
"Vanca!" Risa, Nesa juga Sheryl datang menghampiri Vanca. Andra juga Geo lantas menoleh mendengar panggilan itu. Mereka datang sebab dikabari oleh Geo. Setidaknya Vanca memiliki teman yang bisa menenangkan nya.
Risa dan Nesa duduk di kanan juga kiri sisi Vanca. Sementara Sheryl berjongkok dihadapan Vanca.
"Van.." Nesa mengelus bahu Vanca yang bergetar. Risa menggenggam tangan Vanca yang dingin. Sheryl menatap wajah pucat Vanca.
"Gimana ceritanya.. kenapa bisa kaya gini.." ucap Sheryl. Geo lantas memberikan kode pada Sheryl memalui mata nya agar tidak membicarakan hal itu terlebih dahulu.
"Van.. gue tau lo kuat. Gue yakin semua masalah yang lo hadapin pasti bisa lo lalui." ucap Risa tegas. Memberikan semangat nya pada Vanca.
Vanca menatap teman-teman nya yang berada didekatnya. Vanca menggeleng pelan. "Gue ga berguna. Gue cuma nyusahin orang lain." ucap Vanca pelan.
Geo dan Andra tau. Vanca pasti sangat terpukul saat ini. Yang Vanca butuhkan adalah dukungan. Geo juga Andra kasihan melihat Vanca yang seperti ini. Terus menerus menyalahkan diri nya sendiri.
"Kenapa lo ngomong kaya gitu? Dengerin gue, ga ada guna nya lo nyalahin diri sendiri kaya gini. Nyata nya semua nya udah terjadi. Lo gaboleh nyalahin diri lo sendiri, kapan lo mau maju buat hadapi semua nya?" kata Nesa panjang lebar. Mereka sama sama mencoba memberikan dukungan pada Vanca. Mereka juga sangat kasihan melihat kondisi sahabat nya ini.
"Thanks semua." Vanca tersenyum kecil. Senyum sabit nya memunculkan senyuman dari ketiga sahabat nya. Mereka sama sama berpelukan. Menyalurkan semangat pada Vanca.
"Lo harus percaya kalau disana Regaf lagi berjuang buat lo!" kata Sheryl yang diangguki oleh kedua sahabatnya. "Bener Van! Kita semua disini juga bakal dukung lo terus!" kata Nesa menambahkan.
Vanca merasa beruntung dikelilingi oleh orang-orang baik.
"Vanca!" Panggilan itu mengalihkan atensi semua nya. Ibu dan Ayah mertua Vanca datang bersamaan dengan Ibu dan Ayah kandung nya. Juga Gisel dan Ara. Yang pasti nya kabar itu mereka dapat kan dari Geo.
"Mami.." Vanca memeluk erat wanita itu.
"Kenapa bisa kaya gini nak.." Wenda menatap sang menantu dengan tatapan sendu. Dilihat nya wajah menantunya sangat lusuh.
Vanca menggeleng di sela pelukannya. "Maafin Vanca.." gumam Vanca yang masih didengar olah Wenda.
Geo dan Andra yang berada di sana pun hanya bisa berdiam diri. Tak tau harus berbuat apa dan menjelaskan kejadian sebenarnya.
"Vanca yang salah.. Vanca udah bikin Regaf celaka.. kalau aja Vanca ga nekat pasti Regaf ga akan kaya gini.." Vanca menangis 'lagi'. Vanca menangis sesenggukan. Wenda mengelus surai Vanca mencoba untuk menenangkan Vanca.
"Kenapa nak.. apa yang terjadi sebenarnya.." Wenda mengurai pelukan nya. Tak tega melihat kondisi Vanca. Ratna pun ikut sedih melihat sang anak seperti ini.
"Jadi gini tante, om." Pada akhirnya Andra lah yang menjelaskan semua kejadian itu. Tapi tidak di bagian Vanca yang di culik oleh para lelaki disana, dan juga tidak menurut sertakan masalah yang sedang dialami Regaf juga Vanca.
Lantas mereka yang mendengar cerita itu menutup mulut nya tak percaya. Ara—adik dari Regaf—menatap tak percaya pada Andra.
"Kak Regaf bakal sembuh kan kak! Bilang ke Ara kalau Kak Regaf bakal sembuh!" ucap Ara menatap Andra dan Geo bergantian.
"Ara.. kita gatau apa yang akan terjadi selanjutnya. Kita cuma bisa nunggu kabar dari dokter.." kata Gisel mencoba membuat Ara mengerti.
Disini lain, Alex—ayah Regaf—mengeram marah. Berani sekali mereka melukai keluarga Alexander?
"Bisa kalian katakan siapa mereka?" kata Alex dengan aura dingin nya. Siapa pun yang melihat itu tau Alex sedang marah.
