
SIAAPP?!?
.
.
.
Regaf dan kedua sahabatnya berjalan beriringan di koridor. Di sepanjang koridor dipenuhi sorokan gembira dari siswa-siswi kelas 12, pengumuman telah usai mereka semua dinyatakan lulus. Ada yang bahagia dan ada pula yang termenung, belum siap untuk berpisah dengan lainnya. Mengingat dulu MOS bersama, tidak kenal siapa-siapa dan akhirnya akrab seperti saudara.
"GILA GUE GAK MAU LULUS!" teriak Geo yang mengagetkan anak anak lainnya yang melewati mereka.
"Kalau gak mau lulus, tinggal aja lo!" ucap Andra malas.
"Gak bisa apa, ada ujian lagi tahun depan?"
"Gila lo!" sembur Andra.
Regaf sudah malas mendengar ocehan mereka ia berjalan duluan meninggalkan keduanya di koridor.
"WOI GAF! MAU KE MANA?!" jerit Geo namun tak digubris oleh Regaf. Andra melirik Geo sekilas, wajah nya merenggut kesal. "Tu anak amnesia tapi tetep aja ngeselin!" kata Geo mencak-mencak sendiri.
Dering ponsel yang berasal dari Andra membuat keduanya berhenti, Andra mengangkat telepon itu dan Geo mengamati wajah Andra.
"Kenapa Dra?" tanya Geo saat Andra selesai menelfon.
"Gue duluan, ada urusan."
"LOH KOK GUE DITINGGAL?!" teriak Geo tak terima. Untung koridor sudah lumayan sepi, jika tidak mereka yang mendengar teriakkan Geo yang melengking akan membuat kuping panas. Dengan perasaan dongkolnya, ia pulang sendiri. Punya teman berasa tidak punya teman.
***
Regaf menelusuri lorong koridor tapi, gadis yang ia cari tidak dapat ditemukan. Regaf mencari Vanca kerena amanat Ayah nya tadi pagi. "Jika kamu pulang nanti bawa Vanca." Namun Regaf masih tak menemukan gadis itu. Ralat, istri nya.
Saat berjalan menuju parkiran, Regaf bertemu dengan Risa. Regaf tau dia adalah teman Vanca, karena Regaf pernah melihatnya dirumah sakit waktu itu.
"Sorry, lo liat Vanca?" tanya Regaf to the point. Kening Risa berkerut bingung. "Vanca udah balik dari tadi, Gue pikir bareng lo."
"Yaudah, thanks."
Penjelasan Risa barusan membuatnya gundah gulana. "Cewek bodoh!" gumam Regaf, dengan cepat ia berjalan pada motor nya yang terparkir rapi. Saat mencari kunci motor di saku nya, sebuah kertas kuning jatuh begitu saja dari saku nya.
Regaf mengambil kertas itu, Regaf duduk di atas motornya seraya membuka kertas yang terlipat ditangan nya. Suasana sekolah sudah cukup sepi, bahkan di parkiran hanya ada diri nya.
Regaf membaca kata demi kata yang tertulis rapi disana.
Mata cowok itu memanas seketika, jantung Regaf berdetak kencang. Ada desiran aneh di hatinya. Sedetik kemudian, ia merasakan sakit yang luar biasa di kepalanya. Kertas yang ia pegang pun terlepas dari tangan nya dan jatuh ke samping sepatunya.
kepingan-kepingan memori ingatannya, berputar dengan cepat. 6 tahun lalu, gadis kecil, sahabat, keluarga, perjodohan, teringat jelas di memori otak nya. Regaf memejamkan matanya dengan rapat, rasa sakit pada kepalanya hampir menumbangkan dirinya.
Cowok itu masih duduk di atas motornya, membiarkan kepalanya yang berdenyut dengan ngilu. Regaf memejamkan matanya saat mendengar percakapan dari dalam memori otaknya.
"Apa alesan yang bikin lo mau terima perjodohan ini?"
"Gue bakal nolak kalo bukan lo calonnya."
"Gausah tebar pesona!"
"Siapa yang tebar pesona? Mereka aja yang berlebihan."
