
"Arghhh!!" Regaf meremas rambut nya kencang mencoba menghalau rasa sakit di dada nya. Ia tak kuasa melihat gadis-nya menangis seperti tadi. Apa lagi itu karna diri nya? Tapi jujur Regaf tidak ingat sama sekali, dan bahkan tidak tau jika Regaf melakukan itu.
Regaf mencoba menelfon Andra, lalu menyuruh mereka untuk datang ke apartemen nya. Lalu setelah itu, Regaf mendudukan diri nya di sofa. Mencoba mengingat apa yang terjadi semalam namun nihil.
Hingga tak berselang lama, bell pintu berbunyi membuat Regaf langsung membuka pintu apartemen nya. Disana terlihat Andra juga Geo. Regaf langsung menyuruh mereka masuk ke dalam.
"Gue mau tanya sama lo berdua." kata Regat serius. Melihat itu Andra dan Geo pun ikut serius, mereka sudah tau apa yang akan ditanya oleh Regaf.
"Apa yang udah gue lakuin semalem?" tanya Regaf pada kedua sahabatnya itu. Geo dan Andra saling pandang satu sama lain bingung akan memulai dari mana.
"Jadi gini Gaf."
***
Vanca sudah berjalan jauh dari apartemen Regaf, tak perduli dengan pakaian nya. Ia tak mengerti dengan jalan pikiran Regaf. Vanca terus berjalan tanpa tau dimana letak dia berada saat ini. Yang ia pikirkan hanya permasalahan nya dengan Regaf.
"Aw!" rintih Vanca saat tidak sengaja kaki nya menabrak batu di jalan. Sehingga Vanca jatuh tersungkur di tanah.
"Awwss!" rintihan terus keluar dari bibir mungil itu. Ia lihat lutut nya terluka akibat goresan di tanah yang bercampur kerikil kecil.
Vanca tetap melanjutkan jalan nya, walau dengan pincang. Hingga tak sadar, malam pun tiba. Hari semakin gelap. Membuat Vanca sadar, dimana ia sekarang.
Melihat sekeliling tak ada satu pun kendaraan yang lewat membuat Vanca merutuki diri nya sendiri. Bodoh! Tau gini kenapa gue malah nekat! Sekarang gue harus apa. batin Vanca berucap.
Vanca merogoh saku nya, mencoba mencari benda pipih itu, namun sayang. Seperti nya keberuntungan tak berpihak pada Vanca sekarang. Ponsel nya mati, Vanca lupa mengisi daya sejak selamam.
"Sekarang gue harus apa?" gumam Vanca pada diri nya sendiri. Melihat sekeliling sangat sepi, hanya lampu jalan yang remang remang menemani nya.
Vanca melanjutkan perjalanan, entah kemana ia berarah, namun ia harap ia menemukan warga sekitar yang sekiranya bisa menolong nya.
"Aw!" Vanca tak tahan akan sakit yang menjalar dari lutut nya, semakin Vanca memaksa berjalan, rasa sakit nya semakin besar pula.
Vanca sampai pada jalan raya akhir yang bersambung dengan jalan tanah, ia tak berani masuk ke sana. Jalan nya pun terlihat gelap. Ia berbalik badan untuk menelusuri jalan sebelumnya. Namun saat ia berbalik ia melihat ada segerombolan lelaki. Vanca rasa ia bisa meminta bantuan dengan orang itu.
"Permisi?" kata Vanca saat sampai di depan segerombolan lelaki itu sekitar lima orang. Salah satu dari mereka menghadap Vanca seraya menaikkan sebelah alis nya.
"Bisa minta tolong? Gue kesasar, kalian bisa antar gue ke jalan besar sebelum masuk sini?" pinta Vanca pada lelaki di hadapannya.
Lelaki itu terkekeh pelan. Ia memandang Vanca dari atas hingga bawah dengan kurang ajar nya. Vanca tak nyaman akan di tatap seperti itu. Apa lagi hanya dia disini.
"Bisa aja, tapi.." dengan kurang ajar nya lelaki itu mencolek dagu Vanca, hal itu membuat Vanca kesal bercampur marah.
"Jangan pegang pegang!" Vanca melangkah mundur dari segerombolan lelaki itu. Seperti nya meminta tolong pada mereka adalah keputusan yang salah.
"Jangan mendekat!" ujar Vanca lantang saat beberapa lelaki itu kembali mendekati nya. "Gue bilang berhenti!" Vanca terus berjalan mundur hingga akhirnya punggung nya terbentur di perbatasan pohon. Sial! Vanca tidak bisa kabur.
Segerombolan lelaki itu berada di sekeliling nya. Vanca tidak bisa pergi lagi jika begini. "Jangan deketin gue! Pergi kalian!" Vanca terus menerus berteriak ketakutan.
__ADS_1
"Pergi atau gue teriak!" kata Vanca. Lalu salah satu dari mereka mendekati Vanca agar lebih dekat. Ia terkekeh pelan lalu berkata. "Teriak aja, ga akan ada yang denger." ucap lelaki itu. Vanca semakin tak karuan, ia takut, marah, bercampur jadi satu.
Hingga ingatannya tentang enam tahun lalu berputar di memori otak nya. Dimana ia diculik oleh beberapa preman. Vanca tak ingin itu terjadi kembali, ia trauma.
"Pergi!" Vanca terus menerus berteriak sekuat tenaga nya berdoa supaya ada salah satu warga yang mendengar. Namun fakta nya tidak ada warga satu pun disana.
