
#JANGAN DI SKIP. DIBAWAH ADA CASTING PARA PEMAIN REGAF#
"WOI SIAPA LO!"
Sial! Gawat.
Mengapa takdir sangat tidak mendukung mereka? Seperti saat ini, baru melangkah keluar dari gubuk itu Regaf dan Vanca sudah dikepung oleh beberapa laki laki yang membawa Vanca kesini.
"Sialan!" umpat Regaf. Ia berjaga jaga jika salah satu dari mereka mendekat. Vanca menggenggam kuat tangan Regaf. Ia takut, cemas, khawatir, semuanya menjadi satu.
"Woi! Berani banget lo masuk ke sini!" ucap salah satu dari mereka.
Regaf menyeringai menatap satu persatu dari mereka. Tak ada satupun yang membuat Regaf takut. "Emang nya ini tempat punya nenek moyang lo? Ngapain juga gue takut. Ga pernah dan ga akan pernah." ucap Regaf menekankan kalimat akhir.
"Berani banget lo ya!"
Regaf menoleh ke arah Vanca yang turut menatap nya. Regaf dapat melihat ketakutan di dalam diri Vanca lewat netra mata nya itu. "Gausah takut." Bisik Regaf di telinga Vanca.
"Kamu pergi cari tempat yang aman." kata Regaf pada Vanca.
Sontak Vanca menggeleng kuat. "Ga! Aku gamau ninggalin kamu Gaf!" tolak Vanca.
Regaf menatap Vanca dengan teduh. "Jangan keras kepala Vanca. Untuk sekarang kamu harus dengerin aku. Pergi dan cari bantuan!"
Seakan terhipnotis oleh kata kata Regaf barusan, Vanca lantas mengangguk. Regaf tersenyum karena gadis—nya sangat penurut.
Setelah Vanca pergi dari sana. Baru lah Regaf maju di hadapan mereka. Menatap dingin ke arah mereka. Aura negatif seperti menyelimuti seluruh suasana disana.
Mereka para laki laki—itu—yang membawa Vanca merasa atmosfer di sekeliling mereka menipis. Regaf seperti memancarkan aura yang dingin.
"Kalian udah berani sentuh milik gue! Dan kalian harus rasain akibat nya." kata Regaf datar dan sangat dingin. Seakan tak mau membuang waktu lagi. Salah satu dari mereka maju dan langsung melayang kan pukulan tepat pada pipi kanan Regaf.
Regaf diam, seperti tak merasa kan apapun. Namun setalah itu Regaf langsung membalas nya dengan pukulan bertubi-tubi. Dari perut, pipi kanan dan kiri, juga dagu nya kena pukul oleh Regaf.
Lelaki itu jatuh tersungkur di tanah. Teman-teman nya yang lain kaget melihat itu. Lagi. Mereka maju tapi tidak sendirian, melainkan bersamaan. Istilah nya keroyokan.
"Maju!"
'Bugh!'
'Bugh!'
'Bugh!'
Regaf terus menangkis pukulan itu. Mencoba untuk melawan, dan terus memukul lawan. Regaf cukup mahir dalam berkelahi. Tetapi Regaf yang masih fokus untuk melawan yang ada di hadapannya, tak melihat ke arah belakang.
Regaf tersungkur kebawah setelah di pukul menggunakan balok kayu oleh salah satu dari mereka. Mereka tertawa puas melihat Regaf yang terjatuh di sana.
Mencoba bangun, Regaf menatap satu persatu dari mereka. Regaf membuat saliva nya yang bercampur dengan pasir. "Udah keroyokan main alat pula. Lo cowo apa banci! Najis!" ucap Regaf sarkas.
"Lo!" salah satu dari mereka mengerang marah.
"Kenapa? Ga terima? Ga ada beda nya lo semua disini dengan banci tau ga!" Regaf tertawa remeh.
"Maju! Tapi kalo emang lo semua cowo, lawan satu satu!"