"Kenapa nangis?"
"Aku gak bisa marah lama lama sama kamu."
"Ini-," Regaf menyentuh bibir Vanca. "Punya aku."
"Gak ada yang boleh sentuh milik aku."
"REGAF AWAS!"
Regaf menggelengkan kepalanya kuat. Ia melihat daerah sekitar sekolah yang sepi. Saat itu juga detak jantung nya seperti berhenti. Lututnya terasa sangat lemas.
"V-vanca," ucap nya tak percaya. Regaf menyugar rambutnya dan berteriak frustasi. "ARGHH! GUE BODOH!"
***
Vanca berjalan dengan tenang. Ia memilih berjalan kaki karena cuaca yang tak panas. Sambil bersenandung kecil, Vanca berjalan pulang. Namun tanpa diduga hujan turun membasahi diri nya. Rintik hujan kini berubah menjadi hujan yang deras. Buru-buru Vanca meneduh di halte yang tidak jauh dari nya.
Hanya ia sendiri disana, jalanan pun cukup sepi, hampir tak ada kendaraan yang lewat. Mungkin karena lebat nya guyuran hujan. Vanca berdiri dibawah halte, mendongak melihat guyuran air hujan yang sangat deras. Gadis itu memeluk diri nya sendiri mencoba memberi kehangatan pada tubuhnya.
Vanca menggosok kedua tangannya lalu meniupnya. Vanca berdiam diri disana menunggu hujan reda. Namun detik berikutnya, betapa terkejutnya ia melihat motor besar dengan plat yang sangat ia kenali berhenti di depannya.
Cowok itu turun dari motor besarnya dan membuka helmnya. Tubuh cowok itu basah kuyup, Vanca memandang Regaf yang turut memandang nya. Regaf berjalan mendekati Vanca. "Regaf kamβ"
Regaf memeluk Vanca membuat ucapan Vanca terpotong. Vanca tersentak kaget. "Regaf," panggil Vanca dengan lembut.
Vanca membalas pelukan cowok itu. Dibawah rintik hujan, dua insan itu berpelukan dengan perasaan masing-masing. Vanca dapat merasakan tubuh Regaf yang bergetar hebat. Cowok itu menangis?
"Maaf," kata Regaf dengan lirih. Cowok itu semakin mengeratkan pelukannya pada Vanca, seolah tak ingin gadis ini pergi. "Kenapa minta maaf?" Vanca mengurai pelukan mereka, menatap mata Regaf.
"Maaf, aku udah bikin kamu kecewa," ujar Regaf dengan tulus. Hati Vanca tersentak olehnya, jantung nya berdebar kencang. Vanca terkejut mendengar ucapan Regaf.
Vanca menggeleng kuat. "Regafβ"
"Ini aku, Regaf. Jangan pergi, maaf," Regaf menundukkan kepala nya. Tanpa sadar Vanca meneteskan air mata nya begitu saja. Regaf mendongak, menatap wajah cantik yang membuat nya merasa bersalah. Tangan nya bergerak untuk menghapus air mata itu.
"Jangan nangis sayang, kamu jangan nangisin cowok brengsek ini," tuturnya dengan lembut. Vanca tersenyum disela tangis nya, Vanca hampir tak percaya. Vanca memegang pipi Regaf. "Ini beneran kamu Gaf? Regaf yang aku kenal?" ucap nya pelan nyaris tak terdengar.
Regaf mengangguk. Kemudian Regaf mendekap gadis dihadapannya ini. Vanca menumpahkan segala tangis nya, betapa bersyukurnya ia, ia tak ingin yang lain, hanya ingin Regaf kembali. Vanca senang, sangat senang, yang ia impikan telah terwujud.
"Jangan pergi Van, kalau kamu pergi dunia aku selesai saat itu juga," Vanca melepaskan pelukannya mereka, ditatapnya wajah cowok yang ia rindukan selama ini. "Siapa yang mau pergi?" tanya Vanca tak mengerti.
"Kamu."
Tercetak jelas rautan bingung di wajah Vanca. "Gak ada, gak ada yang mau pergi Gaf, emang nya aku mau kemana?"
