REGAF ARGANTARA

REGAF ARGANTARA
REGAF ~ 75


__ADS_3


"Pih," Regaf mengetuk pintu ruang kerja ayahnya. Saat mendapat jawaban, Regaf memasuki ruangan yang jarang ia injaki.


"Ada apa, tumben kamu mau kemari?" Alex memandang anak sulungnya yang berdiri di depan meja nya.


"Regaf gak mau ngurus perusahaan itu," ucap Regaf to the point. Ia tidak ingin berlama-lama disini.


Alex menaikkan sebelah alisnya, seolah anak nya ini hanya bercanda semata, ia pun tertawa. Regaf dibuat bingung, kenapa tertawa?


"Regaf serius Pi!" tekan Regaf.


"Mau kamu tolak bagaimanapun juga, cepat atau lambat kamu akan meneruskan bisnis Papi."


"Regaf mau Pih, tapi gak sekarang. Ini terlalu cepat dan mendadak buat Regaf," Regaf menjeda ucapannya sejenak.


"Regaf mau belajar dulu Pih."


Alex menghela nafas pelan. Pria berumur itu berdiri dari duduknya. Ia mengambil berkas yang ada didalam laci meja, kemudian memberikannya pada Regaf.


"Ini, surat perusahaan yang sudah papi bangun di London, sudah atas nama kamu. Dan ini, akan jadi milik mu. Kamu hanya perlu mengelola nya dengan baik, apa itu sulit?"


Regaf menerima berkas itu, membaca tulisan bercetak tebal disana. Lelaki itu memandang berkas ditangan nya dengan gamang. "Regaf bakal mau kelola itu tapi setelah Regaf lulus kuliah, setidaknya S1 Pih," Regaf tetap kukuh dengan pendirian nya.


"Regaf bakal usahain itu, tapi gak sekarang waktunya. Regaf gak mau ninggalin Vanca disini Pih. Tolong ngertiin Regaf, kali ini," lanjut Regaf.


Alex mengedarkan pandangannya pada seluruh ruangan. Sangat sulit membujuk Regaf, sungguh keras kepala.


"Baik," kata Alex membuat Regaf cepat menatapnya.


"Papih akan undur ini, kamu bisa berkuliah selama yang kamu mau. Kamu bisa menempuh pendidikan kamu, tapi dengan syarat," Alex menggantung kalimatnya.


"Selama kamu kuliah, kamu harus bisa mengelola perusahaan ini dari jauh, atau tidak kamu bisa memantau perkembangan perusahaan, sedikit demi sedikit kamu pelajari," kata Alex menatap anak nya.


"Ini, flashdisk berisi data-data perusahaan. Tolong jaga dengan baik," lanjut Alex kemudian memberikan sebuah flashdisk kepada anaknya.


Regaf menerima itu, setidaknya ia tidak harus pergi sekarang kan. Itu jauh lebih baik. "Makasih Pih," setelah mengatakan itu, Regaf beranjak pergi dari ruangan ayahnya.


***


Andra dan Geo masih di perjalanan menuju rumah Regaf, namun Geo dibuat bingung sebab Andra membelokkan stir kekiri, yang seharusnya kekanan.


Geo masih mengikuti Andra, ia bingung sebenarnya. Saat motor Andra berhenti tepat di salah satu rumah, Geo memandang Andra aneh.


"Lah? Ngapain kesini?" Geo bertanya pada Andra.


Andra membuka helm nya, lalu melirik Geo sebentar. "Kalau lo gak mau masuk, gue aja," ucap Andra cuek, lalu ia memasuki rumah itu meninggal Geo diluar.


Geo membuka helm nya, dengan cepat menyusul Andra kedalam. Saat didalam, Geo disuguhi dengan perempuan yang tengah berbincang dengan Andra.


"Mana? Kok gak bawa apa-apa?" Ucap Elys dengan raut kesal.


Andra memasukkan kedua tangan nya didalam saku celananya. "Mau ikut?"


"Kemana?"


"Beli makan."


"AYO!" kata Elys sangat antusias sekali. Geo memandang gadis itu heran. Siapa dia?


Masa iya dia cewek Andra? Gue gak pernah liat sebelumnya.


"Eh! Ini siapa?" Elys memandang Geo, melirik Andra dengan tatapan bertanya.


"Temen gue," sahut Andra cuek.


