REGAF ARGANTARA

REGAF ARGANTARA
REGAF ~ 65


__ADS_3

"Lo siapa?"


Deg.


Saat itu juga tubuh Vanca rasa nya tak bertenaga. Namun tetap mencoba terlihat biasa saja. Ia mendekati Regaf, mencoba untuk mengajak nya bicara. Vanca mencoba mencoba memegang tangan Regaf namun hal yang membuat Vanca juga teman teman nya terkejut ialah Regaf yang menolak Vanca.


"Gue ga kenal lo siapa!" ucap Regaf menolak Vanca untuk menggenggam tangan nya. Regaf memegangi kepala nya yang berdenyut nyeri. Ia meringis pelan.


"Regaf." Andra memegang bahu Regaf yang langsung mendapat tepisan dari Regaf. Andra yang mendapat respon seperti itu langsung mundur. Memilih menjauh. Terkejut melihat respon sahabat lama nya itu.


"Kalian semua siapa?" Regaf mengulang ucapan nya yang membuat Vanca, Andra, Geo, Risa, Nesa dan Sheryl tertegun untuk kesekian kali nya.


Vanca menatap Regaf tak percaya. Hati nya bedesir ngilu. "Regaf aku Vanca. Kamu ga inget sama aku? Aku mohon jangan kaya gini. Bilang sama aku kalau kamu cuma pura pura kan Gaf?" ujar Vanca dengan suara nya yang parau.


Regaf ?


"Gue panggilin Dokter dulu ya." Ucap Nesa. Lalu ia pergi bersama Sheryl dan Risa.


"Agrh!" Regaf mengeram sakit karena nyeri di kepala nya semakin menjadi. Vanca yang melihat itu pun mencoba membantu—menenangkan dan memberi rasa tenang dengan menyentuh bahu Regaf dan lagi lagi mendapatkan tepisan yang kali ini lebih kasar dari sebelumnya.


Vanca terkejut. Jelas. Tidak biasa nya Regaf memperlakukan diri nya seperti ini bukan? Lalu ada apa sekarang? Apa benar yang dikatakan oleh dokter tadi?


"Regaf. Kamu jangan bercanda! Aku khawatir sama kamu! Kamu gamungkin lupa sama aku kan Gaf!" Ucap Vanca mulai berkaca-kaca. Ia takut. Cemas. Semua nya menjadi satu. Ia takut semua hal yang dikatakan dokter beberapa jam lalu semua itu benar ada nya. Vanca menolak keras kenyataan itu.


"Regaf, ini aku Vanca. K-kamu marah banget, ya, sama aku? Sampe kamu nggak mau aku sentuh sedikitpun?" Vanca menatap Regaf yang turut menatap nya dengan tatapan tak percaya.


"Aku minta maaf. Kalau memang semua nya salah aku, kalau aja aku ga lakuin kesalahan sampe kamu marah sama aku mungkin kamu gak kaya gini Gaf. Tapi aku mohon jangan gini." Vanca menatap Regaf sendu.


Geo memalingkan wajahnya melihat interaksi Vanca ke Regaf yang tak digubris sedikitpun. Ia tahu apa yang terjadi namun ia memilih bungkam hingga dokter yang menjelaskan sendiri. Geo mengusap sudut mata nya yang terasa berair.


Regaf menjambak rambut nya sendiri saat merasakan kembali kepala nya yang berdenyut nyeri. Ia tidak tahu apa yang terjadi, tapi ketika mencoba mengingat semua nya, ia gagal. Ia tidak tahu siapa orang orang yang berada di samping nya ini.


Regaf menatap orang orang disekelilingnya bergiliran. "Kalian semua siapa gue? Kenapa gue bisa ada disini? Apa yang udah terjadi sama gue?"


Andra mundur beberapa langkah dan menyandarkan punggungnya di dinding. Ia menundukkan kepalanya. Bahu nya bergetar, cowo itu menangis. "Lo gamungkin hilang ingatan total kan Gaf?" lirih Andra.