"Kita main main dulu lah cantik!" ucap salah satu lelaki itu yang di perkirakan berumur dua puluh ke atas. Tidak terlalu tua.
"Gue bilang pergi!"
Preman itu pun akhirnya memegang tangan Vanca hingga Vanca tak bisa bergerak dibuat nya. Tangan Vanca di pegang kuat lalu diseret oleh para preman itu. Vanca terus meronta, tapi kekuatan nya kalah besar dengan para preman itu.
***
Regaf menyadarkan badan nya di punggung sofa. "Jadi.. gitu?" setelah Andra menjelaskan semua nya, baru lah Regaf mengerti.
"Gue rasa lo di jebak Gaf, karna waktu kita temuin lo disana, lo ga sadar." kata Andra.
Regaf mengangguk mengerti, Vanca telah salah paham pada nya. Tapi, Regaf masih memikirkan perlakuan Vanca pada saat dikelas.
"Tapi kalo boleh tau, lo kenapa kemarin tiba tiba marah marah gitu Gaf?" tanya Geo dengan hati hati. Regaf melirik sekilas lalu ia mengadahkan pandangan ke atap rumah nya.
"Kemarin gue liat Kenzie meluk Vanca."
"Hah?!"
Regaf mengangguk tanpa menoleh.
"Dia juga ngasi liat gue foto itu, foto gue sama cewe di diskotik malam itu. Tapi gue ga inget apapun!"
"Lo kenal sama tu cewe?" tanya Geo pada Regaf.
"Gue rasa, dia salah satu anak sma kita juga, gue ga asing sama muka nya." kata Andra berasumsi. Regaf mengedarkan pandangannya pada langit langit kamar nya. Mencoba untuk memikirkan hal ini.
Tiba tiba Regaf menegakkan kembali tubuh nya lalu berkata. "Joelly?" kata Regaf menatap kedua sahabatnya.
"Gue mikir juga gitu Gaf, gue sama Geo juga udah coba buat ngomong sama tu anak, tapi kaya nya dia tau rencana kami."
Perkataan Andra membuat Regaf menerawang jauh. Namun tiba tiba ponsel nya berdering membuat Regaf segera mengambil nya.
mama?
"Halo ma?"
"Regaf, Vanca sama kamu kan? Perasaan mama dari tadi ga enak terus soal kalian."
Regaf bingung akan menjawab apa, tapi lebih baik ia berbohong terlebih dahulu.
__ADS_1
"Ada kok ma."
"syukurlah, bagus kalo gitu, mama takut terjadi apa apa sama Vanca, yaudah kalo begitu mama tutup dulu, tolong jaga Vanca ya nak."
"Iya ma."
"Mama juga mau pesan, kalau seandainya kalian lagi ada masalah pribadi, tolong bicarakan baik baik dengan Vanca, jangan sampe kamu bicara keras sama Vanca, dia anak nya gabisa di kerasin Gaf."
"Iya ma, Regaf ngerti."
tut. sambungan telepon itu terputus begitu saja. Perkataan mama nya yang membuat Regaf kembali berfikir. Tadi Vanca pergi kemana? Apa dia pulang?
Regaf langsung saja berdiri dan mengambil jaket nya. Lalu mengambil kunci motor milik Geo. Hal itu membuat kedua sahabatnya tak mengerti.
"Lo mau kemana Gaf!"
"Vanca. Pinjem motor lo bentar!" Vanca. Satu kata yang membuat kedua sahabatnya mengerti apa yang akan Regaf lakukan. Mereka hanya berdoa agar masalah ini cepat selesai.
***
"Lepasin gue!" Vanca meronta dalam ikatan nya. Vanca saat ini berada di salah satu gubuk yang entah dimana keberadaan nya. Kaki, tangan Vanca kedua nya diikat. Hanya mulut Vanca yang terus meronta.
"Diem! Atau lo tau akibat nya!" ancam salah satu lelaki itu. Lantas, Vanca masih sayang pada tubuh dan nyawa nya, ia memilih diam. Berteriak pun tak ada guna nya.
"Apa mau kalian?!"
"Heh! Kalau kita mau tubuh lo, gimana?" ucap nya dengan tersenyum miring. Vanca bergidik ngeri mendengar nya. Seketika tubuh nya mati rasa.
"Jangan macem macem kalian!"
"Ga macem macem kok cantik. Cuma satu macem aja.." ucap lelaki itu seraya membelai permukaan kulit wajah Vanca. Vanca hanya menggelengkan kepala nya agar tidak disentuh.
"Gue bilang jangan sentuh gue!" teriak Vanca lagi.
Para lelaki itu tak menggubris sama sekali perkataan Vanca. Malah semakin gencar untuk mendekat. Sebenernya kita bawa lo kesini karena gabut aja, cuma liat aja nanti!" lalu segerombolan lelaki itu pergi begitu saja meninggalkan Vanca di dalam gubuk itu sendiri.
Vanca mengalihkan pandangannya. Ia takut, sedih, marah menjadi satu. Ia tak kuasa menahan tangis nya, air mata nya luruh begitu saja. Vanca menangis dalam diam.
Kadang dengan menangis semua nya akan terasa lebih baik.
***
Makin sepi '(
Dari kemarin liatin ini sepi, sebenernya udh diketik tinggal di publish aja, cuma karna sepi mood aku buat up jd ga ngenakin.
Aku harap ini dpat ya feel nya
__ADS_1
aku tunggu ini rame baru aku up lagi, 30 like 10 komen? kira kira bisa ga? kalau lebih malah bagus.
segitu dulu babay!!