"Kita juga ga tau om, waktu kita udah sampe sana, Regaf udah dikeroyok sama mereka." sahut Geo dengan nada tak enak.
"Mereka benar-benar cari masalah dengan keluarga Alex!" kata Alex lagi.
"Sabar. Lo jangan emosi, gue bakal bantu lo buat cari orang nya." ucap Rhyon—ayah Vanca— pada Alex.
"Kita juga bakal ikut bantu om!" ucap Geo yang diangguki oleh Andra. Alex menatap kedua teman Regaf itu pun mengangguk setuju. "Kalian boleh bantu Om, kalian harus ikut om nanti."
"Iya om."
Gisel melirik ke arah Vanca yang terduduk lemas dikelilingi oleh teman teman nya. Ia menghampiri Vanca disana. "Van." panggil nya.
Sang empu menoleh lemas menatap sumber suara. Gisel tersenyum kecil, ia berjongkok di samping Vanca. "Van, lo tau? Kadang masalah yang datang ke kita itu adalah sebuah ujian dari tuhan. Dan berarti Tuhan percaya kalau lo bisa lewatin masalah ini. Lo bisa lalui semua nya." Gisel menatap penuh ke Vanca segitupun sebaliknya.
"Kenapa lo ngomong gitu?" tanya Vanca. Kini semua mata tertuju pada mereka. Gisel kembali tersenyum.
Gisel tertawa kecil lalu berkata kembali. "Ga ada ujian yang datang di bawah kemampuan umat nya. Semua masalah yang datang itu pasti bisa dilewati. Cuma perlu usaha, dan doa."
"Gue bilang kaya gini, karna gue juga yakin. Yakin banget malah. Lo cewe kuat, lo bisa jalanin ini. Dan lo bisa liat Regaf di dalam sana." Gisel menunjuk ruang UGD dengan dagu nya.
"Dia juga berjuang buat bangun. Lo disini cukup support dia, doain dia. Regaf juga gabisa kalau lo ga bantu dia. Lo cukup doain dia disini." Gisel berkata lagi.
Ratna—ibu kandung Vanca—mengangguk pelan, lalu ia ikut berkata. "Apa yang dikatakan nak Gisel semua nya benar Vanca. Mama juga yakin kamu anak mama yang paling kuat. Kamu kan selalu bilang sama mama, kalau kamu cewe yang kuat. Yang bakal lindungi mama." Ratna tersenyum miris.
"Jadi kamu harus bisa kuatin batin kamu, fisik kamu. Kamu harus yakin semua ini pasti akan lewat. Dan Regaf akan bangun dan kalian bisa sama sama lagi." lanjut nya.
"Bener Van. Kita disini semua nya dukung lo. Kita bakal selalu suport lo. Pokok nya kita bakal tetep ada disamping lo selalu." tambah Sheryl.
Vanca menunduk. Bahu nya bergetar kembali. Isak tangis nya kembali terdengar. Vanca sangat sangat beruntung karena dikelilingi oleh orang-orang yang baik.
"Kak! Kakak gaboleh nangis. Kalau kak Regaf tau kakak disini nangis pasti kak Regaf bakal marah banget." Ucap Ara pada Vanca.
__ADS_1
Biasa nya disaat ia sedih, Regaf yang ada untuk nya. Regaf akan memeluk nya, atau sekedar menenangkan diri nya. Bahkan memberikan sebuah lelucon pada Vanca. Jika diingat Vanca sangat sedih. Karna diri nya, Vanca harus melihat orang yang ia sayang setelah kedua orang tua nya terbaring lemah di brankar, dan harus berjuang disana.
"Udah.. jangan nangis nangis lagi." Nesa menghapus jejak air mata Vanca disana. "Lo gaboleh lemah! Harus kuat! Vanca yang gue kenal kan kuat!"
"Makasi semua."
Tiba tiba dering ponsel Alex berbunyi. Atensi seluruhnya beralih pada nya. Alex mengangkat telfon itu.
"Halo."
"..."
"Baik."
"..."
"Iya, saya segera kesana."
tut.
Alex menatap seluruh mata disana. Ia memasukkan kembali ponsel nya di dalam saku. "Mi. Papi harus balik ke kantor, ada beberapa client yang masih harus rapat sama papi."
Wenda mengangguk seraya berkata 'iya'. Dan setalah nya Alex pergi meninggalkan rumah sakit itu.
***
Hari semakin berganti. Sudah beberapa hari semenjak Regaf dirawat di rumah sakit. Juga kabarnya, orang yang telah membuat Regaf seperti ini sudah ditangkap. Setelah hari dimana Regaf masuk di UGD, dokter yang menangani Regaf mengatakan bahwa ia belum bisa memastikan kondisi Regaf. Sebab kepala Regaf yang terbentur keras saat terjatuh itu membuat kondisi otak nya melemah. Dokter tidak bisa memastikan memori otak Regaf. Sementara luka tusuk di bagian perut, itu sudah ditangani dan tidak mengalami komplikasi. Tapi kondisi Regaf saat ini bisa dikatakan 'Kritis'.
