
"Kamu ngerokok?!" sembur Vanca menatap tajam pada Regaf.
"Sesekali aja sayang," ucap Regaf yang langsung disambut sorakan mengejek dari teman-teman kelas nya yang memang berada di tenda yang sama. Kecuali perempuan.
"MAKIN KESINI MAKIN BUCIN AJA LO!" Geo berteriak membuat beberapa dari mereka berjengkit kaget.
"Eh tunggu deh, ini maksudnya gimana sih?" tanya Jansen yang masih tidak tau hubungan Regaf dan Vanca.
"Iya, Regaf sama Vanca ada apa?" ujar Hendro turut bertanya. Geo melirik Hendro dan Jansen, "lo berdua gatau?"
"Vanca isβ"
"BANGSAT!" rintih Geo kencang saat Andra menendang betis nya dengan tidak pelan. Andra memberi lirikkan tajam pada Geo agar tidak ember.
"Is apa Ge?" tanya Jansen kepalang penasaran.
Geo terkekeh garing. "Vanca is pacar Regaf.." Geo senyum-senyum sendiri sambil mengusap betis yang yang sakit.
"Sejak kapan mereka pacaran?" kata Jansen.
"Udah lama." sahut Regaf membuat semua atensi beralih padanya.
"Gila! Berita besar dong nih, kok lo baru buka-bukaan sih?"
"Harus?"
"Ya nggak, tapi kenapa gitu?"
"Gak ada." jawab Regaf yang sangat cuek.
"Eh eh! Tuh Pamungkas woii!!!" pekik salah satu murid dari stand lain, membuat stand Regaf beralih pada panggung. Sudah ada Pamungkas yang siap membawakan lagunya untuk mengisi acara malam ini.
Alunan musik itu terdengar sopan masuk ketelinga Vanca. Cewek itu menutup matanya menikmati musik, pamungkas adalah artis favoritnya.
Nesa sibuk memvidiokan momen ini, jarang-jarang kan, ia bisa melihat pamungkas secara langsung. Lagipula lumayan untuk modal story nya.
Ditengah menikmati musik, Vanca memegangi perutnya yang terasa pedih, namun ia mencoba menahan nya dan kembali menonton dengan tenang.
Nesa melirik Vanca yang memegang perutnya. "Van? Lo kenapa?" tanya Nesa memperhatikan Vanca.
Vanca menggeleng. "Gue gak papa kok," kata Vanca bohong, lalu ia tersenyum.
"Gausah boong Van. Lo udah makan belum?"
"Udah kok," bohong Vanca lagi.
Regaf menghampiri Vanca, ia merasa Vanca sedang menahan sakit, cowok itu memperhatikan Vanca yang memegangi perutnya. "Kenapa?"
Vanca mendongak menatap Regaf yang berdiri disamping nya, Vanca menggeleng. "Gak papa."
Regaf memandang Vanca sejenak, lalu ia pergi begitu saja. Vanca tak ambil pusing, ia kembali memfokuskan pada panggung kembali menikmati acara yang berlangsung.
"Makan." Regaf tiba-tiba datang membawa roti. Cowok itu menjulurkan roti yang ia beli pada Vanca. Cewek itu menatap Regaf, "aku gak laper kok Gaf, kamu makan aja," tolak Vanca yang terlihat bohong dimata Regaf.
"Nurut. Ngapain pegang perut dari tadi? Aku tau kamu belum makan," kata Regaf yang tidak meleset sama sekali. Memang Vanca tidak makan sebelum kemari.
"Yaudah, makasih ya," Vanca tersenyum pada Regaf. Tangan besar Regaf terangkat untuk mengusap pucuk kepala Vanca, lalu cowok itu tersenyum simpul.
Regaf menarik kursi dan mendudukan bokongnya disamping Vanca duduk. Ia memperhatikan Vanca yang memakan rotinya.