***
Vanca terus berjalan dengan menggunakan otak nya mengingat jalan pada saat ia dibawa masuk kesini. Terus berjalan sambil mengingat ingat jalan.
Setelah berjalan cukup lama dengan bantuan senter ponsel nya. Vanca menemukan jalan kecil setapak. Vanca tersenyum, lalu ia berjalan ke arah jalan itu.
Saat ia sudah berada di jalan itu. Vanca melihat ada dua lelaki yang berjalan ke arah diri nya. Seakan merasa tak selamat diri nya pun bersembunyi di semak-semak. Terus memantau dua lelaki itu.
Vanca mencoba mendengar ucapan mereka.
"Ah sial!"
"Kenapa?"
"Lokasi nya putus disini!"
"Kita harus gimana?"
"Kita udah jalan jauh dari mobil."
Vanca mendengar suara samar itu dengan jelas. Ia seperti mengingat suara itu. Tapi siapa? Mencoba mengingat dengan sisa kinerja otak nya, Vanca berfikir keras. Namun setelah itu Vanca teringat nama dua orang di otak nya.
"Andra! Geo!" Vanca keluar dari persembunyiannya. Vanca yakin mereka ada teman dari suami—nya.
Dua lelaki itu menoleh, lalu terkejut melihat Vanca verada disini. Dengan seragam sekolah yang berantakan dan kotor dan lusuh.
"Vanca!" ucap Geo kaget.
"Lo kok bisa ada disini?" tanya Geo yang masih tak mengerti.
Vanca berucap syukur dalam hati nya. "Sekarang bukan waktu nya buat tanyain itu. Lo berdua harus bantuin Regaf!"
"Lo tau Regaf dimana?" Andra angkat bicara.
Vanca mengangguk kuat. "Regaf ada di dalam hutan itu, disana ada gubuk kecil. Regaf lagi berantem!"
"Lo bisa tunjukin arah ke kita?"
"Bisa! Ayo!" Geo dan Andra pun mengikuti Vanca dari belakang dengan isi kepala yang bertanya tanya.
Beberapa saat Vanca bersama dua teman Regaf itu sampai disana. Mereka langsung disuguhi dengan Regaf yang tengah berkelahi di sana dengan lima orang lelaki yang mereka tak tahu siapa.
"Itu Regaf! Gue mohon bantuin dia." mohon Vanca pada Geo dan Andra. Tanpa berlama-lama lagi, Geo dan Andra langsung masuk kesana dan membantu Regaf.
__ADS_1
Regaf yang tengah fokus dalam berkelahi pun terkejut akan kedatangan dua sahabat nya. Merasa beruntung saat ini, Regaf tersenyum tipis. Ingat tipis.
Vanca diam di ujung melihat Regaf juga kedua teman nya. Vanca hanya bisa berdoa yang terbaik, agar Regaf tidak celaka.
Andra juga Geo terlihat fokus disana. Lima lawan tiga. Andra melirik ke arah lelaki yang tak jauh dari Regaf di sela-sela perkelahian nya. Ia melihat dengan jelas lelaki itu mengambil belati dari saku nya.
Mata nya membulat sempurna saat belati itu terlempar ke arah Regaf.
"REGAF AWAS!"
Regaf menoleh kepada Andra. Seakan waktu berjalan begitu cepat, baru saja ia menoleh belati itu sudah menancap indah pada perut nya. Regaf diam, lalu tak lama Regaf terjauh begitu saja. Darah segar mengalir di tanah.
Vanca yang melihat itu pun terkejut, menutup mulut nya dengan kedua tangan dengan perasaan tak percaya. Vanca berlari kencang menghampiri Regaf yang terkulai lemas di tanah.
Geo dan Andra masih fokus berkelahi. Geo terkejut saat mendengar suara Andra. Tapi ia lebih terkejut saat melihat Regaf yang sudah terjatuh dengan darah yang mengalir deras.
Andra dan Geo begitu selesai pada lawan nya, mereka menghampiri Regaf yang disana sudah ada Vanca. Persetan dengan lelaki yang melempar belati tadi, lelaki itu sudah pergi entah kemana.