"Ini?" Regaf mengeluarkan surat yang tadi ia temukan. "Kamu yang tulis kan? Ada nama kamu disini."
Vanca mengambil surat itu dari tangan Regaf, kertas yang basah terkena hujan. "Kamu dapet dari mana?" tanya Vanca bingung. Karena surat ini sempat hilang tadinya.
"Aku temuin di toilet tempat terakhir kita ketemu." Vanca tersenyum, padahal niatnya ingin ia buang.
"Iya aku yang tulis, tapi tadi nya mau aku buang." Penjelasan Vanca membuat Regaf bernafas lega.
__ADS_1
"Kamu gak ada niatan mau gugat cerai aku kan?" tanya Regaf dengan polosnya. "Awal nya sih, gitu. Karena aku udah cape, mau berhenti aja rasanya, apa lagi waktu kamu lebih milih pergi sama cewek lain. Sakit Gaf," ujar Vanca jujur.
Regaf menggeleng kuat. "Kamu gak boleh pergi!"
"Tapi aku udah terlanjur sakit hati Gaf."
"Maaf. Maafin aku yang udah bikin hati kamu sakit, bikin kamu kecewa. Aku memang bodoh, brengsek. Kamu boleh hukum aku, tapi jangan kayak gini caranya, aku gak bisa," tutur Regaf menatap lamat manik hitam itu.
Regaf menggenggam tangan Vanca. "Kita buka lembaran baru ya?" ucap Regaf memohon. Pipi Vanca berkendut menahan senyum yang akan terbit.
Perlahan, Vanca mengangguk. Lantas itu membuat senyum Regaf mengembang. Didekapnya badan mungkin itu. "Makasih sayang," ucap Regaf di sela pelukan mereka. Regaf mencium pucuk kepala Vanca, lalu mengusap lembut surai hitam itu. Vanca bersyukur, ia senang karena Regaf telah kembali padanya.
"Tunggu," Vanca mengurai pelukan mereka. Regaf menaikkan alisnya bingung. "Kamu baca semua isi surat itu?" tanya Vanca pada Regaf.
Dengan polos Regaf mengangguk. Lalu detik berikutnya Regaf tersenyum, ia mendekat pada telinga Vanca. "Kamu selama ini gadis kecil yang aku cari," bisik Regaf tepat pada telinga Vanca.
Vanca tersenyum. Bagaimana Vanca tau orangnya Regaf? Karena Vanca menemukan foto masa kecil Regaf. Dan itu membuat nya mengingat semuanya. Hujan perlahan reda, membuat kedua insan disana memutuskan untuk pulang.
"Pegangan, kalau kamu jatuh aku orang pertama yang bakal ketawa kenceng," ucap Regaf membuat Vanca memukul lengan kekar cowok itu.
Regaf tertawa kerenanya. Tawanya renyah serak. Jenis tawa yang bisa membuat cewek-cewek langsung jatuh cinta hanya karena mendengarnya.
Regaf menarik tangan Vanca untuk memeluk dirinya. Vanca tersentak, namun setelah nya ia tersenyum kecil. Ia memeluk Regaf dengan erat, dan menyadarkan diri pada punggung tegap Regaf. Dibalik helm, Regaf tersenyum tipis.
***
Setelah sampai nya di depan rumah, Vanca dan Regaf segera turun dan masuk karena cuaca yang dingin. Vanca menatap Regaf sejenak, lalu tangan nya tergerak untuk membuka pintu rumah.
Saat terbuka, objek yang pertama kali mereka lihat adalah keluarga mereka yang tengah duduk di ruang tengah seraya bercanda gurau. Mereka semua seketika memandang dua orang yang ada di ambang pintu.
Wenda dan Alex segara mendekati Vanca dan Regaf yang terlihat setengah basah.
"Ya ampun nak, kenapa kalian pulang hujan hujannya begini? Kalau kalian sakit gimana?" ujar Wenda terlihat khawatir pada kedua anaknya itu.
Air mata Regaf langsung luruh begitu saja mendengar ucapan ibu nya. Regaf memeluk ibu nya dengan erat. Wenda sampai dibuat bingung olehnya. "Nak?"
