
HAPPY READING ALL!!
***
"Nes," panggil Geo dikala keduanya menikmati es cream di tangan mereka sambil melihat pemandangan sungai yang berada di arena bawah taman.
"Hm?" jawab Nesa tanpa mengalihkan pandangannya.
"Gue mau ngomong serius deh sama lo," kata Geo menghadap Nesa. Cewek itu tertawa pelan, lalu berkata. "Sok serius bgt lo ah!"
"Kali ini serius Nes, dengerin gue."
Nesa menghadap pada Geo, melihat mata Geo yang memancarkan sebuah keseriusan. Kedua insan itu fokus menatap satu sama lain, tak ada orang lain disini, hanya mereka. Sengaja memilih tempat yang sepi agar lebih leluasa dalam mengobrol.
"Apa Ge?"
"Lo belakangan ini, lagi suka sama seseorang?" tanya Geo menatap mata cantik itu.
Nesa menggeleng.
Dalam hati nya Geo lantas tersenyum. Ia kembali menyatakan pertanyaan. "Trus lo, lagi deket sama seseorang?"
"Em, selain temen gue gak ada."
Geo mengangguk paham.
"Kenapa sih Ge? Aneh banget pertanyaan lo."
Geo menghela napas berat. Ia menaruh es cream cup milik nya di kursi yang berada dekat dengan dirinya. Cowok itu lalu menepuk puncak kepala Nesa dan mengacak pelan rambut hitam itu.
"Lo tau kan Nes, gue itu dikenal sebagai apa di sekolah?"
"Playboy yang suka mainin cewek." Tepat sasaran.
Geo mengangguk membenarkan. "Dan lo tau, ada yang bilang 'seburuk apapun sifat seseorang, kalau dia sudah ketemu sama orang yang tepat, sifat itu akan hilang' pernah denger?"
Kali ini Nesa menggeleng tak tau.
Geo tersenyum sebelum melanjutkan perkataannya. "Ini yang terjadi sama gue Nes."
"Maksud nya?" kata Nesa tak paham.
Lantas Geo mengambil sebelah tangan Nesa lalu menggenggamnya. Cewek itu dibuat bingung oleh sikap Geo terhadap dirinya.
"Cowok yang dikenal playboy, yang sekarang ada dihadapan lo ini, udah bukan playboy kaya orang-orang kenal. Karna gueβ" Geo menunjuk dirinya sendiri. "Jatuh sama lo," Geo beralih menunjuk Nesa.
Deg.
Apa?
"Geo, l-lo, mak-maksud nya?" kata Nesa terbata-bata. Pikiran nya seolah blank, melayang kemana-mana.
Geo tersenyum simpul. "Kurang jelas?"
"Gak, lo lagi bercanda kan?" ucap Nesa memastikan.
Geo menggeleng. "Gue suka sama lo Nesa."
Bahu Nesa lemas, apa tadi? Geo menyukai dirinya? Lelucon kah ini? Nesa menggeleng keras, ia harus memastikan ini lebih jelas.
"Sejak kapan?"
"Lumayan lama."
"Karna apa?"
"Gak ada alasan."
"Harus ada!"
"Tiba-tiba ada. Gue. Udah. Cinta. Sama lo." Geo menekankan setiap kata-kata nya.
"Gue harus apa sekarang?" tanya Nesa dengan polos nya. Geo tersenyum mendengar nya, ia pun mengajak gadis itu untuk duduk.
"Gue cuma butuh kepastian dari lo Nes, lo cukup jawab iya atau nggak."
"Kalau gue jawab nggak?"
"Gue bakal berenti waktu itu juga. Gue bakal berusaha buat ilangin rasa gue ke lo, tapi kalau lo jawab iya, lo bakal jadi pacar gue."
"Gak bisa gitu!"
"Apanya yang gabisa?"
"Masa kalau gue jawab iya, gue jadi pacar lo!"
"Lo gak mau jadi pacar gue?"