Nesa memperhatikan sebelahnya, ia merasa nyamuk disini, hanya memperhatikan orang yang sedang pacaran. Nesa pun memutuskan pergi dari tempat duduknya. Sebelum pergi ia sempat bicara pada Vanca.
"Van, gue kesana dulu ya, biar lebih jelas," kata Nesa yang langsung diangguki Vanca.
Nesa pergi dari sana sedikit menjauh, ia merasa menjadi orang bodoh yang hanya bisa melihat teman nya pacaran dengan suaminya.
Nesa berdiri di dekat stand kelas 12 IPS 4 yang sedikit sepi karena penghuni nya banyak yang memenuhi area panggung.
"Cari apa?" tegur Geo yang spontan membuat Nesa kaget. Cewek itu melotot pada Geo yang berada di samping nya.
"Pergi lo!" usir Nesa ketus.
"Baru aja dateng gue udah diusir aja," cibir Geo menatap fokus kearah depan. Nesa tak mengindahkan, ia hanya diam fokus menonton.
Geo melirik Nesa disampingnya, entah kenapa berada didekat cewek ini membuatnya nyaman. "Nes," panggil Geo.
"Gausah ngomong sama gue!"
Geo tersenyum simpul, padahal dia menyahut. "Gak tau terimakasih banget lo, udah gue jemput juga," kata Geo.
"Oh! Lo gak ikhlas nih ceritanya? Mau apa lo?" Nesa menatap Geo dan Geo pun menatap Nesa.
"Mau lo."
"A-apasih, gak jelas lo!"
Geo terkekeh, Nesa sedang malu. Dan itu terlihat lucu dimatanya. "Pipi lo kenapa merah?" tanya Geo yang dapat melihat dengan jelas pipi Nesa walau gelap. Pipi Nesa yang putih sangat kentara terlihat seburat merah di pipinya.
"Diem Ge!" Nesa memegangi pipi nya yang merasa panas. Cowok sialan!
"Heh! Lo ngapain disini?" kata Meisya yang tiba-tiba datang β dengan nada tinggi.
Nesa memandang Meisya tak suka. "Emang masalah ya buat lo?"
"Jaga omongan lo ya!"
"Kenapa! Ada yang salah sama omongan gue?" kata Nesa semakin kesal rasanya, namun ia masih bersikap tenang.
Geo yang masih berdiam di samping Nesa hanya diam memandang keduanya dengan bersekap dada.
"Lo gak ada sopan-sopan nya ya, sama kakak kelas! Lo ngapain disini gue tanya? Ini acara kelas 12 kalau lo gak tau, dan disini lo kelas 11, gak seharusnya lo ada disini tau gak!"
"Oh gitu ya? Dan gue disini diundang asal lo tau. Kalaupun bukan karena Vanca yang minta gue kesini, gue gak bakal mau kesini. Paham lo!" Nesa menekankan setiap kata-katanya.
Geo menambah nilai plus pada cewek ini, cewek ini terlihat sangat santai tanpa ada rasa takut.
Manik Meisya beralih pada Vanca yang berada dekat dengan Regaf. Meisya menghampiri Regaf. "Gaf, lo mau makan gak?" tanya Meisya namun tak digubris sama sekali oleh Regaf. Vanca memandang Meisya tak suka, namun ia tak melakukan apapun.
Teman-teman Regaf terkekeh kecil karena Meisya yang diabaikan begitu saja oleh Regaf. Memang Meisya ini slah satu most wanted di SMA Merpati, cewek yang memiliki tubuh dan body goals juga paras yang cantik membuat beberapa siswi menyukai dirinya. Namun tidak dengan Regaf dan teman-teman nya.
Meisya beralih pada Vanca yang masih setia duduk disamping Regaf dengan memakan rotinya. "Lo ngapain disini? Masih punya muka lo? Gak ada manfaatnya lo dateng kesini."
"Gak ada manfaatnya lo ngomong kayak gitu.'
