
***
"Ara pulang!" teriak Ara saat memasuki rumah nya.
"Ara! Kamu dari mana aja nak? Jam segini kok baru pulang?" Tanya Wenda khawatir saat baru keluar dari arah dapur. Ara cengengesan melihat raut wajah ibu nya itu.
"Ara tadi di rumah temen Mi, mami tau kan tadi hujan jadi ya neduh dulu," jawab Ara berbohong. Ia tidak mungkin mengatakan yang sebenarnya pasti akan di interogasi nanti.
Wenda menghela nafas lega, "yasudah kamu ganti pakaian kamu, setelah itu turun untuk makan malam," suruh Wenda pada sang anak.
"Sekalian panggilan juga Gisel ya," kata Wenda lagi.
"Iya Mi! Oh ya, kak Regaf sama Kak Vanca udah berangkat ya mi?" Tanya Ara penasaran, karena ia tak melihat tanda tanda ada nya kakak nya itu.
"Mami udah suruh mereka langsung berangkat aja sehabis pulang sekolah biar ga bolak balik,"
"Ohh gituu.." Ara mengangguk paham. "Yaudah deh mi Ara ke atas dulu ya!" Wenda mengangguk sebagai jawaban. Ia pun kembali ke dapur untuk menyelesaikan pekerjaan nya.
***
"Kak Gisell!" Panggil Ara di depan pintu kamar Gisel yang tertutup rapat. "Kaakk!" Teriak nya lagi.
Pintu pun terbuka menampakkan Gisel yang sehabis mandi. "Ara! Ngapain?" Tanya nya bingung.
Ara menyengir kuda melihat masih ada sisa shampo di rambut Gisel. "Kak rambut nya masih ada shampo.." ucap Ara menahan tawa.
"Ah masa si!" Gisel mengecek rambut nya dan ternyata benar masih tersisa shampo disana. Ia berdecak kesal selalu saja begitu.
"Kak mami suruh turun buat makan malam," kata Ara memberi tahu. Gisel mengangguk "Oke, nanti kakak ke sana," jawab Gisel.
"Yaudah Ara ke kamar dulu mau ganti baju," pamit Ara lalu ia berjalan menuju kamar nya.
***
__ADS_1
"Permisi.." ucap Vanca saat memasuki rumah baru nya bersama Regaf. Vanca celingak celingukan meneliti isi rumah ini. Cukup untuk nya dan Regaf, tidak terlalu kecil dan besar sangat minimalis.
"Kamar nya dimana?" Tanya Vanca pada Regaf karena ia memang belum tau isi rumah ini dan lorong lorong nya.
"Diatas, dapur ada disana, ini ruang tamu, di belakang ada taman sama kolam, dan ruang tv ada di atas juga," kata Regaf menjelaskan seraya menunjuk satu persatu ruangan.
Vanca menggangguk paham, lalu ia menatap heran ke arah Regaf. Yang ditatap pun hanya menaikkan sebelah alis nya heran.
"Kok Lo tau seluk beluk ni rumah? Lo pernah ke sini ya sebelum nya?" tanya Vanca dengan mata memicing. Regaf menggeleng, "dikasih tau papi,"
Vanca hanya ber oh ria menyahut nya, lalu kaki nya membawa nya naik ke atas di ikuti Regaf di belakang nya. Saat tiba di kamar Vanca menatap takjub isi nya. Terlihat luas jika di dalam. Ada meja belajar, sofa, tv, lengkap kamar mandi dan walk in closed.
Vanca mengangguk kagum, selera kedua orang tua Regaf tak main main ternyata. "Yaudah kamu mandi, biar aku rapihin baju baju nya dulu," kata Vanca karena ia melihat koper yang pasti isi nya belum tersusun.
Regaf mengangguk tanpa banyak bicara, ia pun mengambil handuk lalu masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan diri nya.
Saat Regaf sibuk mandi, Vanca menyusun pakaian Regaf ke dalam lemari, juga menyiapkan untuk dipakai Regaf sekarang. Saat pakaian Regaf sudah tersusun rapi kini tinggal koper pakaian nya yang belum ia susun.
Saat membuka koper milik nya ia terkejut bukan main. Ia menatap bingung ke arah koper tersebut, bahkan ia tak melihat ada nya baju milik nya di sana. Lantas siapa yang menaruh lingerie sebanyak ini di koper?
