
HALO HALOO ππ
MASI ADA YANG NUNGGU REGAF GAAA? π€Έπ»π€Έπ»π€Έπ»
KALO ADA, AKU MAU LIAT ANTUSIAS KALIAN SETELAH BACA INIIII! π«°π»π«°π»π«°π»
HAPPY READING ALL!
***
"Halo?"
"NES! LO BURUAN KESINI! GEO KECELAKAAN!"
"HAH?! GEO SEKARANG GIMANA?" ucap Nesa panik.
"DIRUMAH SAKIT WIJAYA, SEMUA NYA UDAH ADA DISINI. LO CEPET KESINI!"
"Gue on the way!"
Setelah sambungan telepon putus, dengan segera Nesa berlari ke arah mobilnya dan langsung menancap gas menuju rumah sakit wijaya.
***
Dikoridor rumah sakit, Nesa langsung berlari ke arah resepsionis. "Mbak, korban kecelakaan atas nama Geo dimana ya?"
"Sebentar ya Mbak, saya cek dulu."
Nesa mengetuk-ngetuk kuku jarinya pada meja resepsionis itu, ia tengah merasa cemas.
"Maaf Mbak, tidak ada pasien yang bernama Geo disini." Kata Resepsionis itu ketika selesai mengecek.
"Loh? Mbak salah mungkin, coba cek lagi mbak!"
"Saya tidak mungkin keliru Mbak. Karna jika ada, pasti data pasien langsung masuk. Namun tidak ada yang saya dapatkan," jelas Resepsionis tersebut.
Nesa merosotkan bahunya lemas. Tidak ada? Lelucon macam apa ini? Buru-buru Nesa menelpon Risa, yang tadi menelpon dirinya.
"Ris! Lo bercanda?! Gue udah di rumah sakit, tapi kata Resepsionis yang gue temuin gak ada nama Geo!" ucap Nesa menggebu-gebu. Ia kesal karna merasa dipermainkan.
"Ruangan 267."
Sambungan putus sepihak dari sana. Nesa memandang ponselnya dengan kerutan di kening yang tercetak jelas. Langkah gadis itu membawa nya menuju kamar nomor 267 yang diberikan oleh Risa.
Saat dekat dengan kamar tujuannya, ia melihat disana teman-teman nya, juga Regaf dan teman-teman nya. Langkah gadis itu memelan saat tiba disana.
Sontak seluruh mata memandang Nesa. Nesa dapat melihat mata mereka yang memerah, seperti habis menangis.
"Lo semua kenapa? Dimana Geo?" tanya Nesa memperhatikan satu persatu teman-teman nya.
Andra menghela napas kasar. "Didalem Nes, koma."
"Lo semua bercanda ya? JELAS-JELAS TADI RESEPSIONIS YANG GUE TEMUIN BILANG GAK ADA PASIEN BERNAMA GEO!"
"Lawak lo semua!" ucap Nesa sarkastik.
Vanca berdiri berusaha menenangkan Nesa. Perempuan itu mengelus bahu sahabat nya, agar lebih tenang. "Nes.. ini rumah sakit. Lo jangan teriak gitu."
"Gimana gue gak emosi sih Van! Mereka semua disini bohong! Bilang sama gue Van, dimana Geo?"
Vanca menggeleng sebagai jawaban.
"Gak mungkin. Gue mau liat keadaan Geo!"
"Masuk aja Nes, dia didalem."
***
Saat langkah kaki Nesa memasuki ruangan dingin itu, bau obat-obatan langsung menguar di indra penciuman nya. Ia dapat melihat seorang gadis yang duduk di samping ranjang Geo, dan menangis.
Nesa melangkah pelan. Ia melihat jelas tubuh Geo yang di kelilingi oleh alat medis. Langkah kaki nya terhenti di saat jarak dirinya dan ranjang Geo tersisa lima langkah.
Perempuan yang duduk disebelah ranjang Geo, menoleh menatap Nesa yang berdiri diujung sana. Perempuan itu berdiri, menghampiri Nesa.
"Gue tinggal ya, dia belum sadar dari tadi," perempuan itu langsung pergi setelah mengucapkan itu. Nesa menatap heran punggung perempuan itu, ia merasa asing dengannya. Namun Nesa tak memusingkan itu sekarang, ia kembali mendekat pada ranjang Geo.
Tepat di sisi ranjang brankar, Nesa memperhatikan Geo yang terbaring lemah diatas sana. Sebelah tangan Nesa terangkat untuk membenarkan rambut Geo yang menghalangi matanya.