Bukan Vanca yang menyahut, melainkan Regaf. Nesa dan Geo kembali mendekat ke stand mereka. Regaf yang mulanya memandang fokus kedepan kini beralih pada Meisya.
"Kok lo ngomong hitu sih Gaf? Ini kan acara kita, ngapain ada mereka?" kata Meisya menunjuk Vanca dan Nesa.
"Masalah?" Andra angkat bicara dengan tatapan tajamnya.
"Ya, maksud gue kan, ini acara kelulusan dan mereka ngapain ada disini segala."
__ADS_1
"Gue yang ajak mereka kesini!" kata Regaf dengan tatapan tajam bak elang nya. Cowok itu risih dengan keberadaan Meisya.
Vanca memandang Meisya, ia kesal dengan perempuan ini, sangat pandai cari muka! Ingin rasanya ia mencakar dan menjambak rambut gadis itu, hanya saja keadaan yang tidak memungkinkan.
"Ngapain lo ajak dia kesini sih Gaf?"
"Dia?" Regaf menaikkan sebelah alisnya, kemudian Regaf mengambil sebelah tangan Vanca dan menggenggamnya. "Yang lo bilang 'dia' itu pacar gue."
Pengakuan Regaf barusan membuat Vanca menatap Regaf dalam. Beberapa siswa yang mendengar ucapan Regaf pun turut terkejut, apalagi Meisya sekarang. Ia dia mematung, mata nya memandang tangan Regaf yang menggenggam tangan Vanca.
"Apa? Vanca pacar Regaf?"
"Oh my god! Ini serius gak sih?"
"Anjir!! Gue shock parah! Tapi gue ship mereka sih!"
"Hah? Vanca pacar Regaf? Gimana ceritanya? Kok bisa?"
"Gak cocok Regaf sama Vanca!"
"Omo omo!"
"Mereka kaya couple goals gitu gak sih?'
"Bukannya kemarin baru aja ada masalah yang mereka berantem itu ya?"
"Mereka beneran pacaran?!"
Bisik demi bisik. Kata demi kata yang dilontarkan oleh siswa-siswi kelas 12 itu masuk di telinga Meisya. Dan terdengar oleh mereka semua.
Mata nya memanas dan hati yang tak rela. "Lo bercanda kan Gaf?" kata Meisya tak terima.
Regaf menaikkan sebelah alisnya. "Gue serius."
Meisya menggeleng kuat. "Gak! Lo pasti bohong! Gak mungkin lo mau sama dia!" tunjuk Meisya pada Vanca.
"Jaga mulut lo!" Nesa menyela, dan ingin bicara lagi namin Geo mengentikan dirinya. Regaf berdiri dari duduk nya, sebentar ia melepaskan tautan tangannya dengan Vanca.
Cowok jangkung, memiliki kulit putih dan tinggi juga sayangnya tampan itu, menatap Meisya. "Mau bukti?"
Meisya mengerutkan keningnya bingung, juga sama hal nya dengan teman-teman Regaf. Apa yang dimaksud Regaf dengan bukti?
Regaf mau ngapain?
"Gaf.." Vanca memegang ujung kemeja Regaf itu seolah kode agar Regaf tidak meladeni lagi. Namun Regaf tak menggubris.
"Bukti apa maksud lo Gaf?" sahut Hendro bertanya, pertanyaan nya sangat mewakili lainnya.
Lantas Regaf mengambil tangan Vanca menyuruh gadis itu bangun dari duduknya. Saat Vanca sudah berdiri, mereka saling tatap sejenak.
Jika kalian ingin tau, mereka saat ini sudah menjadi bahan tontonan karena pas sekali acara sedang dipending menunggu bintang tamu berikut nya.
Regaf menarik pinggang Vanca agar lebih dekat dengannya. Lalu Regaf menarik tengkuk leher Vanca dan mencium Vanca tepat pada bibirnya.