"Ohh," Elys mengangguk kepala. "Yaudah bentar, gue ganti baju dulu," Elys memasuki kamar nya dengan gerakan cepat.


Tinggal-lah Geo dan Andra disana. "Siapa Dra?" pertanyaan yang dari tadi ada di otak nya akhirnya bisa keluar.


"Calon."


"Hah?" Geo tak paham karena Andra menjawab dengan setengah-setengah. "Maksud lo gimana nyet!" enak saja dirinya mengklaim anak orang.


"Calon. Kurang jelas?" Andra memandang Geo sebal.


Geo yang memiliki otak satu giga pun tak mengerti sama sekali. Bertepatan dengan itu, Elys keluar dari kamar nya yang sudah siap dengan pakaian ditubuhnya.


"Gue mau tanya deh," Geo berkata pada Elys. Sedangkan Elys menunjuk dirinya sendiri, apakah Geo bicara pada nya?


"Iya lo," kata Geo.


"Mau tanya apa?" kata Elys, sedangkan Andra sudah waspada dengan apa yang akan ditanya oleh Geo. Jika hal itu bersangkutan dengan apa yang ia ucapkan tadi, tidak segan Andra memukul Geo saat itu juga.


"Lo siapanya Andra? Kata Andra lo calβ€” ANJING!" Geo memegangi kaki kirinya yang baru saja diinjak oleh Andra. Injakan itu cukup sakit untuk Geo.


Elys memandang kedua lelaki didepannya bingung. "Cal? apa?"


"Nggak, ayo kata lo mau makan," Andra mendahului kedua manusia itu keluar.


"Setan lo Dra!" lalu Geo menyusul Andra kedepan, namun saat di ambang pintu Geo kembali berbalik. "Lo mau diem disitu?" Kata Geo memandang Elys.


Elys tersadar lalu ia mengikuti kedua nya keluar, tak lupa sebelum nya ia mengunci pintu. Saat Elys berada didekat Andra, cewek itu menggunakan masker.


Geo kembali memandang cewek itu dengan tatapan aneh. "Gak ada kuman kali, ngapain lo pake masker segala neng?"


"Gak papa," kata Elys dengan kaku. Ia hanya tidak ingin terlihat saja. Setidaknya wajahnya tertutup.


"Jangan didengerin. Naik!" titah Andra, lalu Elys menaiki motor besar cowok itu. Geo dibuat speechless oleh Andra, jarang sekali cowok itu berkontak fisik dengan perempuan.


"Ini mau kemana?" tanya Geo bingung.


"Cari makan," jawab Andra.


"Lah, kata nya mauβ€”" Geo menggantung kalimatnya karena tatapan tajam dari Andra.


"Kalian ada janji sebelumnya? Gue ganggu ya? Yaudah Dra nanti gue cari makan sendiri aja deh," kata Elys tak enak hati.


"Nggak ada, iya kan Ge?" Andra memberikan tatapan menusuk pada Geo, agar cowok itu menurut.


Geo mengangguk kaku. "Iya, gak ada."


Gue pikir lo gak suka cewek Dra!


Cowok itu tersenyum aneh membuat Elys geli hati melihatnya.


"Pegangan," ucap Andra pada Elys saat mereka akan melajukan motornya.


"Udah," ucap Elys saat ia berpegang pada ujung kemeja yang digunakan Andra.


"Gue dibelakang," sahut Geo yang masih memandang kedua insan itu.


Tanpa peduli lagi, Andra langsung melajukan motornya dengan kecepatan maximal, membelah kota Jakarta yang cukup ramai.


***


Regaf kembali ke dapur, dan saat itu Vanca sudah menyelesaikan masakannya.


"Regaf, sini duduk udah jadi makanan nya," Vanca menarik satu kursi untuk diduduki Regaf.

__ADS_1


Saat Regaf duduk, cowok itu memandang nasi goreng dengan telur juga sayuran yang dibuat sedemikian rupa.


"Ini kamu yang masak?"


Vanca mengangguk. "Iya dong, cobain," ucap Vanca tak sabar.


Regaf mengambil sendok, lalu ia menyuapkan satu sendok nasi kedalam mulutnya. Mengunyah nasi itu secara perlahan.


Vanca menatap raut Regaf dengan serius. Ia takut hasilnya tidak sesuai dengan ekspektasi nya, atau tidak cocok di lidah Regaf.


"Gimana?"


Regaf terdiam sebentar, lalu ia menjawab. "Enak."