"Ge.." panggil Nesa pelan. "Gue dari tadi nungguin lo di sana, tapi lo ternyata disini," ucap Nesa dalam sepi.
"Bangun Ge.." Nesa menggenggam sebelah tangan Geo yang terasa dingin. Nesa mendudukan dirinya di kursi yang berada di dekatnya. "Gue bingung Ge.., gue gak tau sama apa yang gue rasain ketika bareng sama lo."
"Gue juga gak paham sama perasaan gue.."
"Gue mohon Ge.. bangun.." Nesa menatap sendu ke arah Geo yang tidak merespon satupun perkataan nya. "Bener kata orang-orang, penyesalan selalu datang di akhir. Dan sekarang gue nyesel Ge.."
"Kalau aja waktu bisa diulang, gue mau tarik kata-kata gue.." Nesa menarik napas sejenak sebelum melanjutkan perkataannya. "Gue.."
"Mau jadi pacar lo."
"Yakin?"
Mata Nesa membulat sempurna mendengar Geo yang membalas perkataan nya. Namun mata cowok itu masih terpejam sempurna. Nesa membenarkan posisi duduknya. "Ge? Lo denger gue?"
Mata Geo terbuka perlahan, objek yang pertama ia lihat adalah Nesa yang berada disampingnya. "Gue denger semuanya Nes.." cowok itu tertawa pelan.
Nesa mematung sejenak. Secara spontan ia melepaskan tautan tanganya pada Geo. Ia semakin terkejut melihat Geo yang membuka alat bantu pernapasan yang ada di mulutnya. Ada apa ini?
"Ge.. lo..?" Nesa memandang tak percaya kearah Geo yang tengah tersenyum tanpa rasa bersalah. "Hm? Kenapa?" kata Geo dengan suara serak basah miliknya.
"Kata nya lo.." Nesa tak mampu melanjutkan kata-katanya sebab terlalu bingung dengan apa yang tengah terjadi.
Geo terkekeh sejenak. Lalu ia membalas tatapan Nesa dengan dalam. "Gue pengen lo ulangi omongan lo barusan."
"A-apa?" Nesa gelagapan. Cewek itu mengatupkan mulutnya rapat, tak ingin mengucapkan apapun. "Yang tadi, lo bilang apa?"
__ADS_1
"Gu-gue gak ngomong apa-apa tuh!" Nesa panik sendiri, apakah Geo mendengar semuanya? Gawat!
"Lo apa-apaan sih! Lo ngapain coba kayak gini! Pake pura-pura kecelakaan segala! Lo pikir ini lucu hah!" Nesa bangkit dari duduknya, dan langsung berkata demikian dengan nada membentak.
"Nes.. gak gitu. Dengerin gue duluβ"
"Harus nya lo mikir! Kayak gini itu bukan buat candaan! Gue pikir ini beneran tau gak! Gue khawatir Ge!!" Kata Nesa lagi. Tanpa disadari air mata gadis itu turun begitu saja. Geo yang melihat itu pun langsung turun dari ranjang dan menghampiri Nesa disana. Tanpa aba-aba Geo menarik Nesa masuk kedalam dekapannya. Berusaha menenangkan gadis itu didalam pelukannya.
Cowok itu mengelus punggung Nesa yang terasa bergetar. Cewek itu menangis dalam diam, namun Geo dapat merasakan tetesan air yang mengenai bajunya.
"Ssttt... Udahh" ucap Geo berusaha menenangkan.
Saat dirasa Nesa sudah tidak menangis, Geo langsung melepaskan pelukannya. Ditatapnya wajah cantik itu yang sudah banjir air mata, dan itu karena dirinya. Ada sedikit rasa menyesal dalam diri cowok itu, namun ia rasa ini tidak buruk.
Jari jemari besar cowok itu terangkat mengusap sisa air mata di pipi mulus Nesa. "Maafin Geo ya... Geo gak maksud buat bikin Nesa khawatir. Semua ini cuma rekaanβ"
Bugh!
Nesa melayangkan pukulan pada dada Geo yang belum saja menyelesaikan ucapannya. "JAHAT!"
Bukannya kesakitan, Geo malah tertawa melihat ekspresi wajah Nesa yang lucu dimatanya. "Ngapain sih kayak gini segala! Buat apa coba!" teriak Nesa didepan wajah Geo, cewek itu sudah kepalang kesal.
"Ini cara yang bisa aku lakuin supaya aku tau, jawaban kamu dan isi hati kamu yang sebenernya sama aku itu gimana. Dan buktinya, aku udah tau semuanya." Cowok seketika mengubah gaya bicara nya tanpa ia sadari.