"Ini Regaf, Mi. Maafin Regaf udah bikin Mami kecewa," dengan refleks Wenda melepaskan pelukan itu. Dipandang nya wajah Regaf yang terlihat kusut. "Ini Regaf?" ucap Wenda tak percaya, hingga ia menitikkan air mata.
Regaf mengangguk. Sontak Wenda memeluk anak sulungnya lagi. Perasaan senang membuat nya menangis. "Mami kangen sama kamu nak, ini beneran Regaf nya mami kan?"
Regaf mengangguk disela pelukannya. Regaf pun melerai pelukan mami nya. Ia menghalau air mata yang akan turun dari mata mami nya.
"Kamu Regaf? Putra papi udah kembali?" ucap Alex yang sama hampir tak percaya. Alex kini memeluk putra nya itu, air mata Alex pun luruh akan perasaan nya yang sangat senang.
Vanca tersenyum melihat interaksi orangtua dan anak di depan nya.
"Bang Regaf?" Ara yang baru datang bersama Gisel itu langsung disambut pelukan oleh abangnya. "Lo kenapa?" Regaf menggeleng, lalu ia mengurai pelukannya dan tersenyum menatap Regaf.
"Maafin gue ya dek?"
"Lo udah.." Ara tak sanggup melanjutkan kata-katanya lagi. Ia tersenyum senang, dipeluknya lagi kakak laki-laki nya itu. Regaf membalas memeluk adik nya, dan mengusap punggung sang adik. Gisel pun turut senang melihat adik sepupu nya kini sudah pulih seperti sedia kala
"Akhirnya lo balik Gaf. Gue turut seneng liatnya," ujar Gisel dengan senyum manisnya.
"Udah, sekarang Regaf, Vanca kalian masuk dulu. Baju kalian basah, kalian bersih-bersih dulu biar gak masuk angin, gih sana," ucap Wenda pada anak dan menantunya.
***
Selepas mandi, Vanca menghampiri Regaf yang tengah duduk di atas kasur. Ia duduk di sebelah Regaf, memainkan ponselnya. Lalu tiba-tiba ia teringat sesuatu. Vanca membuka laci nakas, dan mengambil buku diary miliknya. Regaf mengamati apa yang dilakukan Vanca.
Vanca membuka lembar tempat yang kemarin ia temukan. Lalu ia menatap Regaf yang turut menatap nya. "Ini kamu yang tulis?" tanya Vanca menunjukkan tulisan singkat di halaman bukunya.
"Bukannya, ini tulisan kamu ya?" gumam Vanca yang dapat didengar jelas oleh Regaf.
"Itu memang aku yang tulis, tapi aku lupa kapan aku nulis itu," kata Regaf membuat Vanca menoleh cepat. "Kenapa kamu tulis ini?"
Regaf mengangkat bahunya. "Waktu itu iseng aja nulis itu disana," tunjuk Regaf pada buku Vanca.
Vanca mengangguk pelan. Jadi, Regaf menulisnya hanya karena iseng? Vanca saja yang terlalu berharap.
Regaf yang menyadari perubahan raut wajah Vanca lantas bingung. "Kamu kenapa?"
Vanca menggeleng. "Gak papa," ucap Vanca dengan memaksa untuk senyum. Regaf tau itu palsu.
"Tulisan ini memang aku tulis karena iseng, tapi makna dari tulisan ini, nyata apa ada nya."
Vanca menoleh memandang Regaf. Senyum nya tiba tiba mengembang. Regaf lega melihatnya, ia tidak suka melihat Vanca murung seperti tadi.
"Ternyata orang es kaya kamu bisa sweet juga ya?" Vanca tertawa setelah nya.
"Karena ada api yang udah lelehin es itu, dan orang nya itu kamu," Regaf menarik hidung Vanca gemas sehingga membuat Vanca meringis sakit.
"Regaf! Sakit tau!" sembur Vanca mengelus hidungnya. Regaf terkekeh, lalu ia mengecup hidung Vanca sejenak. Vanca membeku, ia memalingkan wajahnya kesamping.
