenapa? Apa yang udah terjadi sama gue?" Regaf mengalihkan perhatian nya pada pintu berwarna coklat itu. Dari luar terdengar suara ketukan pintu, ia bergegas membuka pintu tersebut.
Setelah dibuka, muncul figur wanita paruh baya didepan nya. "Regaf? Istri kamu mana nak?"
Seakan mengerti dengan tatapan Regaf, Wenda kembali berucap. "Vanca masih tidur?"
"Iya." Jawab Regaf dengan kaku dan canggung. Sungguh Regaf benci keadaan ini. Tapi ia merasa nyaman berada di dekat wanita di hadapan nya sekarang.
Wanita itu tersenyum simpul. "Yaudah, kamu bangunkan Vanca ya. Setelah itu turun sarapan." Regaf hanya mengangguk sebagai jawaban. Setelah itu Wenda pergi dari hadapan putra nya.
Regaf kembali memandang Vanca yang masih asik dalam tidurnya. Bagaimana cara membangunkan nya?
Regaf mendekat, lalu ia mengambil jam weker di samping ranjang, lalu menyalakan alarm nya. Suara alarm menggema di seluruh kamar. Hal itu lantas membangun Vanca dari alam mimpi nya. Perlahan Vanca membuka mata nya, figur yang pertama kali ia lihat adalah Regaf yang berdiri di samping nya.
"Regaf? Udah bangun dari tadi? Kenapa gak bang--"
"Disuruh sarapan."
"Hah?" Vanca masih tak mengerti dengan ucapan Regaf. Vanca baru bangun, jadi ia masih setengah sadar dan tidak. Setelah mencoba mengerti, baru lah Vanca paham maksud nya.
"Iya, kamu mandi duluan. Biar aku yang siapin baju kamu." Entah kenapa rasa nya sangat berbeda bicara dengan Regaf sekarang. Tanpa membalas perkataan Vanca, Regaf berlalu begitu saja menuju kamar mandi di kamar mereka.
Vanca menghela nafas pelan. Ia segera beranjak lalu menyiapkan pakaian untuk suami nya. Tak butuh waktu lama, Regaf sudah keluar dari kamar mandi, dengan menggunakan handuk sepinggang.
"Baju nya udah aku siapin, kamu bisa turun duluan-"
"Lain kali gausah. Gue bisa sendiri." Perkataan kelewat sarkas itu membuat Vanca langsung lemas di tempat. Bukankah, tadi Regaf sudah menolak diri nya walau tak secara langsung?
Vanca tetap mencoba untuk tersenyum, walau hati nya tidak. "Emang kamu tau?"
Regaf melirik singkat ke arah Vanca. "Lo cukup kasih tau gue."
Vanca mengangguk, lalu ia masuk ke dalam kamar mandi. Ia tidak tahan lagi untuk berlama lama bersama Regaf. Yang ada hati nya semakin sakit.
Sementara Regaf memperhatikan gerak gerik gadis itu. Seperti ada yang berbeda. Dan ada rasa yang menjanggal di hati nya, tapi tidak tau apa. Regaf memilih tidak perduli.
__ADS_1
***
"Regaf, hari ini kamu sama Vanca ke sekolah ya? Kamu kan belum selesaikan Ujian kamu nak." Kata Wenda di sela sela serapan mereka.
"Ujian?" Beo Regaf.
"Iya ujian. Lo, kan, udah mau lulus. Tapi sayang nya Ujian lo belum kelar." Imbuh Gisel. Wenda mengangguk pertanda setuju dengan perkataan Gisel barusan.
"Iya." Hanya itu yang dapat Regaf katakan. Selebihnya, Regaf tidak tau.
"Yaudah kalau kalian sudah selesai, kalian berangkat sekarang. Papi sudah menelfon wali kelas kamu." Ucap Papi.
"Yaudah Pi, Mi, Vanca sama Regaf pamit yah."
"Iya hati-hati dijalan nya."
***
"Halo Ge?"
"Halo Van. Lo dimana?"
"Gue dijalan, otw ke sekolah. Sama Regaf."
"Oh gitu, yaudah gue sama Andra nyusul ya Van."
"Yaudah sampe ketemu nanti Ge."