"B-bukan gituu!"
"Berarti lo mau?"
"Ih Geo!" kata Nesa sebal yang langsung memukul lengan kekar lelaki itu. Cowok itu meringis karna pukulan yang diterima tak main-main rasanya.
"Gue bingung Ge, gue gatau mau jawab apa.."
"Gue gak minta lo buat jawab sekarang Nes, itu terserah lo aja. Gue gak nuntut banyak hal, yang pasti lo kasih gue jawaban. Tapiβ"
"Tapi?" kata Nesa penasaran.
"Jangan terlalu lama, karna gue punya batas kesabaran buat nunggu."
Nesa memandang wajah tegas itu dari samping. Terlihat tampan jika ia lihat lebih dekat. Ia tidak menyangka cowok disampingnya ini akan menyukai nya dalam jangka waktu yang sambat singkat. Dan mereka pula tidak lama ini baru kenal dekat.
"Ayo pulang." Cowok itu berdiri dari duduknya. Namun pandangan nya teralih pada tangan kanan cewek itu yang berlumur es cream yang meleleh.
Geo terkekeh kecil. Pandangan Nesa masih fokus menatap Geo hingga tak sadar es cream nya meleleh. Lantas Geo menggapai tangan kanan Nesa, lalu mengambil es cream itu dan membuang nya pada tong sampah.
"Jorok banget sih," cowok itu mengeluarkan sapu tangan dari kantongnya dan membersihkan noda es cream pada tangan Nesa. Cewek itu masih setia memandangi Geo, entah perasaan apa yang ia rasakan saat ini. Namun ia merasa ada kupu-kupu yang menggelitiki perut nya.
***
"Kata nya mau sate?"
"Gak jadii, aku pengen telor sapi," pinta Vanca semakin aneh. Regaf cengo mendengar permintaan istrinya itu, telur sapi?
__ADS_1
"Gak ada sayang.."
"Adaa! Itu!" Vanca menunjuk salah satu pedagang membuat Regaf langsung mengikuti arah tunjuk Vanca. Regaf dibuat mengelus dada untuk kesekian kalinya. Jelas jelas disana telur mata sapi, bukan telur sapi.
"Ayo beli," ajak Regaf.
***
"Ini berapaan kang?" tanya Regaf pada perdagang itu.
"Seporsian lima belas ribu mas, bebas topingnya."
"Kamu mau berapa?" tanya Regaf pada Vanca disampingnya yang lebih rendah dari nya.
"Aku gak mau makan nya...," kata Vanca tiba-tiba yang membuat Regaf heran. "Loh, bukannya tadi pengen?"
"Aku mau liat mas-nya masak nya aja!!" ucap Vanca antusias. Melihat binar di mata Vanca itu, membuat nya tidak bisa berbuah apapun. Mau tidak mau ia yang memakan nya nanti. Ia lelah, sungguh!
"Yaudah kang, satu porsi ya. Toping nya seterah akangnya aja," kata Regaf yang langsung diangguki penjual nya.
Saat penjual nya tengah memasak telor nya, tak henti-hentinya Vanca menatap dengan binar di matanya. Seolah itu sangat keren dimatanya, padahal hanya memasak telur saja.
Ketika telur itu sudah jadi, langsung diberikan pada Regaf. Setelah membayar, Regaf mengajak Vanca duduk di salah satu kursi yang ada disana.
"Tunggu!" cegah Vanca. Ia memperhatikan makanan beralasan software yang berada di tangan Regaf.
"Kok telur nya ginii?" kata Vanca heran.
"Telur kan emang gini, nama nya juga telur mata sapi ya gini sayang," kata Regat mencoba pengertian.
"Mata sapi nya mana...?"
Regaf menghela nafas pelan. "Gak ada, cuma nama nya aja mata sapi. Tapi gak ada mata sapi beneran Vanca."
"Ih Mas! Ini nama nya penipuan!"