Sontak hal itu mendapat sorakan heboh dari siswa-siswi lainnya yang melihat mereka. Semua orang yang melihat mereka sama-sama terkejut, bahkan teman Regaf. Nesa sudah mengabadikan momen itu diponsel nya.
Mereka shock berkepanjangan. Vanca membulatkan matanya, Regaf masih diam tidak melakukan lebih.
"MAIN SOSOR AJA LO GAF! ANAK ORANG WOI!" pekik Jansen yang tak percaya sebenarnya.
Meisya mematung ditempatnya. Jantungnya berdetak dua kali lebih cepat. Apa apaan!
Regaf tersenyum simpul lalu beralih memandang Meisya. "Gimana? Udah percaya?"
Bukannya menjawab, Meisya langsung pergi begitu saja dari sana. Sudah cukup harga diri ya diinjak, ia tak ingin menahan malu lagi. Meisya pergi dengan mencak-mencak.
Regaf beralih pada Vanca. Cewek itu masih setia menunduk. Regaf mengangkat dagu cewek itu, agar mau menatap nya. "Kenapa? Malu?"
Vanca menggeleng pelan. "Kaget aja," kata nya pelan.
Regaf mendekatkan dirinya pada telinga Vanca. "Maaf."
Vanca menatap Regaf dalam. Ada rasa lega ketika Regaf menolak Meisya tadi. Teman-teman nya yang masih memperhatikan mereka.
"Kenapa minta maaf?"
Regaf mengedikkan bahu nya. Vanca tersenyum kecil, ia pun memeluk tubuh Regaf yang jauh lebih besar dari nya. Regaf tersentak kaget. Ia mencoba menahan hentakan Vanca.
"UUHH, PERGI AJA YOK GES KITA. DARI PADA JADI NYAMUK DISINI!" jerit Hendro. Andra melihat itu hanya geleng-geleng kepala.
"Bikin iri aja lo Van," gumam Nesa yang ternyata didengar oleh Geo. Cowok itu merunduk untuk membisikkan sesuatu. "Mau coba gak?"
Nesa menoleh cepat, ia mendapati wajah Geo yang sangat dekat dengannya. "Gak jelas lo!" Nesa pergi begitu saja, Geo tersenyum simpul karenanya. "Lo bikin gue tertarik Nes," gumam Geo yang hanya dapat didengar oleh dirinya.
Regaf yang hanya mematung mengundang sorakan teman-teman nya. Cowok itu menunduk melihat Vanca yang memeluk nya. Seketika senyum cowok itu terbit, tangan nya bergerak untuk membalas pelukan dari istri nya.
****
Bagaikan burung elang yang terbang sangat cepat. Berita beberapa jam lalu sudah menyebar luas dikalangan sosmed anak-anak SMA Merpati.
Banyak yang membicarakan tentang hal ini, terutama di Twitter. Akun lambe turah SMA Merpati sangat cepat menyebar berita tersebut.
Vanca meng-scroll beranda tweet nya, malam ini sepulang acara tadi Vanca membuka ponselnya. Betapa terkejutnya ia melihat berita itu yang langsung ramai dalam satu jam. Lebih parah nya ada foto nya dengan Regaf.
Vanca tak habis fikir. Berita ini kenapa cepat sekali menyebar nya?
Vanca melempar ponselnya begitu saja diatas kasur, dan bertepatan Regaf masuk dengan membawa satu cangkir teh hangat. Dengan cepat Vanca menoleh saat mendengar decit suara pintu.
Regaf duduk di ranjang, ia menaruh teh itu di nakas. Cowok itu memandang gadis disampingnya. "Kenapa?"
Vanca menyerahkan ponselnya yang memang sedari tadi laman tweet itu masih menyala. Regaf mengambil ponsel Vanca dan melihat isinya. "Wah! Udah nyebar aja," ucap Regaf terlihat santai membuat Vanca tak habis fikir.