Tangan Vanca mengangkat salah satu lingerie tersebut untuk melihat nya. Itu hanya kain tipis yang tembus pandang jika di pakai. Vanca kembali mengorek isi koper menilik pakaian nya. Namun nihil tak ada satu pun pakaiannya di sana.
Vanca kembali mengambil baju haram itu, tidak mungkin ia memakai ini kan? Vanca menggeleng keras, lalu detik berikut nya terdengar suara bariton khas yang sangat ia kenali.
"Kamu gak mandi?"
Sontak Vanca langsung menaruh lingerie itu kedalam koper dan menutupnya rapat. Wajah nya kaget bukan main, saat Regaf datang tiba-tiba, semoga saja Regaf tak melihat.
Mendengar suara keras koper ditutup, Regaf mendekati Vanca yang wajah nya saja pias. "Kenapa?" tanya Regaf saat Vanca berusaha menutupi koper nya.
Vanca menggeleng, Regaf semakin merasa ada yang aneh di diri Vanca. Vanca kenapa?
"Baju aku mana?"
__ADS_1
"Di atas kasur udah aku siapin kok," jawab Vanca dengan cepat. Regaf pun melangkahkan kaki menuju ranjang untuk menggunakan baju nya.
Vanca bernafas lega setelah nya, lalu ia kembali berfikir, Gue pakai apa dong kalau ga ada baju? batin Vanca prustasi. Ia sungguh tak habis pikir ini akan terjadi. Ini menyiksa nya, tapi jika ia tidak mandi, itu lebih parah lagi, bahkan ia masih menggunakan seragam sekolah nya.
Vanca memijat pangkal hidung nya, ia masih berusaha berfikir apa yang akan ia pakai nanti nya. Tidak mungkin sekali ia memakai baju itu. Lalu Regaf datang kembali saat sudah lengkap dengan baju nya.
"Van? Ga mandi?" Regaf menatap Vanca yang bingung. "Kenapa?" Regaf masih menunggu Vanca bicara.
"Emm.. nanti aku mandi kok, tapi.. ga sekarang," jawab Vanca bingung, tak tau harus beralasan apa.
"Kenapa? Dan kenapa baju kamu belum di simpen ke lemari?" Wajah Vanca semakin pucat mendengar perkataan Regaf, ralat pertanyaan.
"Itu.."
"Van kenapa si? Ada masalah?"
"Enggak kok! Kamu belum makan kan? Aku masakin ya!" kata Vanca mengubah topik pembicaraan tadi. Namun seperti Vanca tak ahli dalam itu, karena Regaf tak bergerak sama sekali.
"Jawab! ada masalah?" tanya Regaf tegas mampu membuat Vanca tak berkutik. Melihat gerak gerik Vanca yang gelisah, Regaf pun inisiatif membuka koper Vanca yang membuat nya penasaran.
"Eh mau ngapain!?" Vanca kelabakan sendiri saat Regaf mulai membuka Koper nya. "Jangan di bu--" ucapan Vanca terhenti saat koper itu sudah terbuka lebih cepat.
Tepat di hadapan Regaf, semua pakaian itu terlihat. Sungguh Vanca malu, walau ini bukan lah kemauannya. Regaf menatap Vanca datar, raut wajah nya seketika berubah 180° .
"Ini pasti ulah mami," tebak Regaf yang seratus persen benar. Memang sewaktu Regaf dan Vanca sekolah, Mami Wenda, dan Gisel lah yang membereskan pakaian kedua nya. Dan Wenda juga yang mengganti pakaian Vanca dengan semua Lingerie itu.
"Aku gatau itu kenapa ada di situ, sumpah bukan aku yang-"
"Ini pasti ulah mami," potong Regaf.
Regaf menghela nafas nya kasar, beralih menatap Vanca yang hanya menundukkan kepala nya, "Pakai baju aku aja, besok kita beli baju," final Regaf. Lalu ia keluar dari kamar.
Kini Vanca menatap baju baju itu, mungkin niat Mami Wenda baik, hanya cara nya yang salah. Ia pun kembali menyusun lingerie itu ke dalam koper. Mengambil salah satu baju Regaf untuk ia pakai. Setidaknya ini lebih baik.
__ADS_1
***
tbc.