"Kamu gak liat, itu di tenda nya ada mata sapinya, ada sapi nya juga! Ini kok gak ada?" kata Vanca menunjuk ke arah tenda dagangan tadi.
"Ayo kita kesana lagi! Ini gak bisa dibiarin!"
"Vanca, kamu kayak gak tau telur ini aja. Kan emang gini sayang." Regaf mencoba sabar demi istrinya ini. Jika ini bukan karena Vanca yang hamil, ia sudah pasti akan membawa pulang Vanca saat itu juga.
***
"Dra.." panggil Elys pelan.
"Hm?"
"Gue ngerepotin ya?"
Ya iya lah bego. Batin Elys sendiri berkata. Ia menyadari itu, namun entah kenapa ia ingin mendengar jawaban Andra.
Alis Andra terangkat sebelah. "Kenapa lo ngomong gitu?"
"Gue cuma ngerasa aja.. selama ini gue beban lo.."
Andra menghela nafas kasar. Ia menaruh ponsel yang tadi ia mainkan, lalu menatap manik mata dihadapan nya. "Gak usah mikirin hal yang bikin lo stres."
"Dateng sendiri," balas Elys.
Kini Elys yang menghela nafas, namun pelan. "Gini ya Dra, rasanya diperhatiin? Gue seneng setidaknya masih ada manusia dibumi ini yang baik sama gue. Kayak lo, makasih ya," ucap Elys yang sudah tak terlihat wajah sendunya.
Andra menarik ujung bibirnya, membentuk seulas senyum tipis. Tangan kanan nya ia gunakan untuk mengacak pelan rambut Elys. "Iya El."
Jantung Elys mencelos. Tubuh nya mematung, terasa ada sengatan saat Andra menyentuh kepalanya. Elys bahkan tidak menyangka bahwa Andra tersenyum didepan nya, ini pertama kali ia melihat Andra tersenyum walau tipis.
"Gue boleh tiduran di paha lo gak?" kata Andra meminta izin. Lantas Elys dibuat kalang kabut dengan permintaan tiba-tiba itu.
Perlahan Elys mengangguk memperbolehkan. Melihat itu Andra tersenyum dalam hatinya, ia langsung merebahkan tubuhnya di sofa dengan bantalan paha Elys.
Tangan Elys tergerak mengusap rambut tebal Andra, entah angin dari mana ia ingin saja melakukan nya. Mata Andra tertutup menikmati usapan lembut yang Elys berikan.
Elys tersenyum menatap wajah tampan itu dari bawah. Sedang seperti ini saja, wajah nya berkali-kali lebih tampan. Elys akui itu.
"El.." panggil Andra dengan suara berat nya.
"Iya?"
"Gue gatau apa yang gue rasain, tapi.."
"Tapi?" Elys menunggu ucapan Andra berikutnya. Namun beberapa detik menunggu, Andra tak kunjung bicara. Dan terdengar dengkuran kecil dari Andra. Elys tersenyum, ternyata cowok itu tertidur.
***
Saat memasuki kelas, Vanca sudah disambut dengan keriuhan kelas. Mulai dari yang kejar-kejaran dikelas, bermain game diponsel, merumpi, dan rebutan contekan tugas. Sheryl contohnya.
"Bagi dongg, gue belum kelar nihhh!! Ketiduran tadi malemm!"
"Maka nya jangan drama-an mulu lo!" sembur Nesa galak.
"Itu nama nya healing bre, ilangin beban idup!"
Nesa mendengkus geli. Ada-ada saja. Risa pun selaku oknum pemilik tugas, menatap Sheryl jengah. Pasti tugas nya akan di pinta oleh temannya itu.
"Jangan gitu muka lo Ris, kayak udah mau makan Sheryl aja lo!" kata Vanca bercanda saat melewati mereka yang kini berkumpul dimeja depan.
"Sheryl kalo urusan contek, pilih-pilih Van. Heran deh gue," ucap Risa.