"Ish! Nyebelin!" Nesa baru akan berbalik badan, namun cekalan ditangan Geo menghentikan dirinya. "Sekarang lo pacar gue. Apapun, gue gak mau denger penolakan." Kata Geo memandang punggung cewek didepannya.
"Gak bisa gitu.. Gue gak suka sama lo!" Tolak Nesa. Sebenarnya dirinya tengah salting brutal, dengan apa yang diucapkan Geo tadi.
"Yakin? Hadep sini. Bilang sekali lagi kalau lo emang gak suka dan nolak gue."
Nesa menahan mati-matian dirinya agar tidak tersenyum saat ini. Perlahan gadis itu berbalik menghadap Geo sempurna. Mata nya tak berani untuk bertatap langsung dengan mata hitam cowok itu.
"Liat gue Nes."
Nesa pun mendongak menatap Geo yang jauh lebih tinggi darinya. "Ulangi." Pinta Geo.
"A-apa Ge?"
"Ulangi tadi lo ngomong apa?"
"G-gue.." Nesa merasa pasokan udara nya habis, hingga untuk berkata pun susah rasanya. "Iya atau nggak?" Geo memberikan pilihan.
"Iyaguemaujadipacarlo!" Ucap Nesa cepat tanpa spasi dan jeda. Cewek itu menutup rapat matanya, menahan malu. Geo tersenyum lega. Geo menatap Nesa dengan gemas, ia pun kembali menarik Nesa kedalam pelukannya.
"Lo kalau malu-malu gini gemesin tau gak? Pengen gue bawa pulang," bisik Geo tepat disebelah telinga Nesa.
"Ish!" Dengan geram Nesa memukul punggung belakang Geo, namun setelah itu ia membalas pelukan Geo.
"Makasih.." ucap Geo pelan, namun tetap terdengar oleh Nesa. Namun Nesa tiba-tiba teringat satu hal, ia pun lantas melepaskan pelukannya dengan Geo. "Soal lo mau keβ"
"Gak jadi."
"Itu juga rekaan?"
Brukk!
Terdengar kerusuhan dari arah pintu masuk. Yang ternyata teman-teman mereka yang berada di pintu tengah menguping pembicaraan mereka. Mereka semua tersenyum aneh.
"Lo pada ngapain disana?" tanya Geo memandang satu persatu temannya. Namun hanya mereka balas dengan cengengesan tidak berguna, namun Andra tetap pada pendiriannya untuk tidak mengeluarkan eskpresi apapun.
"Lo semua nguping?" kata Geo lagi dengan tatapan datarnya. Nesa yang mengetahui itu lantas tak berani hanya untuk sekedar membalikkan badannya. Ia malu untuk bersitatap dengan semua temannya.
Nesa menundukkan kepalanya dalam, menutup rapat kedua matanya. Geo yang menyadari itu pun membawa Nesa bersandar didadanya. Ia tau gadis itu tengah malu.
"Sorry Ge, habis nya kita kepo." Sheryl menyengir kuda. Regaf berdehem kuat. "Yang baru jadian.. pajak jadian nya mana?"
Geo mengangguk pelan. "Yaudah gue traktir, tapi ntar Regaf yang bayar."
"Pala lo!" Sentak Regaf tak terima.
"Lo kan anak pejabat Gaf, seumpama lo mau beli satu restoran juga gak akan berkurang duit lo," cetus Sheryl mendukung Geo. Demi traktiran.
"Gak ada! Enak aja lo pada!"
"Ehem.. Nes udah dulu dong senderan nya, keenakan ya lo?" kekeh Risa melihat tingkah Nesa yang tak lepas dari Geo.
Nesa sontak berdiri tegak dan langsung memandang sinis kearah Risa. "Ngomong lagi lo!"
"Salah lagi.." gumam Risa menderita.
"Duh temen gue yang satu ini udah sold out deh.. lo kapan Ris?" Sheryl bertanya pada Risa. Sontak Risa memutarkan kedua mata nya malas. "Gue gak mau pacaran sebelum nikah."
"Iya deh yang paling alim.."
"Udah ah! Ini semua rencana kalian kan?! Ngaku!" Nesa menatap dengan tatapan selidik.
"Suer deh Nes, ini ide yang cowok-cowok," tunjuk Sheryl pada Regaf dan Andra yang memasang tampang lempeng.