Vanca terduduk lemas di samping kanan Regaf. Air mata nya turun begitu deras, tak kuat melihat Regaf seperti ini. Suara tangis nya bahkan kuat. Hati kecil nya seperti ikut teriris.
"Regaf.." percuma. Percuma memanggil Regaf seperti itu. Karna Regaf saja sudah tak sadarkan diri. Darah terus menerus keluar.
"Regaf bangun! Regaf bangun Gaf! Kamu gaboleh ninggalin aku!" racau Vanca. Geo dan Andra pun tak tahu harus berbuat apa. Mereka sedih. Sangat sedih. Walau tak menampakkan nya, tapi nyata nya mereka sangat sedih melihat Regaf seperti ini.
"REGAF! BANGUN! REGAF!" seakan percuma. Vanca menatap Regaf dengan mata yang memerah. Geo dan Andra pun ikut menangis walau tak bersuara.
"Van! udah Van! Kita bawa Regaf ke rumah sakit sekarang!" disela-sela tangis nya Vanca mengangguk. Itu yang seharusnya dilakukan. Tak ada guna nya menangis itu taj membuat Regaf bangun.
Andra mencoba menelfon bawahan nya. Untung tadi Andra sempat membawa walkie talkie. Jadi ia bisa meminta bantuan.
Geo dan Andra membawa Regaf kembali pada mobil mereka. Tapi karena mobil mereka jauh dari mereka, jadi mereka memutuskan untuk menunggu bawahan Andra.
Hingga tak lama, sekitar sepuluh orang berpakaian serba hitam itu menghampiri mereka.
"Bawa ke mobil cepat!" mereka serempak mengangguk. Tanpa banyak bicara. Mereka sudah dapat melihat wajah dingin dari tuan nya.
"Kamu harus selamat Regaf.." guman Vanca menatap Regaf yang dibawa oleh bawahan Anda.
"Van! Ayo!" Vanca menatap Geo, Vanca menggangguk li tersenyum kecil. Tak ingin terlihat lemah.
"Dikeadaan kaya gini pun lo masih bisa senyum Van."
***
Rumah sakit Widerna tujuan mereka saat ini. Begitu sampai disana, para suster dan dokter langsung membawa Regaf masuk ke rumah sakit.
Regaf yang terbaring di brankar itu membuat Vanca semakin tak berdaya. Vanca, Geo dan Andra mengikuti para suster yang membawa Regaf menuju UGD 'Unit Gawat Darurat'.
Vanca terus menggenggam tangan Regaf yang dingin seraya merapal kan segala doa agar Regaf baik baik saja. Ia tak ingin sesuatu yang buruk terjadi pada Regaf.
"Maaf, mba dan mas nya tunggu diluar. Dokter akan menangani pasien." ucap suster yang melarang Vanca yang ingin menerobos masuk.
"Saya mau masuk sus! Jangan larang saya!"
"Van Van! Udah, Regaf didalam lagi di tangani dokter." kata Andra pada Vanca yang keras kepala.
"Lo gamau kan liat Regaf kaya gitu?" Vanca menggeleng.
"Lo harus biarin Regaf masuk kedalam. Gue yakin Regaf juga bakal berusaha buat bangun!"
"Lo cuma harus doain dia terus. Dia juga butuh bantuan kita. Kalo lo kaya gini yang ada Regaf bakal sedih liat nya!" pertama kali Vanca mendengar Andra berbicara sangat panjang. Tapi ini membuat nya sedikit tenang.
Vanca mengangguk lemas. Kemudian Geo menyuruh Suster tadi untuk masuk kedalam. Andra membawa Vanca duduk di salah satu kursi tunggu. Vanca terlihat lelah. Bahkan seragam Vanca saja sudah penuh dengan darah Regaf.
