
"Ndra! Gimana?" tanya Geo pada saat ia sampai di cafe tempat kemarin. Mereka kini berada di meja pojok sambil memantau meja Emmie.
"Joelly belum dateng." Memang benar, sudah setengah jam menunggu tetapi tidak ada tanda-tanda Joelly datang. Padahal kata Emmie, Joelly mengatakan bahwa dia akan datang.
"Lama banget!" decak Geo tak sabaran. Beberapa saat kemudian terdengar lonceng yang tepat berada dibelakang pintu.
Sontak kedua nya menoleh, mereka pikir itu Joelly ternyata bukan. Hingga satu jam setengah berlalu. Sampai sekarang pun Joelly belum juga datang. Geo, Andra juga Emmie sudah bosan menunggu. Mereka juga lelah menunggu namun orang yang ditunggu tidak menunjukkan batang hidungnya.
"Buset! Tu orang niat dateng kaga sih!" decakan sebal keluar dari mulut Geo. Mereka seperti orang yang tidak ada kerjaan, menunggu seseorang yang tak pasti.
"Apa dia tau rencana kita?" gumam Andra.
"Apa?" beo Geo.
"Samperin Emmie! Suruh pulang aja!" kata Andra lalu pergi keluar dari cafe. Geo pun menghampiri Emmie untuk menyuruh pulang, setelah nya ia menyusul Andra keluar.
***
"Ngapain!" suara berat yang sangat Vanca kenali itu mengejutkan diri nya. Perlahan Vanca berbalik menoleh ke arah suara.
"Regaf!"
"Ngapain!" Regaf mengulang kembali perkataan nya. Menatap dingin ke arah Vanca. Dan Vanca bingung harus mengatakan apa. Padahal tadi ia sudah menyiapkan kata kata yang harus ia bicarakan kepada Regaf dan tiba tiba sekarang semua kata itu lenyap.
Perlahan Vanca mendekati Regaf, dan berhenti tepat di depan Regaf. "Kamu kemarin kemana?" tanya Vanca pura pura tidak tau, ia hanya ingin mengetes kejujuran Regaf dalam hal ini.
"Apa peduli kamu?"
Vanca tersentak kaget mendengar jawaban yang diberikan oleh Regaf. Tidak pernah Regaf seperti ini kepada nya kecuali waktu pertama mereka bertemu. Biasa nya Regaf akan menjawab pertanyaan nya dengan baik.
"Regaf kam-"
"Ngapain ke sini?!" Vanca mengatupkan bibir nya rapat saat Regaf memotong perkataan nya. "Aku mau temuin kamu Regaf!"
"Pulang!"
"Kamu ikut sama aku kan?"
"Untuk sementara waktu aku tinggal disini!"
"Loh Regaf kenapa?"
__ADS_1
Kenapa jadi Regaf yang keliatan marah? harus nya gue dong yang marah! ini kenapa malah jadi dia seolah-olah gue yang salah! Vanca mencak mencak sendiri di batin nya.
"Kamu masih tanya kenapa? Gausah pura pura bego, aku tau apa yang udah kamu lakuin di belakang aku!" ucap Regaf dengan nada dingin. Bulu kuduk Vanca seketika meremang, ia merasa aliran darah nya melaju cepat. Apa maksud perkataan Regaf?
"Maksud kamu apa? Aku ga ngerti!"
"Udah lah, sekarang mending kamu pulang!" usir Regaf pada Vanca. Itu semakin membuat Vanca bertanya tanya? Apa salah nya?
"Kenapa kamu jadi marah ke aku? harus nya yang marah itu aku!" sekarang dahi Regaf mengerut tak mengerti maksud ucapan Vanca. "Apa maksud kamu?" tanya Regaf dingin.
Vanca mengangguk lalu berlalu pergi keluar dapur menuju ruang tamu diikuti Regaf.
"Kamu masih ga mau jujur?" kata Vanca dengan lirih. Regaf yang semakin tak mengerti apa maksud nya pun memilih diam.
"Kemarin kamu ga pulang pulang, aku nungguin kamu sampe tengah malem! tapi apa?" Vanca menggantung kalimat nya.
Vanca menarik nafas dalam-dalam lalu berkata, "Kamu malah pergi ke diskotik! Dan kamu!" Vanca menunjuk tepat di wajah Regaf.
"Kamu dengan berani nya main main dibelakang aku! Kamu ke sana seneng seneng sama perempuan lain. Sementara aku nungguin kamu semalaman!" Vanca kepalang emosi, nafas nya tak beraturan.
Perempuan lain?
"Aku ga nyangka!"
"Maksud kamu apa! Perempuan lain? Aku ga serendah itu!" Regaf menekan kata kata nya. "Pura pura bodoh!" Vanca tertawa hambar. Tapi Regaf tidak buta, terlihat dari sorot mata Vanca bahwa gadis ini sedang terluka.
"Bukan nya kamu? Yang mau dipegang sama laki laki lain, padahal udah punya suami!" bantah Regaf menatap Vanca. Vanca mendelik mendengar perkataan Regaf barusan. Apa kata nya? Dipegang laki laki lain? Lalu bagaimana dengan dia?