"Kok kamu kayak biasa aja gitu?"
"Trus aku harus gimana?"
"Gaf.., beritanya udah nyebar luas. Pasti satu sekolah pada tau sekarang."
"Mereka tau nya kamu sebagai pacar aku, bukan istri aku. Jadi gapapa."
"Bukan gitu.., fans kamu kan gak sedikit Gaf. Kalau aku di serang sama cewek-cewek fans kamu itu gimana?" Vanca berucap frustasi.
Regaf menatap Vanca dengan perasaan bersalah. Dirinya hanya berniat membuat Meisya menjauh dari nya, tapi malah berujung seperti ini.
Regaf mengusap pucuk kepala Vanca. "Maaf."
Vanca mendongak. "Kamu gak salah, cuma aku belum siap aja ngedepin mereka nanti nya," kata Vanca tak enak.
"Biarin aja, cuekin."
__ADS_1
"Kamu sih enak bilang doang! Mana kamu udah lulus lagi," cibir Vanca.
"Libur kali ini panjang. Beberapa hari kedepannya mereka juga lupa." kata Regaf dengan entengnya. Vanca memukul paha Regaf gemas. "Kamu pikir mereka anak kecil apa! Yang besok ya langsung lupa?"
"Udah jangan dipikirin. Minum," Regaf memberikan cangkir teh yang ia bawa tadi. Vanca menerimanya dengan senang hati. "Makasih."
Vanca teringat satu hal, Vanca menaruh gelas itu dinakas didekat nya. Vanca menatap Regaf. "Kamu udah lulus kan?"
Regaf mengangguk.
"Terus.. kamu mau kuliah dimana?"
Regaf berfikir sejenak. Ia mengingatkan perkataan papi nya waktu itu.
Flashback on.
Regaf masuk kedalam ruang kerja papi nya karena ia dipanggil oleh beliau. Saat masuk ia melihat papi nya yang duduk dikursi kerjanya.
"Kenapa manggil Regaf pi?"
Alex menutup laptopnya, lelaki yang sudah berkepala empat itu memandang anak sulungnya. "Duduk dulu."
Regaf menurut. Cowok itu duduk di kursi tepat didepan papinya, menatap serius pada papinya.
"Jadi, kamu sebentar lagi lulus bukan?"
Regaf mengangguk. Alex tersenyum simpul, lalu ia membuka berkas yang sudah lama ini ia siapkan. Alex menyerahkan berkas itu kepada anaknya.
Regaf mengerutkan keningnya bingung. "Baca," suruh Alex yang mengerti akan kebingungan anaknya. Regaf membuka lembaran kertas hvs itu seraya membaca dengan teliti.
"REG'S Company?" eja Regaf membaca tulisan disana. Regaf memandang Papi nya heran bercampur bingung. Apa maksudnya?
"Jadi papi mau setelah kamu lulus, kamu kelola perusahaan yang sudah papi siapkan selama bertahun-tahun untuk kamu."
Regaf diam. Ia tak bereaksi apapun. Regaf terkejut bukan main. Apa yang dikatakan ayah nya? Lelucon?
"Pi! Regaf gak mau ikut campur dalam urusan perusahaan. Regaf mau usaha dan Regaf punya cita-cita sendiri."
"Ini demi kebaikan kamu Regaf. Papi sudah siapkan ini untuk kamu!"
"Regaf udah menikah pi!"
"Karena itu kamu harus mau! Demi istri kamu Regaf!"
"Setelah lulus, dua minggu setelah nya kamu terbang ke London." Lanjut Alex pada Regaf.
Regaf mengacak rambutnya frustasi. "Terus gimana sama Vanca pi?"
"Biarkan Vanca disini. Kamu beri pengertian sama dia. Gak lama, satu tahun kamu disana. Setelah nya kamu pulang," kata Alex.