Vanca berada di dalam ruang ICU dimana Regaf di rawat. Tubuh nya yang dikelilingi beberapa selang alat medis. Dan dibantu dengan alat pernapasan. Sudah beberapa hari ini Vanca selalu menemani Regaf di ICU. Bahkan hampir setiap hari.
Dan akhir akhir ini, tubuh Vanca terlihat lebih kurus dari biasa nya. Wajah nya pun terlihat pucat. Untuk makan pun Vanca tidak memperhatikan pola makan nya. Pagi, Siang hingga malam Vanca tidak pernah absen untuk menemani Regaf.
Jika sekolah, sehabis pulang sekolah Vanca langsung ke rumah sakit. Kadang tidak mengganti pakaian nya. Vanca sangat mementingkan Regaf dari pada diri nya sendiri. Bahkan tanpa sadar Vanca menyiksa diri nya sendiri jika seperti ini.
Untuk izin sekolah. Kedua orang tua Regaf sudah mengizinkan Regaf pada kepala sekolah. Tapi tidak dengan alasan Regaf yang masuk ke rumah sakit. Melainkan dengan alasan lain. Sementara ujian Regaf? Itu semua sudah di urus, Regaf tinggal menyusul sebelum kelulusan. Dan untuk sekarang mereka sedang libur akhir semester sebelum acara kelulusan kelas dua belas.
"Regaf.." Vanca menatap wajah yang ia rindukan beberapa hari ini. Wajah yang membuat Vanca tidak tahan untuk tidak menemuinya. Dan wajah itu yang selalu masuk ke dalam pikiran nya.
"Kapan kamu mau bangun..?" Vanca menatap Regaf dengan tersenyum kecut.
"Kamu ga cape apa disini terus?" ucap nya lagi dengan lirih.
"Kamu ga mau bareng aku lagi? Kita pulang Gaf."
"Regaf aku kangen.." ucap Vanca yang mulai parau. Pasokan udara di sekitar nya seakan habis. Untuk melanjutkan kalimat nya pun tidak mampu.
Vanca menatap gamang brankar Regaf disana. Air mata nya seketika luruh begitu saja. Kenapa ini harus terjadi? Jika boleh, Vanca ingin menggantikan posisi Regaf disana.
Sementara diluar, Gisel, Ara, Mama Ratna, papa Rhyon, Mami Wenda, Papi Alex, dan juga Caren sangat terpukul melihat keadaan Vanca. Beberapa hari ini, Vanca sulit jika disuruh untuk makan.
Mereka tidak tega melihat keadaan Vanca seperti itu.
Caren—kakak laki laki Vanca—masuk ke dalam ICU. Ia menatap adik ipar nya—Regaf—yang terbaring lemah di sana. Manik nya beralih pada Vanca. Melihat Vanca yang terus-menerus menatap Regaf.
"Dek." panggil nya. Lantas Vanca menoleh. "Lo jangan kaya gini. Kalau lo gini terus, sama aja lo siksa diri sendiri dek." ucap Caren. Ia sangat khawatir pada kondisi Vanca.
"Aku gapapa kok kak." jawab Vanca dengan lesu.
Caren menghela nafas panjang. Sulit membujuk adik nya ini. Caren pun memutuskan untuk keluar dari sana. Membiarkan sang adik disana menemani Regaf.
Disaat Caren keluar, teman teman Vanca dan Regaf datang.
"Gimana keadaan Regaf tante?" tanya Nesa pada Wenda. Sontak Wenda menggeleng lemah. "Masi sama. Belum ada kemajuan." Wenda tersenyum tipis.
"Vanca didalam. Kalau mau masuk satu orang aja." kata Caren memberi tahu. Lainnya pun mengangguk menanggapi.
"Kami pamit pulang dulu, kalian tolong jaga Vanca disini saya ya." pinta Ratna pada teman teman Regaf dan Vanca. Karna menang mereka sudah dari semalam berada disini.
"Iya Tante, Tante tenang aja. Kita bakal jagain Vanca kok."
"Yasudah kami pamit."
Seperti nya kedua keluarga itu, teman teman Vanca dan Regaf duduk di kursi tunggu. Sampai saat ini pun Vanca belum keluar.
"Siapa yang mau masuk?" tanya Geo.
"Lo aja Ris." tunjuk Sheryl. Risa pun mengangguk lalu masuk ke dalam ICU. Disana ia melihat Vanca yang duduk di sebelah brankar dimana Regaf berada.
"Van.." panggil Risa pelan. Vanca pun sontak menoleh.