Vanca bernafas lega. "Yaudah habisin dong," kata Vanca, dan ia turut memakan makanannya hingga tandas.


Saat selesai makan, keduanya memilih untuk pergi keruang tengah dimana tadi ada Gisel disana, dan ternyata masih disana.


Regaf dan Vanca menduduki sofa yang sama, berhadapan dengan sofa yang Gisel duduki. "Serius banget liatin hp nya," celetuk Regaf.


"Seterah gue lah," balas Gisel.


Vanca mengambil buku novel yang ada diatas meja, Vanca memilih membaca novel karena sudah lama ia tidak memegang novel. Kebanyakan sebagian novel nya di rumahnya.


Regaf membuka ponselnya, sudah ada notifikasi dari temannya.


...Geo...


Gaf lo free gak? Kalo free main lah kita


^^^Kesini aja^^^


Setelah itu Regaf menutup kembali menu ponselnya, merasa tidak ada yang menarik. Perhatiannya jatuh pada Vanca disampingnya yang fokus dengan bukunya.


"Baca apa sih?" Regaf sedikit menolehkan kepalanya.


"Ini, cerita novel, kamu mau baca?" tawar Vanca pada Regaf. Namun cowok itu menggeleng, tidak berminat. Regaf hanya memperhatikan Vanca dari samping. Tanpa aba-aba Regaf mencuri satu kecupan di pipi Vanca.


Vanca terkejut, kecupan itu sangat cepat. "Regaf!" bisik Vanca dengan tatapan tajam. Masalah nya disini ada Gisel, ia tidak enak jadinya.


"Kenapa?"


"Minimal dikamar lah, jangan di depan gue!" celetuk Gisel yang sedikit iri dengan kedua pasutri itu. "Dah ah, mending gue pergi dari pada jadi nyamuk," Gisel beranjak pergi dari sana.


"Kamu sih!" Vanca memandang Regaf sebal.


Regaf tak menghiraukan itu, ia malah berbaring di sofa dengan menjadikan paha Vanca sebagai bantalan. Cowok itu memandang Vanca dari bawah, tangan nya terangkat untuk memegang pipi wanita-nya.


"Mau punya anak berapa?" ucap Regaf membuat Vanca mendelik geli.


"Enak aja ngomong anak! Aku masih harus tamatin sekolah aku dulu Gaf," kata Vanca, cewek itu memainkan rambut Regaf.


"Aku gak minta sekarang, aku cuma nanya mau berapa?"


Vanca nampak berfikir. "Dua?" ucap Vanca memandang Regaf dibawahnya.


"Dua aja? Gak kurang?"


"Ih! Dua aja cukup ya Gaf! Aku gamau banyak-banyak!" sembur nya.


"Banyak anak banyak rezeki Yang," tutur Regaf membuat Vanca geli mendengar nya memanggil 'Yang'.


"Pokok nya gamau, cukup dua. Mau nya sih cewek cowok, nanti anak pertama itu cowok biar dia bisa jagain adeknya," ucap Vanca memandang jauh kedepan, sedang membayangkan.


Regaf terkekeh kecil. Ia mencubit gemas hidung istrinya membuat Vanca meringis. "Kayak aku sama Ara dong?"


Vanca mengangguk. "Emang kamu mau punya anak berapa?"


Vanca mencubit lengan Regaf. "Nggak lah, aku cuma nanya, pede banget kamu!"


Regaf meringis kecil seraya mengusap lengannya yang terasa pedas karena cubitan istrinya. "Kalau mau ya gapapa, aku jabanin," ucap Regaf dengan santainya.


"Kamu sih enak ngomong doang! Aku yang susah ngelahirin nya! Kalau gitu mending kamu aja yang hamil sama lahiran!" ucap Vanca ketus, sedikit kesal dengan suaminya ini.


"Kok gitu? Ngambek ya?" Regaf gemas sendiri dengan wajah Vanca.


"Nggak, apaansih!"


"Istri aku ngambek nih, iya maaf bercanda aja sayang. Berapa pun yang dikasih tuhan, itu yang aku terima nanti," kata Regaf terdengar tulus. Vanca memandang Regaf tak percaya, cowok seperti Regaf tidak bisa dibilang goodboy, badboy? Tidak juga, cowok nakal, cuek, pelit ekspresi seperti dirinya sekarang sudah berubah menjadi lelaki dewasa.