Tut. Sambungan terputus. Vanca kembali menaruh ponsel nya kedalam saku celana nya. Saat ini Vanca dan Regaf pergi menggunakan taksi. Vanca tidak yakin jika cowok itu yang harus menyetir, lagi pula Regaf bodo amat.
Regaf melirik singkat gadis yang berada di samping nya ini. Berada di dekat gadis nya membuat dada nya berguncah hebat. Tenang dan nyaman. Seakan Regaf ingin selalu berada di samping nya.
"Kenapa?" Vanca yang melihat Regat diam diam melirik nya itu pun bertanya.
"Gak."
Vanca mengangguk, lalu tiba-tiba taksi yang mereka tumpangi berhenti. Hal itu membuat Vanca bertanya tanya? Ada apa?
"Kok berhenti pak?" Tanya Vanca pada supir taksi yang sudah terlihat kerutan diwajah nya. Pak supir itu turun lalu melihat kondisi mobil nya. Regaf dan Vanca pun lantas ikut turun.
"Kenapa ya pak?" Tanya Vanca lagi.
"Aduh neng. Maaf pisan mobil nya mogok. Aduh saya jadi bingung ini teh"
"Oh gitu ya pak? Yaudah gapapa deh pak. Biar saya lanjut kedepannya jalan kaki aja sekalian cari angkot lewat." Papar Vanca pada pak supir itu.
"Aduh maaf pisan neng ya, gausah dibayar aja neng gak apa apa."
"Gapapa pak, nih saya bayar, kan tadi udah setengah jalan. Buat benerin mobil nya pak." Vanca memberikan beberapa lembar uang pada supir tersebut.
"Hatur nuhun neng. Sekali lagi maaf atuh"
"Kalau gitu saya duluan ya pak." Vanca menoleh memandang Regaf yang masih berdiam diri di samping mobil. Ia pun menghampiri nya. "Gaf! Ayo!"
"Kemana?"
"Oh." Regaf pergi begitu saja meninggalkan Vanca. Gadis itu tak habis fikir, kenapa sekarang sifat nya semakin menjengkelkan? Ingin rasa nya Vanca benturkan kepala lelaki itu.
***
Lama berjalan, mereka belum juga menemukan angkot yang lewat. Jangankan angkot, taksi saja tidak ada! Vanca lelah sudah berjalan dari ujung ke ujung, bukan nya manja. Hanya ia jarang berolahraga, jadi ya begini.
"Bentar Gaf! Cape tau!" Ia berhenti seraya memegangi lutut nya sebagai tumpuan. Kening gadis itu sudah banyak keringat yang bercucuran hingga di leher nya. Apalagi cuaca yang semakin panas. Regaf yang masih berjalan santai itu pun lants berhenti dan menoleh kebelakang.
Vanca dengan nafas ngos-ngosan nya, membuat Regaf menghampiri gadis itu. "Kamu gak cape apa, jalan terus?" Tanya Vanca saat nafas nya sudah kembali normal.
"Gak."
"Dasar." cibir Vanca kesal. Lalu ia kembali berjalan mendahului Regaf. Belum genap dua langkah rambutnya sudah ditarik oleh Regaf. Hal itu membuat Vanca memekik sakit.
"Regaf! Sakit tau! Kok ditarik!" Cetus Vanca. Wajah nya memerah karna panas. Keringat yang bercucuran di dahi nya, tidak dapat angkutan umum, dan lagi Regaf yang menarik rambut nya membuat ia kepalang emosi.
"Segitu aja lemes." Cetus Regaf kembali.
"Capek Gaf! Mentang mentang kaki kamu panjang bisa jalan cepet!"
Tanpa Vanca ketahui diam diam Regaf menarik ujung bibir nya membuat seulas senyum tipis. Ingat, tipis!
Regaf memandangi Vanca yang sibuk mengipasi wajah nya dengan tangan nya. Sontak tangan Regaf terangkat untuk mengeringkan keringat Vanca dengan punggung tangan nya. Hal itu lantas mengundang atensi Vanca.
Andai kamu gak hilang ingatan kaya gini, pasti aku seneng banget kamu perlakuin aku kayak gini Gaf. Batin Vanca berucap.
