
Ditaman belakang, Vanca dan Elys memilih duduk di bangku taman yang jarak nya cukup jauh dari kolam. Mereka duduk di bawah pohon rindang, semilir angin menerpa wajah mereka.
Sejenak menikmati angin yang berhembus, Elys menutup matanya. Vanca memperhatikan Elys dari samping, mungkin Andra benar-benar menyukai gadis ini pikirnya.
"El," panggil Vanca.
"Iya?"
"Lo suka sama Andra?"
Pertanyaan itu membuat Elya menoleh cepat. "Hah? Suka? Suka lah, siapa yang nggak suka sama Andra? Dia cowok baik," kata Elys terdengar jujur.
Vanca berdecak kesal. "Bukan itu maksud gue."
"Terus apa?"
"Suka yang gue maksud itu kayak.. lo cinta gitu sama dia, bukan sekedar suka biasa," kata Vanca lagi.
Elys memandang rerumputan yang terawat didepannya. Ia sendiri bingung dengan perasaannya, Andra adalah orang yang menolong nya, hampir setiap hari mereka bertemu, bagaimana Elys menjelaskan nya?
"Nama lo siapa?" tanya Elys yang belum mengetahui nama Vanca.
"Vanca, panggil aja Vanca."
Elys mengangguk paham. "Gue gak tau Van, kadang kalau gue deket sama Andra bikin gue ngerasa ada yang lain gitu, gatau apa. Tapi disisi lain gue juga baru kenal sama Andra," Elys berucap lalu mengedarkan pandangannya pada setiap taman.
"Gak mungkin juga, kan, gue juga gak mau suka sama Andra," kata Elys membuat Vanca bertanya tanya.
"Maksud lo apa?"
"Gue gak mau nanti nya Andra malah terbebani sama gue, hidup gue terlalu rumit," ucap Elys lalu menunduk. Vanca masih tak mengerti, apa maksud gadis itu.
"Awal lo ketemu Andra dimana?"
"Gue gak sengaja ketemu dia waktu dijalan, hampir aja dia nabrak gue waktu itu, gue emang pengen ditabrak tapi Andra malah rem motor nya."
"Lo mau mati?!"
Elys memandang Vanca dari samping lalu mengangguk. "Iya, gue pengen mati saat itu. Hidup gue selalu dikekang, dan gue kabur dari rumah karna gue gak mau dinikahi sama temen ayah," Elys mendongakkan kepalanya menghalau air mata yang akan turun.
Vanca terkejut mendengar pengakuan Elys. Apakah ayah nya sudah gila?!
"Lo mau dinikahin sama temen bokap lo? Yang bener aja?!" ucap Vanca tak percaya.
Elys mengangguk. "Karna itu gue kabur dari rumah, dan gue ketemu Andra, dia udah kayak malaikat pelindung bagi gue Van," kata Elys dan saat itu juga air mata nya turun, namun dengan cepat ia menepis air mata itu.
Vanca memandang Elys dengan perasaan iba. Kehidupan gadis ini sangat malang. "Kalau boleh tau, kenapa bokap lo mau nikahin lo sama temen bokap lo?"
Elys duduk menghadap Vanca. "Ayah gue punya hutang sama dia, dulu Ayah gue pernah minjam uang buat investasi, tapi ayah gue malah ditipu dan uang nya dibawa kabur," Elys menggantung kalimat nya.
"Ekonomi keluarga gue lagi gak bagus, dan ayah gue sendiri pun gak bisa ganti uang nya. Demi lunasin hutang ayah gue, dia mau nikahin gue sama orang itu, atau nggak rumah keluarga gue disita," ucap Elys terdengar parau. Bahkan mata gadis itu telah berkaca, lapisan air itu sudah siap akan turun membasahi pipinya.
"Gue.., gue gak mau nikah sama dia, gue pengen pulang tapi gue gak berani buat pulang. Gue bingung disini," ucap Elys dengan air mata yang sudah pecah.
Vanca turut sedih mendengar semua keluh kesah Elys, ternyata dari sekian orang yang menderita ada yang lebih menderita.
"Gimana sama nyokap lo? Dia gak belain lo?"
Elys menggeleng lemah. "Ibu gue udah meninggal Van," ucap nya dengan tatapan sendu. Sungguh kehidupan yang malang.