"Aku gak nyangka deh, sekarang bisa jadi istri kamu Gaf," kata Vanca masih dengan posisi yang sama. Regaf diam menunggu lanjutan kalimat dari Vanca.


"Kayak.. mimpi. Kenal kamu aja rasanya kayak gak mungkin, di sekolah aku tau kamu aja dari temen-temen aku."


"Aku dulunya mikir kamu itu cowok yang nakal, urakan, gatau aturan, tapi aku salah," Vanca memandang intens wajah tampan suaminya.


"Kamu adalah lelaki terbaik setelah papa dihidup aku Gaf. Aku ngira nya, perjodohan ini adalah kesialan bagi aku, dulu aku benar-benar nolak keras perjodohan kitaβ€”"


"Karna aku gak tau kamu dalam nya gimana."


"Sekarang gimana?" ucap Regaf bertanya, tanpa disadari air mata Vanca turun membasahi pipi mulus nya. Hal itu membuat Regaf bangkit dari tidur nya, ia menghapus jejak air mata Vanca.


"Sekarang aku tau, kamu memang laki laki hebat yang diciptakan buat aku. Aku beruntung bisa punya kamu Gaf," kata Vanca menatap Regaf dengan tatapan sayang.


"No, aku yang beruntung punya kamu Vanca. Cowok nakal ini bisa berubah karna ada kamu," Regaf mencium telapak tangan Vanca, ia sungguh akan menjaga Vanca seumur hidupnya.


"Aku berterimakasih sama papa mama, papi mami, yang udah pertemukan kita dan jodohkan kita kaya gini, aku juga bersyukur sama takdir, karnanya kita bisa kayak gini," ucap Vanca yang sudah terdengar parau.


Regaf memegang kedua bahu Vanca, memperhatikan setiap lekuk wajah Vanca. "Aku pastikan kamu adalah perempuan pertama dan terakhir dihidup aku."


Vanca tersenyum mendengar nya, ia tak tahan untuk tidak memeluk Regaf. Perempuan itu masuk kedalam pelukan hangat suaminya, menghirup dalam-dalam aroma khas yang melekat pada tubuh Regaf.


Dengan sedang hati Regaf menerima pelukan perempuan nya, dielusnya surai hitam milik Vanca dan sesekali mengecup kening Vanca.


"Kenapa kamu mau sama aku? Padahal kan diluar sana mungkin ada yang lebih cantik dari aku, yang lebih dari aku," ucap Vanca masih pada posisi bersandar pada dada bidang suaminya.


Regaf menegakkan tubuh Vanca, mengurai pelukan mereka. "Aku gak pilih perempuan dari fisik atau akademik nya, tapi aku beruntung bisa punya perempuan secantik, semanis dan sepengertian kamu," ucap Regaf membuat rona dipipi Vanca keluar.


Vanca menunduk mencoba menyembunyikan pipinya yang pasti sudah merah seperti tomat. Regaf mengangkat dagu Vanca agar mau menatap nya. Saat Vanca mendongak, jelas ia melihat rona merah itu.


Regaf mengecup pipi Vanca kanan dan kiri secara bergantian, tepat pada rona pipi Vanca. Perempuan itu merasakan sesuatu yang menjalar dihatinya.


Vanca menatap Regaf, lalu ia bertanya. "Apa yang buat kamu bisa cinta sama aku?"


Regaf kembali memandang wajah Vanca. "Istilah nya cinta itu buta, sampe sekarang aku belum tau apa yang bikin aku jatuh cinta berkali-kali sama kamu."


Sudah cukup. Vanca tidak tahan berlama-lama seperti ini, bisa-bisa ia terkena jantung berdansa. Ia pun memutuskan untuk pergi dari sana sebelum wajah nya benar-benar merah.


Regaf mencoba menahan tangan Vanca namun tak berhasil, ia dibuat tertawa oleh sikap Vanca barusan. Menggemaskan.


Saat ini Vanca berada di ruang tamu, wajah nya terasa panas. Ia sedang berusaha menetralkan detak jantungnya yang berdetak dua kali lebih cepat. Dasar Regaf!


Namun suara bell pintu utama membuat atensi nya beralih. Vanca berjalan hendak membuka pintu, saat ia membuka pintu, ia terkejut melihat Geo dan Andra didepan pintu dan.. seorang gadis?


"Hai, Van! Regaf nya mana?"