Kenapa Regaf tiba-tiba mencium hidungnya? Sudah dapat dipastikan pipinya merah seperti tomat. Vanca tidak ingin Regaf melihat wajah nya sekarang.
"Kenapa liat ke sana? Aku disini?" kata Regaf dengan suara beratnya. Jantung Vanca berdetak tak karuan. Regaf menarik dagu Vanca agar mau menatap nya.
Regaf mengamati wajah cantik Vanca, yang dengan bodoh nya kemarin ia buat menangis. Regaf mengusap pipi Vanca yang tercetak guratan merah disana.
Lalu Regaf mendekatkan wajahnya pada Vanca, sontak Vanca memejamkan mata nya. Regaf menjatuhkan kecupan tepat di kening gadis-nya cukup lama.
Lalu setelah nya ia kembali memandang Vanca kembali. Vanca membuka mata nya, Regaf terkekeh. Vanca semakin tak berkutik dibuatnya.
"Maafin aku ya," Regaf mengusap pucuk kepala Vanca.
"Maaf kemarin bikin kamu kecewa, dan bikin hati kamu sakit," Regaf menatap Vanca dengan sayang.
Vanca tersenyum. "Kemarin kan kamu lagi sakit. Wajar kamu bersikap kaya gitu, aku bisa ngertiin kamu kok."
Hati Regaf melembut, melihat senyum Vanca membuat nya menyesal dengan apa yang telah ia lakukan. Regaf merubah posisi duduk nya menjadi berbaring, dengan paha Vanca sebagai bantal nya.
Vanca tak masalah dengan itu. Regaf memejamkan mata nya. "Biarin kaya gini sebentar, kalau kaki kamu sakit bilang," ucap nya.
Vanca diam, mengamati wajah Regaf dari atas. Saat tidur pun ketampanan Regaf tak berkurang.
"Elusin."
"Hah?" beo Vanca tak mengerti. Regaf meraih tangan Vanca untuk mengelus kepalanya. Vanca yang baru mengerti itu, lantas mengelus rambut Regaf yang lumayan tebal.
Regaf merasa nyaman, satu tangan Vanca yang menganggur ia genggam. Regaf sangat tenang kelihatan nya, Vanca ikut tenang melihatnya.
Setelah beberapa saat berada diposisi ini. Regaf kembali membuka matanya, Vanca masih mengamati Regaf. Cowok itu bangun dari tidur nya, duduk menghadap Vanca.
"Ini jam berapa?" tanya Regaf dan Vanca langsung melihat jam pada ponsel nya. "Jam setengah sembilan," jawabnya.
__ADS_1
Regaf menatap Vanca, lalu tatapannya jatuh pada bibir Vanca. Jari cowok itu tergerak menyentuh bibir bawah gadis nya. Vanca tersentak, ia menatap Regaf yang turut menatapnya. "Boleh?" tanya Regaf dengan suara serak nya.
Vanca bingung harus menjawab apa, disisi lain ingin menolak tapi ia tidak enak. Perlahan Vanca mengangguk membuat Regaf seketika tersenyum.
"Bilang kalau aku lepas kendali," bisik Regaf tepat di telinga Vanca. Lalu ia menatap kembali wajah cantik dihadapan nya.
Regaf mengecup pipi, kening, hidung Vanca bergantian. Lalu terakhir ia mendaratkan ciuman tepat pada bibir Vanca. Tidak hanya ciuman, tapi juga *******.
Vanca menutup matanya, ia diam tak tau harus membalas bagaimana. Regaf memegang tengkuk belakang Vanca untuk memperdalam ciumannya, Regaf mengigit bibir bawah Vanca agar mau membalas.
Vanca akhirnya membalas ciuman Regaf, mengikuti alunan Regaf. Cowok itu tersenyum, Vanca mengalunkan tangan nya pada leher Regaf. Tangan Regaf memeluk pinggang Vanca dan satunya memegangi tengkuk Vanca.
Vanca merasa pasokan oksigen nya hampir habis, ia memukul dada Regaf agar mau berhenti. Namun Regaf seakan tuli, ia terus memperdalam ciumannya tanpa menghiraukan Vanca.