"Lo harus istirahat Van. Lo keliatan nya cape banget." kata Geo memperhatikan Vanca. Lantas, Vanca mendongak. "Gue mau nungguin Regaf! Gue gamau tinggalin dia sendirian." kekeh Vanca. Sangat keras kepala.
"Yaudah terserah lo. Tapi lo juga harus istirahat."
Vanca tak menggubris ucapan itu. Mata nya menerawang lewat kaca UGD itu. Apakah Regaf akan selamat? Apakah Regaf akan sembuh? Pikiran negatif itu terus-menerus masuk kedalam pikiran nya. Itu semakin membuat Vanca tidak tenang.
"Gimana kalau Regaf ga bangun.." guman Vanca yang dapat didengar oleh Geo dan Andra. Sontak mereka menatap Vanca.
"Gimana.. kalau Regaf.." merasa tak kuat untuk melanjutkan kalimat nya. Vanca kembali menangis. Air mata nya seakan tak mau berhenti jatuh.
"Sstt.." Andra menatap Vanca iba. Ia kasian melihat kondisi Vanca seperti ini. Ia juga tak kuat melihat kondisi sahabat nya yang harus berjuang melawan sakit nya di UGD.
"Van, sorry." Andra menghapus jejak air mata Vanca di pipi nya. Andra tau ia lancang. Tapi ia juga tak kuasa melihat gadis ini menangis.
Sementara Geo, ia sudah tak kuat melihat ini. Mata nya merah menahan tangis dan gejolak di dada nya. Kenapa ini harus terjadi?
"Ini semua salah gue.., kalau aja Regaf gak kesana buat selamatin gue.. pasti Regaf ga akan kaya sekarang.. pasti dia ga akan.."
"Van udah." Andra memeluk Vanca seraya mengelus bahu Vanca yang bergetar. Seakan menyalurkan semangat pada Vanca.
"Ini semua takdir Van. Ga ada yang salah disini. Semua nya udah takdir." kata Andra.
"Gue tau lo cewe yang kuat, lo pasti bisa hadapin ini." Lagi, Andra menghapus air mata yang terus turun dari mata indah Vanca. Mata itu merah, dan sedikit sembab.
"Regaf bakal sedih liat lo kaya gini."
Vanca mengurai pelukan mereka. Ia kembali menatap ke arah pintu kamar UGD itu yang memancarkan lampu merah. Yang berarti sedang ada penanganan.
"Gue cuma gamau kalau pikiran gue itu terjadi." Vanca menerawang jauh. Memikirkan hal yang seharusnya tidak dipikirkan.
***
Halo halo!! Gimana kabar nya!!
Selamat Idul Fitri bagi yang merayakan yaa!!
__ADS_1
Gimana sama Part inii?? Sedih ga? Atau ada yang nangis hhee
Semoga feel nya dapet yaa
Maafin kalau ada typo, tandain aja biar nanti dia perbaikin lagi.
Dan yang bilang lama, atau gantung. Plis deh, kalau cerita yang gantung itu udah biasa para author lakuin. Itu juga supaya narik minat pembaca buat baca lagi.
Maaf kalau aku gantung, tapi aku emang suka gantungin cerita ini hhhaa
Oh ya disini juga aku mau ksi liat ke kalian beberapa cast dari karakter Regaf.
.
.
.
...[ Regaf Argantara Alexander ]...
...(Regaf)...
.
.
.
...[ Andra Gilang Mahesa ]...
...(Andra)...
.
.
.
...[George Michael Hutama]...
...(Geo)...
.
.
.
...[ Vanca Karissa Rhyonald ]...
...(Vanca)...
.
.
.
...[ Sheryl Cleva Sheinafia ]...
...(Sheryl)...
.
.
.
...[ Dinda Kiranesa ]...
...(Nesa)...
.
.
.
...[ Viani Risa Permata ]...
...(Risa)...
Gimanaa??
Itu menurut ku yang cocok buat meranin mereka.
__ADS_1
Kalian boleh setuju boleh engga. Sesuai haluan kalian aja.
...Oke see u next chapter!!...