REGAF ARGANTARA

REGAF ARGANTARA
REGAF ~ 79 [ Dua nyawa? ]


__ADS_3


Beberapa bulan setelah nya..


Kehidupan Vanca dan Regaf kini jauh lebih baik dan terlihat harmonis. Kedua nya sama-sama sudah terbiasa dengan sikap satu sama lain. Dan akhir-akhir ini Vanca terus merasakan kram di perut bagian bawah nya, dan juga perut kembung. Tak luput jika bangun tidur ia akan mual-mual.


Sudah seminggu ia seperti ini. Hingga hari ini Vanca memutuskan untuk tidak sekolah dulu karna ia sangat tidak tahan dengan mual-mual yang terus menyerang, dan ada saja rasa kram perut yang tidak dapat ia kondisi kan. Dan Regaf pun turut tak masuk kampus hari ini, demi menemani istrinya.


Awal nya Vanca menolak, namun karna Regaf sangat keras kepala Vanca pun akhirnya mengalah. Vanca saat ini tengah berada di toilet tepatnya di wastafel. Vanca terus mengeluarkan isi perut nya namun tak ada yang keluar selain saliva.


Regaf setia menemani Vanca, berada di belakang perempuan-nya, mengurut tengkuk leher Vanca dan memegangi rambut panjang istrinya.


Wuek!


Lagi-lagi Vanca memuntahkan cairan dari dalam mulutnya. Regaf tak tega melihat Vanca yang terus menerus seperti itu. Ia sudah beberapa kali membujuk Vanca agar mau ke rumah sakit, ia takut Vanca kenapa-kenapa.


"Sayang, cek aja ya?" bujuk Regaf lagi. Ia sangat ingij membawa perempuan -nya ke rumah sakit agar dicek oleh Dokter disana. Namun sayang nya Vanca sangat keras kepala.


Vanca membasuh mulutnya, lalu ia menggeleng. Memandang Regaf dari balik cermin. "Gak Mas. Paling juga masuk angin doang, udah biasa kayak gini ntaran juga sembuh."


Regaf menghela nafas pelan. "Udah seminggu kayak gini, aku gak tega liatnya. Cek mau ya?"


"Aku gak papa kok Mas," kata Vanca dengan tersenyum.


"Kalau kamu kenapa-kenapa gimana? Biar tau kamu kenapa kita cek aja, mau ya?"


Vanca memegang tangan kekar Regaf. Memperhatikan wajah tegas suaminya yang terlihat khawatir. "Aku gak papa kok Mas. Gak usah khawatir," kata Vanca.


"Apa jangan-jangan kamu hamil?" tebak Regaf membuat Vanca terkekeh. "Gak mungkin aku isi, minggu lalu aku baru habis kelar mens." jelas Vanca membuat Regaf menghela nafas berat.


"Gak mau cek dulu?" bujuk Regaf lagi. Ia memandang Vanca dengan tatapan memohon.


"Mau ya?"


Vanca tak tahan melihat wajah Regaf yang menurut nya sangat menggemaskan. Ia pun mengalah dan mengiyakan permintaan Regaf.


"Yaudah iya."


****


"Selamat, nona Vanca dinyatakan hamil. Ini hasil USG nya, bayi didalam kandungan sudah berumur satu minggu. Namun kandungan dapat dinyatakan sudah satu bulan semenjak selesai menstruasi." Dokter tersebut memberikan foto hasil USG. Sebut saja dokter Fiva.


Vanca dan Regaf tercengang beberapa saat mendengar perkataan dari Dokter Fiva. Perlahan Regaf mengambil kertas USG itu dan melihat nya.


"Dok? Ini serius?" tanya Vanca tak percaya.


Dokter Fiva merasa heran pasangan muda ini sejenak. "Kalian benar-benar sudah menikah kan?"


Kedua nya kompak mengangguk.


"Nona Vanca sering merasa mual, perut kembung? Atau kram?" tanya Dokter Fiva.