Vanca semakin kuat memukul dada Regaf, membuat Regaf tersadar dan melepas tautan mereka. Regaf terkekeh melihat Vanca yang menghirup oksigen sebanyak banyak nya.
Regaf mengusap bibir bawah Vanca sisa salivanya. Lalu ia menatap Vanca. "Kamu mau aku mati?" ucap Vanca setelah dapat bernafas dengan baik.
Regaf terkekeh. "Manis," ucap Regaf membuat Vanca menahan senyum nya. "Apaan?" kata Vanca seakan tak mengerti.
"Tidur, udah malam," titah Regaf menyuruh Vanca tidur.
"Belum ngantuk."
"Tidur atau aku bikin kamu kenyang sembilan bulan?" ancam Regaf yang langsung mendapat pukulan dari Vanca.
"Kok mukul?"
"Ya kamu sih! Nyebelin tau gak!?"
Lagi lagi Regaf tertawa hanya karena tingkah Vanca yang menurut nya menggemaskan. "Yaudah tidur, tadi aku cuma bercanda sayang."
Vanca mendelik mendengar perkataan manis dari Regaf. Pipi nya berkendut menahan senyum. "Iya sayang," jawab Vanca secepat kilat.
"Hah? Ulangi, kamu ngomong apa?" beo Regaf yang tidak mendengar dengan jelas.
Vanca menggeleng lalu tersenyum. "Nggak, bukan apa apa," kata nya. Lalu Vanca berbaring, disusul Regaf. Cowok itu merentangkan tangan nya. "Sini." Vanca yang tak mengerti lantas diam.
"Mau peluk gak?" tanya Regaf yang langsung mendapat anggukan dari Vanca. Cewek itu masuk kedalam dekapan Regaf, menaruh kepalanya di ceruk leher Regaf. Mencari posisi yang nyaman.
Tangan Regaf tak tinggal diam, ia mengelus punggung hingga kepala Vanca agar gadis itu tertidur. Saat dirasa Vanca telah tertidur, ia menyusul ke alam mimpi.
***
Pagi pagi sekali di hari sabtu, Andra sudah berada di depan salah satu penginapan di Jakarta. Pagi tadi Elys menelfon nya, dan meminta tolong kepadanya untuk membawakan diri nya obat penurun panas.
Elys tidak enak badan katanya, jadi lah sekarang Andra berada disini. Berhubung hari ini tidak sekolah jadi ia menyempatkan datang. Jarang-jarang seorang Andra mau dibabui, apalagi dengan seseorang yang belum lama ia kenal ini.
Ia mendapat pesan dari Elys, kata nya cowok itu langsung masuk saja karena pintu nya tidak dikunci. Awal nya Andra tidak mau, tapi karena cewek itu memaksa dan malas keluar jadi lah Andra menurut. Aneh bukan?
Saat ini Andra tengah berada di dapur, ia sekalian membawa bubur. Memang Elys tidak meminta nya tadi, tapi Andra berinisiatif sendiri. Jika dipikir, bagaimana minum obat jika belum makan? Logika nya begitu.
Seperti nya hari ini Andra tengah bahagia, maka nya dia mau saja disuruh-suruh. Cowok itu kembali ke ruang tamu membawa nampan berisi bubur, air putih, dan obat penurun panas, dan disana Elys sudah menunggu dengan kaki ditekuk diatas, dan tubuhnya yang masih terbalut selimut.
Elys merasa dingin, tapi nyata nya tubuh nya panas. Andra duduk tepat di depan cewek itu. Ia menyodorkan nampan yang ia bawa bermaksud menyuruh gadis itu untuk memakannya.
"Lo bawa bubur?" tanya Elys memandang bubur diatas meja.
"Menurut lo?"
"Ck. Gue nanya, lo malah nanya balik. Kenapa lo ngeselin sih?" kata Elys memandang jengkel Andra.
Andra mengedikkan bahu nya acuh. "Makan," titah Andra lagi. Elys memandang bubur dimeja, bubur itu terlihat menggiurkan tapi nafsu makan nya sedang tidak baik, ia tidak berselera.