"Berterima kasih lo! Kalau gak gini, jadian gak lo berdua?" sahut Regaf membuat Nesa terdiam. Namun tetap saja ia tak terima karena di permainan seperti ini.
Flashback on.
Semua nya sudah berkumpul di parkiran rumah sakit sesuai dengan perjanjian sebelumnya.
"Gue sama Andra bakal cari ruangan kosong buat lo entar," ucap Regaf.
"Emang bisa ya? Kan Geo gak sakit beneran..?" ucap Vanca bingung. Namun Regaf langsung melirik Andra yang tengah mengeluarkan sesuatu dari kantongnya.
Semua nya membulat mulutnya ketika yang Andra keluarkan adalah dompet milik cowok itu yang terlihat tebal. Lantas semuanya paham. Ada uang semua beres.
"Terus gue disini ngapain?" Elys menunjuk dirinya sendiri dengan tatapan polos. Tak tau apa maksud dirinya diikut sertakan disini.
"Sebenernya lo gak guna disini, cuma gue takut lo ilang dibawa orang karna sendiri dirumah." Cetus Andra yang membuat semua orang disana langsung tersenyum menggoda. Apalagi Geo yang dengan kurang ajar nya berdehem sangat keras.
Yang sebenarnya Andra hanya mengkhawatirkan gadis itu karena kejadian beberapa waktu lalu. Hanya ia gengsi mengucap semua itu. Yang ada ia akan digoda habis-habisan oleh teman-temannya.
__ADS_1
"Jahat banget ngomong nya," gumam Elys menatap Andra. Sementara cowok itu tersenyum tipis melihat raut kesal Elys. Sangat tipis hingga tak ada yang menyadari.
"Lo ntar duduk di sebelah ranjang Geo aja, biar seolah-olah lo orang dekat Geo gitu," kata Risa pada Elys.
Sebelumnya sudah mereka perkenalkan Elys pada Sheryl dan Risa yang memang belum mengenal siapa Elys.
"Oke," sahut Elys yang setuju-setuju saja.
"Terus kita?" Tunjuk Sheryl pada dirinya dan kedua temannya yang tak lain tak bukan Vanca dan Risa. "Make up," jawab Geo.
"Hah?"
"Buat ni kantong mata biar jadi sembab kayak habis nangis! Gue yakin lo pada jago soal beginian," celetuk Regaf pada ketiganya. Dan mereka langsung mengangguk semangat.
"Ntar mata nya dikasi obat tetes aja biar merah kayak beneran habis nangis." Sambung Vanca.
"Terakhir, salah satu dari kalian telfon Nesa pake nada panik, telfon nya satu jam setelah Nesa sampe taman aja. Bilang Geo kecelakaan dibawa ke rumah sakit Wijaya." Ucap Regaf menjelaskan.
"Danβ"
"Dan bilang Geo koma!" Seru Vanca memotong ucapan Regaf. Cowok itu hanya tersenyum kecil dengan tingkat isti kecilnya itu.
"Benerkan?" Tanya Vanca memastikan. Regaf pun hanya menjawab dengan anggukan singkat. Sudah bucin ya gini.
"Oke kalau gitu, drama kita mulai."
Flashback end.
"Pantesan gue kayak asing sama lo," cetus Nesa memandang Elys yang berada disamping Andra. Dan dibawah rangkulan Andra.
Setelah mereka menceritakan semuanya, barulah Nesa paham dengan apa yang terjadi sebenarnya. Namun tak urung ia masih kesal, terutama pada Geo yang sekarang notabene nya adalah pacar nya.
Dan saat ini mereka berkumpul di rumah Andra. Sebenarnya cowok itu menolak, namun karena paksaan dari Geo yang kata nya jarang kumpul di rumah Andra jadi lah yang lain turut memaksa dan Andra mengalah. Rumah nya kini menjadi sasaran teman-teman nya.
Namun mereka tidak khawatir, karna kata Andra sendiri bahwa rumah nya tengah kosong alias orang tuanya tengah dinas di luar kota.
"Keren gak drama kita? Udah cocok nih jadi pemain sinetron," celetuk Sheryl narsis.
"Najong!" Sahut Risa pedas membuat Sheryl merenggut kesal.
"Bagus deh kalau cuma drama, gue udah takut tadi.." ucap Nesa memelankan kalimat akhirnya.
Geo merangkul pundak Nesa, lalu mengacak gemas rambut Nesa dengan sebelah tangan nya. "Takut kenapa?" tanya Geo yang mendengar ucapan Nesa karena jarak keduanya yang sangat dekat.