"Iya dok, sejak satu Minggu terakhir," kata Vanca.


Dokter Fiva tersenyum. "Itu tanda awalan pada ibu hamil, jadi itu sudah biasa. Dan mungkin hingga satu bulan kandungan akan terus seperti itu."


"Jadi saya beberan hamil dok?" kata Vanca yang masih tidak percaya.


"Iya, selamat ya Nona Vanca, Tuan Regaf. Info lebih lanjut nya bisa konsultasi pada dokter kandungan nya."


Regaf melihat kertas ditangannya. Ia tidak melihat apapun, selain titik kecil berwarna putih disana. "Mana bayi nya?" kata Regaf dengan polos nya.


Vanca dan Dokter Fiva terkekeh renyah. "Karna usia bayi nya masih sangat kecil jadi belum terlihat jelas."


Regaf mengangguk paham. Ia lalu menghadap pada Vanca, kemudian ia mengelus perut rata Vanca disana dan berujar. "Halo baby, Daddy tunggu kamu sampe kamu ketemu Daddy!"


Vanca dan Dokter Fiva dibuat tersenyum oleh tingkah Regaf. Namun Vanca juga merasa senang sekali, Tuhan telah memberikan dirinya dan Regaf keturunan, dan mempercayai mereka untuk mengurus nya.


"Kapan bisa konsul lagi?" tanya Regaf.


"Dua Minggu sesudah ini bisa datang lagi, dan pesan saya jangan terlalu banyak beraktivitas berat, dan terlalu banyak pikiran karna itu bisa beresiko sama bayi yang umur nya masih sangat rentan."


"Usahakan makan dengan teratur dan pasti bergizi untuk bayi dan ibu, dan olahraga ringan seperti jalan pagi, dan yoga ibu hamil, yoga bermanfaat dalam proses melahirkan agar lebih mudah." jelas Dokter Fiva panjang lebar. Lalu setelah itu ia menuliskan resep vitamin untuk Vanca.


Vanca dari tadi tidak bisa menahan senyum nya. Ia tidak menyangka ada nyawa didalam perut nya.

__ADS_1


"Ini resep vitamin juga obat pereda nyeri, bisa di ambil di bagian obat," ujar Dokter Fiva pada Regaf.


"Baik dok, terima kasih."


Regaf dan Vanca keluar dari sana dengan perasaan yang sungguh senang.


***


"HUAAAA CONTRAST SAYANGGGG!! GUE BILANG JUGA APA KANN, LO PASTI HAMILLLL!! AAAA GUE OTW JADI OUNTY DONGGG;!" Seru Sheryl di seberang sana. Mereka kini tengah melakukan videocall, bersama-sama.


"Ntar anak lo panggil gue onty, duh pasti gemesssss," sahut Nesa juga.


"Gue dipanggil ounty sama anak lo, mereka biar dipanggil ounta aja," ceplos Risa, Vanca sampai dibuat tertawa olehnya.


"Haha, ada-ada aja deh kalian. Nyesel gue kasih tau, pasti heboh dey," kata Vanca dari sini.


Ketiga sahabat Vanca tengah jam istirahat di sekolah, jadi lah mereka bisa video call. Dan tentu mereka tidak dikelas, yaitu di taman belakang yang sepi.


"Bagus nya ntar kasi nama apa ya?" kata Nesa seraya berfikir.


"Kalau baby nya cowok, Zayn aja! Bagus tuh!" kata Sheryl yang terlihat sangat semangat.


"Kalau cewek gimana Kaley? Itu bagus sih," tambah Risa.


Vanca dibuat geleng-geleng kepala melihat para sahabat nya itu. "Ini baru seminggu, lo pada udah mikir nama aja," kata Vanca tak habis fikir.


"Ya buat persiapan lah Van!" cetus Sheryl.


"Oh! Jangan-jangan baby nya kembar lagi?!" kata Nesa cosplay peramal.