__ADS_1
"Lo udah dari semalam loh disini, lo bisa istirahat dulu. Biar gue sama yang lain jagain Regaf disini." ucap Risa lagi. Hal itu sontak menimbulkan gelengan kepala dari Vanca.
"Gak! Gue gak mau! Gue mau tetep disini jagain Regaf!" tolak Vanca keras. Sangat sulit dibujuk.
"Lo belum makan Van! Jangan keras kepala. Nurut sama gue. Lo juga butuh asupan. Tubuh lo butuh makan, gimana mau jaga Regaf kalau lo sendiri ga jaga tubuh lo!" ucap Risa yang sudah kepalang kesal.
"Gue gapapa! Gue masih tahan!" ucap Vanca yang masih dengan kukuh. Risa menghela nafas lelah. Manik nya pun tertuju pada Regaf. Ia juga sangat kasian melihat Regaf disana. Regaf yang biasa nya dikenal garang, kejam, arogan di sekolah kini terbaring lemah di brankar rumah sakit.
Semua kenyataan itu seakan hilang digantikan dengan Regaf yang tidak berdaya.
"Regaf!" Baru saja Risa ingin keluar dari ICU. Vanca tiba-tiba berucap memanggil Regaf. Saat Risa lihat, ternyata jari jari Regaf disana bergerak. Hal itu pun membuat nya tak percaya.
"Regaf! Dokter! Dokter!" teriak Vanca dari dalam. Risa pun bergegas keluar untuk memanggil dokter. Teman teman nya yang berada di luar pun terkejut mendengar teriakan Vanca.
Saat dokter sudah datang, Vanca dan Risa keluar karna arahan dari sang dokter.
"Kenapa Van?" tanya Nesa.
"Regaf! Tangan nya tadi gerak Nes!" ucap Vanca sangat antusias. Hal itu membuat yang lain berucap syukur. Semoga mereka dapat kabar gembira.
"Yaudah lo duduk dulu."
Setelah beberapa menit, Dokter kembali keluar dari ICU.
"Gimana dok? Gimana keadaan Regaf? Dia gapapa kan dok? Jawab dok!" ucap Vanca bertubi tubi.
"Van sabar, itu dokter nya mau jawab!" ucap Sheryl yang ikut greget.
"Jadi begini, kondisi pasien dapat dibilang cukup baik." ucap Dokter yang langsung mendapat helaan syukur. "Tapi--" dokter itu menggantung kan kalimat nya.
Yang lain masih diam menunggu lanjutan kalimat sang dokter.
"Kondisi otak pasien sangat dibawah. Maksud kami, kemungkinan besar pasien akan mengalami gegar otak, karena benturan keras yang terjadi ketiga pasien terjatuh. Itu berarti kemungkinan kecil untuk pasien dapat mengingat memori lama nya."
Satu detik.
Dua Detik.
Tiga detik.
Deg.
"Ma-maksud dokter Regaf.." Andra menggantung kalimat nya sebab tak mampu mengatakan hal itu.
Dokter itu mengangguk. "Itu benar. Tapi kami belum bisa memastikan jelas. Itu hanya prediksi kami berdasarkan hasil tes otak. Berdoa saja yang terbaik." ucap Dokter itu.
Tubuh Vanca lemas seketika. Untuk berdiri pun rasa nya tak mampu. Pikiran nya sudah melayang entah kemana.
"Kabar baik nya juga, masa kritis pasien sudah dilewati."
"Pasien sedang istirahat. Kalian boleh masuk. Tapi jangan brisik. Kemungkinan besar pasien akan sadar." lanjut sang dokter.
"Terimakasih dok." ucap Geo. Lalu dokter pun pergi dari sana.
Lalu secara bersamaan mereka masuk ke dalam ICU dimana Regaf berada. Mereka menatap gamang Regaf.
"Regaf.. " Panggil Vanca dengan parau. "Kamu kapan sadar nya.. aku udah lama nunggu in kamu Gaf.."
Namun keajaiban datang. Mata Regaf terbuka pelan. Menyesuaikan cahaya yang masuk kedalam kelopak mata nya.
"Regaf!" Vanca menggenggam tangan Regaf kuat. Seraya berucap syukur dalam hati. "Regaf kamu udah bangun!" Vanca menatap Regaf senang.
Para teman nya pun ikut terkejut namun tak urung mereka juga gembira. Air mata bahagia turun dari mata Vanca. Ia terlalu bahagia hingga melupakan satu hal.
"Lo siapa?"
***
Sepi mulu perasaan ')
Apa cerita ini ngebosenin?
Kira kira dapet ga feel nya?
Banyakin komen dongg. Kalau ada typo maafin ya. Ngetik nya juga ngebut.
Btw, see u next chapter !
35 Like 10 komen cmiww
__ADS_1
Oke babay!!
2380 Kata.