Vanca menatap Regaf kembali. "Aku ga pernah dipegang laki laki lain Gaf! Kamu jangan ngarang!" Vanca sudah tidak tahan lagi, dia benar benar tidak habis fikir.
"Terus kemarin itu apa!!" tanpa sadar Regaf membentak Vanca. Tubuh Vanca terasa seperti disengat listrik. Ia kaget tapi berusaha untuk bersikap biasa saja. "Apa maksud kamu?"
"Kemarin niat nya aku mau bawain kamu makanan, kata teman teman kamu, kamu dikelas. Tapi ternyata malah pelukan sama cowo lain!" sarkas Regaf.
"Dan aku ga buta! Kamu dengan senang hati dipeluk tanpa nolak sedikit pun!" sambung nya dengan oktaf yang tinggi. Vanca memejamkan mata nya, ada rasa takut saat dia melihat Regaf marah.
"AKU GA PERNAH DIPELUK COWO LAIN GAF!" bantah Vanca yang memang itu benar nya. Regaf menarik nafas kembali, wajah nya gusar dan mata memerah.
Vanca mengingat bahwa kemarin itu, Kenzie yang datang untuk mengikat rambut nya. Vanca tersenyum lembut membuat Regaf tersentak melihat nya.
"Aku ga pernah dipeluk laki laki lain. Kamu salah paham Regaf.." mata Vanca memerah menahan tangis, bahu nya bergetar hebat. Pikiran yang sudah tak terkendali.
__ADS_1
"Kamu salah paham.." cairan cairan bening itu melapisi kelopak mata Vanca. Regaf mencoba untuk mencari kebohongan di mata Vanca, namun nihil.
"Aku ga mungkin salah liat Van! Jelas jelas kamu dipeluk sama Kenzie!" kata Regaf semakin menjadi. Vanca menggeleng cepat, Vanca tidak ingin Regaf salah paham dengan nya seperti ini.
"Engga.. ga gitu.." sial nya air mata yang ditahannya agar tidak jatuh, malah terjatuh begitu saja mengenai pipi nya. Dengan cepat ia menghapus air mata itu dengan kasar.
"Kamu salah paham Regaf.. Kenzie cuma nolongin aku--"
"Nolongin? Pelukan kamu bilang nolongin?! Lucu lo!"
"KENAPA KAMU JADI GINI REGAF?! INI BUKAN REGAF YANG AKU KENAL!"
"KAMU CARI CARI KESALAHAN AKU YANG MEMANG AKU GA LAKUIN ITU! HARUS NYA KAMU SADAR! BUKAN AKU YANG MAIN BELAKANG TAPI KAMU!" Vanca tidak kuat lagi menahan gejolak di dada nya. Ia mengeluarkan semua unek unek nya. Tapi tak urung air mata Vanca untuk berhenti, malah semakin deras.
"Aku tau semua nya Regaf! Kamu ke diskotik malam ini, dan main sama cewe lain!"
"Apa bukti kamu bilang gitu?" kata Regaf dengan nada rendah. "Kamu mau bukti?" Vanca merogoh kantong saku nya mengambil ponsel milik nya.
Dihadapan Regaf, Vanca menunjukkan foto foto itu. Regaf sempat kaget melihat isi foto itu. Terdapat dia dan perempuan yang sangat ia kenali.
Difoto itu, Regaf yang tengah tidak sadarkan diri, dan perempuan itu yang bersandar di dada Regaf. "Dari mana kamu dapet foto itu?" tanya Regaf berubah dingin.
"Ga perlu tau aku dapet dari mana! Aku mau sekarang kamu jujur ke aku! Apa yang udah kamu lakuin semalam?" kata Vanca berubah lirih, terdengar tak ada tenaga. Mata nya sendu, dan sedikit sembab akibat menangis.
"Aku ga ngelakuin apa pun, memang aku kesana tapi engga dengan cewe itu!" elak Regaf. Vanca tertawa mendengar hal itu, tertawa miris. "Terus foto tadi apa?! Gamungkin itu kembaran kamu kan!"
"Denger! Aku ga pernah main sama cewe lain Vanca! Jawab aku, dari mana kamu dapat foto itu!" desak Regaf memaksa agar Vanca mau menjawab.
"Aku dapat ini kemarin dari kontak kamu sendiri!" Regaf semakin tak percaya. Pasti ada yang menjebak nya, ada yang tidak beres.
"Masih mau nyangkal? Mau ngelak ini bukan kamu?" Kata Vanca dengan suara yang hampir tidak terdengar. "Oke!" Vanca melangkah pergi keluar dari dalam sana. Vanca tidak tahan lagi. Sudah cukup untuk sekarang.
Niat nya ingin membicarakan ini baik baik, tapi ternyata semua itu tidak semudah yang dibayangkan. Vanca yang sakit hati pada Regaf karena bermain belakang dari nya. Dan Regaf yang salah paham akan Vanca yang berpelukan dengan laki laki lain.
***
LIKE, KOMEN, VOTE, HADIAH, FAV, BUAT DUKUNGAN NYA!
TYSM YG UDH LIKE!
BYE BYE!
__ADS_1