Disana terlihat Risa memutarkan bola mata nya malas. Ia sebal dengan gadis satu ini, dengan mudah nya berteriak tepat di samping telinga nya.


Vanca mengedikkan bahu nya tak tahu. "Gak tau sih, belum ketahuan juga cewek apa cowok nya. Masih kecil juga jadi ga kelihatan banget."


"Ntar malem kita kerumah lo ya Van, gak boleh nolak! Udah dulu soal nya udah bell, dadaahh!"


Sambungan terputus sepihak dari sana. Vanca senang melihat respon excited dari para sahabatnya. Lalu tak lama Regaf menghampiri Vanca yang tengah duduk di sofa ruang tamu.


"Udah telfon Mami Papi?"


"Yaudah, aku mau siapin makanan dulu buat mereka."


Baru saja Vanca berdiri, Regaf sudah mencekal lengan Vanca agar duduk kembali. Vanca menatap Regaf heran, seolah bertanya 'Kenapa?'


"Mau ngapain?"


"Siapin makanan."


"Gak inget kata Dokter Fiva? Gak boleh cape, atau beraktivitas berat, udah kamu duduk aja jangan ngapa-ngapain."


"Loh, terus nanti yang siapin makanan siapa?"


"Kan bisa pesen sayang," kata Regaf kelewat gemas pada istrinya.


"Aku gamau kamu cape-cape, kamu mulai sekarang jangan beres-beres rumah. Biar nanti aku cari art aja, pokok nya kamu jangan sampe kecapean!"


Vanca merotasikan bola mata nya malas. Kenapa Regaf sangat posesif sekali, namun ia juga senang karena Regaf perhatian padanya.


"Iya-iya bawel banget sih kamuu!"


"Demi kamu juga sayang, aku gamau baby nya kenapa-kenapa, kamu juga," kata Regaf. Tanpa aba-aba Vanca langsung memeluk pinggang suaminya dan menenggelamkan wajahnya di dada lebar suaminya.


"Makasih ya Mas," kata Vanca semakin mengeratkan pelukannya.


Regaf membalas pelukan Vanca, ia pun mengelus punggung istrinya itu. "Aku yang harus nya makasih sama kamu, ini anugerah Tuhan buat kita, sebisa mungkin aku bakal terus jagain kamu," ucap Regaf disana.


Bahkan tak terasa air mata Vanca turun begitu saja setelah mendengar ucapan Regaf. Ia senang, senang sekali, saking senangnya ia tak bisa menjabarkan bagaimana senangnya saat ini. Rasa senang ini terasa berlipat lipat lebih besar.


Terimakasih Tuhan.


****


Sorenya, seperti yang dikatakan oleh Regaf. Keluarga besar Regaf dan Vanca datang kerumah mereka. Tidak dengan tangan kosong, ada yang membawa peralatan bayi, namun tidak semua. Ada juga yang membawa buah-buahan, makanan sehat, dan susu ibu hamil.


Mereka berkumpul di ruang tengah. Mami adalah yang paling heboh diantara mereka semua. Semua peraturan, pertanyaan ia lontarkan pada Vanca, hingga ia pusing sendiri jadinya. Ratna dan Wenda sampai update Facebook dengan caption 'Comingsoon Cucu'

__ADS_1


"Pokok nya kamu harus jaga kesehatan, makan gaboleh asal makan! Kurangi makan yang pedas-pedas!" kata Wenda yang sangat kentara sekali sifat posesif nya.


"Dan Regaf! Jagain istri kamu, kalo Vanca sama baby nya kenapa-kenapa, kamu yang mami salahin!"


Regaf hanya bisa pasrah mendengar ucapan Mami nya. Kenapa jadi ia dipojokkan? Yang anak kandung sebenernya dia apa Vanca?


"Mama juga bawa susu ibu hamil buat kamu Van. Diminum ya, biar bayi nya sehat terus," kata Ratna pada Vanca.


"Iya Ma, makasih ya. Mami juga Repot-repot banget bawa semua ini," kata Vanca merasa tak enak.