"Lo aja deh yang makan Dra, gue gak nafsu," kata Elys.
Andra menaikkan alisnya. "Lo sakit. Makan," suruh Andra lagi. Namun Elys tetap lah Elys, gadis nekat dan keras kepala itu mana mau dipaksa.
"Gak mau Dra! Kok lo maksa?!" ucap Elys sewot.
Andra mulai jengah, ia malas mengeluarkan suaranya. "Lo lagi sakit aja keras kepala. Bisa gak sih? Dibilang itu nurut?" Andra menatap lekat manik dihadapan nya.
Elys memutar bola matanya malas. Dengan ogah-ogahan Elys memakan bubur itu. Sedikit demi sedikit Elys memakan nya. Andra dengan setia memperhatikan Elys, senyum tipis terbit dari bibir nya tanpa sepengetahuan Elys. Lucu.
Ketika Elys selesai dengan buburnya, Andra kembali menyodorkan obat yang tadi sudah ia beli. Elys yang paham langsung meminum obat itu. Ketika sudah, Andra bergerak untuk membereskan sisa Elys tadi dan membawa nya kedapur.
"Makasih," ucap Elys dengan tulus. Namun Andra tidak menggubris Elys malah pergi begitu saja kedapur. Sepeninggal Andra, ponsel Elys tiba tiba berdering membuatnya mengambil dan mengangkat nya tanpa melihat siapa yang menelfon.
"Halo?"
"Elys! Kemana kamu hah?! Sudah berani kabur iya?! Ayah minta kamu pulang sekarang!" bentak ayah Elys dari sambungan telepon.
Elys membulatkan mata nya, ia melihat nama penelfon dan disama tertera nama 'ayah'. Elys merutuki dirinya yang tidak melihat namanya.
"Elys! Jawab ayah! Sekarang kamu pulang!"
Andra yang baru selesai dari dapur, kembali menuju ruang tamu, namun ia memperhatikan elys yang tengah menelfon dengan serius. Ia tidak buru-buru menghampiri Elys, tapi mengamati nya dari tempat ia berdiri.
"Nggak! Elys gak mau pulang kalau Ayah masih maksa Elys!"
"Kamu sudah berani melawan ayah ya?! Siapa yang mengajar kan kamu?"
"Udah lah Yah! Aku gak mau ribut, Elys gak bakal pulang, titik!" setelah itu Elys mematikan sambungan telepon itu sepihak. Tanpa Elys sadari, Andra telah mendengar semua percakapan dirinya dengan Ayahnya, karena memang jarak mereka tidak jauh.
Elys meletakkan ponselnya dengan kasar. Andra datang dan duduk di hadapan Elys. Ia melihat raut Elys yang tak bersahabat sehabis menelfon.
"Semua baik-baik aja?" tanya Andra pada Elys, dan dijawab anggukan oleh Elys.
Andra ingin bertanya lebih, tapi ia cukup sadar diri siapa dia. Jadi lah Andra memilih untuk diam, walau banyak pertanyaan yang bersarang di pikiran nya saat ini.
"Yaudah gue pulang dulu, lo istirahat," Andra berdiri dari duduk nya, lalu mengambil kunci motornya di atas meja. Baru saja Andra berbalik, Elys memanggil Andra.
"Andra! Makasih ya, kalau gue gak ketemu lo gak tau lagi gimana nasib gue," ucap Elys dengan tulus.
Andra menarik ujung bibirnya menjadi seulas senyum, tanpa menjawab Andra pergi begitu saja dari penginapan Elys.
***
HUAAAAA AKHIRNYA KELARR ππβπ»
PART TERPANJANG DI SINI, 3500K KATA
GAK LIKE JAHAT BGT SI
KOMEN DISINIII, BIAR GAK SIDER
__ADS_1
BTW DPT GAK FEEL NYA? AKU NGETIK NYA PINDAH PINDAH TRS, SMGA DPT YA FEEL NYA ')
OKE NEXT EPS BABAYY ππ»ππ»ππ»