"Lo kuat banget sih El, lo bisa pura-pura baik di depan orang lain, tapi sebenarnya lo rapuh didalamnya," Vanca berucap, ia menggenggam kedua tangan Elys.
Elys menarik nafas panjang lalu ia hembusan perlahan. "Gue jadi curhat gini," kata Elys tak enak hati.
Vanca menggeleng. "Gak papa, gue gak masalah. Mulai sekarang, kalau lo butuh temen curhat, gue bisa jadi temen lo. Gue siap dengerin semua nya, dan kasih solusi kalau ada," kata Vanca memandang Elys dengan senyum terbaik nya.
Elys tersenyum, gadis itu mengangguk. Lalu kedua nya berpelukan seperti layaknya saudara sendiri.
Nyatanya, jalan hidup semua orang, dan masalah yang menimpa itu berbeda-beda, dan cara yang berbeda untuk menyelesaikan nya. Jika kamu merasa bahwa jalan hidupmu sangat menderita, kamu salah. Karna masih banyak yang lebih menderita diluar sana.
***
Andra sudah menceritakan bagaimana kronologi ia bertemu dengan Elys kepada Geo dan Andra beberapa menit lalu.
"Kenapa dia kabur dari rumah?" tanya Regaf pada Andra.
Andra menggeleng tak tau. "Gue gak tau pasti, tapi waktu itu dia bilang bosen dirumah," ucap Andra yang terdengar ragu.
Geo menggeleng tak percaya, ada ya orang bosan dirumah lalu kabur?
"Tu cewek gila apa gimana?" ucap Geo yang langsung mendapat tatapan tajam bak elang dari Andra.
"Gue coba nebak, waktu pertama ketemu, gue sempet liat kaki dia merah, kayak.. bekas cambuk?"
Ucapan Andra membuat kedua temannya terkejut. "Maksud lo, dia kabur karna disiksa?" ucap Regaf yang juga tidak percaya pasti.
"Gue mikir gitu awal nya, tapi saat gue gak sengaja denger dia nelfon sama bokap nya, dia kayak nolak keras buat pulang karna bokap nya paksa dia pulang saat itu," kata Andra menjelaskan.
"Gue rasa tu cewek lagi ada masalah sendiri, alasan kabur karna bosen, itu gak masuk akal," ucap Regaf dengan otak cerdas nya.
Andra pun mengangguk setuju, ucapan Regaf sangat logis.
"Jadi... rencana lo selanjutnya apa?" tanya Geo memandang Andra. Cowok itu terlihat bingung.
"Untuk saat ini, kayak nya gue mau jagain dia aja. Entah kenapa saat gue liat dia, gue pengen buat lindungin dia terus," ucap Andra yang terdengar pasti.
Geo berdehem pelan. "Lo... suka sama Elys?"
***
Kini Geo, Andra, dan Elys pamit untuk pulang, sudah cukup lama mereka disana. Geo sudah pulang duluan yang katanya ada urusan.
Andra dan Elys baru saja melesat pergi dari perkarangan rumah Regaf. Mereka sedang dijalan menuju penginapan Elys.
Tak ada yang membuka suara, hanya deru mesin motor dan suara dari kendaraan lainnya. Hingga sepuluh menit berlalu, mereka telah sampai di penginapan Elys.
Gadis itu turun dari motor besar Andra, lalu merapikan rambut nya yang bertebaran oleh angin. "Makasih ya, gak mau mampir dulu?" tawar Elys.
"Nggak, gue pulang."
Elys mengangguk, namun ia menghentikan Andra yang ingin pergi karena terbesit satu pertanyaan di kepalanya. "Dra tunggu! Gue mau tanya," kata Elys.
Andra memandang Elys menunggu ucapan selanjutnya dari gadis itu.
"Yang tadi punya rumah, itu temen lo?"
Andra mengangguk. "Kenapa? Suka?"
Elys menggeleng cepat. "Nggak! Siapa bilang, kan gue cuma nanya," ucap Elys.
"Bagus deh, kalau lo suka sama dia, itu sama aja lo suka suami orang," ucap Andra lalu menghidupkan mesin motornya.
"Suami orang? Maksud nya?" kata Elys tak mengerti.
__ADS_1
Andra memandang Elys malas. "Lo liat cewek yang sama dia?"