"Udah puas liatin nya?" Kata Regaf membuat lamunan Vanca buyar. "Apasih!? Siapa juga yang liatin." Pipi Vanca semakin memerah, efek panas juga salah tingkah. Ia memegangi kedua pipi nya yang terasa panas.
Lalu tanpa Vanca terka, Regaf melepas kemeja nya dan menyisakan kaos hitam polos nya. Regaf pakaikan kemeja itu pada kepala Vanca untuk menutupi dari sinar matahari.
"Eh!"
"Pake."
"Jalan, gue gasuka lama-lama disini." Vanca seperti orang linglung yang baru pertama kali merasakan kasmaran. Tingkah nya sangat dominan, namun Vanca mencoba biasa saja.
"Itu ada taksi! TAKSI!" Teriak Vanca membuat Regaf yang berada di samping nya terkejut dan menutup telinga nya.
"Gausah teriak bisa?"
Vanca menyengir kuda. "Maaf, takut taksi nya ga denger."
Mobil taksi itu berhenti tepat di depan mereka. Tanpa lama lama lagi mereka memasuki taksi tersebut. Panas jika lama lama disana. Tidak nyaman untuk hati Vanca.
****
"Van!" Teriak Geo dari koridor. Vanca dan Regaf yang baru saja sampai langsung menghampiri Geo dan Andra.
"Lama banget, ngapain aja?" Andra membuka suara bertanya.
"Macet." Jawab Vanca tak ingin membahas kejadian tadi.
Pandangan Geo beralih pada Regaf yang hanya berdiam diri. "Gaf! Apa kabar?" Sapa Geo yang tak digubris oleh Regaf. Hal itu membuat Vanca menyenggol lengan suami nya itu.
__ADS_1
"Jawab!" Bisik Vanca.
"Baik."
"Yaudah, Gaf, lo langsung masuk ke ruang Bk aja. Disana udah ada wali kelas nungguin lo." Kata Andra menyudahi kecanggungan mereka.
"Dimana?" Andra melupakan hal ini. Ia lupa jika kondisi Regaf tidak seperti dulu. "Anter aja Van." Suruh Geo.
"Yaudah, kalian?"
"Gue sama Andra nunggu di kantin!" Vanca hanya membalas dengan acungan jempol nya. Kemudian ia bersama Regaf pergi menuju ruang Bk.
Saat tiba, sudah ada wali kelas Regaf yang menunggu. "Permisi bu.."
"Eh kalian sudah datang, Mari masuk."
"Gaf! Masuk gih!" Regaf melirik gadis ini sebentar, lalu kaki nya melangkah masuk.
"Aku tunggu di sini." Vanca bicara dengan bahasa tubuh yang Regaf sangat mengerti maksud nya. Tapi Regaf tak menggubris.
Baru saja pantat nya menduduki sofa, Regaf sudah disodorkan dengan beberapa lembar kertas. Tidak sedikit memang. "Ini beberapa soal Ujian kamu yang kamu tinggalkan. Sekarang kamu kerjakan, ibu beri waktu 3 jam untuk kamu selesaikan." Wali kelas Regaf pun kembali duduk di hadapan Regaf seraya memantau murid nya yang satu ini.
Tangan Regaf pun mulai mengisi lembar demi lembar kertas yang berisi soal soal itu. Tangan nya sangat lihai dalam menulis, guru yang mengawas Regaf pun tercengang melihat nya. Ini Regaf murid bandel itu kan?
Sementara Vanca yang menunggu di luar ruang Bk hanya berdiam. Seraya memainkan ponselnya, saling berbalas pesan bersama ketiga sahabat nya.
Lalu beberapa saat, tepukan pada bahu nya mengejutkan dirinya. Hampir saja ia memukul orang itu, saat tau siapa itu, ia mengurungkan niatnya.
"Kenzie?"
"Hai Van! Lo.. ngapain disini?"
"Ehm.. gue.. ada perlu kesini. Lo sendiri ngapain?"
"Gue ada panggilan. Jadi gue kesini."
"Oh gituu.." Bukan nya pergi, Kenzie malah ikut berdiri disamping Vanca. Lantas Vanca sedikit memberi jarak diantara mereka. Tidak terlalu jauh, tapi cukup untuk batasan agar tidak terlalu dekat.