"Ada kok, masuk duluβ€”"


"Sayang! Siapaa?" Teriak Regaf dari dalam, ia keluar karena mendengar suara bell. Geo yang mendengar itu bergidik ngeri.

__ADS_1


"Temen-temen kamu!" balas Vanca dengen suara yang cukup tinggi, Regaf yang mendengar itu pun lants berjalan cepat menuju pintu.


"Sayang, kamu masuk ya?" pinta Regaf pada Vanca. Perempuan itu bingung kenapa ia disuruh masuk.


"Loh kenapβ€”" belum selesai Vanca melanjutkan ucapannya, Regaf membawa Vanca kebelakang tubuhnya.


"Lo berdua ngapain ngeliat istri gue kaya gitu!" ucap Regaf sewot. Masalahnya, Vanca hanya memakai hotpants dan baju oversize yang hanya seperut. Regaf tidak ingin berbagi pemandangan ini kepada orang lain. Ia tidak rela.


"Santai kali bro! Gak akan gue bawa balik kali bini lo!" kata Geo membalas.


"Vanca kamu masuk ganti baju sana!" suruh Regaf pada Vanca, perempuan itu pun mengangguk patuh.


"Ini kita gak disuruh masuk?" kata Andra yang sudah pegal berdiri disana.


"Diem aja lo disana, ngapain masuk?" balas Regaf tak tau diri.


"Siapa Gaf?"


Itu suara mami nya.


Regaf menoleh memandang mami nya yang datang dari lantai atas. Saat kedua teman Regaf melihat Wenda datang, kedua nya langsung menyalami punggung tangan Wenda, begitu pula Elys.


"Regaf, kenapa teman nya gak diajak masuk?" Kata Wenda pada anaknya.


"Tau tuh tan, anak tante gak ada mirip-mirip nya sama tante, atau jangan-jangan Regaf anak pungut ya tan?" Ucap Geo sembrono.


"Woi! Ngajak berantem emang lo Ge!" Regaf sudah siap pasang badan untuk menonjok Geo.


"Dra tolongin gue!" Geo malah bersembunyi di balik punggung lelaki itu.


"Lo berdua bisa serius gak? Gue pegel nih," ujar Andra malas dengan tingkah keduanya, seperti anak tk.


"Sudah-sudah, ayo masuk," ajak Wenda pada ketiga anak muda yang sudah menunggu dari tadi. Elys yang tidak mengetahui atau pun mengenal siapapun hanya berdiam diri. Ia tidak tau maksud Andra setelah membawa nya makan lalu kemari.


"Duduk dulu, biar tante buatkan minum untuk kalian ya."


"Gak usah repot-repot tante, gak papa kok," ujar Andra dengan sopan.


"Yasudah, kalau kalian mau apa-apa ke dapur aja, ambil sendiri. Anggap aja rumah sendiri disini, gak usah sungkan," tutur Wenda.


Sontak bersamaan mereka mengangguk. Wenda sangat lembut dan ramah orangnya, jujur saja Geo dan Andra suka bermain ke sini karena salah satu alasan itu. Wenda memperlakukan mereka layaknya anak sendiri.


Wenda beranjak dari ruang tamu hendak kembali ke atas, saat Wenda sudah pergi Vanca datang dengan pakaian yang lebih panjang dan tertutup.


Perempuan itu duduk di samping Regaf.


"Ngapain lo berdua kerumah gue?" tanya Regaf.


Ingin rasanya Geo memukul kepala Regaf agar ingatannya hilang kembali. Padahal jelas-jelas tadi ia yang menyuruh kerumahnya.


"Mau lo apa sih Gaf? Kan lo yang nyuruh kita kesini."


"Gak ada," Regaf seakan lupa dengan ucapan nya di room chat bersama Geo tadi.


"Mboh lah Gaf!" ucap Geo lelah.


"Ini siapa?" tanya Vanca yang sedari tadi memandang Elys dengan tatapan bingung. Jika ia anak SMA Merpati, kenapa Vanca tidak pernah melihatnya?


Regaf turut melirik Elys, gadis itu dari tadi hanya menunduk.


Andra berdehem sejenak. "Kenalin, ini Elysβ€”"


"Pacar lo?" tebak Regaf memotong ucapan Andra. Cowok itu menatap Andra dengan selidik.


Andra berdecak kesal. "Bukan," jawabnya dengan tampang yang lempeng.