Elys mengangguk.
"Itu istri nya."
Andra memandang Elys, ia tahu bahwa gadis ini akan shock. Dipikiran Elys adalah, ia pikir Vanca adalah keluarga Regaf, atau mungkin kakak perempuan nya. Ternyata ia salah.
"Jadi yang dibilang Geo bener?"
Andra mengangguk.
"Temen lo itu—"
"Sama kayak lo kan? Baru lulus?" kata Elys melanjutkan perkataannya.
"Dijodohin, nikah muda," ucap Andra singkat namun langsung membuat Elys paham. Ada ya zaman sekarang nikah SMA? Ia tak ingin memusingkan itu. Ia pikir hanya ada di dunia novel.
"Gue pamit," ucap Andra, namun Elys lagi-lagi membuat pergerakan Andra terhenti. Gadis itu memanggil Andra lagi, lama-lama Andra jengah mendengar nya.
Cowok itu diam memperhatikan Elys yang hanya diam diri. "Ada yang mau lo omongin? kalau gak ada gue pergi."
"Eh jangan! Gue mau nanya lagi," kata Elys. Ia berfikir sejenak bagaimana ia akan bertanya.
"Jadi?" Andra sudah jengah menunggu.
Elys menghirup udara sebelum mulai bicara, ia hanya takut dikatakan GR. "Maksud lo bilang gue itu calon, calon apa?" kata Elys, ia mengedarkan pandangannya tidak ingin memandang mata Andra.
Andra memperhatikan Elys sejenak. Bagaimana ia harus menjawab nya? Bodoh ia berucap seperti tadi. Ingin ia kembali menarik kata-kata nya.
"Lupain aja, gue juga gak tau kenapa gue ngomong gitu."
Elys merosotkan bahu nya lemas. Ia terlalu berharap dengan jawaban Andra, kenapa ia berharap sekali? Seharusnya ia tahu kalau Andra tidak mungkin akan menyukai perempuan seperti dirinya.
Andra sangat memperhatikan perubahan mimik wajah Elys dari sebelumnya. Gadis itu terlihat lebih murung dimatanya. Apa jawabnya Andra salah? Ia sendiri bingung dengan perasaannya.
***
"Udah pulang temen kamu Gaf?" tanya Wenda yang datang dari atas. Diruang tamu, masih ada Vanca dan Regaf.
"Udah Mi, baru aja," kata Regaf.
"Mami butuh sesuatu?" tanya Vanca.
"Mami mau kedapur, ambil minum."
Vanca berdiri dari duduk nya, lalu berkata. "Biar Vanca ambilin Mi, mami duduk aja," ucap Vanca lalu perempuan itu masuk ke dapur.
Wenda tersenyum melihat menantunya yang perhatian padanya. Memang gak salah pilih.
Wenda mendudukan bokongnya di sofa, bersebrangan dengan Regaf. "Bersyukur kamu, bisa menikah sama perempuan sebaik Vanca."
"Iya Mi, Regaf juga bersyukur. Gak nyesel nikah muda," kata Regaf lalu tersenyum simpul.
"Siapa yang kemarin awalnya nolak buat dijodohin?" Wenda memandang putranya dengan wajah jahil.
"Itu, kan dulu mi, beda lagi."
Vanca datang dari arah dapur membawa segelas air putih, dan satu gelas jus jeruk. Tadi sebelumnya, Regaf meminta dibuatkan jus.
"Makasih," kata Regaf menerima jus yang diberikan Vanca. Perempuan itu duduk di samping Regaf.
"Gimana nak?" tanya Wenda yang tertuju pada Vanca.
Vanca yang bingung lantas diam.
"Pelan-pelan minumnya, kayak gak minum setahun aja kamu!" celetuk Wenda pada Regaf. Lelaki itu memandang Vanca yang juga turut memandang nya.
"Mami kenapa tiba-tiba ngomong kayak gitu?" tanya Regaf.
"Kayak gitu gimana? Mami cuma tanya, Vanca udah ada isi belom?"
"Kita belum kepikiran kesana Mi, lagipula Vanca masih sekolah," kata Vanca pada Mami nya. Ia berkata demikian dengan rasa tidak enak, tapi memang ia belum kepikiran.