"Ih! Gak papa, yang penting bayi nya sehat. Itu calon cucu Mami."


"Itu calon anak aku," kata Regaf tak mau kalah membuat lainnya tertawa.


"Asik! Aku jadi punya keponakan dong," sahut Ara.


"Iya dong Ra," kata Vanca membalas.


"Trus kak Caren jadi om deh," kata Vanca menahan tawa nya. Caren hanya memasang wajah datar nya, bukan nya ia tak senang, hanya saja ia bingung harus berekspresi bagaimana.


"Diem deh lo!"


"Galak bangett, itu fakta loh Kak!" ujar Vanca.


"Caren kapan mau nyusul nya nih? Udah mau punya ponakan ini, masa kalah sama adek nya," goda Wenda pada Caren.


"Masih nunggu calonnya," sahut Caren.


"Dicari lah jangan ditunggu mulu, kapan ketemu nya," timpal Regaf dengan nada jenaka.


"Bener itu kata Regaf, kalau ditunggu terus yang ada keburu diangkut orang," tambah Alex.


"Jodoh gak akan kemana, jadi tunggu aja," sahut Caren kelewat santai.


"Halo baby, baik-baik ya disanaa, nanti kalau kamu udah lahir, aku beliin es krim!" kata Ara berbicara pada bayi didalam perut Vanca.


"Baru brojol masa udah di kasi es krim Ra, Ra. Ada-ada aja kamu ini," kata Rhyon yang mendengar lucu perkataan Ara. Sementara Ara hanya cengengesan saja.


"Sudah umur berapa nak?"


"Satu minggu Ma," jawab Vanca kepada Ratna.


"Baik-baik ya Nak, jaga kesehatan. Umur segitu paling rentan kandungan nya."


"Regaf juga harus lebih extra jagain Vanca nya," lanjut Ratna.


"Iya ma, tanpa mama bilang pun pasti bakal aku jagain kok," jawab Regaf membuat Ratna lega mendengar nya.


Hingga tak terasa obrolan, sudah hampir magrib. Mereka pun memutuskan untuk pulang kerumah masing-masing. Makin sebelum mereka pulang, tepat nya Ratna, Wenda dan Ara. Mereka bersama-sama membereskan rumah Vanca agar Vanca tidak repot nantinya. Wenda yang bagian memasak, Ratna yang mencuci piring dan Ara yang menyapu lantai. Sementara Vanca hanya disuruh diam tanpa melakukan apapun.


Saat magrib hampir tiba, mereka berkemas-kemas dan pamit untuk pulang. Saat di teras, sebelum pulang Wenda mengucapkan sesuatu pada keduanya saat yang lain sudah masuk mobil.


"Vanca, kalau lagi hamil ditahan dulu ya," ucap Wenda membuat Vanca tak mengerti apa maksud nya. "Maksud Mami apa?"


"Kalau lagi hamil ditahan dulu jangan buat anak lagi," kata Wenda dengan gemas kerena Vanca sungguh lama loding nya.


"Kamu juga Regaf! Istri nya lagi hamil anak kamu, ditahan dulu nafsunya!"


Mendengar itu Vanca hanya bisa menunduk kepala malu dan Regaf menggaruk tengkuknya yang tak gatal.


"Mami pamit pulang dulu," setelah itulah Wenda masuk kedalam mobil suaminya dan pergi meninggalkan halaman rumah Vanca dan Regaf.


****


Halo halo!


Mana nih yang nungguin Vanca hamil??? Komen dulu donggg


Part kali ini gak terlalu panjang, karnaa ngetiknya ngebut bangttt.


Aku up itu seminggu sekali, ada yang bilang aku lama up nya, maaf ya, krna sblm nya jg aku udh blg gtu kn.


Maafin kalo ada yang typo disini, like komen mu semangat ku!


Jangan lupa follow, dan favorit kan jugaa yaa! Oke babay next chapter!

__ADS_1


__ADS_2