Vanca mundur beberapa langkah. Geo tak tega melihat Regaf. Ia ingin sekali mendekat dan membuat Regaf. Tapi, ia urungkan niatnya saat mengingat penolakan yang dilakukan Regaf kepada Andra. Gak mungkin kan Gaf? Lo lupain semua nya? Termasuk gue sama Andra yang udah lama ada di samping lo? Batin Geo.

__ADS_1


Gio tak bisa menahan air mata nya lagi. "Lo kenapa harus gini? Gue sebagai sahabat lo, sakit liat lo kaya gini."


Suara derap langkah terdengar begitu jelas, membuat atensi mereka teralihkan. Dokter baru saja datang bersama Sheryl, Nesa, dan Risa yang berjalan dibelakang nya.


Nesa yang berada di samping Abel pun menarik pundak Abel untuk sedikit menjauh dari brankar Regaf. Ia menatap Vanca dengan tatapan iba. "Vanca, lo harus terima semua keadaan nya sekarang. Setidaknya, raga Regaf udah balik sekarang." Nesa melirik Regaf yang tengah diperiksa oleh Dokter.


"Tapi gue belum siap kehilangan sosoknya. Sakit liat Regaf nggak ingat siapa gue." ucap Vanca dengan nada yang terdengar parau. Sheryl mengusap-usap punggung Vanca lembut. "Semuanya bakal kembali dengan seiring berjalannya waktu," bisik Sheryl .


Andra melangkah saat melihat Dokter itu selesai memeriksa keadaan Regaf. Dokter itu menatap mereka semua dengan tatapan sendu. Tahu apa yang ada di pikiran mereka saat ini.


"Ini yang kami takuti. Prediksi kami ternyata benar, pasien hilang ingatan." jelas Dokter sembari menatap Regaf.


Andra ingin marah. Ia ingin meluapkan amarahnya kepada dokter itu. Tapi, itu semua tidak ada guna nya. Mau tidak mau, ikhlas tidak ikhlas , Andra mencoba menerima kenyataan pahit ini.


"Nggak! Dokter bohong kan? Bilang kalau semua ini bohong dok! teriak Vanca masih tak terima. Risa menarik Vanca kedalam pelukannya.


"Vanca, Vanca, dengerin gue. Regaf gak apa apa. Regaf balik kembali lagi buat lo, Van," ucap Risa menenangkan. Vanca menangis. Ia melihat Regaf hanya diam saja, menatap orang orang di samping nya dengan tatapan bingung.


"Cepet sembuh Gaf!" Geo menepuk bahu Regaf. "Gue tunggu lo sebut nama gue." Regaf mendongak dan menatap Geo.


"Apa sudah bisa dipastikan berapa lama waktu Regaf amnesia, Dokter?" tanya Geo. Dokter itu sempat menghembuskan nafas berat. "Maaf, saya belum bisa memastikannya."


"Regaf, kamu udah sadar nak? Apa yang sakit? Bilang sama mami?" Wanita itu tersenyum seraya mengusap pipi putra nya. Alex—ayah Regaf menitikkan air mata nya. "Papa selalu berdoa yang terbaik buat kamu. Papa bersyukur liat kamu udah sadar. Cepet sembuh ya nak, orang orang terdekat kamu nungguin kamu pulang."


"Cepet sembuh ya kak! Ara nungguin kakak terus, cepet sembuh!" Ara menimpali dengan seburat senyum di bibir nya. Juga Gisel yang berada di samping nya turut memberi senyum.


"Mama sama papa selalu doain yang terbaik buat kamu nak. Cepet pulih, kasian Vanca udah nungguin kamu." Ujar Ratna—ibu mertua Regaf—turut bicara.


"Gws bro!" Celetuk Caren yang ikut bicara, melihat keadaan Regaf seperti ini pun membuat nya iba. Apalagi Vanca yang selalu menunggu nya.