"Begitu ya? Yasudah gapapa. Tapi kalian sudah melakukan 'itu' kan?" ucap Wenda penuh makna. Vanca dan Regaf tidak bodoh, mereka tau maksud perkataan Wenda.
Karena Regaf dan Vanca diam, Wenda kembali berucap. "Jangan bilang kalian belom?"
"U-udah kok Mi," jawab Vanca dengan kikuk.
Wenda tersenyum senang. "Bagus kalau begitu, mami kira belum," ucap Wenda lalu kembali meminum air nya.
"Regaf, jaga istri mu baik-baik. Jangan kamu sakiti dia, kemarin udah kamu bikin nangis menantu mami," kata Wenda memberi peringatan.
"Iya mi, enggak," kata Regaf membalas.
"Yasudah mami mau ke ruangan papi kamu dulu," ucap Wenda lalu beranjak dari sofa.
"Iya, mi."
***
"REGAF BALIKINNN!!!"
"NGGAK MAUU!"
"IH REGAFF!!"
Aksi kejar-kejaran di seluruh sudut rumah itu mengundang penghuni rumah keluar dari kamar mereka. Sudah malam padahal, tapi pasutri itu tidak perduli. Mereka tidak menghiraukan orang rumah yang sedari tadi menonton mereka.
"REGAF ITU MARTABAK TERAKHIR AKU! KOK KAMU AMBIL SIH!" teriak Vanca yang tak pantang menyerah masih mengejar Regaf yang memegang satu potong martabak keju miliknya.
"REGAF!"
"PELIT BANGET KAMU UDAH MAKAN DARI TADI!" sahut Regaf.
"ITU YANG TERAKHIR REGAF!"
Vanca lelah, nafasnya ngos-ngosan. Ia berhenti dengan tangan bertumpu pada lutut dan Regaf berada diujung. Seluruh antesi orang rumah terus menuju pada mereka.
"Sini kalau mau!" Regaf berlagak akan memakan martabak itu.
"Regaf kenapa iseng banget sih?" komentar Wenda pada sang anak, ia sendiri pusing mendengarnya.
"Regaf tuh Tan, kalau gak bikin emosi gak berenti dia," sahut Gisel disampingnya. Alex sendiri memegang pangkal hidung nya yang terasa pusing.
"Kayak anak TK aja lo bang!" kata Ara menimpali.
"Sudah, kan bisa beli lagi?" Alex menyahut.
"Tapi Pih! Itu martabak Vanca," cicit Vanca dengan mata memanas. Entah kenapa rasanya ingin menangis padahal hanya perihal martabak.
"Yaudah deh," Vanca memilih pergi dari sana dan masuk ke kamar nya. Regaf sendiri panik bukan main melihat Vanca seperti itu. Tidak biasanya.
Regaf hanya bercanda dan tidak berniat akan memakan nya. Ia kembali menaruh martabak itu di tempatnya dan menyusul Vanca dikamar.
__ADS_1
Vanca sendiri kini sudah duduk di ranjang. Ia kesal, tapi bukan karna martabak, entah karna apa.
"Vanca," panggilan halus itu menyapa telinga nya.
Vanca kini tak mau memandang Regaf. Ia memalingkan wajahnya pada lain arah. Yang penting tidak menatap Regaf.
"Marah?"
Pake nanya lagi!
"Kenapa sih?"
Bodoh.
"Gara-gara martabak?"
Vanca diam.
"Maaf ya, beli lagi aja mau?"
Nggak, gue udah gak mood!
"Vanca? Hei," Regaf memegang dagu Vanca dan menolehkan pada nya agar perempuan itu mau menatap nya. Regaf mengamati wajah murung gadis itu.
"Maaf yaa.. kita beli lagi yuk, yang banyak."
Vanca menggeleng.
"Kenapa?"
Gak tau rasa kenapa gue kesel, pengen nangis.
"Sayang.."
Vanca memejamkan mata nya menikmati sentuhan lembut tangan Regaf pada kulit wajahnya.
"Aku minta maaf."
"Gatau! Aku kesel sama kamu!" Vanca memilih membaringkan tubuhnya, lalu ia menutupi wajah nya dengan selimut.
Regaf tersenyum kecil, gemas sekali.
Tangan cowok itu mencoba membuka selimut yang menutupi wajah perempuan nya. Namun Vanca menahan dengan kuat agar selimut itu tidak terbuka.