"Lo.. gak pulang? Eh-- maksud gue.." Vanca gelagapan, ia takut salah bicara dan berakhir membuat Kenzie tersinggung.
"Lo gak nyaman di dekat gue?" Tanya Kenzie membuat Vanca bingung harus menjawab apa. "Engga.. gak gitu cuman.."
Pintu terbuka membuat ucapan Vanca terpotong. Kenzie memandang Regaf yang baru saja keluar dari ruang Bk. Seketika ia mengerti mengapa Vanca disini.
"Eh Gaf. Sorry gue bareng cewek lo, gak sengaja lewat tadi." Kenzie menjelaskan pada Regaf. Namun ia tak menyangka jawaban yang diberikan Regaf membuat nya sangat terkejut.
"Seterah lo." Lalu Regaf pergi begitu saja, tanpa memperdulikan kedua nya. Kenzie dibuat bingung jadi nya. Ada apa dengan Regaf? Ia pikir Regaf akan memukulnya karena sudah berani dekat dengan cewek nya.
Vanca yang semakin merasa tak nyaman pun pamit pada Kenzie untuk pergi duluan. Ia tak ingin Kenzie bertanya tanya nanti nya.
"Ken gue duluan ya. Bye!" Vanca pun pergi menyusul Regaf yang sudah jauh.
***
"Regaf! Kok kamu ninggalin aku sih!" Regaf menoleh ke arah Vanca sebentar lalu pandangan nya kembali kedepan, dengan tangan yang ia masukan kedalam saku celana nya.
"Gimana sama nilai kamu?" Vanca mencoba membuka topik.
"Lo kepo banget ya?"
"Aku kan istri kamu, wajar dong aku mau tau." Vanca berani berkata demikian karna lorong sangat sepi. Murid-murid Sma Merpati tengah berlibur jadi sekolah hanya ada beberapa guru saja.
"Mungkin iya lo itu istri gue. Tapi gue gak kenal sama lo. Ngerti?" Setelah berkata demikian Regaf kembali pergi meninggalkan Vanca. Gadis itu hanya diam saja memandangi punggung Regaf yang mulai menjauh.
Vanca kembali mengejar Regaf hingga ia mencoba mensejajarkan langkah kaki nya dengan Regaf. "Kebiasaan banget suka ninggalin!" Gerutu Vanca.
Lalu ditengah lorong koridor mereka bertemu dengan kedua sahabat Regaf. "Eh Van! Gaf! Udah kelar?" Tanya Geo basa basi.
"Udah kok.." Vanca memberi senyum terbaik nya.
"Berapa nilai lo Gaf? Pasti—"
"98."
"Hah?!" Ketiga nya serempak kaget. Regaf hanya memandang nya datar.
"Lo hilang ingatan jadi pinter gini Gaf. Gue juga mau kalau gitu." Sontak Andra memukul kepala Geo membuat sang empu memekik sakit.
"Sakit bego!" Umpat Geo.
"Lagian lo ngomong kaya gitu, gue pukul aja biar lo hilang ingatan!"
"Gue bercanda doang nyet!" Regaf sudah tak ingin mendengarkan lagi. Ia pun berlalu begitu saja dari hadapan mereka. "Ye si monyet malah pergi! Padahal gue mau ngajak nongki!"
"Geo sorry ya, lain kali aja. Lo kan tau kondisi Regaf gimana sekarang."
"Gapapa Van. Santai aja."
"Yaudah gue duluan ya, bye!"
***
"Regaf tunggu!" Regaf yang berada di sebrang jalan menolehkan kepala nya mendengar suara yang tidak asing bagi nya. Saat menoleh betapa terkejutnya dia, melihat Vanca berlari menyebrangi jalan tanpa melihat ada mobil yang melaju dari arah kanan.
Lantas dengan cekatan Regaf berlari menyusul Vanca. Bunyi klakson mobil itu membuat atensi Vanca teralihkan.
"AAAA!!"
***
Hallo Geng, aku back!!
Ayo spam komenn nyaa gengg
Kalau like nya stabil aku lanjut up cepet.
Jangan lupa like, vote, hadiah nya.
Oke next, babay!!
__ADS_1