Vanca, Sheryl, Risa, Nesa, Geo serta Andra memilih diam dalam perihal Regaf yang hilang ingatan sepenuhnya. Vanca memalingkan wajahnya. Ia tidak kuat melihat senyum yang terbit di bibir kedua mertua nya itu. Apa lagi Ara, yang terlihat antusias sekali.


"Mami? Papi?" Regaf menatap keluarga nya dengan raut bingung. "Kalian semua siapa?"


Jantung Wenda seperti dihantam batu besar. Wanita itu menggeleng, tidak mungkin Regaf melupakan nya.


"Pak, Bu, pasien mengalami hilang ingatan. Apa yang terjadi pada diri nya, dan orang orang yang dia kenali, dia tidak tau. Terutama bapak dan ibu sebagai orang tua nya sendiri," jelas sang dokter. "Saya sudah memastikan keadaan nya tadi."

__ADS_1


"Nggak! Nggak mungkin anak saya hilang ingatan, Dok!" Wanita menentang ucapan dokter yang memeriksa Regaf. Ia menatap Regaf dengan sendi, mengusap-usap pipi Regaf dengan lembut. "Regaf, ini mama. Kamu ingat mama kan? Ga mungkin kamu lupa sama mama."


Alex yang mendengar ucapan sang dokter pun memegang pengkal hidung nya, karna tiba tiba kepala nya menjadi pusing. Ia menatap sang dokter lamat. "Bilang! Bilang kalau anda bohong soal perihal ini! Nggak mungkin anak saya hilang ingatan! Bilang! Bilang kalau anak saya gak kenapa-napa!" ucap Alex dengan oktaf tinggi.


Rhyon—ayah Vanca—menarik Alex agar menjauh dari Dokter itu. Sebelum hal diluar dugaan terjadi. "Lex udah! Lo harus tenang!"


"Gimana saya bisa tenang?! Bisa bisa nya dokter ini bilang kalau anak saya hilang ingatan!" tunjuk Alex pada dokter didepan nya. Dokter itu tak berkutik, ia hanya diam membiarkan pria itu berbuat lebih pada nya.


"Om udah. Semua nya bukan salah dokter nya. Semua nya udah jalan yang Mahakuasa. Aku juga sedih om liat kondisi Regaf sekarang, tapi kita bisa berbuat apa?" Gisel berkata untuk menenangkan ayah Regaf.


"Regaf kamu ingat papi kan? Bilang kalau kamu ingat Papi. Ini papi, orang yang didik kamu sejak kecil, orang yang rawat kamu sejak kecil. Ini papa Nak." Ujar papa berusaha mengingatkan Regaf.


"Pak, maaf saya lancang, lebih baik pasien jangan terlalu dipaksa untuk mengingat semuanya. Biarkan pasien pulih dengan sendirinya. Kalau tidak—" Dokter itu menggantung kan kalimatnya. "Kondisi nya akan lebih parah dari ini," lanjut nya.


Semua menatap Regaf dengan sendu. Air mata mereka begitu deras mengalir tanpa henti. Hati berdesir ngilu melihat kondisi Regaf seperti ini. Ditambah lagi Regaf tak inga siapa siapa. Jangan kan teman, dengan orang tua nya pun ia tidak ingat.


"Kamu boleh lupa sama aku Gaf. Tapi aku mohon kamu tetep anggep aku disini sebagai istri kamu ya?"


***


Gimanaa part iniii???


Komen yyaa!! Aku mau liat antusias nya kalian sama chapter ini!!


Maaf aku lama update nya ya, karna aku masih mikir juga nulis ini.


Like, vote, and spam komen yaa hhe


Maaf kalo pendek durasi nya, dan maafin kalau ada typo.


Di next chapter aku bkl ksi Casting dari 'Caren, Gisel, Ara, Juga Meisya' ya!


Oke babay next chapter><


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2