"Kok ngambek sih? Ayo kita beli lagi," bujuk Regaf namun tak mendapat sahutan.
"Yaudah kalau gak mau, aku pergi sendiri aja, aku bareng Ara makan mar—"
"AYO!" Vanca langsung bangun dan menatap Regaf yang kini tengah tertawa. Apa yang lucu?!
"Kok ketawa?! Tau ah males!"
"Nggak, kamu lucu."
"Basi," gumam Vanca yang masuk di telinga Regaf.
"Ayo, sekalian jalan-jalan," ajak Regaf yang membuat mood Vanca seketika naik. Ia tersenyum lalu tanpa sadar ia memeluk Regaf dan mencium pipi kanan cowok itu.
Regaf diam, tapi ia senang. Lalu ia membalas memeluk Vanca. Tak lama berselang, mereka menyudahi nya dan memilih bersiap-siap.
***
"Wahh!"
Vanca menatap kagum pasar malam Jakarta malam ini. Ramai dan penuh kerlap kerlip lampu. Vanca merasa sangat senang karena Regaf membawanya kesini, sudah lama ia tidak kesini.
"Suka?"
Vanca mengangguk antusias. "Banget! Dulu waktu kecil, mama papa sering bawa aku kesini," ucap Vanca yang terdengar antusias.
Regaf senang mendengar nya, setidaknya ia bisa mengembalikan senyum Vanca yang tadinya hilang.
Regaf menggenggam tangan Vanca dengan tangan besarnya. Vanca sontak menoleh pada Regaf, namun cowok itu tak menghiraukan. Vanca tak masalah, ia malah senang.
Mata Regaf menangkap sebuah kedai es krim. "Mau es krim?"
Vanca tersenyum manis, lalu mengangguk semangat. "Mau!"
"Ayo, kesana," Regaf menarik Vanca menuju kedai eskrim itu.
"Mas, es krim nya dua ya, coklat sama vanilla," kata Vanca pada penjual es krim itu. Terlihat masih muda sekali.
Saat es krim itu sudah dibuat, langsung saja Vanca mengambil nya dan Regaf membayarnya. Dan setelah itu Vanca memberikan satu es krim coklat pada Regaf.
Cowok itu menerima nya, mereka kini duduk di salah satu kursi yang sudah tersedia. Sangat menyenangkan.
"Eh Gaf! Kesana ayo!"
"Kemana?"
Vanca menunjuk studio foto yang jarak nya tidak jauh dari mereka. Regaf hanya mengikuti Vanca, ia tidak berminat, tapi ia tidak mau mengecewakan Vanca.
"Ayo foto!"
"Iya," jawab Regaf pasrah dengan apapun yang ingin dilakukan Vanca.
Saat hitung mundur sudah mulai, keduanya mengambil posisi.
Cekrek.
Satu foto sudah terambil oleh mesin foto. Vanca dengan antusias mengambil kertas nya. Perempuan itu melihat foto nya tapi seketika wajahnya berubah datar.
"Kenapa?" tanya Regaf yang tak mengerti dengan raut itu.
"Apa-apaan kayak gini! Senyum dong Gaf! Kaku gini," ucap nya memandang kesal pada foto yang ia pegang sekarang.
"Udah bagus itu."
"Nggak! Pokok nya ulang!"
Regaf mengghela nafas pelan. Ia tetap menurut walau terpaksa. Ia hanya ingin membuat Vanca senang, tidak lebih.
Sudah banyak foto yang mereka ambil dengan gaya yang berbeda-beda, dan bermain beberapa wahana, juga membeli martabak keju kesukaan Vanca.
Hingga tanpa sadar, sudah pukul 22.44 malam.
"Udah malam, pulang aja ya?"
Vanca mengangguk. "Boleh, aku udah cape juga."
Keduanya berjalan menuju perkiraan motor. Malam itu mereka menghabiskan waktu bersama dengan segala kesenangan di hati.
***
Gak bohong kn aku up hri ini ✌🏻
__ADS_1
TOLONG LIKE N KOMEN NYA GAIS, KRNA KOMEN DAN LIKE KALIAN ITU PENYEMANGAT BAGI AKUU BUAT NULIS!!
Stay tune di REGVAN yaaa, aku pengen sampein target like, kalau like nya udah stabil aku lnjut up.