"Itu nama nya dia pinter," sambut Nesa sembari tertawa kecil.
"Iya, pinter nyontek!" sahut Vanca, lalu dihadiahi ledakan tawa lainnya. Bahkan Sheryl yang tengah fokus menulis menjadi tertawa dibuatnya.
"Udah ah! Ini gue lagi nulis, berisik tau gak!" kata Sheryl yang seketika menjadi anak ambis.
"Nulis ya nulis aja kali Shee," kata Vanca lalu terkekeh kecil. Pandangan nya teralih pada Nesa yang terlihat raut bingung di wajah nya.
"Nes, lo oke?"
"Em, sebenernya.. engga Van, gue bingung."
"Bingung kenapa?"
"Nesa ditembak Geo," celetuk Risa. Vanca sontak membulatkan matanya, dan menutup mulut nya dengan tangan kirinya. Kaget.
"Bener Nes?" tanya Vanca memastikan.
__ADS_1
"Beneran tuh Van!" sambung Sheryl yang masi menulis tugas Risa. Nyaut-nyaut saja!
"Kok bisa? Gimana ceritanya?"
"Iya Nes, gimana ceritanya? Lo gak kasi tau kita tadi!" kata Sheryl lagi yang masi menulis. Mata dan tangannya fokus menulis, tapi tidak dengan isi pikiran nya.
"Panjang ceritanya.. gue juga bingung kenapa Geo bisa suka sama gue? Aneh kan?"
"Bukan aneh Nes! Ini nama nya benci jadi cinta!" kata Sheryl yang lagi-lagi menyahuti.
"Diem lo She! Nulis aja lo kelarin!" kata Risa gedeg.
"Trus lo bales apa?" tanya Vanca penasaran. Namun langsung dibalas gelengan oleh Nesa. "Lo tolak?!" kata Vanca heboh sendiri hingga atensi seluruh kelas tertuju pada nya.
Dengan segera Nesa membekap mulut Vanca dengan tangan nya, ia melirik Vanca tajam. Vanca pun menaikkan tangan nya berbentuk piece dan barulah Nesa melepaskan tangannya.
"Lo tolak?" kata Vanca mengulang namun dengan volume yang lebih kecil.
Nesa lagi-lagi menggeleng. Hal itu menimbulkan kerutan di kening keduanya. Sheryl yang baru selesai menulis pun, ikut heran.
"Belum gue jawab," kata Nesa pelan.
"ITU NAMA NYA LO NGEGANTUNGIN DIA!" teriak Sheryl gregetan.
"Jangan kenceng-kenceng napa She!" kata Nesa kesal pada Sheryl. "Lagian lo nya juga bikin gue gregetan!" cetus Sheryl.
"Bener kata Sheryl. Lo boleh mikirin ini dulu sampe mateng, tapi jangan kelamaan. Kasian dianya nungguin lo, atau nggak dia keduluan diambil orang." Vanca memberi pengertian pada Nesa.
"Sekarang gue tanya, lo suka balik gak sama Geo?" tanya Vanca yang juga diangguki lainnya. Mereka pun penasaran dengan jawaban Nesa.
"Belum ada.. karna kita juga deket gak lama ini.."
"Gak papa Nes! Perasaan itu belakangan. Karna rasa itu bisa muncul seiring berjalannya waktu," kata Sheryl dengan bijaknya.
"Tumben cerdas lo!" celetuk Risa. Sheryl cengengesan ditempat, "gue dapet dari drama."
"Jadi sekarang gue harus gimana? Gue juga gak mau dia nungguin gue terus.." kata Nesa yang terdengar sangat memprihatikan. Ini lah ciri-ciri manusia yang baru mengenal cinta.
"Gak perlu buru-buru Nes. Geo pasti kasih lo waktu, dia juga gak maksa buat lo jawab kapan kan?"
Nesa menggeleng.
"Nah, lo gunain waktunya buat mikir. Tapi inget jangan terlalu lama. Kita dukung semua keputusan lo nanti."