"Takut lo dipanggil Tuhan! Lo belom tobat, dosa lo banyak semasa di dunia! Takutnya, ntar lo belum apa-apa udah nyungsep ke neraka." Ucap Nesa dengan tega nya.
"Gitu banget sama pacar. Yang manis dikit napa sih Nes," kata Geo heran dengan cewek satu ini. Namun sayang nya cantik dimatanya.
"Dih," mata Nesa langsung mendelik julid kearah Geo membuat tawa cowok itu meledak begitu saja.
***
Pukul enam kurang, semuanya berpamitan untuk pulang. Karna waktu yang sudah tidak memungkinkan mereka menetap lebih lama disana. Satu persatu dari mereka pulang, Vanca dengan Regaf, Nesa dengan Geo, dan Risa dengan Sheryl.
Tersisa Elys dan Andra disana. Elys sengaja pulang setelah magrib saja katanya. Ia melihat kondisi rumah Andra yang berantakan, membuat nya kasian jika cowok itu membereskan nya sendiri.
Perlahan Elys mengumpulkan semua sampah dan membuang nya ke tempat sampah, lalu menyapu butir demu yang bercampur remahan snack.
Andra yang baru kembali dari kamar kecil, melihat Elys yang tengah menyimpul rambutnya. Andra bersedekap dada dan bersandar di dinding memperhatikan Elys dari jauh.
Gadis itu sangat cantik jika dilihat lebih teliti. Dan saat ini, Andra melihat itu. Dengan cepolan rambut asal yang menampakkan leher jenjang gadis itu membuat ia lebih berlipat-lipat lebih cantik dimata Andra saat ini.
Gadis itu sungguh telaten menyapu dari sudut ke sudut, sampai semuanya terlihat rapi dan bersih. Andra menghampiri Elys yang tengah mengelap dahinya yang berkeringat.
Elys belum menyadari kehadiran Andra dibelakang nya, tiga langkah jauhnya dari Elys. Cewek itu masih terus mengusap dahi dan lehernya yang basah akibat keringat.
Andra mengambil beberapa lembar tisue di atas meja, lalu mengelap keringat di dahi Elys dari arah samping. Elys tersentak kaget saat merasa ada sesuatu menyentuh permukaan kulitnya. Namun saat ia mencium aroma khas dari cowoknya itu, barulah ia tau siapa disampingnya.
"Andra..?"
"Hm?" Andra masih fokus pada kening Elys yang berkeringat. Lalu Andra membuang bekas tisue itu ke tempat sampah ketika sudah selesai.
"Sejak kapan disana?"
"Sejak lo bersihin semua ini."
Elys mematung. Dia liatin gue dong dari tadi? Elys membatin.
Andra mengambil alih sapu dari tangan Elys. Lalu meletakkan nya di sudut ruangan. "Siapa yang suruh lo bersihin semua ini? Emang nya lo pembantu disini?" Andra menatap tajam kearah Elys. Elys yang ditatap seperti itu oleh Andra seketika nyali nya ciut. Apakah salah?
"Gue cuma inisiatif buat bersihin Dra.. Karna gue liat kotor banget.." ucap Elys dalam tundukkan kepala.
Andra menghela napas pelan. "Kalau gue gak suruh, gak usah. Gak perlu. Lo bukan babu gue, disini udah ada art yang bakal bersihin ini." Jelas Andra membuat Elys paham. Cowok itu tidak suka dengan orang yang berbuat tanpa izin darinya jika itu bersangkutan dengan dirinya.
"Gue gak mau lo cape," lanjut Andra membuat Elys terkejut dan langsung mengangkat wajahnya menatap netra Andra.
"Maaf.. tapi gue gak papa kok Dra. Gue gak cape, gue malah seneng bisa bantu-bantu lo!" Ucap Elys dengan tulus.
Andra tidak dapat melihat adanya kebohongan dimata gadis itu, hanya kebenaran yang ia lihat. "Lain kali gak perlu kalau gak ada gue suruh." Ucap Andra tak ingin dibantah.
"Iya Dra.." jawab Elys mengalah.
"Good girl." Andra mengacak gemas pucuk kepala Elys. Hal itu membuat Elys menahan mati-matian agar mulutnya tidak tersenyum akibat salting.
"Ayo, gue anter pulang sekarang."
***
LIKE LIKE LIKE LIKE!
KOMEN FOR NEXT!
****KALO SAMPE TARGET LIKE, UP LAGII π«°π»π«°π»π«°π»****
BABAY!! VOTE KOMEN MU SEMANGAT KUU πͺπ»
__ADS_1