"Trus?" Geo ikut menyahut. Ia pun sedari tadi terheran heran.


"Calon. Doain aja."


"HAH?!" ucap mereka semua serempak. Elys bahkan ikut terkejut mendengar ucapan Andra.


Andra menutup matanya, menetralkan rasa terkejutnya mendengar suara mereka. "Gak teriak bisa gak si lo pada?" Kata Andra yang sedikit kesal. Gendang telinga hampir saja jeblos.


Elys diam mencoba memahami perkataan Andra sebelumnya. Calon? Calon apa? Pikiran Elys mengelana buana. Itu membuatnya kepikiran. Ia memandang Andra yang tampak santai.


"Lo ngomong calon-calon seenak jidat lo! Emang anak nya mau sama lo?" ledek Geo membuat Andra ingin sekali memasukan kepala nya kedalam lautan.


"Ngomong lagi gue potong leher lo!" ucap Andra terselip nada mengancam.


"Duh, takut," ledek Geo lagi. Kapan, lagi, kan bisa mengejek Andra seperti ini?


"El, lo kenal Regaf sejak kapan?" tanya Vanca yang sedikit penasaran.


Elys nampak berfikir. "Belum lama ini sih," jawab nya.


Geo menggelengkan kepala nya takjub. "Hebat lo! Belum lama kenal tapi udah bikin Andra lengket ke lo," ucap Geo takjub.


Elys sendiri tak mengerti maksud nya apa. Gimana tidak lengket, hampir setiap hari dia minta tolong pada Andra ini itu, dan cowok itu fine saja menerima nya.


"Bukannya Andra emang gitu ya orang nya? Baik sama setiap orang, cuma ketutup sifat cuek dia aja," kata Elys yang tidak sepenuhnya salah.


"Lo tau banget soal Andra?" tanya Regaf memandang Elys. Dengan wajah polosnya Elys menggeleng membuat Andra gemas sendiri melihatnya.


"Gak jugaa, itu cuma tebakan gue aja," ucap Elys.


"Nih, denger ya El. Andra itu kalau di sekolah sifat nya cuek minta tampol. Bahkan kalau gak penting dia gak mau buka mulut, sayang sama suara nya gue rasa," kata Geo membuka kartu Andra.


Andra memberikan tatapan peringatan pada Geo agar tidak bicara lebih. Namun Geo yang menyadari pura-pura tidak tahu saja.


"Emang gitu ya? Ke gue Andra juga irit ngomong, tapi Andra care banget orang nya," kata Elys dengan senyum dibibirnya. Hal itu menambah kesan plus dimata Andra, manis.


"Gue rasa lo sama Andra kayak udah lama kenal," kata Regaf menengah. Vanca mengangguk setuju, "Andra cerita banyak ya ke lo?" tanya Vanca.


"Dia gak ada cerita apapun," jawab Elys.


"Udah, kenapa jadi ngomongin gue? Seolah gue gak ada disini?" kata Andra jengkel.


Vanca tertawa tipis. "El, kita ke taman belakang aja yuk, biar mereka cowok-cowok disini," ajak Vanca ke Elys. Jujur saja Vanca anak nya memang friendly dan mudah bergaul, jadi tidak sulit baginya untuk mendapatkan teman.


Elys memandang Vanca ragu, ia melirik Andra sekilas, namun cowok itu mengangguk singkat membuat nya ikut bersama Vanca ke taman belakangan. Kini tersisa para lelaki saja.


"Dra, jujur deh lo sama gue. Lo suka sama Elys? Lo baru kenal beberapa hari ini kan?" Tanya Regaf untuk memastikan, takut-takut saja Andra hanya menge-prank mereka.


Andra geming.


***


Hallooo πŸ‘‹πŸ»πŸ‘‹πŸ»πŸ‘‹πŸ»


Ketemu lagii 😼😼☝🏻


Buat scene Ara-Fariz/Gisel-Kenzie/Andra-Elys kurang banyak gak si? Aku ngerasa timbul nya selintas-selintas ajaa ')


Mau dibanyakin scene mereka nggakk?? ✌🏻✌🏻


Biar aku banyakin dan tau letak enaknya.


Like vote komen mu semangat kuu -!!

__ADS_1


Dadahh maniezzz, ketmu lgi di next chapter πŸ‘‹πŸ»πŸ‘‹πŸ»πŸ‘‹πŸ»


__ADS_2