"Tapi jangan sampe nanti keputusan lo bikin lo nyesel dikemudian hari," lanjut Vanca.
***
"Gue takut deh," cetus Geo.
"Napa lagi lo?" sahut Andra dengan mimik datar nya. Kini mereka berada pinggir lapangan, berteduh pada pohon yang tumbuh rindang.
"Gue takut ditolak bro," kata Geo yang langsung mendapat ledakan tawa dari Regaf dan kekehan kecil dari Andra.
"Masa, cowok playboy kayak lo takut ditolak?! Mana sikap buaya lo Ge, Ge. Kalau ditolak, ya lo cari aja lagi." Kata Regaf dengan entengnya berbicara.
"Ini beda lagi Gaf. Yang kali ini gue serius."
"Gausah sok serius lo! Ntar baper anak orang berabe!"
"Setuju." Sahut Andra singkat.
"Gue beneran serius, lo pada gak percaya?"
"Lo kan emang suka main-main kalau urusan cewek Ge. Cerita deh, siapa lo tembak?" tanya Regaf mendesak. Andra pun turut memandang Geo, kepo.
"Nesa."
"Nesa?" beo Regaf merasa tak asing dengan nama itu. "Nesa yang mana?"
"Temen bini lo!"
"Oh! Nesa yang orang nya kecil-kecil, trus manis itu?"
"Gausah dipuji juga kali Gaf! Inget bini!" sembur Geo memandang Regaf tak suka. Lantas cowok itu tertawa melihat mimik Geo yang berubah secara signifikan kala dirinya memuji gadis yang disukai nya.
"Lo beneran serius sama tu cewek?" kini Andra yang berbicara.
Geo membalas dengan anggukan penuh. "Tapi gue gak yakin aja gue diterima," Geo mengedikkan bahunya tak acuh. Yang mengira ia tidak kepikiran, nyata nya tidak seperti itu.
"Ya lo harus yakin lah Ge. Ya kalau emang lo serius, lo tunjukin sama tu cewek!"
"Bener," sahut Andra.
"Gue bingung gila! Baru kali ini gue pusing karna cewek!" ucap Geo frustasi karena memikirkan nya. Cowok itu mengacak rambutnya asal, menundukkan pandangan kebawah, memikirkan bagaimana caranya agar Nesa mau menerima nya.
Namun tepukan pada pundaknya membuat Geo kembali mengangkat pandangan ke depan. Ia melihat Regaf yang tengah memandang nya juga. "Mau di terima kan lo?" ucap Regaf dengan alis yang dinaikturunkan.
"Iya lah," jawab Geo.
"Gue punya rencana, sini." Regaf membisikkan sesuatu pada Geo, dan beralih pada Andra. Geo memicingkan matanya tak yakin. "Ini bakal berhasil?"
"Ya gak tau kan belum dicoba. Menurut lo gimana Dra?" tanya Regaf meminta pendapat.
"Ngikut aja si gue."
"Gimana Ge, lo mau gak? Kalo mau ya kita bantuin ntar," kata Regaf dengan semangat empat lima. Geo nampak berfikir sejenak, "Terserah lo pada deh. Gue ngikut."
***
Halo haloo π«Άπ»π«Άπ»
Gimana kabar nya gesss???
Gimana nih chapter iniii? menurut kalian, geo sm nesa bkl jadian gak ya? ππ
Gimana kelanjutan dari Andra Elys ya?? π₯Ήπ₯Ήπ₯Ή
Stay tune terus di cerita ini yaaa π«°π»π«°π»π«°π»
22900 kata, masa iya gak di likeee.
AYO LIKEEE JGN SKIP LIKEEE!! MAKSAAA!!
JGN LUPA VOTE KOMEN NYA MAN TEMAN ππ«°π»
__ADS_1
OKE BABAY DI NEXT CHAPTER GESSS, DADAAA ππ»ππ»ππ»ππ»