Regaf menatap wajah Alex dalam. "Regaf mau kuliah pi," Regaf masih gencar untuk menolak.
"Kamu tidak perlu kuliah. Perusahaan itu sudah ada didepan mata kamu. Hanya tinggal kamu kelola. Jika pengelolaan kamu bagus, kamu akan cepat kembali."
"Dan jika sebaliknya, kamu akan lebih lama disana. Ingat papi selalu mengawasi kamu walau dari jauh." lanjuf Alex berucap.
"Apa gak bisa tunggu Regaf lulus S1 Pi?"
"Kamu mau mengulur waktu? Papi sarankan kamu belajar tentang perusahaan sejak sekarang. Karena keputusan papi sudah bulat." ucap Alex telak. Membuat Regaf tak bisa berkata apa-apa.
Flashback off.
"Regaf!"
Regaf membuyarkan lamunannya. "Iya?"
Vanca berdecak kesal. "Jadi kamu mau kuliah dimana?" Vanca mengulang pertanyaan nya.
"Belum tau Van," Regaf sengaja berbohong karena mungkin nanti saja ia akan beritahu.
Regaf memandang Vanca dalam. "Van, kalau nanti semisalnya aku pergi jauh dari kamu, gimana?"
"Maksud kamu?" dalam hati Vanca was-was dengan perkataan Regaf barusan.
Regaf menggeleng. "Lupain."
Vanca tak puas dengan jawaban yang diberikan oleh Regaf. "Bilang Gaf! Kamu mau kemana?"
"Gak kemana-mana."
"Regaf! Maksud kamu ngomong gitu apa sih? Kamu mau ninggalin aku pergi?" mata Vanca sudah berkaca-kaca, itu membuat hati Regaf tak tega.
"Regaf kamu mau ninggalin aku, iya?"
Regaf menggeleng. Ia mengusap mata Vanca yang basah. "Kalau aku pergi sekalipun, aku pasti bakal balik lagi Vanca," Regaf mencoba memberikan pengertian.
Vanca menggeleng kuat. "Kamu mau kemana!"
Regaf mengelus pelan rambut Vanca. Ini yang Regaf tak mau, Vanca pasti menangis. "Gausah dipikirin, tidur udah malam."
"Jawab dulu!" tolak Vanca.
"Aku bakal kasih tau tapi bukan sekarang," kata Regaf pada gadis-nya.
Vanca menunduk. Ia takut akan ditinggalkan oleh Regaf. Walau itu sebentar, tapi rasanya sangat lama.
"Jangan pergi," cicit Vanca pelan. Regaf tersenyum mendengar nya. Cowok itu membawa Vanca masuk kedekapannya. Ia mengusap punggung Vanca.
Regaf diam, ia tak tau harus menjawab apa.
****
Hello Geng!!
Gimana sama part inii???
Lama gak si aku up nya?
Maaf ya kalau lama, aku tu orang nya moodyan jadi kadang kalau nulis gapernah langsung beres. Habis nulis satu scene biasa nya aku tinggal nonton, makan, main sosmed, atau engga tidur π
Jadi nya lama ') Trus kalau aku nulis kadang di hp, di buku, atau nggak di komputer, jadi scene nya itu kepisah-pisah, kalau udah mau up aku rombak lagi. Itu salah satu alasan aku lama up, kalau engga yaa aku kehabisan ide ')
Aku kadang susah ngatur waktu update di sini, jadi gimana kalau aku bikin jadwal up aja? Aku mau bikin jadwal up itu sekitar seminggu sekali atau dua kali. Gimana menurut kalian? Mau gakk?
Kasih like, komen and vote ya geng buat dukungan kalian!!
40 like bisa ga sih?
Kalau like nya stabil aku up lagi babayy!! Jangan lupa jawab di komen soal jadwal up yang aku bilang yaaa. Oke segitu dulu.
^^^Tbc. ^^^
__ADS_1